Ketika Kartini Bertemu Canva, Berkarya di Era Digital


Setelah rasanya seabad ngga pernah hadir di event karena satu dan lain hal ..(ehm..) rasanya senang sekali ketika founder KEB yaitu Mak Mira Sahid share undangan di grup WhatsApp Kumpulan Emak Blogger.


Undangan Kelas Canva dari Komdigi kali ini bertajuk 
Perempuan Kreatif Untuk Masa Depan Anak dan Keluarga Indonesia, dan bertujuan untuk se- #MakinCakapDigital !

Aku memang suka dengan Talkshow semacam ini, apalagi saat ini ancaman di dunia maya semakin ...hhh... speechless lah pokoknya. Dunia kampus yang kupikir "aman" saja ternyata tak luput dari bullying, dari perundungan verbal, dan banyak lagi kasus yang bikin aku -mewakili perasaan emak -emak sak Indonesia Raya - mengurut dada sambil berdoa, semoga anak-anak aman berinteraksi di dumay.

So, walau (katanya) aku sudah menguasai Canva, tapi kesempatan hadir dan update informasi tentang dunia informasi digital dan update skill di Canva. Apalagi kali ini narasumber yang hadir adalah Meutia Hafid, Menteri Komdigi Indonesia dan beberapa pakar yang kompeten. 

Hmmm ada update informasi apa lagi, yaa? Ikutin perjalanan aku hari ini melalui tulisan aku ini yaaa.. 

150 Perempuan Indonesia Semangat Belajar di Garuda Spark FX Sudirman 




Yes, itu kali yaaah yang aku rasakan suasana di Garuda Spark Innovation Hub. 

Tiba tepat pukul 10.00 bbwi, sejak pagi, para peserta yang didominasi perempuan dari berbagai latar belakang sudah mulai berdatangan dengan semangat yang sama yaitu belajar, berkembang, dan terhubung dalam satu ruang yang penuh energi positif. 

Event bertajuk Kelas Kartini bersama Canva dan Komdigi ini bukan sekadar acara seremonial memperingati semangat Kartini, tetapi benar-benar menjadi ruang bertumbuh bagi perempuan Indonesia di era digital.

PP Tunas dan Implementasinya


Acara ini dibuka oleh pak Boni Pudjianto Kepala BPSDM Komdigi. Beliau sangat antusias karena selain bekerjasama dengan Canva, tema besar yang diangkat adalah Perempuan Kreatif untuk Masa Depan Anak dan Keluarga Indonesia yang sekaligus dikaitkan dengan implementasi PP Tunas. 

Tema ini terasa sangat relevan dengan kondisi saat ini di mana ruang digital sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari hari termasuk bagi anak anak dan keluarga.

AI : Tantangan, Musuh atau Penting?


Kegiatan dimulai dengan sesi talkshow yang menghadirkan sejumlah narasumber inspiratif dari berbagai bidang. 

Salah satu keynote speaker yang mencuri perhatian adalah Alfreno Kautsar, Staf Khusus Komdigi. Karena selain mengemukakan pentingnya CABE 
Cakap Digital - Aman Digital - Budaya dan Etika dalam dunia Digital.

Berikut rincian 4 pilar literasi digital CABE:
  • Cakap Digital (Digital Skills): Kemampuan memahami, menggunakan, dan mengelola perangkat keras/lunak serta platform teknologi untuk meningkatkan produktivitas.
  • Aman Digital (Digital Safety): Kemampuan melindungi data pribadi, perangkat, dan keamanan diri sendiri di ruang digital.
  • Budaya Digital (Digital Culture): Membangun wawasan kebangsaan, nilai-nilai Pancasila, dan Bhinneka Tunggal Ika dalam berinteraksi di dunia digital.
  • Etika Digital (Digital Ethics): Penerapan tata krama, etika, dan tanggung jawab saat berkomunikasi dan berperilaku di media sosial. 

Menyambung pembicaraan tentang AMAN dalam dunia digital, Stefani Permana juga dalam pemaparannya, beliau menekankan pentingnya peran perempuan dalam menciptakan ruang digital yang aman, sehat, dan inklusif. 

Perempuan tidak hanya sebagai pengguna teknologi tetapi juga sebagai penjaga nilai dan pembentuk ekosistem digital yang lebih baik.

Menurut beliau, perkembangan teknologi yang begitu cepat harus diimbangi dengan kesadaran dan literasi digital yang kuat terutama dalam lingkup keluarga.

Perempuan sebagai ibu, pendidik, sekaligus role model memiliki peran strategis dalam membimbing anak anak agar tidak hanya cakap secara teknologi tetapi juga bijak dalam menggunakannya.

Alfreno juga membahas  tiga pilar utama yaitu terhubung, tumbuh, dan terjaga. 
  • Terhubung berarti memastikan konektivitas yang inklusif dan berkualitas untuk semua.
  • Tumbuh berarti membangun ekosistem digital yang kuat dengan dukungan kebijakan yang adil serta talenta lokal yang unggul. 
  • Terjaga berarti menciptakan ruang digital yang aman dan terpercaya bagi masyarakat.
Ibu-ibu  terlihat sangat antusias. Selain mencatat, mendokumentasikan dalam bentuk foto dan video (( juga... mengemil))  karena terasa sangat aplikatif dan dekat dengan kehidupan sehari hari.

Diskusi kemudian dilanjutkan dengan narasumber lain 
yaitu Stefanie Pramana yang membahas pentingnya pendidikan digital sejak dini sampai dengan keamanan (antara lain pakai parenting lock yah)

Ia menyoroti bagaimana anak anak saat ini sudah sangat dekat dengan teknologi sehingga diperlukan pendekatan yang tepat agar mereka bisa memanfaatkan teknologi secara positif. Perempuan khususnya ibu memiliki peran penting dalam mengarahkan anak anak agar tidak terjebak dalam konten yang tidak sesuai.

Salah satu cemilan di meja ibu-ibu 
ada yang bawa kacang, kurma sampai nastar dan coklat!
Meja satunya bahkan ada es kopi susu.




Insight dari CEO Generation Girl, Canva dan Coding Bee

Kemudian Tania Soerianto berbagi cerita tentang bagaimana komunitas Generation Girl bisa menjadi ruang aman bagi perempuan untuk belajar teknologi.



Ia menekankan kalo perempuan tidak perlu takut untuk masuk ke dunia teknologi karena saat ini sudah banyak komunitas yang mendukung dan menyediakan akses belajar yang inklusif.

Tidak kalah menarik, Stefani Herlie dari Canva Indonesia juga hadir memberikan insight tentang bagaimana desain visual bisa menjadi alat komunikasi yang sangat kuat. Ia menjelaskan bahwa di era digital, kemampuan menyampaikan pesan secara visual menjadi salah satu skill penting yang bisa membuka banyak peluang baik untuk personal branding maupun bisnis.

Dari sesi talkshow ini, ada beberapa poin penting yang bisa dirangkum. 
  • Pertama, perempuan memiliki peran strategis sebagai kreator konten yang mampu menciptakan ruang digital yang aman dan inklusif. 
  • Kedua, perempuan juga berperan dalam melindungi anak anak di ruang digital melalui edukasi dan pendampingan. 
  • Ketiga, keterampilan digital terutama di bidang kreatif menjadi kunci untuk berkembang di era saat ini. 
  • Keempat, komunitas dan role model sangat penting dalam mendorong perempuan untuk berani terjun ke dunia teknologi.
Belajar Membuat Poster dengan Aplikasi Canva 

Setelah sesi talkshow, acara dilanjutkan dengan workshop yang tidak kalah seru yaitu Desain Poster Digital untuk Pemberdayaan Perempuan. 

Workshop ini dipandu oleh Jihan Mutiara Fatiin yang membawakan materi dengan sangat interaktif dan mudah dipahami.

Dalam workshop ini, peserta diajak untuk langsung praktik membuat desain poster menggunakan Canva. 

Tidak hanya belajar teknis desain, peserta juga diajak memahami bagaimana menyusun warna, kesesuaian dan komposisi serta pesan yang kuat dan berdampak.


Ada 4 prinsip dasar dalam membuat poster dengan Canva yaitu:

1. Contrast 
2. Colour atau warna 
3. Alignmemt, dan
4. Hierarchy 

Jihan menjelaskan bahwa desain bukan hanya soal estetika tetapi juga soal komunikasi. Sebuah desain yang baik harus mampu menyampaikan pesan dengan jelas dan menyentuh audiens.

Workshop Canva, Infornatif dan Menarik 

Peserta terlihat sangat antusias mengikuti sesi ini. Banyak yang baru pertama kali mencoba Canva namun langsung bisa menghasilkan karya yang menarik. Ini menunjukkan bahwa teknologi yang tepat bisa menjadi alat pemberdayaan yang luar biasa jika digunakan dengan benar.

Selain itu, workshop ini juga membahas pentingnya penggunaan teknologi dan AI secara bijak. Di tengah perkembangan AI yang semakin pesat, perempuan diharapkan tidak hanya menjadi pengguna tetapi juga mampu memahami dan memanfaatkannya untuk hal hal yang produktif.
Yang menarik dari keseluruhan acara ini adalah bagaimana semua sesi saling terhubung. 
Talkshow memberikan pemahaman dan perspektif, sementara workshop memberikan keterampilan praktis yang bisa langsung diterapkan. Kombinasi ini membuat peserta tidak hanya mendapatkan ilmu tetapi juga pengalaman yang berkesan.

Event ini juga menjadi bukti bahwa kolaborasi antara pemerintah dan platform teknologi seperti Canva bisa menghasilkan program yang berdampak nyata. Tidak hanya meningkatkan literasi digital tetapi juga membuka peluang baru bagi perempuan untuk berkembang.

Dari sudut pandang peserta, acara ini terasa sangat relevan dan menginspirasi. Banyak yang merasa mendapatkan insight baru tentang bagaimana memanfaatkan teknologi secara positif. Tidak sedikit juga yang merasa lebih percaya diri untuk mulai berkarya di dunia digital.

Semangat Kartini yang diangkat dalam acara ini terasa sangat hidup. Jika dulu Kartini berjuang melalui tulisan, kini perempuan bisa melanjutkan perjuangan tersebut melalui berbagai medium digital. Mulai dari konten media sosial, desain visual, hingga komunitas digital yang memberdayakan.

Kelas Kartini hari ini bukan hanya tentang belajar tetapi juga tentang membuka perspektif baru. Bahwa perempuan memiliki peran besar dalam membentuk masa depan digital Indonesia. 

Bahwa teknologi bukan sesuatu yang menakutkan tetapi justru bisa menjadi alat untuk berkembang. Dan yang paling penting, bahwa setiap perempuan punya potensi untuk menjadi agen perubahan.

Melihat antusiasme peserta dan kualitas materi yang disampaikan, acara seperti ini sangat layak untuk terus diadakan secara berkelanjutan. Karena di tengah arus digitalisasi yang semakin cepat, dibutuhkan semakin banyak ruang belajar yang inklusif dan memberdayakan.

Akhir kata, Kelas Kartini bersama Canva dan Komdigi hari ini berhasil menghadirkan pengalaman belajar yang tidak hanya informatif tetapi juga inspiratif. Sebuah langkah kecil namun berdampak besar dalam mendorong perempuan Indonesia untuk lebih percaya diri, kreatif, dan siap menghadapi masa depan digital.



Salaaam!






Komentar

Postingan Populer