WORKSHOP SENI RUPA JAPAN = UKIYO E

Aku selalu menyukai karya seni. Sepertinya, semua teman yang pernah dekat denganku tahu tentang itu. Mulai seni lukis, patung, hingga digital pop art. Termasuk seni yang satu ini. Ukiyo e. 

Jika di Indonesia kita kenal daerah pembuat ukiran yang indah seperti Ubud, Bali  dan Jepara. Di Jepang ternyata juga mengenal hal serupa. Sejak awal periode Edo (1600-1868) yaitu
sebelum kertas menjadi konsumsi, masyarakat Jepang menggunakan teknik Ukiyo-e untuk menulis atau mengutarakan sesuatu. Misalnya undangan atau selebaran.


Seni cetak dari cukil kayu ini menjadi populer terutama di kalangan kelas menengah. Biasanya subjek utama ukiyo-e cenderung terfokus pada kawasan prostitusi, hingga teater-teater kabuki.  Berawal dari hanya sehelai kertas, hingga berbentuk album dan ilustrasi buku.

ASAL KATA UKIYO E
Pada abad 16 - 17 ini, genre lukisan (fuzokuga) pada masa itu menggambarkan para pencari kenikmatan dari berbagai macam kelas sosial. Mereka memenuhi distrik-distrik hiburan di sepanjang sungai Kamogawa di Kyoto. Gaya hidup bebas ini disebut dengan ukiyo, atau ‘dunia yang mengambang’.

Bersamaan dengan itu muncullah genre seni ukiyo-e, yang mengagungkan gaya hidup seperti itu (buku petunjuk sex atau shunga - gambar musim semi). Ukiyo e mulanya menggambarkan pose tubuh dan bentuk kimono yang dikenakan oleh para wanita penghibur.
Percetakan Warna
Pada tahun 1745, ditemukan sebuah teknik untuk menggunakan serangkaian blok, dan setiap blok akan mencetak warna yang berbeda-beda dalam satu helai kertas. 

Hasil cetakan dari teknik ini dinamakan benizuri-e (gambar-gambar yang dicetak dalam warna merah) karena warna paling dominan adalah warna merah, yang diambil dari bunga sari Safflower (benibana), dengan total tidak lebih dari 2 hingga 3 warna. 

Tahun 1764 cetakan berwarna yang penuh akhirnya dapat dihasilkan. Perkembangan ini sangat erat kaitannya dengan meroketnya popularitas Suzuki Harunobi (1725 – 1770). Pada tahun 1766 hampir semua pelukis ukiyo-e melukis dengan menggunakan gaya Harunobu. 

Sejak itu, seni ukiyo-e berubah menjadi gambar dengan lukisan pemandangan, tak lagi sensual.
Bagaimana cara menukil kayu ukiyo e?
Kalau jawabanku : ambil sebilah kayu terus ditukil-tukil lantas diwarnai, sudah begitu saja, kujamin kalian semua akan buru-buru pingin ngambil kayu tersebut untuk mengeplakkannya ke kepalaku.
Tapi bener, caranya mudah saja. Ambil sebilah kayu (saat workshop berlangsung diganti dengan selembar kertas karton maha tebal berwarna coklat) lantas kita buat sketsa di atasnya.
Mulailah menukil sketsamu dengan menggunakan sebilah pisau tipis khusus yang bisa kalian beli di toko yang menjual peralatan untuk menghias kue itu.
Jika sudah, kertas diberi kuas warna. Kemudian ditempelkan ke selembar kertas lain, sambil digosok agar menempel. Nah, karyamu tinggal dikeringkan deh...
Gampang bukan?
Kalian boleh menempelkannya di beberapa kertas dengan warna yang berbeda. tentu saja, warna pertama harus di'cuci' dahulu dengan air dan kuas. Jika sudah kering, bisa dicat kembali dengan warna berbeda. Selamat mencoba!

6 komentar

  1. fokus sekali ya mereka mengerjakannya...

    BalasHapus
  2. Dimana iniii workshopnya? Seru bangeeet

    BalasHapus
    Balasan
    1. mbak Tia

      di Japan Foundation - Summitmas I 3rd floor Jl Jnd Sudirman JakSel

      Hapus
  3. Balasan
    1. hasil karyanya sama semua mommy Chi :D cuman beda warna saja, ada merah, kuning gitu

      Hapus

TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA BLOG NENG TANTI (^_^)