Kisah Cinta Hanyut yang Terbunuh oleh Media
Kisah Halda Rianta dan Jirayut (Afisan Jehderame) bikin aku berhenti sejenak, bukan karena dramanya, tapi karena rasanya terlalu familiar: cinta yang belum sempat tumbuh dewasa, tapi sudah keburu dicekik oleh sorotan.
Aku menulis ini bukan sebagai penggemar garis keras, apalagi hakim moral. Aku menulis sebagai manusia yang melihat dua anak polos sedang belajar mencintai, sambil dikejar tuntutan dunia yang terlalu bising. Dan di tengah semua itu, media berdiri paling depan, menyorot, mengatur sudut pandang, lalu bertanya: “kenapa kalian tidak kuat?”
Aku menulis ini bukan sebagai penggemar garis keras, apalagi hakim moral. Aku menulis sebagai manusia yang melihat dua anak polos sedang belajar mencintai, sambil dikejar tuntutan dunia yang terlalu bising. Dan di tengah semua itu, media berdiri paling depan, menyorot, mengatur sudut pandang, lalu bertanya: “kenapa kalian tidak kuat?”
Padahal, siapa sih yang kuat kalau cinta pertamanya tidak diberi ruang untuk bernapas?
Cinta yang Dibunuh Pelan-Pelan oleh Sorotan
Media memang bisa sekejam itu.
Bukan cuma merekam, tapi ikut campur. Bukan sekadar melaporkan, tapi membentuk narasi. Bahkan, dalam beberapa kasus, membunuh karakter dan perasaan manusia hidup-hidup.
Setelah dua tahun lalu kita menyaksikan kisah cinta yang ditumbuhkan dengan manis, dipersemaikan dengan harapan, disiram oleh doa dan mimpi, Halda Rianta dan Jirayut, justru harus berjuang bukan melawan jarak atau waktu, melainkan melawan sorotan yang terlalu terang dan terlalu rakus.
Cinta mereka tidak runtuh dengan sendirinya.
Ia dibunuh.
Bukan perlahan, tapi bertubi-tubi.
Dengan cara yang keji, sistematis, dan dingin.
“Karakter ini harus dimatikan.”
Demi apa?
Demi cuan. Demi rating. Demi klik. Demi algoritma yang lapar emosi.
Dan di titik ini, aku akhirnya benar-benar mengerti ucapan Deddy Corbuzier: kita semua berdosa untuk itu. Karena kita menonton. Kita berkomentar. Kita ikut membesarkan drama yang seharusnya tidak pernah jadi konsumsi publik sedalam itu.
Padahal, kalau kita jujur dan adil, Halda dan Jirayut hanyalah dua anak muda yang polos. Mereka baru saja mengenal cinta.
Ini first love mereka.
Cinta pertama selalu datang tanpa pelindung, tanpa perisai, tanpa pengalaman untuk memilah mana yang tulus dan mana yang beracun.
Uang mulai bertebaran.
Tawaran berdatangan.
Harapan melonjak, tapi juga kepanikan akan masa depan.
Mereka bermimpi indah.
Tentang pernikahan yang unik, langka, seperti dongeng peri. Wedding dream fairy tale yang mungkin terdengar naif, tapi justru itulah bukti kepolosan mereka. Mereka ingin bahagia, sesederhana itu.
Namun mimpi itu dikejar dengan tergesa.
Bukan karena ambisi, tapi karena tekanan.
Lalu media datang menyergap.
Wawancara demi wawancara menyudutkan Halda, yang sejak awal ingin private life. Ia ingin mencintai tanpa panggung. Tapi bagaimana caranya, jika setiap kata dipelintir, setiap ekspresi dianalisis, setiap diam dianggap masalah?
Ia tidak bisa berkutik.
Api cemburu pun dikobarkan. Host-host menghadirkan sosok-sosok lain dalam hidup Jirayut, seolah cinta adalah kompetisi, bukan komitmen. Seolah rasa aman adalah sesuatu yang bisa diuji di depan kamera.
Di sisi lain, Jirayut sendiri sedang mabuk cinta. Cinta pertama memang begitu, bikin lupa daratan. Tapi ia juga tulang punggung keluarga. Ada tanggung jawab besar yang menunggu di belakang layar.
Ia menerima tawaran demi tawaran, cepat, tanpa jeda untuk merenung. Tanpa sadar, salah satu dari tawaran itu adalah jebakan. Jebakan yang kelak mematikan kisah Cinderella yang sempat kita doakan bersama.
Awalnya aku bersyukur. Dalam keyakinanku, aku percaya Jirayut akan “sembuh” ketika Halda hadir di sisinya. Sosok muslim taat dari Narathiwat, Thailand, yang lembut dan penuh adab. Tapi bahkan iman pun bisa goyah ketika dunia menyerang dari segala arah.
Ia sosok pemuda bertanggung jawab.
Ia ingin naik kelas kehidupan.
Ia tak ingin kembali ke masa lalu yang serba sederhana.
Dan di sanalah setan datang.
Bukan dalam bentuk alkohol atau hal-hal klise. Tapi dalam bisikan halus: takut kehilangan kenyamanan, takut turun kelas, takut dilupakan. Ketakutan yang dibungkus logika.
Setan tertawa ketika Halda dan Jirayut kalah dalam peperangan batin mereka.
Di titik ini, aku tidak ingin menghakimi. Aku hanya ingin mendoakan.
Aku berdoa dengan tulus agar Allah berkenan menghindarkan mereka dari dosa yang jauh lebih besar lagi. Dosa yang mungkin datang jika luka ini dibiarkan membusuk.
Aku mendoakan Jirayut, semoga ia tidak dimangsa predator yang mengintainya. Aku ikhlas jika predator itu tersingkir dengan sendirinya, dikalahkan oleh sedekahnya yang luar biasa, oleh niat baiknya yang tulus.
Untuk Halda, aku mendoakan terbukanya pintu hatinya. Aku tidak sepenuhnya menyalahkannya. Tapi ia sendiri pernah berkata: jaga mata, jaga hati. Ia sendiri yang mengikat dengan kata: Jirayut punyaku satu-satunya.
Cinta memang sering kali datang tanpa buku panduan.
Dan mungkin, kekuatan semesta, kekuatan doa dari banyak pihak, ditambah keinginan tulus mereka berdua, kelak akan menjawab teka-teki ini. Entah bersama, entah berpisah, tapi dengan jiwa yang lebih dewasa dan luka yang disembuhkan.
Doaku setulus hati untuk kalian, dear Halda dan Jirayut
Ya Allah,
Jika cinta ini Engkau izinkan tumbuh, maka lindungilah ia dari tangan-tangan yang serakah.
Jika cinta ini harus berakhir, maka akhiri dengan lembut, tanpa dendam, tanpa luka yang membekas.
Jaga Jirayut dari tipu daya dunia yang membutakan hati.
Lapangkan rezekinya, luruskan niatnya, kuatkan imannya.
Jaga Halda dari beban yang tak seharusnya ia pikul sendirian.
Tenangkan hatinya, sembuhkan lukanya, dan tuntun langkahnya pada cahaya-Mu.
Dan untuk kami semua yang pernah menonton, berkomentar, dan ikut menghakimi,
ampuni kami, Ya Allah.
Ajari kami untuk lebih manusiawi, lebih berempati, dan lebih menjaga batas.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
.jpg)



Komentar
Posting Komentar
TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA BLOG NENG TANTI (^_^)