One Day Trip Bogor Bersama MUNGILS 88: Sehari Jalan-Jalan, Pulangnya Bawa Segudang Cerita
Ada satu hal yang saya pelajari setelah puluhan tahun berteman dengan MUNGILS 88: jangan pernah bikin itinerary terlalu serius.
Percuma.
Sebagus apa pun rencana yang ditulis di kertas, pada akhirnya kami tetap akan berhenti untuk makan. Lalu ngopi. Lalu makan lagi. Lalu jajan. Beli oleh-oleh. Minum air dingin karena kepanasan. Foto-foto. Lalu ada yang mendadak hilang cuma gara-gara lihat ada jajanan menarik di seberang jalan.
Dan entah bagaimana, semua kekacauan itu bisa tuntas dalam satu hari.
Itulah yang terjadi sewaktu MUNGILS 88 jalan-jalan ke Bogor, Kamis, 16 April lalu.
MUNGILS ini teman-teman seangkatan saya waktu kuliah di ITI. Angkatan 88. Dulu kami sibuk sama praktikum, laporan, ujian, dan drama kampus. Sekarang? Dramanya ganti. Bukan lagi soal nilai Indeks Prestasi, tapi soal siapa yang sudah sampai, siapa yang masih nyasar, parkir di mana, mau makan apa, dan siapa yang ketinggalan rombongan.
Persahabatan kami awet. Yang berubah cuma topik obrolan ama isi dompet obatnya :)))
Kemeja Warna-warni
Pagi itu kami janjian pakai kemeja warna-warni. Bawahan bebas.
Hasilnya? Rombongan MUNGILS kelihatan seperti peserta pensi sekolah yang salah turun bus. Meriah sekali.
Kami berangkat dari Rumah Mbak Iya di Pejompongan jam tujuh pagi lewat dikit (sejam 15 menit (>_< )) alhamdulillaaah dapat sarapan nasi goreng kambing uenaak banget, sama bawa (merampok) isi meja, ada sunpia dan aneka kudapan sisa lebarannya!
Jemput satu teman dulu, sus Evie di McDonald's Cibubur, lalu masuk Tol Jagorawi. Tujuannya cuma satu: Bogor.
Bogor, daerah yang jauh di mata dekat di hati untuk kami, karena dulu hampir tiap bulan kami praktikum di IPB Darmaga bareng.
Di dalam mobil, cerita masa lalu mendadak keluar semua. Cerita anak, cerita suami, kabar teman yang sudah lama hilang, sampai cerita-cerita nostalgia yang bikin ketawa tanpa sebab.
Namanya juga teman lama. Tidak perlu pakai basa-basi. Baru duduk lima menit, rasanya sudah seperti kemarin sore ketemu.
Surken, Joget Riang dan Sesuatu yang Harus Dimakan!
| Soto Mie pak Kumis Suryakencana - Bogor |
Jam 10.45, kami geser ke Soto Mie Surken. Katanya belum ke Bogor kalau belum makan soto mie. Mangkok datang. Kuah hangat, mie, risol, daging, semua campur jadi satu.
Jajan Tanpa Rencana
Bagian ini sungguh tidak ada di draf itinerary.
Jajan. Banyak sekali.
Sepanjang jalan Suryakencana, kami seperti kehilangan daya untuk berkata "tidak".
Lihat kaloci, beli. Lihat asinan kiamboy, beli. Lihat bakso goreng, beli. Lihat pisang goreng, berhenti. Ada cempedak goreng? Bungkus.
| Jajan kaloci, bukan mochi ya ini, ini khas Pontianak sebenernya |
| Jajan asinan kiamboy @ 35 ribu , nyesel belinya cuman satu cup! |
Niat awal mau jalan santai, malah berubah jadi food tour dadakan. Belum lagi bolak-balik beli minuman dingin. Panas Bogor hari itu memang tidak santai.
Saya sampai berpikir, itinerary kami harusnya ditulis begini:
Minum--> jalan ---> jajan --> minum --> foto --> jajan lagi.
Uniknya, makanan sebanyak itu tidak semua dimakan di tempat. Ada yang masuk tas. Ada yang dibagi. Ada yang dicicipi ramai-ramai.
"Eh, ini enak."
"Coba dong."
"Mana?"
"Dikit aja."
Lima menit kemudian cuma tersisa bungkus plastiknya...
Joget di Jalan!
Di tengah-tengah jalan kaki itu, ada satu kejadian yang kalau diingat-ingat bikin saya ketawa sendiri.
Ada rombongan pengamen lewat. Entah kesambet apa, saya malah menghampiri mereka. Kasih saweran, lalu ikut joget di resto wkwkwkk...
Ya Allah. 😂
Mungkin karena suasananya lagi gembira. Atau mungkin karena kalau sudah ketemu teman lama, sifat jahil waktu muda mendadak keluar lagi.
Jadilah siang itu Suryakencana makin ramai. Saya joget, pengamennya makin semangat, dan teman-teman MUNGILS mukanya antara mau ikut joget atau pura-pura tidak kenal saya.
Tapi justru momen-momen seperti ini yang paling nempel di ingatan. Tidak ada di rencana. Tidak dibuat-buat. Kejadian begitu saja.
Kopi Lagi dan Pinggang yang Minta Istirahat
Habis capek jalan dan joget, kami ngedeprok di Uncle Jo x Bar Surken. Tempatnya masuk gang kecil. Nuansanya vintage, dinding bata, mirip rumah tua yang adem.
Kami duduk. Ngobrol lagi. Dan... ngopi lagi.
Kenapa ngopi melulu? Karena buat kami, kopi itu cuma alasan. Alasan supaya bisa duduk agak lama dan ngobrol. Dan anehnya, obrolan kami seperti tidak ada habisnya.
Sekitar jam 12 siang, kami berhenti untuk istirahat, salat, dan makan. Ini bedanya jalan-jalan waktu umur 20-an sama umur sekarang.
Dulu: "Gas terus, jangan berhenti!"
Sekarang: "Duduk dulu yuk. Pinggang saya sudah kasih notifikasi nih."
Semangat kami masih sama seperti dulu. Cuma sekarang, kami jauh lebih menghargai kursi yang ada sandarannya.
Ayam Cipo dan Roti
Jam satu siang lewat sedikit, kami masuk babak kuliner berikutnya: Ayam Goreng Cipo.
Untung sistemnya makan tengah (sharing). Kalau pesan porsi sendiri-sendiri, saya khawatir pulangnya celana saya tidak ada yang muat lagi... qiqiqiqiii
Ayam goreng, sambal, lalapan, nasi hangat. Makan ramai-ramai begini rasanya selalu beda. Piring satu orang bisa mendadak jadi milik bersama.
Pulang!
Jam empat sore kami mulai meninggalkan Bogor. Kalau kemalaman, perjalanan pulang bisa berubah jadi ajang meditasi massal di Tol Jagorawi gara-gara macet.
Di perjalanan pulang, kami sempat mampir ke masjid di rest area. Salat, duduk sebentar, tarik napas. Rasanya lega sekali. Seharian sudah jalan, makan, ngopi, jajan, tertawa, sampai joget sama pengamen.
Padahal cuma one day trip. Tapi rasanya panjang sekali.
Yang Dibawa Pulang
Kalau dipikir-pikir, jalan-jalan kami ini sederhana sekali. Tidak pergi jauh. Tidak menginap. Tidak ada agenda wisata yang berat. Cuma berangkat pagi, pulang sore.
Tapi mungkin karena sederhana itu, jalannya jadi terasa ringan. Kami tidak sedang berburu tempat hits. Kami cuma ingin ketemu. Ngobrol. Makan. Tertawa.
Di dalam tas saya ada mochi, asinan, bakso goreng, cempedak, dan roti. Ada juga rekaman video saya lagi joget sama pengamen—yang saya yakin bakal jadi bahan ledekan di grup WhatsApp sampai berbulan-bulan ke depan.
Tapi yang paling berharga, kami berhasil menambah satu hari lagi di buku cerita persahabatan MUNGILS 88.
Waktu kuliah dulu, kami mana pernah membayangkan kalau puluhan tahun kemudian kami masih bisa jalan bareng seperti ini. Masih saling tunggu, saling traktir, saling ledek, dan tertawa untuk hal-hal yang sebenarnya tidak lucu-lucu amat.
Waktu mengubah banyak hal. Rambut berubah. Ukuran pinggang berubah. Stamina menurun. Prioritas hidup tidak lagi sama.
Tapi ada satu yang tidak pernah berubah: begitu MUNGILS kumpul, kami mendadak kembali jadi anak-anak kuliah yang dulu.
Bedanya, sekarang di dalam tas kami masing-masing selalu ada minyak kayu putih, obat pribadi, power bank, mukena, dan satu pertanyaan wajib sebelum melangkah:
"Di sana toiletnya bersih, kan?" 😂
Bogor hari itu bukan cuma soal soto mie, kopi, atau ayam goreng. Bogor adalah cara kami mencuri sedikit waktu dari kesibukan masing-masing, hanya untuk kembali menjadi diri kami yang dulu.
Ternyata, yang bikin perjalanan itu berkesan memang bukan seberapa jauh kita pergi.
Tapi dengan siapa kita berjalan.
(Dan kalau jalannya sama MUNGILS, pastikan isi dompet cukup. Karena itinerary mereka bisa berubah kapan saja setiap kali lihat tukang jajan).





.jpeg)


Komentar
Posting Komentar
TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA BLOG NENG TANTI (^_^)