Deep Talk with Gen Z : HTS, Takdir, dan Tanggung Jawab Hati



    Malam itu aku ngobrol dengan anak lelakiku yang akrab disapa bang Dio. Usianya 21 tahun. Usia yang secara emosional masih mencari, tapi secara pikiran sudah berani bersikap. Mumpung lagi ngga ada orang, aku berusaha mengulik obrolan yang kupikir topiknya bisa jadi perbandingan, plus ya namanya juga ibu-ibu yaaa.. mau nasehatin anak yang beranjak dewasa kan udah nggak kayak dulu hihi..

“Kamu tahu arti HTS-an gak, bang?” tanyaku ke Bang Dio, pura-pura nanya - padahal aku pelajarin dulu loh artinya dari ngedengerin podcast dan baca-baca.

"Tau Mah." Dio menerangkan sekilas arti HTS - hubungan tanpa status. Tau aja kalo emaknya sering cari informasi, maklum untuk modal sebagai content writer.

HTS di kalangan gen Z memang lebih relate, entah kenapa.

“Kamu suka nggak HTS-an?”

Aku kira dia akan jawab normatif. Atau menghindar. Tapi dia justru menjawab tenang.

“Nggak, Mah.”

Aku mendesak, "Masak ngga pernah?" 

Katanya, pernah tapi itu juga karena dalam masa PDKT a.k.a pendekatan. Tapi dia nggak nyaman. Menurutnya, hubungan harus jelas. Iya atau tidak. Jalan atau berhenti. Karena menggantungkan orang lain dalam ketidakpastian, buat dia, bukan sikap yang menghargai perasaan.

Aku terdiam. Bukan karena kaget, tapi karena jawaban itu datang dari anak Gen Z—generasi yang sering dilekatkan dengan label abu-abu, fleksibel, dan anti komitmen. Tapi di hadapanku, anakku bicara tentang adab, tentang tanggung jawab emosional, dengan bahasa yang sederhana.

Dari situ obrolan kami melebar. Dari HTS ke jodoh. Dari status ke takdir. Dari cinta ke qadha dan qadr.

Sebagai ibu, aku tumbuh dengan keyakinan bahwa jodoh itu sudah ditentukan Allah. Tapi seiring usia, aku belajar bahwa takdir tidak pernah berdiri sendirian. Ia berjalan berdampingan dengan pilihan manusia. Allah menetapkan hasil, tapi manusia tetap diminta melangkah dengan niat yang jelas.
Dio percaya, HTS sering kali adalah bentuk menunda keputusan. Bukan selalu salah, tapi berisiko. Karena perasaan tidak pernah benar-benar diam. Ia tumbuh, berharap, dan bisa terluka tanpa suara.

Aku mendengarkannya, lalu tanpa sadar berkaca pada diriku sendiri.

Aku teringat masa awal pernikahanku. Culture shock. Perbedaan kebiasaan. Perbedaan cara pandang. Bahkan perbedaan keyakinan yang tidak selesai hanya dengan cinta. Ya, karena tadinya aku tidak sejalan, tapi akhirnya belajar karena bukan sekedar untuk mengalah, tapi masih dalam proses pencarian itu sendiri.

Pernikahan mengajarkanku bahwa komitmen bukan akhir pencarian, tapi awal dari ujian yang panjang. Banyak doa yang lahir dari kelelahan. Banyak sabar yang dipelajari bukan dari buku, tapi dari air mata.

Aku juga melihat teman-temanku. Ada yang memilih tinggal bersama tanpa menikah. Ada yang langgeng, ada yang berpisah dengan luka. Ada yang akhirnya menikah, ada yang justru memilih tidak menikah sama sekali. Dari mereka aku belajar, bahwa bahkan ikatan sah pun tidak menjamin kebahagiaan jika visi hidup tidak sejalan—terutama soal anak dan nilai-nilai yang ditanamkan.

Di titik itu, aku mulai memahami HTS bukan sebagai kenakalan generasi muda, tapi sebagai tanda zaman. Dunia yang keras membuat banyak anak muda memilih berhati-hati. Mereka tumbuh dengan melihat kegagalan, perceraian, konflik, dan luka yang nyata. Maka wajar jika mereka tidak ingin melangkah gegabah. 

Namun sebagai ibu, ada kegelisahan yang tetap tinggal.

Bahwa hati manusia bukan tempat singgah. Bahwa rasa adalah amanah. Bahwa dalam Islam, kejelasan adalah bentuk ihsan. Tidak menyakiti sering kali lebih utama daripada merasa nyaman.

Malam itu aku tidak mengajari Dio. Justru aku belajar darinya. Bahwa Gen Z tidak sekosong yang sering dituduhkan. Mereka hanya tumbuh di dunia yang berbeda, dengan tantangan yang lebih kompleks. Mereka tumbuh di era dimana internet adalah hidup itu sendiri, dan SEO content writer adalah semacam mapping jika menemui jalan buntu saat crawling di search engine!

Aku sampai pada satu kesimpulan pelan: HTS bukan soal benar atau salah
Tapi justru soal niat dan kejujuran. Apakah dua orang sedang sama-sama mencari, atau satu bertahan sementara yang lain menggantungkan harap.

Dan di hadapan Allah, bukan status yang akan ditanya pertama kali. 
Tapi bagaimana kita menjaga perasaan orang lain. Bagaimana kita bersikap adil. Bagaimana kita bertanggung jawab atas rasa yang pernah kita terima. Waaa kok jadi sedih aku nulisnya... :(

Sebagai ibu, aku tidak bisa memilihkan jalan hidup anakku. Aku hanya bisa mendoakan agar setiap langkahnya jujur, setiap pilihannya beradab, dan setiap cintanya mendekatkan dia pada Allah, bukan menjauhkannya dari dirinya sendiri.

Karena jodoh memang tidak tertukar. Tapi sikap kita dalam proses menunggu, mencari, dan memilih, itulah yang akan dimintai pertanggungjawaban.

Dan mungkin, di situlah letak kedewasaan yang sebenarnya.

Bukan pada cepat atau lambatnya menikah.
Tapi pada keberanian untuk jujur, meski tidak selalu nyaman.

Komentar

Postingan Populer