3 Pertanyaan Sakral Kehidupan


Tumben, malam terasa lebih dingin dari biasa.

Suasananya hening banget. Jam dinding di ruangan kedengaran berdetak lebih keras dari biasanya. Di hadapan laptop yang masih menyala, jemariku tiba-tiba menggantung di atas keyboard. Aku berhenti sejenak, menarik napas panjang, dan entah kenapa, pandanganku mendadak kosong.
Saat itu, kepalaku nggak lagi berisik memikirkan tumpukan kerjaan yang belum selesai.

Pikiran tentang tenggat waktu deadline yang biasanya bikin deg-degan, mendadak senyap. Bahkan, menu masakan buat besok pagi yang biasanya otomatis berputar di kepala, hilang entah ke mana.

Dalam keheningan itu, muncul gelombang pertanyaan yang datangnya bukan dari logika, tapi jauh dari dalam dada. Pertanyaan yang menuntut jawaban jujur, tanpa kepura-puraan:
"Aku ini sebenarnya siapa?" 
"Apa yang sebenarnya paling aku inginkan dalam hidup?" 

dan...  

"Apa yang bisa aku berikan untuk dunia?"
Tiga pertanyaan itu lewat begitu saja, terdengar sangat sederhana, ya? 

Aku menyeduh teh, memasukkan setetes stevia. Menghirupnya pelahan sambil mematikan laptop. 

Seteguk, dua teguk... Kehangatan teh membuat otakku bekerja lagi. 

Yaa.. yaaa, aku sadar jawabannya nggak akan pernah sesimpel membalikkan telapak tangan. Ada proses panjang, lapisan emosi, dan pencarian jati diri yang harus kukupas satu demi satu untuk bisa menemukannya.


Lucu kan, momen absurd kayak gini emang sering banget datang tanpa diundang. 

Biasanya pas malam sudah larut, seisi rumah sudah lelap, dan suasananya sunyi senyap. Di kasur, tangan ini masih sibuk scrolling media sosial. Niat awalnya receh banget: cuma mau cari hiburan, lihat reels kocak, atau video kucing gemoy biar bisa tidur. Tapi ya ampun, algoritma kadang sekejam itu.

Baru lima menit bergulir, mendadak layar menampilkan sosok yang terlihat sukses banget. Usianya muda, produktif, glowing, dan hidupnya estetik parah tanpa celah.

Deg. Detik itu juga, pikiran langsung berisik.

    “Kok dia sudah melangkah sejauh itu, ya?”

    “Sementara aku… sekarang lagi ada di mana?”

    “Sebenarnya jalan yang kupilih ini mau menuju ke mana?”

Dan.. boom! 

Existential crisis unlocked. Layar HP langsung kumatikan, menyisakan ruang kamar yang mendadak terasa lebih dingin.

Aku yakin, banyak dari kita yang pernah terjebak di titik ini. Era digital memang magis; informasi melimpah, inspirasi tinggal klik, dan peluang terbuka lebar. 

Tapi di saat yang sama, dunia virtual ini egois. Dia sering memaksa kita terlalu sibuk menengok ke luar, sampai kita lupa caranya melihat ke dalam. Kita tanpa sadar membandingkan babak belur-nya proses kita dengan babak highlight hidup orang lain. Padahal, hidup ini kan bukan lomba lari maraton dengan garis finish yang seragam!

Menariknya, badai pertanyaan yang berkecamuk di kepala itu justru menemukan jangkar kedamaiannya di tempat yang sangat dekat denganku: blog-blog pribadiku.

Kedengarannya mungkin bias dan narsis, ya? 

Tapi justru karena ruang ini sangat personal, aku bisa berkaca dengan jujur tanpa perlu memakai topeng media sosial. Buatku, blog ini bukan sekadar folder digital untuk menimbun tulisan. Dia tumbuh menjadi ruang hidup yang bernapas. Ruang untuk berpikir, belajar, bercerita, mengeksplorasi visual, bahkan tempatku untuk healing saat dunia nyata sedang terlalu bising.

    Kalau ada yang bertanya, "Kamu ini sebenernya siapa?"

    Dulu, aku akan refleks menjawabnya dengan label pendek seputar profesi atau peran domestik. Tapi sekarang aku sadar, manusia itu terlalu kaya untuk diperas menjadi satu label kaku saja.

Secara akademis dan logika, aku dibentuk oleh dunia teknik bioteknologi : sebuah ranah yang lekat dengan data, struktur, dan presisi yang saklek. Namun, langkah hidup membawaku ke persimpangan yang penuh warna. 

Aku jatuh cinta pada dunia menulis, ilustrasi, doodle art, blogging, hingga sekarang asyik mengulik teknologi AI untuk mendukung kreativitas.

Dulu sempat ada ketakutan, “Aduh, apa hidupku ini terlalu random ya? Sains, seni, teknologi, kok dicampur aduk?”

Tapi kini aku justru melihat serpihan itu sebagai puzzle yang presisi. Aku tidak perlu mengorbankan satu minat demi minat yang lain. Aku bisa merayakan semuanya sekaligus, dan menebarkan warna-warna itu di duniaku sendiri. And you know what? That is completely okay!

Mungkin kelapangan dada ini adalah hadiah yang datang bersama bertambahnya usia. Ada penerimaan yang lebih megah terhadap diri sendiri, dan keberanian untuk berhenti mengejar standar definisi sukses milik orang lain.

Aku juga sangat menikmati menyebut diriku sebagai bagian dari Generasi Lolita a.k.a si Lolos Lima Puluh Tahun. 

Istilahnya terdengar playful dan santai, tapi maknanya dalam. Bagiku, menginjak usia kepala lima bukan tanda untuk mulai melambat, menepi, dan berhenti belajar. Justru sebaliknya! Jiwa ini masih digerakkan oleh rasa penasaran yang besar. Aku masih se-excited itu saat menemukan tools kreatif baru, masih berdebar saat ide-ide abstrak berhasil ditumpahkan menjadi sebuah karya.

Jadi, kalau ada yang bilang usia adalah batas mutlak untuk berkembang, dengan tegas aku menggeleng. Growth has no expiry date!

Lalu, melompat ke teka-teki berikutnya: "Apa yang sebenarnya aku inginkan?"


Jujur, ini pertanyaan yang menjebak. Kita sering kali hidup menggunakan template kebahagiaan yang dicetak oleh orang lain. Apa yang dianggap keren, apa yang dianggap sukses, apa yang dianggap ideal secara sosial. 

Kita terus berlari mengejarnya sampai lupa mengecek hati: “Ini beneran yang aku mau, atau cuma karena kata orang ini bagus?”

Semakin hari, arah kompas hidupku makin mengerucut pada hal-hal yang sederhana tapi esensial. Aku hanya ingin terus memiliki ruang untuk bertumbuh secara autentik. Aku ingin merawat rasa ingin tahu ini, tetap kreatif, dan tetap relevan tanpa harus kehilangan jati diri. Aku menolak hidup dikontrol oleh dikte algoritma yang hanya mengejar angka, statistik, atau validasi semu. Kalau hidup cuma tentang grafik yang naik turun, capeknya nggak akan pernah selesai.

Yang aku kejar sekarang adalah sesuatu yang menetap lebih lama: Meaning. Value. Impact.

Hal itu menuntunku pada pertanyaan pamungkas: "Apa yang bisa aku berikan untuk dunia?"


Bagi sebagian orang, ini mungkin terdengar muluk. Tapi buatku, hidup baru terasa utuh dan penuh justru ketika kita mulai menggeser fokus dari “apa yang bisa kudapatkan” menjadi “apa yang bisa kubagikan”. Aku tahu aku tidak bisa mengubah dunia dalam semalam. Tapi aku sangat percaya pada kekuatan riak kecil sebuah karya.

Sebuah tulisan, coretan ilustrasi, atau sepotong cerita punya dampaknya sendiri. Satu artikel yang ditulis dengan hati bisa membuka perspektif baru bagi pembacanya. Satu curahan pengalaman bisa membuat seseorang di luar sana merasa ditemani dan tidak sendirian menghadapi dunianya.

Itulah alasan terbesarku tetap menyalakan laptop dan menulis di blog ini. Bukan sekadar mengejar traffic atau berbagi informasi kering, melainkan membagikan sudut pandang, menyederhanakan hal teknis, dan menyelipkan manfaat.

Jika boleh dianalogikan, aku ingin Tantiamelia.com menjadi seperti secangkir kopi hangat di tengah badai dunia digital yang bising dan serba terburu-buru.


 Di luar sana, orang-orang saling sikut di timeline demi tampil paling memukau. Tapi begitu masuk ke ruang kecil ini, aku ingin menyambutmu dengan kehangatan yang jujur dan manusiawi. Sebuah tempat untuk belajar tanpa takut dihakimi, dan tempat untuk bertumbuh tanpa tuntutan harus tampil sempurna.

Pada akhirnya, tiga pertanyaan sakral tadi memang tidak dirancang untuk dijawab tuntas dalam satu malam. 

Jawabannya akan datang mencicil, mengetuk pintu kesadaran kita lewat proses, lewat karya, dan lewat perjalanan yang kita tapaki hari demi hari. Intinya bukan seberapa cepat kita menemukan jawaban finalnya, melainkan seberapa jujur kita memperlakukan diri sendiri sepanjang proses pencarian itu.

Jadi, setelah mendengar ceritaku malam ini... aku ingin berbalik bertanya kepadamu yang sedang membaca tulisan ini. Saat malam mulai sunyi dan pikiranmu mulai berisik, pertanyaan mana yang paling sering mengetuk pintu hatimu? 

Dari tiga pertanyaan ini : 
who are you, what do you want, dan what can you give..
pertanyaan mana yang paling sering bikin kamu overthinking akhir-akhir ini?

Komentar

Postingan Populer