Catatan Kecil dari Hong Kong Tahun 2000

    Memang benar ya, sebuah kota bisa jadi cermin yang memantulkan versi diri kita yang bahkan sudah hampir lupa pernah ada. Buatku, kota itu bernama Hong Kong di tahun 2000 —tahun ketika dunia baru saja lolos dari ketakutan massal bernama Y2K bug, dan aku masih menjadi “aku” yang sangat berbeda dari hari ini.

Kalau ada yang nanya, kapan pertama kali aku merasa kecil di hadapan kemajuan dunia? Jawabannya bukan seminar motivasi, bukan ruang rapat, apalagi media sosial. Jawabannya adalah saat kakiku menginjak lantai bandara Hong Kong, dua puluh lima tahun lalu!


Jujurly, waktu itu aku belum menjadi Tanti dengan versi hijab rapi dan hidup yang lebih tertata secara spiritual. Aku masih perempuan muda dengan rambut terurai, langkah yang cepat, dan rasa ingin tahu yang liar. Versi diriku yang belum banyak bertanya soal makna, tapi sangat menikmati sensasi dunia.

Kota yang Seperti Melompati Waktu



Walau Hong Kong adalah lautan beton, tapi rasanya kok sama aja kayak di Jakarta gitu.. padahal kan manusianya pasti jauh lebih banyak ya..

Tahun 2000, Jakarta masih identik dengan macet, angkot ngetem, dan sistem transportasi yang... jujur aja, lebih banyak mengandalkan kesabaran ketimbang teknologi. Maka ketika aku masuk ke sistem MTR Hong Kong, rasanya seperti lompat dimensi. 

Antrian pasti terjeadi di mana-mana, tapi orang-orang berdiri rapi, masuk kereta tanpa dorong-dorongan, dan yang paling bikin aku bengong waktu itu (karena kalo di sini kan waktu itu belum umum pake e-money yaa) : Octopus Card.  Tinggal tap. Selesai. Naik bus, MTR, bahkan belanja kecil di 7-Eleven pun bisa. Di saat dompet kita masih penuh uang receh dan kembalian sering “diikhlaskan”, Hong Kong sudah hidup di masa depan.

Aku ingat berdiri di peron, memperhatikan orang-orang dengan setelan kerja, langkah mereka cepat, wajah mereka fokus. Seolah setiap detik adalah aset berharga. Rambutku yang panjang sering tersapu angin dari pergerakan manusia yang terburu-buru. Ada energi ambisius di udara—bukan yang berisik, tapi yang dingin dan efisien.

Di situ aku sadar: dunia itu luas, dan kemajuan tidak menunggu siapa pun.

Tsim Sha Tsui, Hati yang Mengalir

    Tsim Sha Tsui (尖沙咀) itu kawasan ikonik di Hong Kong, yang lokasinya di ujung selatan Kowloon, tepat menghadap Victoria Harbour. Ya jadi pasti turis pengen ke sini karena ingin melihat view yang indah, plus .. shopping!

Di sini ada : 
  • Avenue of Stars (ala Walk of Fame versi Asia)
  • Victoria Harbour promenade – view skyline Hong Kong Island paling cakep, apalagi malam
  • Star Ferry Pier – kapal klasik buat nyebrang ke Central

Di sini juga ada banyak jajaran shopping center dan ... street food  yang uenak! Sepertinya tentang street food kapan-kapan aku ceritain sendiri.


Menulis bagian ini selalu memunculkan perasaan yang campur aduk. 

Sekarang, melihat kembali foto-foto itu, rasanya hidup masih "baik-baik aja" hehehe... senyum aja tanpa banyak beban.. :)))

Saat itu, "identitas diri" belum menjadi diskusi panjang di kepalaku ha ha (jadi postingan curhat tersendiri deeeh kayaknya, soalnya selama ini emang aku ga pernah mau bahas ginian, too privacy soalnya).

Aku tidak memeriksa label halal dengan intens. Tidak menghitung waktu shalat dengan alarm berlapis. Aku mengalir saja, menikmati Star Ferry yang membelah air, angin laut yang asin, dan lampu kota yang seperti tak pernah tidur.

Dan tidak, aku tidak menyesali versi diriku yang itu. Justru sebaliknya. Aku menghormatinya. Karena dari sanalah perjalanan ini dimulai.

Kadang kita memang perlu menjadi “siapa saja” terlebih dulu, supaya suatu hari bisa benar-benar memahami “siapa kita sebenarnya”. Hong Kong menjadi saksi dari fase itu—fase ketika kebebasan duniawi terasa utuh, sebelum akhirnya aku mengenal kebebasan yang berbeda bentuknya: kebebasan batin.

Kota dengan Dua Wajah Sejarah

Tahun 2000 adalah masa transisi yang unik bagi Hong Kong. Aku sendiri baru tahu kalau mereka baru tiga tahun lepas dari Inggris, dan jejak kolonialnya masih kental. Yang terasa pastinya kayak nama jalan berbahasa Inggris, sistem transportasi yang disiplin, antrean yang nyaris tanpa suara. Di sisi lain, bendera merah dengan lima bintang mulai mendominasi ruang publik.

Kota ini seperti hidup di dua dunia sekaligus—masa lalu dan masa depan, Barat dan Timur, keteraturan dan ambisi.

Saat ke Victoria Peak, aku kagum memandangi gedung-gedung pencakar langit yang berdempetan, beneran seperti hutan beton yang tak ada habisnya, dengan lampu menyala tanpa henti. Di kepalaku muncul pertanyaan polos tapi jujur:

    “Kota ini sangat maju… tapi apakah orang-orang di dalamnya punya          waktu untuk bernapas?”

Pertanyaan itu mungkin terdengar naif, tapi hari ini aku mengerti: itu adalah awal dari refleksi panjang tentang makna kemajuan. Apakah maju selalu berarti cepat? Apakah sukses selalu identik dengan padat jadwal?

Dari Kota ke Diri Sendiri

    Ketika pulang dari Hong Kong, aku tersadar karena ia mengajarkanku banyak hal tanpa harus menggurui. Tentang efisiensi,  tentang disiplin, tentang kegigihan hidup, dan bagaimana manusia bisa membangun sistem yang luar biasa rapi. 

Saat ini, setelah melalui proses hijrah dan perenungan panjang, aku sadar satu hal penting:

Kemajuan materi tidak selalu sejalan dengan ketenangan batin.

Dan itu bukan kritik untuk Hong Kong. Itu refleksi untuk diriku sendiri.

Versi diriku di tahun 2000 sedang mengagumi dunia. Versi diriku hari ini sedang belajar menata hati. Dua-duanya valid. Dua-duanya bagian dari perjalanan yang sama.

Melihat foto lama tanpa hijab (dengan keyakinan yang masih campur aduk) bukan berarti aku ingin kembali ke sana. Tapi juga bukan sesuatu yang ingin kuhapus. Itu adalah satu bab penting, seperti halaman awal buku yang menjelaskan kenapa tokohnya berkembang ke arah tertentu..

Penutup yang Jujur Dariku

Hong Kong berubah. Dari koloni menjadi entitas yang berdiri di persimpangan sejarah. Aku pun berubah. Dari perempuan muda yang mengejar pengalaman, menjadi perempuan yang lebih tenang dalam memaknai tujuan.

Kota bisa berevolusi. Manusia pun bisa. Bedanya, gedung-gedung tumbuh ke atas, sementara manusia; kalau beruntung ia akan tumbuh secara spiritual.

Dan mungkin, di situlah letak kemajuan yang paling sunyi tapi paling bermakna.

Komentar

Postingan Populer