What's in Your Dream?
Kalau ada yang bertanya ke aku, "What’s in your dream?"
Jujur, jawabannya bukan rumah mentereng, mobil berkilau, atau liburan ke Eropa. Ya... kalau dikasih gratis sih aku nggak bakal nolak. Tapi kalau mau jujur-jujuran tentang apa yang paling sering muter di kepala, jawabannya simpel tapi bikin ngelus dada: aku cuma pengen punya studio lukis sendiri.
Bukan studio megah kayak di film-film yang jendelanya setinggi langit-langit. Cukup ruangan yang muat buat ditaruh kanvas besar, meja gambar, rak cat, kuas yang entah kenapa makin hari makin beranak, plus beberapa karya yang masih nyender kelesuan di tembok gara-gara bingung mau dipajang di mana...
Di sana, aku cuma pengen melukis dengan tenang. Ada cahaya alami yang pas, bau khas cat busuk-busuk wangi yang bikin nagih, alunan musik santai, dan mungkin seekor kucing (bernama Eki anyway)yang mendadak selonjoran di atas kanvas cuma buat ngetes kesabaran.
Tapi masalahnya, aku kan bukan pelukis profesional. Aku ini lebih pas disebut pelukis wannabe. Seseorang yang masih grasa-grusu nemuin karakter sendiri, yang kalau ngelihat karya orang lain di Instagram cuma bisa mbatin, "Bisa nggak ya jemari gue se-ajaib itu?"
Satu-satunya modal yang aku yakin cuma ini: aku jatuh cinta setengah mati sama coretan. Mau itu doodle art, garis acak-adut, sampai ide absurd yang mendadak muncul dari selembar kertas kosong.
Dari coretan iseng itulah, mimpinya merembet. Nggak cuma pengen asal nggambar, tapi mulai halu pengen punya portofolio rapi, ikut pameran, atau lihat karya sendiri digantung di galeri. Bahkan sampai ke level imajinasi "paling jahat": ada pengunjung berdiri lama di depan lukisanku, terus bisik-bisik ke kurator, "Who painted this?"
Duh, bayangin itu aja udah bikin mesem-mesem sendiri seminggu.
Tapi Ya Itu... Bermimpi Jadi Seniman Itu Ternyata Mahal!
![]() |
| Lukisan asli milik nengtantidoodle |
Ini sisi gelap yang jarang dipamerin di foto-foto estetis process of making art.
Orang luar ngelihatnya romantis banget: seniman duduk manis di depan kanvas, pegang palet, usap-usap kuas penuh penghayatan. Padahal di balik estetika itu, ada nota belanjaan yang bikin elus dada.
Cat akrilik yang bagus? Mahal. Kuas yang nggak gampang rontok? Lumayan. Kanvas, medium, varnish, belum lagi harga bingkai yang makin gede ukurannya makin ngajak berantem sama uang belanja harian, wk wk wk pokoke bunyinya.
Itu baru alat tempur dasar. Bayangin kalau kesempatan pameran itu beneran datang. Karya harus diangkut. Nggak mungkin kan kanvas selebar pintu dipaksa masuk bagasi motor? Mobil keluarga yang biasanya dipakai belanja sayur dan antar anak mendadak kudu nyambi jadi truk ekspedisi karya seni.
Belum sewa booth, packaging kayu biar lukisan nggak lecet, cetak katalog, kartu nama, sampai biaya tak terduga lainnya. Ternyata, seni itu bukan cuma soal bakat dan gairah, tapi soal daya tahan dompet.
Aku ngomong begini bukan mau ngeluh atau patah semangat. Ini cuma cara aku menatap mimpi dengan lebih realistis. Kita sering disuruh mimpi setinggi langit, tapi lupa diajari kalau mau ke sana tuh butuh tangga—dan bahan pembuat tangganya nggak murah.
Ngecor Tangga Sedikit demi Sedikit
Orang luar ngelihatnya romantis banget: seniman duduk manis di depan kanvas, pegang palet, usap-usap kuas penuh penghayatan. Padahal di balik estetika itu, ada nota belanjaan yang bikin elus dada.
Cat akrilik yang bagus? Mahal. Kuas yang nggak gampang rontok? Lumayan. Kanvas, medium, varnish, belum lagi harga bingkai yang makin gede ukurannya makin ngajak berantem sama uang belanja harian, wk wk wk pokoke bunyinya.
Itu baru alat tempur dasar. Bayangin kalau kesempatan pameran itu beneran datang. Karya harus diangkut. Nggak mungkin kan kanvas selebar pintu dipaksa masuk bagasi motor? Mobil keluarga yang biasanya dipakai belanja sayur dan antar anak mendadak kudu nyambi jadi truk ekspedisi karya seni.
Belum sewa booth, packaging kayu biar lukisan nggak lecet, cetak katalog, kartu nama, sampai biaya tak terduga lainnya. Ternyata, seni itu bukan cuma soal bakat dan gairah, tapi soal daya tahan dompet.
Aku ngomong begini bukan mau ngeluh atau patah semangat. Ini cuma cara aku menatap mimpi dengan lebih realistis. Kita sering disuruh mimpi setinggi langit, tapi lupa diajari kalau mau ke sana tuh butuh tangga—dan bahan pembuat tangganya nggak murah.
Ngecor Tangga Sedikit demi Sedikit
![]() |
| Lukisan asli tutorial di sini yhaaa |
Sekarang?
Ya belum punya studio.... Belum pameran tunggal. Belum punya mobil angkut lukisan. Sebagian orang mungkin masih ngelihat aku cuma seorang ibu-ibu yang hobi corat-coret doodle kalau lagi ada waktu luang.
And that’s totally fine. Aku nggak gengsi mulai dari titik ini.
Mimpi besar itu nggak harus langsung meledak jadi studio megah. Buat aku sekarang, mewujudkannya cukup dengan hal-hal kecil: nabung buat beli satu kanvas bagus, nyoba ikutan event kecil-kecilan, eksperimen gaya gambar, atau sekadar rapikan portofolio.
Aku lagi nyicil. Bukan cuma nyicil uang, tapi nyicil keberanian, nyicil jam terbang, dan nyicil karya. Suatu hari nanti, aku pengen beli cat bukan cuma karena "lagi pengen melukis", tapi karena "lagi ada proyek yang harus dikejar".
And that’s totally fine. Aku nggak gengsi mulai dari titik ini.
Mimpi besar itu nggak harus langsung meledak jadi studio megah. Buat aku sekarang, mewujudkannya cukup dengan hal-hal kecil: nabung buat beli satu kanvas bagus, nyoba ikutan event kecil-kecilan, eksperimen gaya gambar, atau sekadar rapikan portofolio.
Aku lagi nyicil. Bukan cuma nyicil uang, tapi nyicil keberanian, nyicil jam terbang, dan nyicil karya. Suatu hari nanti, aku pengen beli cat bukan cuma karena "lagi pengen melukis", tapi karena "lagi ada proyek yang harus dikejar".
Aku pengen bawa karya keluar rumah biar dia bisa 'ngobrol' sama orang banyak.
Tentang Studio Lukis yang Selalu Ada di Kepala
Tentang Studio Lukis yang Selalu Ada di Kepala
![]() |
| Lukisan asli milik nengtantidoodle |
Kalau boleh cerita sedikit lebih rinci tentang ruangan impian itu... aku tuh sudah membayangkannya sampai ke sudut-sudut terkecil.
Btw seorang sahabat blogger bernama Dedew pernah menuliskannya di ruang aksara. Ini asli sahabat keren, dia adalah penulis idolaku dengan karya segudang, dan penulis idola anak-anakku juga hihi.. really happy ketika kenal langsung orangnya yang cantik dan humble!
Baca di sini nih,
Studioku nggak usah terlalu rapi. Aku pengen ruangan yang agak acak-adut tapi hangat. Dindingnya nggak polos putih bersih, tapi dipenuhi coretan outline doodle yang hidup, tempat lukisan-lukisan "setengah jadi" ditaruh tanpa perlu dihakimi....
Tanti Amelia, Dari Corat-Coret Doodle Jadi Buku
Back to impianku - yang semoga gak halu... ada aamiin? -
Ada rak-rak kayu yang sesak sama kaleng cat, wadah kuas dari kaleng bekas yang dicat ulang, roll kertas gambar, dan meja kerja kayu yang sudah ketumpahan puluhan bercak cat warna-warni, jejak dari setiap emosi yang pernah tumpah di sana.
Di studio itu juga, aku pengen punya sudut kecil dengan pencahayaan alami yang lembut dari jendela. Ada apron kanvas tua yang sudah dekil kena noda akrilik tergantung di sudut pintu, siap aku pakai tiap kali kepala butuh tempat "pelarian".
Di studio itu juga, aku pengen punya sudut kecil dengan pencahayaan alami yang lembut dari jendela. Ada apron kanvas tua yang sudah dekil kena noda akrilik tergantung di sudut pintu, siap aku pakai tiap kali kepala butuh tempat "pelarian".
Studio itu bukan cuma tempat produksi gambar, tapi bakal jadi sanctuary, ruang aman di mana aku nggak perlu berpura-pura jadi siapa-siapa selain jadi diriku sendiri yang sedang bercerita lewat warna.
What's in Your Dream?
Tiap orang punya versi mimpinya masing-masing. Ada yang kejar aset, ada yang pengen keliling dunia, ada yang simpel cuma pengen pensiun tenang.
Dan aku... cuma wanita yang masih menyimpan bayangan sebuah ruangan berantakan penuh cat di kepalanya. Ruangan di mana aku bisa berdiri di tengahnya, mandangin kanvas kosong, terus bilang ke diri sendiri, "Okay... hari ini kita mau tumpahin cerita apa?"
Nggak tahu kapan itu terwujud. Tahun depan? Lima tahun lagi? Nggak masalah.
Kalau nanti ada yang nanya, "Sebenarnya apa sih yang kamu cari?"
Aku bakal menunjuk ke arah ruang imajiner itu sambil tersenyum: Aku cuma pengen punya ruang buat berkarya.
Bukan cuma buat gaya-gayaan, tapi buat membuktikan ke diri sendiri: perempuan yang udah melewati berbagai fase hidup itu masih boleh punya mimpi baru. Masih boleh jadi pemula. Masih boleh ngaku wannabe. Dan yang paling penting... masih berhak punya ruang untuk bener-bener jadi dirinya sendiri.
What's in Your Dream?
Tiap orang punya versi mimpinya masing-masing. Ada yang kejar aset, ada yang pengen keliling dunia, ada yang simpel cuma pengen pensiun tenang.
Dan aku... cuma wanita yang masih menyimpan bayangan sebuah ruangan berantakan penuh cat di kepalanya. Ruangan di mana aku bisa berdiri di tengahnya, mandangin kanvas kosong, terus bilang ke diri sendiri, "Okay... hari ini kita mau tumpahin cerita apa?"
Nggak tahu kapan itu terwujud. Tahun depan? Lima tahun lagi? Nggak masalah.
Kalau nanti ada yang nanya, "Sebenarnya apa sih yang kamu cari?"
Aku bakal menunjuk ke arah ruang imajiner itu sambil tersenyum: Aku cuma pengen punya ruang buat berkarya.
Bukan cuma buat gaya-gayaan, tapi buat membuktikan ke diri sendiri: perempuan yang udah melewati berbagai fase hidup itu masih boleh punya mimpi baru. Masih boleh jadi pemula. Masih boleh ngaku wannabe. Dan yang paling penting... masih berhak punya ruang untuk bener-bener jadi dirinya sendiri.
.jpeg)



.jpg)


Komentar
Posting Komentar
TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA BLOG NENG TANTI (^_^)