Tragedi "Copy-Paste" Karnaval Pekalongan
| gambar : twillostry |
Heboh ya buuun...
Beberapa hari terakhir, media sosial kembali ramai dengan sebuah video dari Pekalongan. Bukan karena joget lucu, bukan pula karena emak-emak rebutan doorprize.
Kali ini yang bikin orang berhenti scrolling adalah sebuah pertunjukan dalam Simbang Kulon Night Carnival (SKNC) 2026, yang digelar sebagai rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus khitanan massal ke-61.
Dalam video yang beredar, terlihat sejumlah orang mengenakan kostum menyeramkan, ada figur dengan wajah tengkorak, simbol-simbol yang dianggap berkaitan dengan satanisme, hingga adegan penyembelihan kambing dalam sebuah pertunjukan teatrikal.
disclaimer : aku ga mau taro foto-foto menyeramkan (menurutku) di sini yaaa.. karena aku gak bahas tentang ritualnya, tq
Warganet pun ramai menyebutnya sebagai “ritual satanic”.
Jujur saja, kalau hanya melihat potongan videonya, tanpa mengetahui konteks apa pun, memang mudah sekali muncul pertanyaan, “Lho, ini acara Maulid atau film horor?”
Tapi justru di sinilah saya merasa kita perlu merenung sebentar.
Bukan untuk membela pertunjukannya, pun bukan pula untuk memberikan label. Melainkan untuk mencoba memahami bagaimana sebenarnya peristiwa ini bisa terjadi.
Bukan Berarti Benar Ada Ritual Satanic
Ini bagian yang menurut saya penting supaya kita tidak ikut-ikutan menjadi hakim di media sosial.
Pihak penampil, Tim Simone, sudah meminta maaf secara terbuka. Mereka mengaku tidak bermaksud melakukan ritual satanik. Konsep itu lahir murni karena mereka melihat referensi kostum yang unik di YouTube, menyewanya dari Malang, lalu menirunya. Secara blak-blakan, mereka mengakui bahwa mereka "kurang literasi" dalam memahami makna simbol-simbol tersebut.
Kalimat "kami kurang literasi" ini justru jadi tamparan keras buat kita semua.
Zaman saya masih mahasiswa tahun 90-an dulu dan aktif di himpunan kampus, kalau kami mau bikin pentas seni atau acara, risetnya bisa berhari-hari. Harus buka buku, diskusi panjang soal filosofi naskah, sampai debat soal makna properti. Sekarang? Tinggal ketik keyword di YouTube, tonton 5 menit, jadikan referensi. Praktis memang.
Internet membuat batas antara kita dan jutaan inspirasi menjadi nol. Tapi di sinilah jebakannya: melihat sesuatu, bukan berarti memahami sesuatu.
Ini ibarat merakit koleksi brick Lego. Kalau kita asal comot kepingan dan dipaksa nyambung tanpa mau melihat buku panduan atau memahami logika bentuknya, yang jadi bukannya masterpiece, tapi malah monster abstrak yang membingungkan orang lain.
Simbol itu punya sejarah, punya luka, punya ideologi. Ketika sebuah estetika dicabut dari akar budayanya dan dipaksa masuk ke ruang publik yang membawa nama agama, benturan konteks tak bisa dihindari. Kita adalah manusia yang dikaruniai nalar untuk mencari makna, bukan sekadar mesin fotocopy visual yang meniru apa pun asal "kelihatan keren".
Seni Berhenti Sejenak: Kemewahan yang Makin Langka
Di titik inilah, mempraktikkan
Di era digital, mindful itu sesederhana punya tombol pause di kepala kita.
Tunggu sebentar, saya benar-benar paham nggak sih arti simbol ini?
Sebelum klik share, ini informasinya valid atau hoaks?
Sebelum meniru tren, dampaknya ke orang sekitar apa?
Kreativitas itu luar biasa menyenangkan.
Mengolah ide gila menjadi karya baru adalah hak istimewa kita sebagai manusia. Tapi kreativitas tanpa literasi itu ibarat mobil sport tanpa rem; larinya kencang, tapi berpotensi nabrak sana-sini.
Menjadi Manusia Penuh Lewat Pendekatan Analog
Gagasan tentang kewarasan di era digital ini sangat nyambung dengan esensi
Hidup analog adalah soal merebut kembali kendali.
Internet tetap kita manfaatkan, tapi kita sadar kapan harus mematikan layar untuk sekadar berpikir, membaca buku secara fisik, ngobrol deep talk dengan teman, atau membiarkan otak memproses informasi tanpa dijejali notifikasi baru.
Pekalongan memberi kita pelajaran berharga. Dunia digital itu tak terbatas, tapi bukan berarti semuanya boleh kita telan mentah-mentah. Di zaman ketika sebuah video bisa viral dalam hitungan jam, kemampuan untuk menahan diri, mengkritisi informasi, dan tidak buru-buru ikut-ikutan justru menjadi bentuk kecerdasan yang paling mahal.
Tetaplah kreatif, tapi jadilah manusia yang berpikir di tengah dunia yang bergerak terlalu cepat.
Gimana menurut kamu?
Pernah nggak sih kamu atau circle-mu hampir terjebak ikutan sebuah tren keren di internet, tapi batal karena setelah diulik ternyata maknanya zonk atau kurang pantas? Yuk, share pengalaman atau opini kamu di kolom komentar! Let's discuss!


Komentar
Posting Komentar
TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA BLOG NENG TANTI (^_^)