Featured Post

GIMANA RASANYA JADI ILUSTRATOR?

Ah. Mantab. Kalau kalian tanya dari dulu, cita-citaku apa, jawabannya sebenernya kurang lebih saja. Tapi dulu aku bercita-cita ingin jadi de...

TAWAKAL, RAHASIA TERBESAR KESUKSESAN MUSLIM

Photo by Ellena Susanti on
fivehundredpx

Pagi ini, aku bengong cantik.
Serius, bengong cantik, walopun ga ada bengong yang cantik, atau kecantikan dinilai tidak dari kebengongan..

Kebayang ngga, ramadan dan lebaran yang hanya sebulan ini, subhanallaaah.. membutuhkan dana tak sedikit!

Biaya yang kita habiskan selama ramadan dan lebaran, berbanding lurus dengan biaya pengeluaran kita selama 3 bulan bahkan lebih.

Itu untuuung ga ada eh belum ada mudik ya...
Kalau plus mudik, bisa jadi, membutuhkan tabungan selama setahun!

Apalagi sekarang di beberapa tempat masih pandemi, bisa jadi PCR dan swab
butuh beberapa kali, bukan?

Tapi segi positifnya,
tak lagi ada aneka halal bi halal yang kita datangi, tak ada persiapan beberapa baju lebaran yang harus dibeli,  tak ada aneka buka puasa bersama yang sekalian reunian.


(Paling siap-siap naro rekening e-wallet buat angpao ponakan hahahaha...)


Kalo dulu, sebagai ibu rumah tangga dengan empat mutiara (yang tersisa 3 permata hati), terbayang di depan mata;

  • bayar uang daftar ulang sekolah,
  • beli buku-buku tulis dan aneka alat keperluan sekolah sampai kuliah,
  • ada seragam yang sudah kekecilan, butuh dibeli
  • sepatu sobek ga bisa dijahit atau dilem, butuh beli baru
  • tas yang juga udah usang,
  • SPP bulan pertama untuk 2 anak yang swasta
  • Semesteran pertama buat si kakak
  • laptop atau gadget yang harus di-upgrade
  • blah... blah.. blah..

Tapi..
semua itu terbayar lunas dengan rasa!

Rasa bahagia bisa menuntaskan ibadah bersama sebagai bagian dari rukun Islam, Rasa bahagia ketemu lagi sama nastar dan kue brownies panggang yang sebagian dibeli online karena sekalian ngelarisin jualan temen...

Aku sih bahagia bisa bertemu saudara kandung, yang di hari biasa 
dicolek pake WA grup aja ga nyaut, terus bisa makan kupat bareng, ngumpul ketawa ketiwi ma Ibuku...
 

Rasa bahagia itu bisa bikin selama sebulan menyungging senyuman.

Ramadhan berarti ibadah tanpa henti.

Ramadhan berarti bisa ngerasain itikaf di mesjid sampe subuh, dan bahagia punya alasan tidur sampe siang, karena buat yang puasa, tidur pun ibadah *ditoyor jamaah*

Ramadhan juga kesempatan makan kudapan manis di sore hari dengan alasan berbukalah dengan yang manis, padahal itu tagline iklan bukan tagline Sunnah hahahhha...

Dan, segala macam hal indah yang ga pernah kamu dapetin di bulan lain!
*eh, maaf... berlaku buat yang muslim loh yaaa..

Laluuu... itu maksud judul di atas apaan Neng?

Eh iya, hampir lupa.
Ngomong masalah keuangan abis lebaran, en musti kembali lagi ngadepin
aneka hal "indah" dalam hidup. Then, what?

Mo ngutang lagi ama bos buat bayaran sekolah? Huh! Gengsiiii...
Mo ngutang kartu kredit? Amit amiiit!

So? Menghadapi hari-hari indah ke depan, aku yang tadi pagi
bengong cantik itu, nemu gambar indah ini :

The picture belong to Apisit Wilaijit - flickr.com


Menurut sejumlah riwayat, pernah suatu hari Nabi Sulaiman AS bertanya kepada seekor semut, “Wahai semut! Berapa banyak engkau perolehi rezeki dari Allah dalam waktu satu tahun?”

“Sebesar biji gandum,” jawab semut.

Kemudian, Nabi Sulaiman memberi semut sebiji gandum lalu memeliharanya
dalam sebuah botol. Setelah genap satu tahun, Sulaiman membuka botol
untuk melihat nasib si semut. Namun, didapatinya si semut hanya memakan
sebahagian biji gandum itu.

“Mengapa engkau hanya memakan sebahagian dan tidak menghabiskannya?”
tanya Nabi Sulaiman.

“Dahulu aku bertawakal dan pasrah diri kepada Allah,” jawab si semut.


“Dengan tawakal kepada-Nya aku yakin bahwa Dia tidak akan melupakanku.
Ketika aku berpasrah kepadamu, aku tidak yakin apakah engkau akan ingat
kepadaku pada tahun berikutnya sehingga dapat memperoleh sebiji gandum
lagi atau engkau akan lupa kepadaku. Karena itu, aku harus tinggalkan
sebagian sebagai bekal tahun berikutnya.”

Coba cari tahu kata "tawakal" di wikipedia, nemunya ini:
Tawakal berarti memasrahkan, mempercayakan segala urusan
kepada Allah.
Tawakal, menurut Yusuf Qardhawi, menyerahkan diri sepenuhnya
kepada Allah.

Orang yang tawakal akan merasakan ketenangan dan ketentraman.
Ia senantiasa merasa mantap dan optimis dalam bertindak.

Di samping itu juga akan mendapatkan kekuatan spiritual, serta keperkasaan luar biasa, yang dapat mengalahkan segala kekuatan yang material.

Beda ulama, tentu beda penafsiran. Perumpamaan tentang orang yang tawakal digambarkan oleh Buya Hamka adalah :

Orang tidak disebut tawakal jika orang itu tidur dibawah pohon yang lebat buahnya, dan berduri tajam seperti durian. Karena kalau buah itu jatuh kena angin, menimpa kepalanya, itu adalah kesia-siaan..

Contoh lain, kalau kamu ingin menempuh jalan pintas yang jelas banyak copetnya atau banyak premannya, ya kalo bisa sih menghindar, karena itu penafsiran dari kata sabar!

Apa yaa kata Rasulullah?إِلَّا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَى وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya:

 "Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita."

Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah. 

Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (At-Taubah: 40)

Ayat ini menjelaskan agar jangan takut berbagai macam serangan serangan hadapilah dengan tawakal kepada Allah.

Hamka menggambarkan ayat di atas: Ingatlah seketika Rasulullah SAW meninggalkan negeri Makkah hendak ke Madinah. Bersembunyi di dalam gua di atas bukit Jabal Tsur seketika dikejar oleh kafir Quraisy, berdua dengan sahabatnya Abu Bakar.

Setelah bersembunyi dan tidak akan kelihatan musuh lagi, barulah ia berkata kepada sahabatnya itu: "Jangan takut, Allah bersama kita." Yaitu beserta mereka bersembunyi.

Coba kalau Rasulullah SAW tidak berrsembunyi, padahal musuhnya sebanyak itu, tentu menurut sunnatullah dia akan tertangkap atau binasa lantaran kesia-siaannya!

Pengalaman Rasulullah SAW tersebut, merupakan contoh untuk berbuat secara maksimal akan tetapi ketika mendapat ujian dan cobaan, umat Islam harus berserah diri hanya kepada Allah semata.

Tawakal boleh, asal...


Dalam kasusku,
aku boleh-boleh aja menyatakan diri untuk tawakal. Tapi, minimal sebelum ngomong gitu ya berusaha dulu, doong!

Aku upayakan sudah mencicil sedikit sedikit uang sekolah sebelumnya, sudah mencicil beli buku-buku baru sebelum harganya pada naik, sudah beli sepatu sekolah alih-alih sepatu buat jalan-jalan, de el el.

Tawakal (bahasa Arab: توكُل‎) dirumuskan oleh Imam al-Ghazali sebagai berikut,
"Tawakkal ialah menyandarkan kepada Allah swt tatkala menghadapi suatu kepentingan, bersandar kepadaNya dalam waktu kesukaran, teguh hati tatkala ditimpa bencana disertai jiwa yang tenang dan hati yang tenteram"

Tawakkal adalah suatu sikap mental seorang yang merupakan hasil dari keyakinannya yang bulat kepada Allah, karena di dalam tauhid ia diajari agar meyakini bahwa hanya Allah yang menciptakan segala-galanya, pengetahuanNya Maha Luas, Dia yang menguasai dan mengatur alam semesta ini.

Keyakinan inilah yang mendorongnya untuk menyerahkan segala persoalannya kepada Allah. Hatinya tenang dan tenteram serta tidak ada rasa curiga, karena Allah Maha Tahu dan Maha Bijaksana.

Salah paham tentang makna tawakal?

Sementara orang, ada yang salah paham dalam melakukan tawakkal.

Dia enggan berusaha dan bekerja, tetapi hanya menunggu. 

Orang semacam ini mempunyai pemikiran, tidak perlu belajar, jika Allah menghendaki pandai tentu menjadi orang pandai. Atau tidak perlu bekerja, jika Allah menghendaki menjadi orang kaya tentulah kaya, dan seterusnya.

Semua itu sama saja dengan seorang yang sedang lapar perutnya, sekalipun ada berbagai makanan, tetapi ia berpikir bahwa jika Allah menghendaki ia kenyang, tentulah kenyang. 

Jika pendapat ini dipegang teguh pasti akan menyengsarakan diri sendiri.

Menurut ajaran Islam, tawakkal itu adalah tumpuan terakhir dalam suatu usaha atau perjuangan. 

Jadi arti tawakkal yang sebenarnya -- menurut ajaran Islam -- ialah menyerah diri kepada Allah swt setelah berusaha keras dalam berikhtiar dan bekerja sesuai dengan kemampuan dalam mengikuti sunnah Allah yang Dia tetapkan.

Misalnya, seseorang yang meletakkan sepeda di muka rumah, setelah dikunci rapat, barulah ia bertawakkal. 

Pada zaman Rasulullah saw ada seorang sahabat yang meninggalkan untanya tanpa diikat lebih dahulu. 

Ketika ditanya, mengapa tidak diikat, ia menjawab, "Saya telah benar-benar bertawakkal kepada Allah".


Nabi saw yang tidak membenarkan jawaban tersebut berkata, "Ikatlah dan setelah itu bolehlah engkau bertawakkal."

Berikut ini juga anjuran agar kita jangan membuat orang lain memiliki citra negatif terhadap dirinya yang dapat merendakan diri dan penafsiran tentang orang yang tawakal.


مَا النَّجْوَى مِنَ الشَّيْطَانِ لِيَحْزُنَ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَلَيْسَ بِضَارِّهِمْ شَيْئًا إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ


وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِن

Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu adalah dari syaitan, supaya orang-orang yang beriman itu berduka cita, sedang pembicaraan itu tiadalah memberi mudharat sedikitpun kepada mereka, kecuali dengan izin Allah dan kepada Allah-lah hendaknya orang-orang yang beriman bertawakkal.(al-Mujadilah: 10)

Berserah diri hendaknya hanya kepada Allah dalam ayat ini ditegaskan tentang larangan berbisik-bisik di hadapan orang lain karena akan menimbulkan kesedihan bagi orang mukmin yang lain.

Dengan mengutip hadits rasul yang diriwayatkan oleh Shahiha ini melalui Ibnu Umar bahwasanya Rasulullah saw berkata: apabila terdapat tiga orang yang berkumpul bersama janganlah keduanya berbisik-bisik tanpa sepengetahuan satu orang lainnya dan orang-orang yang beriman adalah orang yang bertawakal kepada Allah, dan meminta semua urusannya melalui pertolongan Allah, mohon perlindungan dari syetan dan kejahatan.


وَكَأَيِّنْ مِنْ نَبِيٍّ قَاتَلَ مَعَهُ رِبِّيُّونَ كَثِيرٌ فَمَا وَهَنُوا لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا ضَعُفُوا وَمَا اسْتَكَانُوا
وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ

Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh).

Allah menyukai orang-orang yang sabar. (Ali Imron: 146)

Allah membesarkan hati para mukminin dengan menghibur mereka akibat kekalahan mereka dalam perang Uhud; bahwa betapa banyaknya Nabi yang berperang dan bersama mereka, sahabat-sahabat mereka yang banyak bertakwa.

Dan mereka tidak merasa lemah karena apa yang mereka alami dan derita di jalan Allah dan tidak juga mereka merasa lesu atau menyerah.

Inilah yang dimaksud tawakal yaitu adanya kemauan yang kuat dan usaha yang maksimal baru diiringi dengan tawakal faiza azamta fatawakkal 'alallah.

Kaitan tawakal dengan percaya diri adalah pada tindakan yang ia lakukan dengan usaha yang maksimal cara yang dihormatinya sendiri. Karena sadar bahwa ia tidak dapat selalu menang, ia menerima keterbatasannya.

Akan tetapi selalu berusaha untuk mencapai sesuatu dengan usaha sebaik-baiknya, sehingga baik ia berhasil, gagal ataupun tidak berhasil dan tidak gagal, ia tetap memiliki harga dirinya.

Semoga aku ga bengong cantik lagi... sekian ^^




Sumber :

  • Wikipedia
  • Amatullah Amstrong, Khazanah Istilah Sufi, Kunci Memasuki Dunia Tasawuf (Bandung: Mizan,1996) hal. 188.
  • Hasyim Muhammad. Dialog Antara Tasawuf dan Psikologi, Telaah atas Pemikiran Psikologi Humanistik Abraham Maslow (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,2002) hal. 45-46.
  • Hamka, Tasawuf Modern (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983), hal. 185.
  • Tafsir Ibnu Katsir, Sakhr Software.[5] Hamka, Tasawuf Modern (Jakarta: Pustaka Panjimas,1983), hal. 186.
  • Tafsir al-Qurthubi, Sakhr Software
  • Tafsir Ibnu Katsir, Sakhr Software.
  • Karakteristik Pribadi PD Herbert Fensterheim PH.D. dan Jean Baer, Jangan Bilang :Ya" Bila Anda Akan Mengatakan "Tidak" (Jakarta : Gunung Jati, 1980) hal. 14-15.

25 comments

  1. Cici... banyak emang yang salah kaprah soal tawakal. Tawakal suka diartiin sama pasarah tapi ga ada usaha. jadi inget temen kerjaku dulu, dia suka ngomong gini
    Do the best and let God do the rest
    Makasih udah ngingetin. Aku pun kadang suka mikir besok bekalku cukup ga ya? Eh suka ada aja rejekinya tapi ya itu tadi kadang masih suka mikirin yang belum pasti. hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenernya tawakal dan pasrah ama ikhlas itu beda tipis ya Efi,
      tapi intinya ya ituuu.. berusaha sekuat tenaga dulu, Allah pasti lebih suka!

      Delete
  2. Indah banget tulisannya Mbak Neng. Iyaaa keperluan untuk Ramadan dan Lebaran berbanding lurus dengan biaya hidup 3 bulan sehari-hari. Habis gimana lagi, di bulan istimewa, kita ingin melakukan semuanya secara istimewa. Baik makanan saat buka dan sahur, maupun untuk keperluan lebaran. Walaupun ada pandemi tidak lantas mudik, tetap aja kelerluan Ramadan dan Lebaran anggarannya lebih tinggi dari hari biasa. Tapi yah kita bisa tawakal, setelah mengerjakan dan berusaha yang kita mampu, tawakalah ujung dari semua desakan finansial itu :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiiin terimakasih banyak uni,
      udah diminimalisir pengeluaran tetap aja hebat ya, karena anak anak pengen buka puasa menjadi momen istimewa mereka ..

      semoga abis ini semua teratasi ala sultan hihi

      Delete
  3. Saya ngebayangin kalau tahun ajaran nanti mulai sekolah tatap muka, berarti harus beli seragam dan sepatu. Udah setahun lebih gak ke sekolah. Seragam dan sepatu pada smepit. Jadi, mendingan Ramadan dan Idul Fitri pengeluaran diirit :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apalagi si Abang gede pasti kakinya yaaa.. Dio kakinya 47 coba! Emak pingsan karena ga bisa belanja di pasar terdekat

      Delete
  4. MashaAllah.. baca tulisan ini jadi self reminder banget yaa untuk kita selalu bertawakal.. kadang manusia banyak keinginan tapi lupa yang berhak menentukan rencana itu terselenggara dengan baik dan lancar adalah Tuhan YME

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah ya Mak El,
      Iya ini lebih nampar diri sendiri sih

      Delete
  5. Aku baca tulisan ini sambil manggut-manggut cantik.

    Masih banyak yang salah paham sama arti tawakal tanpa diimbangi ikhtiar. Padahal keduanya adalah kembar identik yang harus sejalan dan sehati untuk melakukannya bersama-sama

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yes itu dia.. menyerahkan nasib sama Allah tapi terus .... Ya udahlah ya

      Delete
  6. maasyaaallah mba, tulisanmu ini adem banget dibaca pas siang gini sambil ngabuburit, intinya usaha semaksimal mungkin diiringi doa, lalu tawakkal ya mba.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiiiin ya Aie ... Seneng banget bisa dibaca sambil ngabuburit.. berbinar binar mataaku

      Delete
  7. Langsung adem habis baca tulisan mak Tanti. Aku gemes kalau ada orang yang ngomong Tawakal tapi nggak ngapain2, pengen aku sentil rasanya haha

    ReplyDelete
  8. iya betul, tawakal itu setelah usaha yang maksimal banget dan kita udah gak tau harus bagaimana lagi, maka proses selanjutnya setelah usaha maksimal adalah tawakal pada Allah, agar kita gak kecewa atas hasil yang didapatkan setelah usaha mati-matian. makasih pengeingatnya mak cantik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, ini self rwminder sebenernya Tuti, malu ah dibaca yang pakarnya.. makasih yaa

      Delete
  9. Mak tulisan yang menyentuh dan reminder buat diriku nih.

    Iya ya kadang suka gemes loh sama yang bilang tawakal tapi diem bae. Padahal dulu diajarin guruku ga begitu.

    ReplyDelete
  10. Hehehe padahal tawakal artinya bukan berarti pasrah ya mak, tapi kudu usaha sampai batas maksimal dulu baru berserah.
    Ini relate banget sama kehidupan semua org kyknya, soalnya emang lg masa susah, banyak yg jungkir balik dan diuji imannya jg
    TFS tulisannya jd kek refleksi diri jg

    ReplyDelete
  11. Seringkali kalau uda kepentok masalah, cenderung berdiam diri sambil dzikir, kak Tanti.
    Kata Ustadz kami dulu saat pengajian, "Jadi menusia jangan terlalu banyak mikir, tapi dzikir, dzikir dan dzikir."

    In syaa Allah ada jalannya.
    Jadi tiap kepentok masalah, aku uda beneran gak bisa mikir. Dibawa diam sambil dzikir.

    Wallahu'alam bishowab.
    Semoga senantiasa dimudahkan untuk segala urusan.

    ReplyDelete
  12. Saya masih ingat banget Mbak dengan cerita semut dan Nani Sulaiman itu. Ternyata semut memang bertawakkal dan memang perencana yang ulung ya.

    ReplyDelete
  13. Pas banget bulan Ramadan tulisane mbaaaa
    Huhuhu kadang aku mikir aku itu dah tawakal belum ya sebenarnya huhuhu

    ReplyDelete
  14. Oma, aku membaca ini sambil duduk cantik yang aku yakin nggak jaminan juga kecantikan lahir dari hanya duduk saja, hahaha. Tapi sambil melihat landasan di terminal 3, kali ini aku coba membaca dengan seksama tulisan ini dan memaknai kembali arti tawakal. Lalu aku bertanya pada diri sendiri dengan pose cantik, "apakah selama ini aku sudah bertawakal, atau hanya bertawakal sebagai pelarian tak mau berusaha lebih giat lagi?"

    ReplyDelete
  15. sabar dan tawakkal mudah diucapkan, tapi kenyataannya agak sulit untuk diaplikasikan dalam kehidupan, apalagi jika kita lemah dalam hal pengendalian diri.. hanya iman kuat yg bisa jadi penolongnya..

    ReplyDelete
  16. Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari alam sekitar kita. Seperti dari seekor semut, kita bisa belajar tentang tawakal. Artikel yang penuh makna. Terima kasih sudah berbagi

    ReplyDelete

Thanks sudah mengunjungi blog Neng ya, sahabat (^_^)

Btw, jika ada link hidup dengan berat hati saya hapus \(*_*)/