Wednesday, November 27, 2013

Resep Kuno untuk Menulis Cepat

Oleh AS Laksana


Pertama-tama, mari kita pahami dulu satu hal yang sangat mendasar, yakni mengenai kelengkapan informasi dalam tulisan. Hal ini merupakan persyaratan bagi tulisan-tulisan jurnalistik. Ia juga me
Sumber : pinterest.com
rupakan persyaratan bagi tulisan-tulisan non-fiksi. Dan untuk tulisan fiksi? Sama saja.

Kelengkapan informasi adalah prinsip penting bagi setiap tulisan yang anda kerjakan, entah itu fiksi atau non-fiksi. Informasi yang memadai dalam fiksi tidak akan membuat pembaca anda bertanya-tanya, “Kok ceritanya tiba-tiba begini, ya?” atau “Tidak masuk akal, kenapa tiba-tiba ia bisa begitu?” atau sebuah komentar singkat “ceritanya tidak logis.”

Cerita yang baik biasanya akan mencakup seluruh informasi yang menjawab keingintahuan dan rasa penasaran pembaca mengenai rangkaian kejadian sejak awal sampai semuanya berakhir.

Pada sebuah cerita detektif, misalnya, jika informasi anda tidak memadai, detektifnya akan gagal menemukan siapa pembunuh Pak Gendon. Atau jika anda menceritakan keberhasilan si detektif mengungkap siapa pembunuh Bu Gentong, maka itu akan menjadi penemuan yang tidak masuk akal karena cerita anda kekurangan informasi.

Camkan hal ini: kecukupan informasi.

Para wartawan sudah akrab dengan formula kuno untuk memperoleh kecukupan informasi, ialah 5W 1H. Itu resep yang manjur untuk menggali informasi apa saja yang akan disajikan kepada pembaca.

Dan itu juga resep yang manjur untuk menulis fiksi.

Untuk memudahkan, saya akan memberikan contoh dari cerita yang sudah sangat dikenal, yakni kisah si Malin Kundang, seorang anak yang durhaka kepada ibu kandungnya dan akhirnya terkutuk menjadi batu.

Jika saya meminta anda sekarang juga menulis ulang cerita tersebut dalam waktu satu atau dua jam saja, anda akan mengatakan bahwa sekarang sedang tidak mood menulis; atau anda akan sibuk mengingat-ingat jalan ceritanya; atau anda akan meminta waktu seminggu untuk mengerjakannya. Jika saya setujui waktu seminggu bagi anda, anda tetap akan mengerjakannya pada satu hari atau satu jam sebelum waktu anda habis.

Sekarang, gunakan formula kuno 5W 1H untuk menulis ulang cerita tersebut dengan berpegang pada ingatan samar-samar anda tentangnya. Ajukan pertanyaan dengan formula di atas sehingga cerita Malin Kundang anda memenuhi kecukupan informasi

Dalam waktu sebentar saya bisa menemukan 15 pertanyaan sebagai berikut:


  1. Di mana Malin Kundang tinggal bersama ibunya?
  2. Bagaimana keadaan desa dan hubungan di antara para penduduknya?
  3. Apa mata pencarian ibunya?
  4. Dengan cara bagaimana ibu Malin Kundang menunjukkan rasa cinta kepada anaknya?
  5. Kenapa Malin Kundang ingin berlayar?
  6. Apa bekal yang diberikan oleh ibunya ketika Malin Kundang meninggalkan kampungnya?
  7. Kenapa Malin Kundang mendapatkan kepercayaan dari saudagar kaya dan akhirnya dijadikan menantu?
  8. Bagaimana Malin Kundang menjelaskan asal-usulnya kepada istrinya?
  9. Apa yang membuat Malin Kundang akhirnya meluluskan permintaan istrinya untuk berlayar ke kampung halamannya?
  10. Dengan cara apa Malin Kundang membuktikan kepada istrinya bahwa orang tuanya sudah meninggal?
  11. Siapa yang memberi tahu ibu Malin Kundang bahwa anaknya pulang dengan kapal besar?
  12. Apa yang dibawa oleh ibu Malin Kundang ketika ia menemui anaknya?
  13. Bagaimana reaksi istri Malin Kundang ketika suaminya menolak mengakui ibu kandungnya?
  14. Apa yang dilakukan oleh ibu yang sakit hati oleh penolakan anaknya?
  15. Bagaimana akhir riwayat Malin Kundang?
Dengan pertanyaan-pertanyaan itu anda bisa menceritakan kembali riwayat Malin Kundang dengan sangat mudah dan cepat. Anda hanya memerlukan waktu 75 menit untuk menuliskan kembali cerita tersebut, bahkan ketika ingatan anda tentang cerita itu hanya samar-samar saat ini.

Cara menguji keberhasilan teknik ini mudah saja. Mintalah dua orang atau dua kelompok untuk membaca cerita Malin Kundang, sekali saja. Seminggu kemudian mintalah mereka menceritakan dengan kalimat mereka sendiri cerita tersebut. Orang atau kelompok pertama menggunakan teknik 15 pertanyaan, orang atau kelompok kedua menulis tanpa alat bantu pertanyaan, atau dengan menggunakan outline model kuno yang mereka kenal.

Anda akan melihat siapa atau kelompok mana yang akan mampu menyelesaikan tulisannya lebih cepat dan lebih lengkap. Saya telah melakukan pengujian ini dengan beberapa orang yang saya bagi menjadi dua kelompok seperti di atas. Dan kelompok pertama menulis lebih cepat, lebih lancar, dan lebih lengkap.

Anda juga akan seperti itu. Jika anda menjawab masing-masing pertanyaan dalam waktu lima menit, anda akan menyelesaikan 15 pertanyaan itu dalam waktu hanya 75 menit. Dan jika kecepatan menulis anda 200 kata per lima menit (kecepatan rata-rata saya antara 200-250 kata per lima menit), anda akan mendapatkan cerita Malin Kundang sepanjang 3.000 kata dalam waktu tak sampai dua jam. Itu cerita yang kira-kira dua kali panjangnya dari cerpen yang dimuat di koran-koran.

Sekarang, mari kita lihat bagaimana cara tersebut akan membuat anda menulis fiksi jauh lebih cepat dan lebih lancar. Misalkan kita berangkat dari sebuah pengandaian: “Apa jadinya jika suatu hari seseorang tiba-tiba memiliki kemampuan membaca pikiran orang lain?”

Dari pengandaian di atas, mari kita bikin pertanyaan:
  1. Apa peristiwa yang membuat tokoh utama tiba-tiba bisa membaca pikiran orang lain?
  2. Apa dan di mana peristiwa lucu yang mula-mula ia alami dengan kemampuannya itu?
  3. Apa peristiwa yang menyedihkannya?
  4. Kenapa orang yang ia percaya ternyata berbohong?
  5. Sudah berapa lama ia dibohongi?
  6. Bagaimana perasannya ketika ia tahu bahwa orang yang sangat ia percaya ternyata berbohong?
  7. Di mana ia bisa lari dari kebohongan orang-orang di sekitarnya untuk mendapatkan ketenteraman?
  8. Di mana tempat ia bisa mengadukan kesedihannya karena selama ini orang yang ia percaya ternyata berbohong?
  9. Apa kebohongan yang paling menyakitkan hatinya?
  10. Bagaimana ia bisa menerima keadaan itu?
  11. Bagaimana ia bisa menunjukkan kebohongan orang yang ia percayai itu kepada yang bersangkutan?
  12. Bagaimana jika orang itu tetap tidak mengaku?
  13. Apakah ia akan menyampaikan bahwa ia bisa membaca pikiran orang?
  14. Dengan cara apa ia mengatasi konflik batinnya?
  15. Bagaimana ia mengatasi konflik dengan orang yang sebelumnya sangat ia percaya?
Dengan cara itu anda sudah menulis cerita tentang seseorang yang suatu ketika mengalami peristiwa ajaib bisa membaca pikiran orang lain. Maka, lihatlah, betapa mudah menulis cerita ketika anda hanya menjawab secepat-cepatnya. Anda bahkan bisa memanfaatkan alat perekam untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan jika anda tak punya waktu untuk menulis. Lalu sewa orang lain untuk membuat transkripsi rekaman anda.

Salam
A.S. Laksana

NB.1. Jika anda sudah punya plot dan tidak kunjung menuliskannya, anda bisa merampungkan novel anda secara cepat dengan teknik kuno ini. Karena itulah saya menyampaikan bahwa menulis buku dalam 21 hari adalah hal yang sangat bisa dilakukan—jika setiap hari anda bisa menyelesaikan satu bab, syukur-syukur dua.

No comments:

Post a Comment

Thanks sudah mengunjungi blog Neng ya, sahabat ^_^