Buku-Buku yang Pelan-Pelan Membentuk Aku Jadi Versi Diri Sekarang
Versi Diriku Hari Ini Dibentuk oleh Buku
Aku suka membaca.Dan kalau aku jujur ke diri sendiri, banyak bagian dari karakterku hari ini tumbuh bukan cuma dari pengalaman hidup, tapi juga dari halaman-halaman buku yang aku baca sejak kecil.
Buku itu bukan sekadar hiburan. Buatku, buku adalah ruang aman. Tempat aku belajar memahami dunia, sebelum dunia benar-benar paham bagaimana caranya memperlakukan manusia.
Buku Pertama yang Membekas: Laura Ingalls Wilder
Kalau ditanya buku apa yang paling membekas di hidupku, jawabanku selalu sama: seri buku Laura Ingalls Wilder.
Aku punya koleksinya lengkap. Dulu.
Semuanya hilang, kebawa banjir besar di Ciputat.
Sampai sekarang, aku masih ingat rasanya. Bukan sekadar kehilangan buku, tapi kehilangan potongan memori. Karena dari Laura Ingalls Wilder, aku belajar banyak hal tanpa sadar:
tentang kesederhanaan, ketahanan hidup, keluarga, dan bagaimana perempuan bisa kuat tanpa harus berisik.
Cerita-cerita Laura itu pelan. Nggak heboh. Tapi justru di situ kekuatannya.
Dan mungkin, tanpa sadar, buku-buku itulah yang membentuk caraku memandang hidup: nggak rewel, tapi tahan banting.
Dari Misteri ke Kemanusiaan: Agatha Christie & Pearl S. Buck
Seiring bertambahnya usia, bacaanku ikut berkembang.Aku jatuh cinta pada Agatha Christie.
Bukan cuma karena misterinya, tapi karena cara dia membangun logika, detail kecil, dan kejutan yang rapi. Dari Agatha Christie, aku belajar satu hal penting: hal kecil sering jadi kunci segalanya.
Lalu ada Pearl S. Buck.
Buku-bukunya membuka mataku tentang kemanusiaan, budaya, dan kompleksitas hidup. Ceritanya terasa tenang, tapi dalam. Dan setiap selesai membaca, aku sering terdiam agak lama, mencerna.
Aku mengoleksi semua buku Pearl S. Buck.
Karena buku-buku itu rasanya seperti ngobrol dengan seseorang yang bijak dan sabar.
Membaca, Bapak, dan Warisan yang Diam-Diam Menempel
Mungkin kecintaanku pada buku juga nggak lepas dari satu sosok penting: alm. bapak.Bapak hobi banget baca buku.
Dan tanpa pernah memaksa atau ceramah, beliau menularkan kebiasaan itu ke aku. Melihat orang tua membaca itu efeknya kuat—kayak pesan diam-diam bahwa membaca itu penting, layak diperjuangkan, dan menyenangkan.
Jadi setiap kali aku membuka buku, ada rasa nostalgia kecil.
Seolah aku sedang melanjutkan sesuatu yang dulu dimulai bapak.
Target Membaca Tahun Ini: Melanjutkan Kebiasaan yang Sudah Menjadi Bagian Hidup
Karena itulah, setiap tahun aku selalu pasang target membaca.
Tahun ini, targetku 20 buku.
Bukan karena ikut tren reading challenge.
Tapi karena membaca sudah jadi bagian dari caraku merawat diri dan pikiranku sendiri.
Daftar bacaan tahun ini campuran:
self-improvement, sastra, buku lokal, dan tentu saja genre yang bikin aku mikir lebih dalam tentang hidup.
Biar Nggak Cuma Niat: Cara Aku Menjaga Komitmen Baca
Aku belajar dari pengalaman—niat tanpa sistem itu gampang tumbang.Jadi ini caraku:
- Aku baca 30 menit sehari, tanpa drama.
- Buku selalu ada di tas atau HP.
- Kalau nggak cocok, aku berhenti tanpa rasa bersalah.
- Aku catat progress kecil, biar otak ngerasa “aku jalan”.
Cara Membaca yang Efektif Versi Aku
Versi aku ya, bukan versi motivator:
Penutup
Buatku, membaca bukan perlombaan.
Bukan juga ajang pamer rak buku.
Membaca adalah proses panjang yang diam-diam membentuk cara kita berpikir, bersikap, dan memaknai hidup.
Dan mungkin, kalau hari ini aku jadi versi diri yang lebih reflektif, lebih sabar, dan lebih tahan banting—sebagian jawabannya ada di buku-buku yang pernah aku baca…
termasuk yang kini sudah hilang kebawa banjir, tapi jejaknya masih tinggal di kepala dan hati.
Kalau kamu, buku apa yang paling membekas di hidupmu?
Yang walau bukunya hilang, ceritanya masih tinggal?
Spill ya. Aku selalu suka denger cerita soal buku
Versi aku ya, bukan versi motivator:
- Aku baca dengan tujuan, bukan sekadar ngejar selesai.
- Aku tandai bagian yang kena di hati atau bikin mikir.
- Aku izinkan diri baca pelan.
Penutup
Buatku, membaca bukan perlombaan.
Bukan juga ajang pamer rak buku.
Membaca adalah proses panjang yang diam-diam membentuk cara kita berpikir, bersikap, dan memaknai hidup.
Dan mungkin, kalau hari ini aku jadi versi diri yang lebih reflektif, lebih sabar, dan lebih tahan banting—sebagian jawabannya ada di buku-buku yang pernah aku baca…
termasuk yang kini sudah hilang kebawa banjir, tapi jejaknya masih tinggal di kepala dan hati.
Kalau kamu, buku apa yang paling membekas di hidupmu?
Yang walau bukunya hilang, ceritanya masih tinggal?
Spill ya. Aku selalu suka denger cerita soal buku
.jpg)


Komentar
Posting Komentar
TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA BLOG NENG TANTI (^_^)