WHAT IF YOU FLY ?


Siapa sih di Indonesia yang tidak kenal dengan brand Baba Rafi ?
Jaringan waralaba pertama di Indonesia ini, sempat sukses meraja di dunia kuliner, loh.. ngga hanya di Indonesia, tapi merambah mancanegara.

Tapi kali ini aku ngga akan cerita tentang per-kebab-an, aku mau cerita tentang perjuangan salah satu founder-nya, yaitu mbak Nilam Sari.

Terpana di Ruang Maya Zoom Meeting



Buat seorang blogger, ada saat tertentu yang rasanya tinggal lewat begitu saja. Sekadar hadir di ruang zoom, mendengarkan narasumber bicara, lalu selesai dan menulis. Tapi malam ini  ketika Indonesian Social Blogpreneur mengadakan Zoominar Kickstart Your Business bersama Nilam Sari, rasanya berbeda.

Aku tadinya berpikir hanya datang sebagai peserta yang hanya ingin mendengar sharing tentang bisnis. Mungkin tentang strategi marketing, tips membangun brand, atau cara memperbesar usaha. Hal-hal teknis yang biasanya dibahas dalam webinar bisnis. Namun malam itu, yang kutemukan justru sesuatu yang jauh lebih dalam.

Tentang hidup.

Tentang jatuh bangun seorang perempuan yang pernah berdiri di puncak, lalu dihantam sampai nyaris kehilangan segalanya!

Cara Nilam Sari bertutur sangat tenang. Tidak meledak-ledak. Tidak dibuat dramatis. Tetapi justru karena itulah setiap ceritanya terasa masuk ke hati. Ia tidak hanya bercerita tentang keberhasilan, melainkan juga tentang luka-luka yang pernah membuatnya limbung.

Dan kurasa, itulah yang membuat banyak peserta terpana, tak terkecuali aku!

Sebab di era media sosial seperti sekarang, kita terlalu sering melihat hasil akhir. Foto-foto sukses, rumah gedong, mobil-mobilnya. Semua tentang pencapaiannya. Tetapi jarang sekali ada yang mau duduk diam dan berkata jujur tentang rasa takut, kegagalan, utang, kehilangan, dan kehancuran yang pernah dialami.

Padahal sering kali, manusia justru bertumbuh paling kuat dari sana.

Mengenal Nilam Sari dan Bisnisnya



Perjalanan Nilam Sari dimulai ketika ia menikah di usia sangat muda, 19 tahun. Di usia ketika banyak anak muda masih sibuk mencari jati diri, ia justru memilih berhenti kuliah dan mulai membangun hidupnya sendiri.

Ia mengaku memang lebih senang bekerja langsung di lapangan. Ada jiwa dagang yang sudah tumbuh sejak muda. Maka bersama suaminya kala itu, ia mulai berpikir bagaimana caranya bertahan hidup dan membangun usaha.

Modal awal mereka bahkan bukan pinjaman investor besar.

Hanya uang amplop pernikahan. Sekitar Rp 4 juta dibagi untuk membuat sebuah gerobak putih sederhana di pinggir jalan Surabaya. Dari situlah semuanya dimulai.

Membayangkannya sekarang terasa nyaris mustahil. Sebab siapa sangka, bisnis yang kelak dikenal hingga mancanegara itu ternyata berawal dari gerobak kecil di trotoar!

Awalnya mereka menjual burger dan nugget. Sampai suatu hari perjalanan ke Qatar mengubah arah hidup mereka.

Di sana, Nilam melihat bagaimana kebab Turki menjadi makanan yang sangat digemari. Ia melihat peluang. Tetapi tentu saja, menjual kebab di Indonesia saat itu bukan perkara mudah. Orang Indonesia belum terlalu akrab dengan makanan tersebut.

Namun justru di situlah insting bisnisnya bekerja. Ia mulai menyesuaikan rasa kebab agar lebih cocok dengan lidah lokal. Dan lahirlah brand Kebab Baba Rafi.
Nama itu diambil dari nama putra pertamanya, Rafi. Sebuah nama yang diselipkan harapan: semoga membawa rezeki yang baik dan berkah bagi keluarga mereka.

Kadang hidup memang aneh.
Hal-hal besar sering lahir dari sesuatu yang sangat sederhana.

Yang membuat aku kagum, Nilam mengaku dulu bahkan tidak memahami istilah franchise atau waralaba. Mereka hanya fokus berjualan. Fokus membuat pelanggan suka. Fokus bertahan hidup.

Tetapi ketika semakin banyak orang ingin membuka usaha serupa, mereka mulai belajar membangun sistem. Sedikit demi sedikit dan otodidak. Belajar dari pengalaman. Belajar dari kesalahan. Belajar dari siapa saja yang bisa mengajarkan sesuatu.

Tahun 2008 menjadi titik ledakan besar bagi Kebab Baba Rafi. Ekspansi ke Jakarta membuat bisnis mereka tumbuh sangat cepat. Outlet demi outlet bermunculan.
Dan dalam waktu yang tidak terlalu lama, bisnis itu berkembang menjadi salah satu franchise kebab terbesar di Indonesia. Bahkan pada tahun 2010, mereka berhasil memiliki sekitar 1.300 outlet di 10 negara!

Boom! Sungguh seperti mimpi.
Dari gerobak kecil di Surabaya, lalu berkembang hingga menembus pasar internasional.

Tetapi hidup, seperti yang kita tahu, tidak selalu bergerak lurus ke atas.
Di tengah masa kejayaan itu, badai datang.

Nilam bercerita bagaimana dirinya mulai tergoda masuk ke bisnis lain seperti tambang dan properti. Bidang yang ternyata tidak benar-benar ia kuasai.
Dan sering kali, kehancuran memang dimulai ketika manusia terlalu jauh meninggalkan hal yang paling ia pahami.

Ada penipuan.
Ada kesalahan langkah.
Ada keputusan-keputusan yang ternyata membawa kerugian besar.

Dalam usia yang masih sangat muda, sekitar 27 tahun, ia harus menghadapi utang hingga belasan miliar rupiah.

Tetapi rupanya hidup belum selesai mengujinya.

Di saat bersamaan, ia menghadapi perceraian yang menyakitkan. Lalu persoalan hukum tentang hak cipta. Dan yang paling menghancurkan, kehilangan sang ibu tercinta karena leukemia.

Saya membayangkan betapa sunyinya fase hidup itu.

Ketika semua datang bersamaan.
Ketika dunia seperti runtuh tanpa jeda.
Ketika seseorang harus tetap terlihat kuat padahal di dalam dirinya sudah remuk berkeping-keping.

Di sesi Zoom itu, Nilam sempat mengatakan bahwa ada masa ketika dirinya hampir menyerah pada hidup. Tekanan dari penagih utang membuat hari-harinya terasa gelap.

Dan saya rasa, di titik itulah banyak peserta mulai diam, karena cerita itu terasa begitu manusiawi.

Tidak semua orang pernah punya utang miliaran. Tetapi hampir semua orang pernah merasa hidup terlalu berat untuk dijalani. Namun justru dari titik paling rendah itulah kebangkitan dimulai.

What if you fly?


Alih-alih hancur dan menyerah pada hidup, Nilam memilih fight back. Ia belajar lagi, dan ia menyebutnya sebagai investasi “leher ke atas”. 

Meski tidak menyelesaikan pendidikan S1, ia terus mengikuti kursus, pelatihan, hingga akhirnya mendapatkan kesempatan beasiswa ketika ikut dalam kompetisi di majalah SWA, untuk melanjutkan pendidikan S2. Ia ingin memperbaiki sistem bisnisnya. Memperbaiki cara berpikirnya. Memperbaiki dirinya sendiri.

Dari tanya jawab bersama para peserta di ruang zoom, Nilam bertanya pada kami semua, pertanyaan yang sama yang ia tanyakan ketika ia memutuskan untuk mengambil langkah baru; "What if I fly?"

Dari sana lahirlah PT Sari Kreasi Boga atau SKB Food.

Sebuah langkah baru.
Sebuah keberanian untuk memulai lagi dari nol.

Periode 2017 hingga 2019 menjadi masa penuh perjuangan untuk membereskan masalah finansial dan manajemen. Sedikit demi sedikit, utang diselesaikan. Sedikit demi sedikit, hidupnya kembali ditata.

Dan akhirnya, sesuatu yang dulu mungkin terasa mustahil benar-benar terjadi.
Pada Agustus 2022, PT Sari Kreasi Boga resmi melantai di Bursa Efek Indonesia.

Dari trotoar… ke lantai bursa!


Kalimat itu terasa begitu kuat karena bukan sekadar slogan bisnis. Melainkan ringkasan perjalanan hidup seorang perempuan yang pernah jatuh sedalam-dalamnya, lalu memilih bangkit lagi.

Yang paling menyentuh dari semua cerita itu justru bukan soal IPO atau ribuan outletnya. Melainkan bagaimana Nilam tetap mencintai UMKM.

Ia tahu rasanya berjualan kecil-kecilan.
Ia tahu rasanya memulai dari nol.
Ia tahu rasanya diremehkan.

Karena itu ia mendirikan Nava Sari Kreasi melalui BukaOutlet.com untuk membantu membina banyak merek lokal agar bisa berkembang.
Dalam sesi Zoom tersebut, ia juga berbicara tentang pentingnya perempuan membangun personal branding dan identitas diri.
“Jangan hanya jadi sistem pendukung,” begitu kira-kira pesan yang tertinggal di kepala saya.

"Sangatlah penting bagi perempuan untuk mandiri secara finansial agar kita selalu memiliki pilihan dalam hidup," kata Nilamsari. 

"Jika kita memberdayakan diri sendiri, kita bisa memberikan banyak dampak bagi masyarakat dan keluarga kita."

Kalimat sederhana, tetapi dalam sekali maknanya.

Sebab sering kali perempuan terlalu sibuk menopang semua orang, sampai lupa membangun dirinya sendiri.
Di penghujung sesi, aku menangkap satu hal yang paling kuat dari cerita Nilam Sari: keyakinan bahwa hidup tidak pernah benar-benar meninggalkan manusia sendirian.
Bahwa bersama kesulitan selalu ada kemudahan, seperti yang tertulis dalam QS. Al-Insyirah.

Dan mungkin benar begitu.

Sebab tidak ada sukses yang selamanya tinggal. Tidak ada susah yang abadi.
Yang penting hanyalah terus melangkah, meski perlahan. Meski takut. Meski gelap.


Malam itu, Zoominar ISB bukan hanya tentang bisnis.

Tetapi tentang keberanian manusia untuk tetap hidup… bahkan setelah berkali-kali dihancurkan keadaan.

Komentar