Cinta Beraroma Saga
Dan ingatan itulah yang kali ini menyerbu, sesaat tatkala indra pencecapku bercumbu dengan seduhan teh berempah. Aroma kayu manis berdansa dengan tuan cengkih, dan main mata dengan nona kapulaga yang eksotis.
"Sage!" bisikku.
Nahas, bisikan yang kusangka bersemayam rapi di batas batin itu justru lolos melintasi bibir. Cukup keras untuk membuat beberapa pengunjung kafe melirik. Sepasang mata dari meja sebelah menatapku dengan binar sotoy yang menghakimi. Mungkin menduga aku seorang perempuan tragis yang baru saja ditinggal pergi pasangannya.
Aku melanjutkan keras-keras seolah sedang menggambar aneka rempah. "Sage, oregano, thyme, rosemary, lavender dan basil. Hmm.. apalagi ya?" Thank God, ada sketchbook hitam yang selalu kubawa-bawa!
Pasangan mata sok pengen tahu - sok menilai dan sotoy melengos. Kembali menekuri meja masing-masing.
Banjir kenangan mencuat bersama nama itu begitu saja, berbarengan dengan degup di dadaku yang mengencang. Huh. Padahal, aku tak pernah memesan kurir mana pun untuk mengantar paket masa lalu ke alamat imajinasiku sore ini!
Untuk sesaat, kunikmati saja imaji wajah tirus dengan hidung mencuat yang dulu kukenal. Meski jujur saja, kenangan terakhir tentang Sage tak pernah seindah bab-bab awal saat kami memulainya. Sage selalu meyakinkan aku untuk meninggalkan kebiasaan menyeruput kopi.
“Ah, biar.. kan banyak juga yang berpendapat, kopi akan menjadi lebih manis bila ditambahkan gula, layaknya hidup yang harus juga ditambahi pemanisnya agar tidak pahit melulu!”
Tapi setelah itu, aku berusaha menyukai teh. Demi Sage. Walau diam-diam aku tetap mencintai aroma dan pekatnya kopi.
Eh, bentar.. ada cowok lewat. Ih, ganteng juga. Wiii, tangannya kekar loh! Perutnya six pack, pula! Fokus, Ven. Fokus...
Kutahan napas (dan sudut mata) kuat-kuat, embuskan pelan pelan, lalu geming menyeruput tehku.
"Hai!"
Suara berat itu memotong udara, tepat saat seteguk teh kutelan, dan nyaris tersembur keluar kembali! Pria berpostur six pack tadi tahu-tahu sudah berdiri tepat di tepi mejaku.
"Eh... hai." Aku membetulkan posisi duduk, menahan napas dalam-dalam sebelum mengembuskannya perlahan.
Halah. Shit.
Lagu refrain Grant Gustin menggema di cafe, terdengar mengejek. Sopan sih, suaranya, tapi saingan dengan suara di kepalaku!
"Boleh duduk di sini, atau sedang menunggu seseorang?" tanya cowo gan.. cowok tadi. Lirikannya jatuh pada dua cangkir yang tergeletak di atas meja. Satu cangkir matcha tea dan satu cangkir teh rempah milikku yang masih mengepulkan uap halus.
Senyum dikit. Dikit aja biar sedikit ja-im.
Tepat saat ia menarik kursi di hadapanku, ponsel di atas meja berdering. "Ven, kamu dah di TKP?" suara Fita menyembur tanpa jeda.
"Sori banget Ven, aku belum bisa jalan sekarang. Mesti nemenin Fiki sebentar, si mbak masih nyuci baju. Hadeeh, itu anak apa bola bekel sih, woooii.. FIKI! Jangan lompat lompat di sofa, Nak! Adooooh! Bye Ven! Nanti aku susul!"
Pria di hadapanku tersenyum. Senyumnya menggariskan lekuk yang sangat familiar.
"Kamu... Venita, kan? Venita Paramitha dari SMA Maranatha?"
Bongkahan ingatan di kepalaku berputar cepat, membongkar kembali lemari data lama yang hampir berdebu. Garis wajahnya, sorot matanya yang tenang, hingga lesung pipit yang mendalam ketika ia tersenyum."Ouch... Ario?"
Ia tersenyum lebih lebar. "Haaa! Akhirnya ingat juga!" Tanpa ragu, ia mengulurkan tangan dan menjabat jemariku erat.
"Ssssh..." aku meringis pelan saat genggamannya terlalu bertenaga.
"Eh, maaf, maaf... kekencengan ya?" Ario buru-buru melepas tangannya dengan raut bersalah.
Ario Bimo adalah salah satu sahabat geng-nya Sage Abyasa. Mereka berlima sepaket, dan tuan Sage adalah sang Pangeran disertai patih-patihnya. Atau wizard dan familier-nya.. wkwkkwk...
Saat lulus SMA, kami bertiga kebetulan masuk ke universitas yang sama. Aku mendekam di Fakultas Seni Rupa, sementara Ario dan Sage bergelut di Teknik Mesin.
Alam semesta memang sedang merencanakan sesuatu. Mungkin membuka sedikit memori. Tapi, untuk apa?
Di luar jendela, hujan memilih waktunya dengan presisi yang pas. Tak mendadak lebat, tetapi cukup telaten untuk membasahi kaca dan mengurung aroma tanah basah di udara.
"Masih suka melukis secangkir kopi?" Ario bertanya. Suaranya serak. Type suara yang bakal bikin anak-anak perempuan tergila-gila.
"Ehehe .. masih, lah," acuh aku kembali menekuri buku gambar. Iseng, aku lanjutkan, “Daripada menggambar cinta yang tak kunjung tiba?”
Aku merasa mata Ario menatapku tajam. “Kamu masih sakit hati, ya Ven?”
Aku diam saja. Mencoret-coret doodle. Bunga. Bintang. Bunga. Bintang. Kepala babi.
“Ven, waktu tak bisa diputar kembali, dan aku sudah berkali-kali meminta maaf sama kamu, loh..” suaranya memelan, sarat dengan beban yang tertahan bertahun-tahun.
Aku menukas. “Ah, sudah Yo. Aku sudah lupa kok, ngobrol yang lain ajalah! Kamu kerja di mana sekarang? Udah punya anak berapa Yo?” aku berusaha ceria.
Kalimat itu meluncur begitu saja sebelum otakku sempat menyaringnya. Bodoh Venita, bodoh! Pertanyaan macam apa itu!
Kalau di film animasi, pasti aku digambarkan sedang memukul kepalaku sendiri pakai martil super besar.
Ario hanya tersenyum maklum tanpa ada gurat tersinggung di wajahnya. “Aku kerja di perusahaan alat-alat berat, Ven. Sama Sage juga. Cuma minggu ini dia lagi dinas ke luar kota.”
Ario menyambung, lirih. “Dan.. ya tentu saja, kami belum punya anak,” Saat itu ponselnya yang ditaruh di meja berbunyi. Aku sempat melihat nama si penelpon. Sage.
Melihat nama itu berkedip, refleks jemariku langsung membereskan sketchbook dan spidol, memasukkannya secepat mungkin ke dalam tote bag kainku.
“Eh Yo, sorry ya, aku terpaksa duluan, aku harus ngejar les privat lagi, nih.. senang bertemu denganmu. Tuh angkat aja telponnya, salam ya untuk Sage!” Aku meneguk matcha tea di cangkir satunya. Sayang, kaaan!
Dengan satu tarikan napas, aku mengakhiri pertemuan dan berdiri. Ario tampak hendak mencegah, tapi ponselnya berdering terus menerus.
Aku berjalan cepat menuju meja kasir,
Fiuh.. nyaris saja. Walau benar kata Ario, itu semua sudah berlalu, tapi ternyata aku tetap aja masih baper.
First love never die?
Jalinan cintaku dan Sage seperti film roman klasik. Manis dan menyenangkan, terlalu penuh kompromi. Malah kalau kupikir sekarang, terlalu manis. Kami tak pernah bertengkar hebat. Malah seperti sahabat. Eh, sahabat?
Benar juga ya.. kami tak sadar bahwa hubungan itu tak lebih dari ikatan platonis dua sahabat yang saling mengasihi. Sage menyayangiku, tetapi hatinya tak pernah benar-benar tertambat padaku.
Buktinya, saat ini ia telah memilih. Ya, setelah menjalin kisah kasih selama 8 tahun, Sage berkata jujur dan memutuskanku. Ia memilih Ario untuk menjadi belahan jiwanya. Kudengar, mereka bahkan telah meresmikannya di Belanda.
Ponsel di genggamanku bergetar kembali. Sebuah pesan singkat masuk dari Fita: 'Fiki udah tenang. Aku jalan ke sana sekarang ya, Sayang. Maaf ya udah bikin kamu nunggu.'
Aku tersenyum tipis, jemariku bergerak cepat mengetik balasan: 'Santai aja. Aku tunggu di teras luar. Hati-hati di jalan ya.'
Aku bersyukur. Jika Sage tak memutuskanku, mungkin aku tak akan pernah mendapatkan belahan jiwaku saat ini.Ya, aku sendiri juga sudah menemukan cinta sejatiku, Fita Andriani, seorang janda korban kekerasan dalam rumah tangga, yang sudah memiliki seorang putra mungil yang lucu. Mereka sekarang melengkapi ruang kosong hatiku.
Terimakasih Sage…. dan terima kasih untuk secangkir teh berempah sore ini.


aawww gemeys alurnya. terus sempet baca berulang2 masalah gendernya. PLOT TWIST lah
BalasHapusWkkwkwk tau gak sih, ini bikinnya ngebut gara gara cerita pertama ga diterima karena.... kepanjangan!
HapusThank you Cindy
Pertama langsung salfok sama gambarnya yang keren di awal. Lalu perlu baca beberapa kali, baru mulai tahu siapa tokoh aku. Mantap kakak.
BalasHapusYa ampuuuuun maafkan... Iya aku pas nulis sempat tanya Alaika as a first reader, kira kira pas baca orang-orang bisa salah paham ga ya..
HapusAku langsung fokus ke gambar header di awal. Itu gambarnya Mba Tanti ya? Duh baguus dehhh
BalasHapusHahaha yes I make it Oliiiin
HapusMbak Tanti mah, bikin cerita ngebut aja jadinya bagus gini. Saya tiap bikin cerita, entah kenapa susah bener bikin endingnya kelar gitu. Bingung menyelesaikannya.
BalasHapushaaah mana sini sini kita duduk manis selesaikan yuuk, intinya mah plot twist di akhir itu menyenangkan
Hapuswkwkwk..cerita cerita saya yang gak pernah selesai itu entah sudah ada di mana. Kalau dibaca lagi, mungkin pengen ketawa tuh saya. Wkwkwk. Ingat juga zaman sekolah dulu, kalau ada tugas bikin cerpen, saya pun gitu~ Gak bisa kelar ceritanya.
HapusIni gilaaakk Mba :)))
BalasHapusYa ampyuuunnn, imajinasi, pilihan diksi, plot twist-nyaaa... semua PERFECTO!!
Gilak gilaaakkk
haaaah kok kamu ngatain aku gilaaaaakkkk
Hapus((perfecto nya bikin senyum meringis)))
Aku baca ulang dan masih ngowoh (ternganga) dgn ide dan plot twist-nya
HapusSuper duper mantuuulll!
Cinta terdesak jaman. Masa dimana sebuah hubungan normal terhempas oleh keadaan yang tak pernah dan tak ingin kita duga. Tapi demi sebuah kewarasan dan kepatuhan kita pada agama, memilih untuk tetap berada di jalanNya akan selalu menjadi pilihan terbaik.
BalasHapusNaaaah itu yang kadang ga bisa diterima oleh agama ya mbak, tapi aku emang pas bikin ini rada gemes sama tokohnya, pengen jitakin
Hapusbiseks ya akunya?
BalasHapusApapun lah. saya selalu betah di blognya mbak Tanti
Gambarnya bagus-bagus
Hiks kapan saya punya, satu aja :D
waaaksssss mau ambu? sini tak buatin satu
HapusHaaaa? Jadi yang Ario dan Sage, cowok sama cowok, dan Aku sama Fita cewek sama cewek? :))))
BalasHapusMbak Tanti pinter banget bikin cerita, pilihan katanya selalu menarik. Dan aku membaca dengan hati2 nggak mau kelewat satu kata pun. Perlu jam terbang tinggi buat bisa bikin cerita seperti ini.
wkwkwkkk iya, kasian yaaa
Hapussekali sekali lah kita buatin yang orang lain pengen jitak penulisnya (which is me!)
Endingnya nyebelin banget sih. Kenapa keduanya jeruk makan jeruk, coba. Aduh.... patah hati bisa bikin dunia berubah ya
BalasHapushuaaaaa maaafffff
Hapusabisnya kan kalau patah hati udah biasa mbaaak, cari cowo lain beres, boring akutu
Cerita yang imajinatif, ga nyangka 3uy endingnya. Btw awalnya ku salfok sama gambar ilustrasinya, kerennnn. Itu bikinnya pake canva atau apa mba Tanti?
BalasHapushaahhaa tapi masih logik tidak Nanie?
Hapusiya itu pake canva, aku cinta nganva deh sekarang!
eh sorry tapi diedit lagi di paint
HapusAgak pedih sama ceritanya, sudah menduga kalau Ario dan Suge ternyata..ya seperti itu
BalasHapusTapi endingnya agak bikin tercengang juga
Cukup out of the box, alur kisah yang tidak biasa
I knooowwwww.. tapi kan dia berakhir bahagia versi dia hiks ...hiksss
Hapuskita kan ga boleh menyuruh dia juga untuk tidak memilih kaaan
Endingnya zonk... Tapi tetep suka, alurnya lembut, pilihan kata-katanya aku terlena. Huhuhu hayuk lanjutkan mbak tanti,jadiin novel. Naggung nih hehehehe
BalasHapuszonk yaaa penonton kecewa gitu? yah maaafffff
Hapustapi plot twist ini masih logik kaaaan
Eh eh plot twist. Tapi Ven ini gak kaya gitu karena kecewa atau trauma sama laki-laki kan? Jadi penasaran
BalasHapusBukan ternyata dia memang cinta platonis jugaaaa!
HapusItu sebabnya dia sayang Sage walau tidak menduga Sage yang akan jalan dengan sahabatnya sendiri
Aku baca ini beberapa kali karena suka sama alurnya. Tapi selalu menemukan keseruan di tengah2 cerita, heheh
BalasHapusHihihi Cindiiii
HapusSenangnya dikau baca dua kali! Komen dua kali pula!
selalu seru baca tulisan kamu mba, dan ada pelajaran di dalamnya juga, alurnya juga menyenangkan
BalasHapusAhwawahwaahwa (ketawa gaya baru)
HapusKabur ah sebelum dijual Aie
Dijitak kenapa jadi dijual yak
HapusAwalnya gak ketebak nih kisah cinta antara siapa. Sampai saya baca beberapa kali. Ternyata jeruk makan jeruk, ya hehee
BalasHapusAaaah betul sekali saudari Myra Anastasia. Cinta emang aneh ya.
HapusKek ga ada belahan jiwa yang ga sejenis lainnya (((lantas aku di-bully para LGBT Q)))
Huaaa..kubaca bolak-balik baru nyambung..eduun..Sage cinta masa lalu yang mengecewakan ya...
BalasHapusOh wow plot twistnya bikin kaget hehehe. Ternyata cinta platonis bisa mengantarkan ke cinta sejati ya.
BalasHapusWhoa...ikut tercengang di bagian akhirnya. Ternyata sama aja dengan Ario dan Sage, kirain tokoh utama berbeda dengan dua cowok itu, eh ternyata sama.
BalasHapusJalur ceritanya menarik, Mbak. Lanjut bikin novel aja ...hehehe
Wah aku selalu terkejut klo baca cerita mbak tanti..
BalasHapusMengalir lancar dan selalu memberi kejutan di akhir...
Ah kapan bisa nulis fiksi sekece itu aa
Ada nama Grant Gustin disebut aku lagsung eringat Glee, hehehe malah OOT. Aku baca ulang aku ini cewe atau cowo tadi :-D
BalasHapusBisaan ih mbak Tanti bi=uat cerita
eading this story makes you more curious, when can you read the full review
BalasHapusand most importantly the book illustrator is definitely cool, hehehe
endingnya ga terduga, kereen mbak Tanti. suka banget dengan cerita-ceritanya
BalasHapusYa ampun aku sampai ngulang bacanya baru ngeh kwkwkw
Bikin lagi ya Mbak
Kirain awalnya si aku ini cewek, ternyata cowok. Penasaran loh dengan ceritanya. Apakah akan ada lanjutannya?
BalasHapusTokoh utama cewe mbak
HapusNamanya aja Venita loh yaaa
Aah...ternyata....
BalasHapusKak Tanti ini susah ditebak banget ceritanya.
Tapi stereotype cowok ganteng di kota besar itu rata-rata gak normal, aku jadi uugggh!
Mantap.
Memainkan takdir di atas keyboard laptop.
Kereen kak Tanti. Aku suka.
Alhamdulillah.. sesekali buat yang out of the ... Boleh kan yaaa
HapusYoi kalau liat cowo ganteng sekarang aku tanya tanya is he straight?
Cinta akan menemukan pada sosok yang tepat ya, rasanya ikut senang baca endingnya. Jangan sampai memaksakan diri bertemu orang yang tidka tepat.
BalasHapusHmmmm .... baiklaaaah
HapusTapi keduanya tidak tepat sih, aku kudu piye iki
Sudah kudugong endingnya bakalan bikin lebih terkejut hahahaha! Sama-sama menemukan belahan jiwa dengan caranya masing-masing ya.
BalasHapusAku dukung bikin cerita lanjutannya nih. Btw punya Wattpad atau Storial nggak sih, Mbak?
Oiya ya punya kok ... Iya nanti ditaro sana deh. Thankyouuuuu
HapusEndingnya bikin mengernyitkan dahi haha. Duuh udah lama nggak mengeksplor kemampuanku untuk menulis cerpen begini. Masih mampu nggak ya berimajinasi membuat plot dan alur yang ciamik?
BalasHapusReaaally?
HapusBerarti aku lolos ujian hihihi
Wah mak tanti suka nulis cerpen juga yaaa.. kece nih mak cerpennyaaa, endingnya nggak terduga.. heheee. Ditunggu cerpen selanjutnya ya maaak
BalasHapusAsiiik makasiiiih Dian
HapusMba, ini kok jadi mbulet to ceritanya. Masing-masing kok malah dapet jodohnya sesama jenis? Piye to mbakyu, apa aku yang enggak mudeng siiyy...
BalasHapusEeeeh eeeeh eeeeeh penonton dilarang protes yo
HapusKaget aku mbak..kirain yang jadi tokoh utama tu cewek, ternyata...wkwkwk. bagus mbak, tak terduga...
BalasHapusEh, memang cewek ya? Tapi kok pasangannya cewek juga? Duh ..bingung. wkwk...
HapusAwalnya aku ga ngerti ini cerita tentang kisah asap sih? Beneran aku ga paham.
BalasHapusLalu aku baca lagi, Benrr deh kayaknya ini cerita tentang kaum yang melengos dari fitrahnya. Dan bener, aku baca komennya gitu ternyata.
Dikau berani nulis cerita ini mak.
BTW aku suka deh sama gambar ilustrasi yang di awal itu, sukaa pake banget
Aku salfok liat ilustrasinya, keren deh mba, kepo dong bikin dimana ilustrasinya ��
BalasHapusBtw alur ceritanya singkat tapi gemes deg suka sama plotnya