Zakat Itu Kalcer: Saat Berbagi Berubah dari Kewajiban Jadi Skill Hidup Paling Relevan di 2026



    Aku hidup di era di mana notifikasi nggak pernah tidur. Dari pagi sampai malam, kita dituntut produktif, relevan, dan “punya value”. Tapi di tengah semua itu, pernah nggak sih kamu ngerasa… kosong? Kayak capek ngejar angka, tapi ada bagian dari diri yang nggak ikut tumbuh.

    Di titik itulah aku mulai sadar: mungkin yang kita kejar selama ini kurang satu elemen penting—berbagi.

    Dan menariknya, di awal 2026 ini, Dompet Dhuafa justru datang dengan satu statement yang kelihatannya santai tapi dalam:
“Zakat Itu Kalcer.”
Bukan slogan kosong. Tapi tanda bahwa cara kita memandang zakat—dan berbagi secara umum—sedang berubah.

Dari Beban Tahunan ke Identitas Sehari-hari

Jujur aja, dulu zakat sering terasa seperti checklist spiritual. Dilakukan, selesai. Muncul setahun sekali, biasanya mepet Lebaran, sering kali tanpa benar-benar tahu dampaknya ke mana.

Tapi “kalcer” itu beda. Culture itu hidup. Dia bukan paksaan. Dia kebiasaan yang nempel sama identitas.

Dan di sinilah Dompet Dhuafa lewat tema Harmoni Kepedulian untuk Ramadan 1447 H melakukan pergeseran penting: 

zakat nggak lagi ditempatkan sebagai kewajiban berat, tapi sebagai bagian dari gaya hidup sadar.

Di dunia yang makin individualistis, berbagi justru jadi penyeimbang. Bukan melemahkan, tapi menguatkan—baik secara sosial maupun personal.

Acara yang berlangsung di Winners Backyard, Pondok Pinang, Jakarta Selatan, pada 29 Januari 2026 lalu benar-benar jadi eye-opener. Bukan sekadar agenda seremonial atau pembagian bantuan, tapi potret bagaimana sebuah lembaga kemanusiaan seperti Dompet Dhuafa memikirkan kehidupan penerima manfaat secara utuh—mulai dari kebutuhan dasar seperti tempat tinggal, sampai hal-hal yang sering luput diperhatikan, seperti keberlangsungan kerja para pengemudi ojek online.

Dalam kesempatan itu, hadir :

  • Eka Suwandi dari DMC Dompet Dhuafa bersama
  • Chiki Fawzi, Super Volunteer Dompet Dhuafa, yang berbagi cerita langsung dari pengalaman mereka terjun sebagai relawan di lokasi bencana di Sumatra. 
  • Penjelasan mengenai arah kontribusi dan program ke depan juga disampaikan oleh Sulistiqomah, Ketua Ramadan 1447 H, serta Etika Setiawanti, Direktur Dompet Dhuafa
  • Suasana makin hidup dengan kehadiran Ustaz Maulana, yang seperti biasa membawa energi positif dan semangat kepedulian yang menular ke seluruh ruangan.

Perjuangan di Lereng Gayo: Antara Medan Berat dan Harapan

Cerita yang paling mengaduk emosi datang dari Eka Suwandi, Kepala Bagian Tanggap Darurat, Pemulihan, dan Rekonstruksi DMC Dompet Dhuafa. Ia mengisahkan kondisi di wilayah Gayo dan Takengon, Sumatra, pascabencana. Di saat sebagian dari kita mungkin masih sibuk memikirkan hal-hal sepele sehari-hari, masyarakat di sana harus bertahan menghadapi alam yang tak bersahabat.

Jalur utama terputus total akibat longsor di banyak titik, membuat akses distribusi bantuan nyaris mustahil dilalui kendaraan. Bantuan logistik yang berat dan berjumlah besar tak bisa masuk dengan cara biasa. 

Solusinya? 
Para relawan Dompet Dhuafa memanggul bantuan tersebut secara bergantian, berjalan kaki menyusuri medan naik turun perbukitan demi memastikan bantuan sampai ke tangan warga yang menunggu. Bukan sekadar tenaga yang dipertaruhkan, tapi juga komitmen dan empati yang luar biasa.

Sampai sejauh ini, Dompet Dhuafa sudah menyalurkan dana umat sebesar Rp426 miliar yang difokuskan ke lima pilar utama. Bukan asal bagi-bagi, tapi benar-benar nyentuh kebutuhan hidup orang banyak:
  • Pendidikan: Biar anak-anak dhuafa tetap bisa sekolah dengan layak dan nggak harus putus mimpi cuma karena keadaan.
  • Kesehatan: Layanan medis gratis supaya sakit nggak jadi alasan orang makin jatuh secara ekonomi.
  • Ekonomi: Modal usaha plus pendampingan buat UMKM, biar nggak cuma bertahan, tapi bisa naik level dan mandiri.
  • Sosial: Gerak cepat setiap kali ada bencana atau krisis kemanusiaan, tanpa drama, tanpa nunggu viral.

  • Dakwah & Budaya: Menjaga nilai-nilai kebaikan tetap relevan dan “hidup” di tengah perubahan zaman yang serba cepat.

Program Huntara, Gebrakan untuk Penyintas Bencana Sumatera

Tak berhenti pada bantuan darurat, Dompet Dhuafa juga mengambil langkah jangka menengah dengan membangun 1.000 unit Hunian Sementara (Huntara) di tiga wilayah terdampak di Sumatra. 

Hingga Januari ini, 120 unit Huntara telah siap digunakan sebagai tempat tinggal sementara bagi para penyintas.

Harapannya, saat Lebaran tiba, mereka tak lagi harus bertahan di tenda darurat yang dingin, melainkan sudah memiliki hunian yang lebih layak dan manusiawi sambil menunggu pembangunan rumah permanen mereka rampung.


Berbagi Itu Skill, Bukan Sekadar Moral

Yang sering kita lupa: berbagi bukan cuma soal baik atau tidak baik. Di era digital, berbagi sudah naik level jadi life skill.

Secara sains, tindakan memberi memicu hormon oksitosin dan dopamin—kombinasi alami yang menurunkan stres dan melawan burnout digital. Jadi kalau kamu sering capek mental tanpa tahu sebabnya, bisa jadi bukan kurang liburan, tapi kurang memberi.

Lebih dari itu, berbagi—termasuk zakat—melatih empati, kepekaan sosial, dan kemampuan melihat dunia di luar diri sendiri. Skill yang justru nggak bisa digantikan AI.

Di tengah era otomatisasi, empati adalah nilai premium.

Rajut Cerita, Bukan Sekadar Transfer Dana



Satu pendekatan Dompet Dhuafa yang menurutku relevan banget adalah konsep “Rajut Cerita.” Ini bukan sekadar narasi puitis, tapi cara baru melihat filantropi.

Kita nggak lagi “menyumbang”, tapi ikut merajut perjalanan hidup orang lain. Dari petani, guru, tenaga kesehatan, sampai penyintas bencana—cerita mereka berlanjut karena keberlanjutan, bukan belas kasihan sesaat.

Zakat di sini berubah fungsi: dari angka menjadi narasi. Dari kewajiban menjadi partisipasi.

Dan jujur, rasa “ikut terlibat” itu jauh lebih meaningful dibanding kepuasan instan dari self-reward yang cepat hilang efeknya.

Milenial & Gen Z: Empati yang Terdigitalisasi

Ada fakta menarik dari Dompet Dhuafa: 
sekitar 35% donatur saat ini berasal dari generasi milenial. Ini menandakan pergeseran besar.

Anak muda hari ini nggak anti berbagi. Mereka cuma anti ketidakjelasan.

Transparansi laporan, akses digital, dan cerita dampak nyata membuat empati jadi demokratis. Influencer, blogger, dan kreator kini berperan sebagai kurator nurani sosial—menghubungkan audiens dengan realitas.

Zakat jadi bukan soal “disuruh”, tapi dipilih secara sadar.

Gotong Royong: Sistem Operasi yang Nggak Pernah Usang

Sebagai bangsa, kita sebenarnya punya “sistem operasi” sosial yang kuat: gotong royong.

Tradisi seperti marsialapari di Mandailing atau sinoman di Jawa membuktikan bahwa berbagi bukan hal baru. Yang baru hanyalah bentuknya.

Lembaga seperti Dompet Dhuafa mengadaptasi nilai ini ke konteks modern—terstruktur, terukur, dan berkelanjutan. Jadi pekerjaan kemanusiaan yang berat bisa ditopang bersama, tanpa kehilangan ruh kebersamaan.

Zakat yang Memulihkan Raga dan Jiwa

Dalam aksi kemanusiaan, Dompet Dhuafa juga menunjukkan bahwa berbagi bukan cuma soal perut kenyang.

Di Galapuang, Padang Pariaman (November 2025), bantuan hadir bukan hanya dalam bentuk logistik, tapi juga pemulihan psikososial. Anak-anak bermain di Taman Ceria, lansia mendapat asupan hangat di Pos Hangat.

Ini penting, karena kemanusiaan itu utuh. Raga dan jiwa harus pulih bersamaan.

Dan di situlah zakat menunjukkan fungsinya yang paling matang: menjaga martabat manusia.

Zakat sebagai Social-Reward

Aku nggak anti self-reward. 

Tapi semakin ke sini, aku percaya satu hal:
yang bikin hidup terasa penuh bukan apa yang kita kumpulkan, tapi apa yang kita alirkan.

“Zakat Itu Kalcer” adalah ajakan halus untuk naik kelas. 

Dari hidup yang cuma fokus ke diri sendiri, ke hidup yang sadar bahwa kita bagian dari ekosistem sosial.

Ramadan 1447 H sebentar lagi datang. Mungkin ini momen yang tepat untuk berhenti melihat zakat sebagai beban tahunan, dan mulai melihatnya sebagai skill hidup—skill untuk tetap waras, relevan, dan manusiawi di tengah dunia yang makin cepat.

Jadi, pertanyaannya sekarang:

Zakat sudah jadi bagian dari kalcer hidupmu, atau masih sekadar gugur kewajiban?

Cerita kamu bisa jadi rajutan kebaikan berikutnya.

Komentar

Postingan Populer