Tentang Jodoh; Kami Tidak Gagal, Kami Hanya Tidak Jadi
Setelah menulis tentang cinta yang "hanyut" dan tidak pernah benar-benar sampai ke tepi, aku pikir ceritanya selesai. Ternyata tidak. Ada bagian dari diriku yang masih tertinggal di sana—di antara pertanyaan yang tidak sempat kutanyakan, dan harapan yang tidak pernah benar-benar mati.
Mungkin memang begini cara kerja cinta: ia pergi, tapi meninggalkan gema.
Aku lalu kembali pada satu kata yang sejak awal selalu terasa ambigu: jodoh.
Kata itu sering dipakai seolah sederhana. Seolah cukup dengan bertemu, jatuh cinta, lalu bertahan. Padahal semakin dewasa, aku semakin sadar—jodoh bukan sekadar siapa yang kita cintai, tapi siapa yang diizinkan Tuhan untuk tinggal dalam hidup kita.
Dan izin itu, ternyata, tidak selalu diberikan.
Jodoh dan Ilusi “Kalau Sudah Ketemu, Harusnya Bertahan?”
"Kita kan ketemunya gitu doang, ya darling, kok kita bisa bertahan sampe sekarang sih?" tanyaku malam itu. "Ya itulah yang namanya jodoh," sahut suamiku. "Jodoh itu ketemunya misteri, nah yang susah kan bertahan, harus diupayakan terus."
Suamiku terdiam sebentar. Bukan karena kehabisan kata, tapi karena ia tahu, pertanyaanku ini lahir dari tempat yang rapuh.
“Kalau begitu,” katanya akhirnya, “bisa jadi itu bukan jodoh yang diminta Tuhan untuk kamu pertahankan. Bisa jadi itu hanya pertemuan yang Tuhan izinkan supaya kamu belajar, bukan supaya kamu tinggal.”Aku menatapnya, mencoba mencerna. Ada nada tenang di suaranya, bukan seperti orang yang sedang memenangkan argumen, tapi seperti seseorang yang sudah lama berdamai dengan ketidakpastian.
“Jodoh,” lanjutnya, “bukan cuma soal siapa yang datang. Tapi siapa yang mau terus memilih, bahkan saat memilih itu melelahkan. Kalau tidak diupayakan, lalu hancur, mungkin dari awal ia tidak ditugaskan untuk bertahan.”
Kata-katanya tidak serta-merta menyembuhkan. Tapi entah kenapa, ia terasa jujur.
Aku tersadar, mungkin selama ini aku terlalu sibuk menanyakan siapa jodohku, sampai lupa bahwa jodoh juga tentang bagaimana cara kita menjalaninya. Tentang kesediaan untuk bertumbuh, bukan sekadar rasa yang menyala di awal.
Aneh, ya. Hatiku terluka bukan karena pasanganku, tapi ketika aku merasakan aura dari dua sahabatku yang gagal membina kisah kasih mereka, dan sekarang bahkan kisah cinta selebriti yang aku kenal aja enggak!
Seolah-olah setiap kisah yang tidak jadi itu datang membawa pesan yang sama: bahwa cinta tidak selalu gugur karena salah, dan jodoh tidak selalu kalah karena kurang usaha—kadang memang karena hidup punya arah lain yang tidak kita ketahui.
Ada Raisa dan Hamish Daud (udah aku tulis juga di sini) yang cantik, ganteng, kaya dan terkenal, punya anak pula. Ada lagi Tasya Farasya dan suaminya yang keduanya berparas rupawan, punya anak juga. Bahkan, keberadaan mereka semua itu -para influencer berparas cantik ganteng rupawan berkecukupan- bisa menggerakkan ekonomi mikro di negara kita!
PS.
Kenapa penting kutulis, punya anak? Ya, soalnya di mata kita, rumah tangganya udah pasti "sempurna dan utuh" ya.
Ada masa ketika aku percaya: kalau sudah ketemu orang yang tepat, semesta akan mendukung. Semuanya akan mengalir. Tidak mudah, tapi pasti. Tidak sempurna, tapi cukup.
Nyatanya, tidak selalu begitu.
Ada pertemuan yang intens, hangat, dan terasa sangat benar—namun tetap berakhir. Bukan karena salah langkah. Bukan karena kurang cinta. Melainkan karena hidup meminta lebih dari sekadar perasaan.
Di titik itu aku mulai bertanya, bukan dengan nada protes, tapi dengan kelelahan yang jujur:
Apakah jodoh memang se-tricky ini?
Islam tidak pernah menjanjikan bahwa jodoh akan datang tanpa luka. Yang dijanjikan hanyalah: tidak ada satu pun yang luput dari pengetahuan Allah. Bahkan perasaan yang tidak jadi apa-apa.
Ketika “Tidak Jadi” Bukan Berarti Tidak Bermakna
Yang paling menyakitkan dari kisah yang tidak sampai adalah ketidakjelasannya. Tidak ada penutup dramatis. Tidak ada kesalahan besar. Tidak ada tokoh antagonis.Hanya dua orang yang saling menemukan, lalu sama-sama melepaskan.
Dan justru karena itu, luka terasa lebih sunyi.Aku belajar bahwa dalam Islam, takdir bukan hanya tentang hasil akhir. Takdir juga tentang proses yang membentuk kita, meski tidak berujung pada apa yang kita bayangkan.
Allah mempertemukan manusia bukan selalu untuk disatukan, tapi kadang untuk:
- menyingkap sisi diri yang belum kita kenal
- mengajarkan batas antara cinta dan ketergantungan
- memperlihatkan bahwa kita mampu mencintai dengan layak
Dan kita—yang ditinggalkan oleh cerita—harus belajar menerima bahwa makna tidak selalu berbentuk kepemilikan.
Tentang Sedih yang Masih Tertinggal
Aku tidak menulis ini dari posisi yang sepenuhnya pulih. Aku menulis dari ruang di mana sedih masih kadang muncul, tapi tidak lagi mendominasi.Melihat kisah orang lain yang terlihat begitu selaras, lalu tidak berakhir bersama, rasanya seperti diingatkan kembali: bahwa cinta pun tunduk pada kehendak Tuhan.
Aku tidak iri. Aku tidak marah. Aku hanya merasa… kehilangan sebuah kemungkinan.
Dan mungkin itu wajar.
Islam tidak meminta kita kebal rasa. Islam hanya meminta kita tidak mengkultuskan rasa melebihi Tuhan.
Cara Pandangku Tentang Jodoh, Hari Ini
Hari ini aku tidak lagi mengukur jodoh dari intensitas cinta. Aku mengukurnya dari ketenangan.- Apakah kehadirannya mendekatkanku pada Allah?
- Apakah bersamanya aku menjadi versi diriku yang lebih jujur dan utuh?
- Apakah ia membuat hidup terasa lapang, bukan sekadar berwarna?
Aku masih berdoa. Tapi doaku tidak lagi memaksa hasil.
Aku hanya meminta satu hal:
jika seseorang memang ditakdirkan untuk menemaniku, semoga ia datang tanpa harus melukai diriku sendiri terlebih dahulu.
Penutup yang Tidak Mengikat, Tapi Membebaskan
Aku akhirnya mengerti:Tidak semua cinta diciptakan untuk dimiliki.
Sebagian diciptakan untuk mengajarkan kita cara melepaskan tanpa membenci.
Dan mungkin, jodoh bukan tentang siapa yang paling lama tinggal.
Melainkan tentang siapa yang, meski pergi, tidak membuat kita kehilangan iman pada cinta dan Tuhan sekaligus.
Jika ada kisah yang tidak jadi, biarlah ia tinggal sebagai pelajaran—bukan penjara.
Karena yang benar-benar jodoh, tidak akan datang dengan kebingungan yang berkepanjangan.
Ia akan tinggal dengan kejelasan.
Dengan ketenangan.
Dengan izin Allah yang utuh.
Dan sampai hari itu tiba, aku memilih untuk percaya:
bahwa tidak ada doa yang sia-sia, dan tidak ada cinta yang benar-benar hilang—ia hanya berpindah bentuk.
Dengan ketenangan.
Dengan izin Allah yang utuh.
Dan sampai hari itu tiba, aku memilih untuk percaya:
bahwa tidak ada doa yang sia-sia, dan tidak ada cinta yang benar-benar hilang—ia hanya berpindah bentuk.
🤍




Komentar
Posting Komentar
TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA BLOG NENG TANTI (^_^)