Cafe Unik Berkelas, Benarkah Sesuai Fasilitas?

Foto diperagakan oleh sosialita Pejompongan

Kopinya enak, harganya ramah kantong, suasananya bikin lupa waktu.
Tapi sayang, ada satu hal penting yang bikin senyum kami mendadak tertahan...

Rasanya Kok, Seperti Main ke Rumah Nenek di Kampung, ya?


Harus diakui, dari segi suasana dan konsep, Uncle Jo ini juara untuk urusan vibes vintage.

Lokasinya tersembunyi di dalam gang sempit. Begitu masuk, kita tidak merasa sedang berada di kafe modern ala-ala Jakarta, tapi seperti masuk ke rumah tinggal jadul yang dialih-fungsikan tanpa merusak strukturnya.

Lantainya masih pakai tegel zaman dulu, dinding bata ekspos, kursi-kursi kayu lama yang dicat ulang, dekorasi barang antik, Pokoknya adem, tenang dari bising kendaraan jalan raya, dan pas sekali buat ngedeprok melepas lelah.

Unfinished Industrial 

Aku berjalan keliling, menikmati area Uncle Jo yang persis rumah bekas dibongkar ini. Asli, kalo ini bukan cafe, terus jalannya sendirian malem-malem. kita mikirnya ... nggg... 

Tapi konsep ini memang lucu, sih, Terbukti banyak banget area yang malah bikin kita penasaran,

Konon, pada tahun 2018 Uncle Jo Coffee Shop ini ditemukan oleh ownernya, bernama Yohanes Handoyo. Berlokasi di Jalan Gedong Sawah, Kota Bogor, awalnya bangunan ini merupakan kantor kontraktor. Kini menjadi Uncle Jo Coffee Shop, outlet pertama dan pusatnya.



Karakter Uncle Jo x Bar ini lebih mengusung gaya unfinished industrial-vintage yang agak raw, sedikit ada kesan "anyep" rumah tua yang dibiarkan otentik, dengan nuansa kayu serta barang antik yang kental. 

Oya saat di kafe, aku ketemu sama salah satu mantan penyiar radio,
Gerry Girianza (sebelumnya dikenal sebagai penyiar radio di Bandung sebelum akhirnya berkarier di dunia kuliner profesional sebagai seorang chef, YouTuber, dan food vlogger). 

Konten review-nya saat mengunjungi kawasan kuliner legendaris Suryakencana Bogor kerap merekomendasikan menu andalan di Uncle Jo, seperti perpaduan roti jadul yang dicelup ke dalam es cokelat kental kreasinya (Es Coklat Murudul)

Menu Es Coklat Murudul, aiiih... eta pisan!

Mereka ini konsisten banget deh ama konsepnya, karena menu ikonik adalah Es Coklat Murudul plus Roti Bakar Celup dan Coffee Lumut. Beda kan, ama kafe lain?

Semua menu yang tersedia, ramah di kantong. Menunya didominasi camilan tradisional dan kopi dengan harga pelajar.

Ditraktir mbak Iya 


Kami memesan beberapa minuman dan makanan untuk dinikmati bersama.

Salah satu yang menarik perhatian saya adalah Kopi Suren, kopi susu dengan gula aren yang memang cocok diminum dalam suasana santai seperti ini.

Rasanya tidak berlebihan. Kopinya tetap terasa, manisnya memberikan sentuhan yang cukup, dan buat saya justru enak dijadikan teman ngobrol.

Saya paling penasaran dengan Roti Bakar Celup.

Namanya sederhana, tetapi konsepnya sedikit berbeda dari roti bakar yang biasanya langsung disantap begitu saja.

Roti jadul yang dipanggang sampai bagian luarnya terasa sedikit garing, tetapi bagian dalamnya masih empuk. Ada aroma panggangan yang khas, dengan rasa manis yang tidak berlebihan.

Yang membuatnya menarik tentu cara makannya.

Roti tersebut dicelupkan ke dalam pendampingnya sehingga teksturnya berubah. Bagian luar yang tadinya agak renyah menjadi lebih lembut dan basah, sementara bagian dalam rotinya menyerap rasa manis tersebut.

Saya suka karena sensasinya jadi tidak monoton. Ada bagian roti yang masih terasa toasty, ada bagian yang lebih lembut setelah dicelup.

Buat saya ini tipe camilan yang sederhana tapi punya unsur nostalgia.

Pasti gak cuman aku kan yang bertanya-tanya, kenapa es coklatnya dinamakan Es Coklat Murudul?

Ternyata penampilannya memang cukup menggoda karena cokelatnya dibuat dengan karakter yang pekat dan tampak meluber atau "murudul" ketika disajikan.

Yang saya suka dari minuman cokelat ini adalah rasa cokelatnya cukup terasa. Bukan tipe minuman cokelat yang dominan manis sampai akhirnya kita hanya merasakan gula. Ada rasa cokelat yang cukup kuat, creamy, dan dingin.

Dan karena hari itu Bogor sedang panas-panasnya, minuman dingin seperti ini terasa jauh lebih menyenangkan!

Lalu ada Coffee Lumut.

Ternyata bukan kopi yang rasanya seperti lumut, tentu saja. 😂 Nama tersebut lebih merujuk pada tampilannya yang khas.


Untuk urusan rasa, kopinya punya karakter yang cukup lembut dan tidak terlalu agresif. Ada rasa kopi yang tetap terasa, tetapi tidak sampai membuat lidah langsung "melek" secara paksa. Dan ketika disajikan dingin, rasanya justru terasa lebih ringan.

Saya juga suka karena minuman seperti ini bisa menjadi jembatan antara orang yang memang suka kopi dan orang yang sebenarnya minum kopi lebih karena ingin menikmati suasananya.

Mushola yang Bikin Garuk-Garuk Kepala

Karena kami datang ke Bogor sudah jelang siang,tentu saja tiba di sini sudah masuk waktu sholat. Kami pun bertanya letak mushola.

Aku memandang tak percaya ketika seorang pegawai menunjukkan tempat ibadah. Loh.. kok, kayak masuk ke gudang tempat Ibuku menyimpan beras... Beda banget dengan luasnya kafe, loh!

Bukan mushola Uncle Jo
Sumber : Mushola by Raina (pinterest)

Sebagai tempat yang sering dikunjungi banyak orang, keberadaan mushola tentu jadi poin plus. Sayangnya, untuk urusan fasilitas ibadah yang satu ini, Uncle Jo terasa tidak dikondisikan dengan baik. Sama sekali tidak proper.

Musholanya sangat sempit, pengap, panas, dan berdebu. Lantainya cuma semen kasar, bikin rasa khawatir muncul kalau-kalau mukena atau baju langsung kotor terkena debu waktu sujud. Kalau ada pengunjung laki-laki dan perempuan yang mau salat barengan? Jangan harap. Tempatnya sama sekali tidak muat. Harus antre satu per satu.

Satu lagi yang bikin serba salah: akses area wudhunya. 

Untuk mengambil air wudhu, kita harus melewati area terbuka. Buat pengunjung perempuan yang berhijab, ini tentu merepotkan karena aurat (seperti kepala atau lengan) rentan kelihatan oleh pengunjung lain yang lalu-lalang di sekitar kafe.

Agak disayangkan, padahal kafenya sendiri sudah dibuat se-estetik itu. Rasanya pengelola kafe perlu menyisihkan sedikit perhatian untuk membenahi area ibadah ini supaya pengunjung bisa salat dengan tenang dan bersih.

Catatan Singkat Buat yang Mau Ke Sini

Kalau mau mampir ke Uncle Jo Surken saat main ke Bogor:
  • Mobil: Wajib parkir di jalan utama Suryakencana, lalu jalan kaki masuk ke dalam gang.
  • Waktu: Paling enak datang pagi hari atau menjelang sore supaya tidak terlalu gerah, karena area kafenya semi-terbuka dan mengandalkan kipas angin.
  • Kalau sekadar nongkrong dan minum kopi, tempat ini sangat menyenangkan. Tapi kalau masuk waktu salat, ada baiknya mempertimbangkan untuk salat di masjid atau mushola umum terdekat di kawasan Suryakencana yang ketersediaan air wudhu dan kebersihannya lebih terjaga.
Kami parkir di seberang rumah cantik ini

Btw, kalau kalian sering berselancar di Google Maps atau medsos dan merasa Uncle Jo ini mirip banget sama Kedai Pintu Belakang, tebakan kalian tidak salah.

Keduanya memang kerap bikin orang bingung karena sama-sama terletak di Gang Roda, Suryakencana. Lokasinya hanya berjarak beberapa langkah saja di area pecinan Surken.

Sekarang cara orang menemukan tempat nongkrong juga sudah berubah. Kalau dulu kita mengandalkan cerita teman, majalah, atau paling banter radio, sekarang tinggal buka TikTok. Bahkan muncul istilah radio TikTok, ketika orang bukan cuma mendengarkan siaran, tetapi mendapatkan rekomendasi tempat, cerita, sampai pengalaman kuliner langsung dari konten kreator.

Dunia memang berubah, ya. Dulu nunggu penyiar ngomong, sekarang algoritma yang sibuk ngomong.


Bangunannya mirip! 
Keduanya memanfaatkan bangunan rumah tua jadul dengan sentuhan retro-vintage, dinding bata, dan nuansa nostalgia.


Gimana, sudah penasaran kan dengan kafe yang satu ini? Hayuk, atuh ..ulin ka Bogor!

Komentar

  1. Penasaran sih sama kafenya. Tapi emang sayang banget ya kalau musala dan area wudunya kurang proper

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehhehe.. saya udah memuji muji, eeeh .. kuciweee

      Hapus
  2. Kafe jaman now memang tidak hanya menjual makanan tapi juga experience sih kak. Jadi justru yang mampu menghadirkan nuansa unik yang akan viral. Walau kafe yang fokus menjual rasa juga tidak kalah juga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul kak Adi .. makanya rada kuciwe ga ada mushola yang proper

      Hapus
  3. Baca ini jadi tergambar suasana Uncle Jo ...Bangunan tua, tegel jadul, sampai menu Es Coklat Murudul dan Roti Bakar Celup, saya berasa nostalgia ke rumah Mbah zaman dulu. Penasaran dengan Roti Bakar Celupnya, apalagi kalau disantap sambil ngopi dan ngobrol santai.
    Bisa nih disamperin saat ke Bogor nanti..
    Meski soal mushola bikin prihatin yaaa. Setuju sekali, tempat ibadah seharusnya ikut mendapat perhatian, apalagi kafe seperti ini ramai dikunjungi. Detail seperti akses wudhu untuk perempuan juga penting banget untuk diperhatikan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihi. agak lebay ya tapi "menurut keyakinan saya" dengan jumlah muslim yang datang keknya bisa tuh dipertimbangkan ama Uncle Jo

      Hapus
  4. aku juga suka Es Coklat disini :D

    BalasHapus
  5. keren nih konsepnya,, gak hanya bangunannya yang terkesan "seadanya"
    nama FnB nya juga dipikirin supaya menarik
    mulai serba 'keun" yang khas sunda pisan (jadi ingat pejabat jadul yang hobi mengubah akhiran "kan" menyadi "keun")
    sampai penggunaan nama seperti "muruluk" dan 'murudul", jadi penasaran
    Semoga tulisan ini dibaca Uncle Jo ya, dan mereka mau lebih memperhatikan mushola
    Sayang banget, konsep estetik ta[pi perawatan mung saeutik :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sundakeeeuuunnnn...

      ya begitulah "menurut keyakinan saya" dengan jumlah muslim yang datang, keknya bisa tuh estetika mushola dipertimbangkan ama Uncle Jo

      Hapus
  6. Sayang sekali jika cafe seunik ini belum menyediakan mushola. Bagi pengunjung Muslim, keberadaan tempat ibadah bukan sekadar fasilitas tambahan, tetapi bagian dari kenyamanan ketika menghabiskan waktu di luar rumah. Apalagi jika kita berkunjung datang bersama keluarga dan ingin berlama-lama menikmati suasana di cafe ya mbak .

    BalasHapus
  7. Wah, dari ceritanya Uncle Jo ini memang menarik banget buat didatangi. Bangunan jadul, tegel lama, barang antik, plus menu kayak Es Coklat Murudul dan Roti Bakar Celup. Kan aku jadi ikut kebayang vibes nostalgia-nya. Eh tapi beneran loh mbak, aku pernah nemu vibe kayak gini. Tempatnya bagus, tapi musalanya duh, mukenanya bau, fasilitas seadanya. Bagian musholanya justru belum sejalan sama kenyamanan kafenya. Padahal kalau tempatnya ramai pengunjung, fasilitas ibadah yang proper pasti jadi nilai tambah besar. Semoga pengelolanya baca tulisan ini nih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hiks hiks... aku langsung ingiiiin DM si owner ya mbak Mutia

      jujur kalo dapet mukena bau, karpet sobek bau juga gemes sama pengelolanya!

      Hapus
  8. Vibesnya juara sih ini mah, dengan peralatan cafe yang masih tradisional dan outentik, menjadikannya cafe dengan ciri khas tinggal di kampung, seolah-olah kita terbawa dengan nostalgia masa lalu, semasa kecil yang sering berkunjung dan dielus sama kakek nenek kita yang mungkin sekarang sudah tiada.

    BalasHapus

Posting Komentar

TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA BLOG NENG TANTI (^_^)

Postingan Populer