Usia 40 plus plus : Menepi untuk Menemukan Diri
Kenapa di Usia 40+ Circle Kecil adalah Self-Love yang Hakiki
Se enjoy-enjoynya aku, dan semeriah apa pun acara, aku pernah loh beberapa kali menemukan diriku duduk di tengah keramaian sebuah acara reuni atau kumpul-kumpul circle pertemanan, tapi rasanya malah ingin segera pulang!
Makanannya gak enak kali, neng? Enaaak!
Makanannya aneka ragam, enak-enak semua, teman-temannya pun orang lama. Tapi ada sesuatu yang "nggak klik" lagi di frekuensi hati. Dunno what to say.
Kalau kamu merasakannya, welcome to the club.
Ternyata, masuk usia 50 tahun ke atas itu, pergaulan bukan lagi soal "siapa yang paling eksis", tapi soal "siapa yang paling bikin tenang dan nyaman".
Sadar Circle, Gak Cuman Sadar Kamera Aja
![]() |
| 56 and insya Allah still counting... |
Dulu, waktu masih muda, rasanya punya teman banyak itu adalah prestasi. Semua undangan hangout di OK-in. Semua grup WhatsApp diikutin. Takut banget dibilang sombong atau takut ketinggalan gosip terbaru (FOMO was real, guys!).
Tapi sekarang?
Begitu masuk angka 5, pandangan kita berubah. Aku mulai sadar kalau energi kita itu terbatas. Kita nggak bisa lagi membagi perhatian ke semua orang yang sebenarnya cuma datang untuk "menonton" hidup kita, bukan "mendukung" langkah kita.
Ingat nggak ceritaku di blog tempo hari?
Waktu dulu awal-awal ngeblog, banyak yang senyum sinis. "Dih, emak-emak pegang hape mulu," katanya.
Saat itu, kalau aku sibuk dengerin suara-suara sumbang di circle yang nggak suportif, mungkin hingga detik ini aku dan keluarga nggak akan pernah punya :
- susu dan pospak gratis untuk setahun (ini bertahun² dapat, sampai anak-anak besar dan aku bilang ke agency-nya :))
- skin care, body care, parfum sampai aksesoris mahal
- aneka gadget hasil menang lomba nulis di blog
- bepergian ke beberapa tempat di Indonesia dengan fasilitas VIP
- undangan ke Malaysia dan Singapore juga dengan fasilitas VIP
Itu semua hasil dari keringat menulisku sendiri loh.. dan, penting banget nih : aku masih punya penghasilan bulanan yang hingga detik ini masih aku nikmati!
Di sinilah aku belajar: berdiri teguh pada prinsip itu jauh lebih penting daripada sekadar punya banyak teman tapi isinya toxic semua.
Bertambah atau Berkurang?
Secara objektif, circle-ku jelas berkurang secara jumlah, tapi bertambah secara kualitas. Aku menyebutnya sebagai "kurasi circle".
Kenapa harus dikurangi? Karena hidup ini bukan panggung untuk dapet persetujuan orang lain.
Plusnya kalau kita berani memangkas circle:
- Mental Health Terjaga: Nggak ada lagi drama-drama nggak penting atau adu nasib yang bikin capek hati.
- Waktu Lebih Berkualitas: Kita punya waktu lebih banyak untuk diri sendiri (me-time) atau untuk keluarga inti tanpa merasa bersalah.
- Fokus pada Value: Kita cuma dikelilingi orang yang paham kenapa kita masih mau belajar, kenapa kita masih mau jadi influencer, atau kenapa kita masih semangat ikut kelas online di usia yang kata orang "sudah sore".
Minusnya? Mungkin sesekali akan ada perasaan "sendiri".
Tapi seperti yang selalu aku bilang, kebenaran itu nggak pernah sepi meski awalnya cuma dipegang satu orang. Lebih baik sendirian sambil makan pisang goreng di taman dengan hati tenang, daripada di tengah kerumunan tapi batin tertekan.
Bukan Menutup Diri, Tapi Memilih Pintu
Untukku yang dulunya si paling extrovert, membatasi pergaulan bukan berarti kita jadi antisosial.
Aku tetap punya ribuan sahabat dari Sabang sampai Merauke lewat tulisan-tulisanku, kok. Tapi untuk urusan "siapa yang boleh masuk ke ruang privat emosiku", aku sekarang punya satpam yang sangat ketat.
Seperti biji padi yang ditanam sendirian, lama-lama akan jadi sawah yang menguning. Begitu juga pertemanan. Kalau akarnya kuat di frekuensi yang sama, meskipun cuma dua atau tiga orang, itu sudah cukup untuk membuat hidup kita "wangi" seperti kebun teh di puncak gunung.
Jadi, buat kamu yang usianya sudah 40+, 50+, atau bahkan 60+... jangan takut kalau temanmu makin sedikit.
Kita ini bukan lilin yang butuh cahaya matahari buat bersinar. Kita ini mataharinya. Terang sendiri. Nggak butuh izin siapa pun untuk tetap bercahaya di jalan yang kita pilih.
Kalau kamu gimana? Di usia sekarang, circle kamu makin ramai atau malah makin sunyi tapi damai?
Coba bagi ceritanya dong, kita ngobrol santuy di kolom komentar. Pengen juga dengar pengalaman kalian.
Sampai jumpa di curhatan selanjutnya!




Komentar
Posting Komentar
TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA BLOG NENG TANTI (^_^)