KISAH NYATA BERTARUH NYAWA PARA TENTARA LANGIT


Teman, pernahkah merasa terbantu dengan kecepatan kalian menghubungi seseorang atau suatu instansi?

Di era digital saat ini, slogan "no internet no life" rasanya sudah tak asing di telinga.

Kalimat ini seakan menggambarkan kondisi di era digital, di mana sebagian orang tak bisa terlepas dari jaringan internet. Bahkan, ada yang aktivitasnya sangat bergantung pada jaringan internet.

Namun, tahukah kamu di balik jaringan internet di ponsel kamu, ada para pekerja di ketinggian yang terus berupaya mengontrol jaringan internet tersebut? Mereka adalah pahlawan di atas tower atau yang akrab disebut dengan 'Tentara Langit'.

Tower atau menara yang dimaksud adalah Tower Base Transceiver Station (BTS) adalah infrastruktur Telekomunikasi.

Dalam pekerjaan pembangunan dan pemeliharaan tower, dilakukan oleh profesi yang menyebut diri mereka ‘tentara langit’ atau tower climber.

Tentara langit, bekerja di ketinggian


Jujur saja, menurutku ketika tahu job description mereka, para pekerja di ketinggian itu merupakan orang-orang yang berjasa, bertugas dalam mengontrol infrastruktur telekomunikasi atau jaringan internet dari atas tower. 

Di setiap detik pekerjaannya, ada risiko besar yang harus mereka hadapi.
Tak jarang mereka bahkan harus menginap di bawah tower sebelum pekerjaan selesai. Dan tak kenal cuaca pula!

Salah satu tentara langit itu adalah adikku

Kenapa aku bercerita tentang para tentara langit ini? Ya, karena salah satu dari mereka adalah adikku! Terus terang saja, tak pernah terbayang bahwa satu ketika ia harus menandatangani kontrak pekerjaan dengan high risk seperti ini.

Panas terik, masuk rimba belantara,  atau berjalan kaki berkilo meter menggotong peralatan jika ternyata tower (menara pemancar) terletak di tengah sawah atau dekat tebing.

Jika hujan deras dan posisi berada di tengah hutan, apa boleh buat, mereka harus basah kuyup bersama, dengan tanpa tempat teduh, karena berteduh di bawah tower resikonya malah semakin besar...
"Kalau kita manjat itu biasanya sambil memikul perlengkapan, mulai dari antena, katrol, kabel dan lain sebagainya. 
Selain itu kita juga harus disiplin waktu, misalnya kita dikasih waktu 2 jam, kita harus bisa tepat sasaran. Kalau telat risikonya ya jaringan akan berhenti (gangguan). Kalau seharian kita nginap (istirahat) di shelter tower-nya," katanya.

Tak hanya itu, ada risiko lain yang juga dihadapi oleh pekerja di ketinggian ini, seperti gangguan dari binatang buas, faktor alam (cuaca), hingga gangguan dari makhluk halus juga pernah dialami.

"Kita pernah ketemu ular, penyengat (kumbang), burung elang, bahkan teman kita ada juga yang pernah lihat makhluk halus di atas tower. 
Karena kalau pemasangan, kita kan enggak lihat waktu. Bisa malam hari, tower di atas bukit, sampai di tengah kuburan juga ada. Kalau hujan petir kita selalu safety untuk cepat turun karena risikonya bisa fatal, faktor alamlah tidak bisa dihindari," jelasnya sambil tertawa kecil.


Pantang pulang sebelum sinyal berjalan lancar

Para tentara langit ini bekerja menantang maut di ketinggian hingga 110 - 120 meter dan bahkan bisa lebih. Demi orang banyak dapat menikmati sinyal yang baik.

Adikku menambahkan, dalam profesi ini sangat dibutuhkan kehati-hatian karena kesalahan sedikit saja, bisa berakibat fatal bagi pekerja.

Selesaikah pekerjaan saat sebuah menara usai ditera, dideteksi kerusakan atau gangguan sinyalnya?

Ternyata belum, teman-teman!


Adikku sebagai salah satu penyelia atau supervisor,
harus kembali ke dalam network building milik perusahaan dan memantau segalanya - terutama jika ada gangguan sinyal di satu area.

Tak jarang, ia terkunci di dalam selama berjam-jam hingga pagi menjelang....

Ya tentu saja dikunci, karena kerahasiaan dan berbagai peralatan telekomunikasi tersebut yang tak boleh sembarang dimasuki orang tak dikenal.

Aku pernah tak sengaja memantau status whatsapp, saat terbangun di tengah malam untuk sholat tahajud, dan ia baru saja mengunggah foto ini.

Foto di atas ini adalah salah satu foto yang ku capture tanpa sepengetahuannya, tentu saja.

Bisa dibayangkan, bagaimana besaaar nyalinya. Sebagai para ‘tentara langit’ saat berada diatas tower, bergelantungan tanpa rasa takut ditambah nyali besar menghadapi pekerjaan yang tak kenal waktu - terkunci sendirian, di satu ruangan besar - biasanya ada di bagian paling atas gedung!

High risk - low return

Sayangnya, hingga saat ini, gaji yang mereka terima ternyata tak sesuai dengan resiko pekerjaan. Walau disebut sebagai pejuang pembangunan era industri 4.0 namun mereka semua berstatus outsourcing, sehingga harus mengandalkan kontrak kerja dari tahun ke tahun.

Dan... alhamdulillah dengan segala prasangka baik dan terbaik kepada Allah azza wajjala, "kabar baik" lainnya datang tanpa diduga.

Tepat dua bulan jelang lebaran kemarin, perusahaan tempatnya bekerja mem -PHK hampir sebagian besar karyawan, tentu saja salah satu yang terkena dampaknya adalah adikku.

Tak cukup dengan kabar itu,
satu-satunya teman hidup  yang selama ini kami pikir akan bersama dalam suka dan duka, memintanya untuk keluar dari rumah tempat mereka tinggal. Dengan alasan sudah tak tahan dengan kondisi keuangan  yang pas-pasan tersebut.... 

Adikku tentu saja sempat bertanya, apakah keputusan tersebut sudah bulat? 
Ia tak memberatkan mantan, tapi malah memikirkan kedua orangtuanya. 

Karena selama ini, sejak 10 tahun lalu ia mengurus kedua orangtua mantan istri yang sudah berusia lanjut dan bahkan ayahnya sudah pikun, disamping kedua putri yang pintar dan sholehah. Mantan istrinya adalah karyawan di sebuah perusahaan multinasional dengan gaji yang setara dengan ekspatriat dan nyaris tak pernah ada di rumah.

Tapi pertanyaan itu dijawab dengan telak, bahwa ".... sudah menemukan tambatan hati baru!"

Malam itu juga, adikku mengepak baju-bajunya dan keluar dari rumah yang ia tempati selama ini, dan kembali ke rumah Ibu di Ciputat.

Aku tahu semua, karena malam itu juga ibu dengan tersendat menelepon, bercerita bahwa adikku pulang hanya dengan membawa tas berisi baju-baju dan peralatan kerja serta motor kesayangannya.

Aku dan ibu terdiam lama. 

Kami berdua tahu, pastinya sungguh berat meninggalkan kedua anak gadisnya yang baik dan pintar serta lucu-lucu. Tapi bab perjalanan hidup tak ada yang tahu, bukan?

Kami hanya bisa berbaiiiik sangka pada apapun yang terjadi. Tentunya semua yang terjadi sudah perkenan Allah untuk terjadi, kita semua harus mengambil hikmah dari setiap kejadian.

Well... itu sebabnya ketika sahabatku Astri Damayanti memintaku menulis tentang : "Jika satu saat aku bisa berangkat umroh, kira-kira siapa yang ingin kuajak serta?"

Sebagai sahabat, tentu saja Astri sedikit banyak tahu persis apa saja yang terjadi dan ketika ia memintaku menulis, aku berpikir lamaaa sekali! Tapi, jika ini adalah salah satu pembuka pintu rejeki, why not?

Dengan berat hati aku bercerita seperti ini, karena buatku ini adalah aib keluarga yang harusnya kusimpan rapt-rapat. Tapi tentu saja bukan tanpa alasan hal ini kutuliskan.

Ingin ke tanah suci, seandainya Allah memanggil dan bukakan pintu rejeki

Jadi, semua bermula ketika lebaran tahun lalu, kami bertemu di rumah Ibu. 

Saat itu, ia bercerita bahwa ada satu ketika di atas tower, ia merenung, bahwa betapa besarnya Allah SWT dengan segala keajaiban dan keindahan bumi ini.

Tak jarang, di atas memang ia sempatkan membuat video keindahan alam sekitar dengan menggunakan drone milik perusahaan, dan di saat itulah azan magrib terdengar. Seolah memanggilnya untuk menghadap Allah SWT dengan segera.

"Panggilan itu lembut sekali, bentuk kecintaan Allah kepada hamba hambaNya," katanya.

Ia bergumam, betapa maha besarnya Sang Pencipta, dan betapa kecilnya kita semua sebagai manusia. Lemah, tak berdaya.


Dengan suara tercekat, ia menyatakan kerinduan teramat sangat pada Sang Maha Pemilik Kehidupan. Ia menyambung kalimat itu dengan tatapan berseri-seri.
"Yaah... kita kan tidak punya uang, saat ini juga tidak punya apa-apa, bagaimana bisa sampai ke sana?"

"Ah, tapi Oting yakin. Mudah-mudahan satu saat Allah kabulkan, karena Oting juga bekerja dengan selamat selama ini, kan hanya atas perkenan Allah dan kalau  Allah berkehendak, IA bisa membukakan pintu langit kapan saja,"

sambungnya sambil tertawa, 
"Hidup ini kan semua hanya numpang mampir, Ma Neng. Semua hanya pinjaman, saat ingin diambil pemilikNYA, ya sudah.. kita tidak bisa berbuat apa-apa,"
Yah semoga saja peristiwa bertubi-tubi ini menjadi pembuka dari pintu rejeki lainnya untuk adikku. 

Apapun yang terjadi juga, kami percaya, bahwa Allah SWT hanya memanggil hambanya tiga kali saja dalam hidup. Pertama panggilan ibadah sholat lima waktu, kedua ibadah haji dan umroh yang istimewa, dan ketiga kematian.

Mind Muhammad dalam bukunya "Magnet Umrah" mengatakan, Allah memanggil hamba-hamba-Nya untuk haji dan umroh dengan panggilan yang lembut dan sifatnya bergiliran. Hamba yang satu mendapatkan kesempatan yang berbeda dengan hamba yang lain.

Jalannya bermacam-macam. Yang tidak punya uang menjadi punya uang, yang tidak merencanakan ternyata akan pergi, ada yang memang merencanakan dan terkabul.
Allah tidak MEMANGGIL orang-orang yang MAMPU tapi Allah MEMAMPUKAN orang-orang yang TERPANGGIL untuk berkunjung ke Baitullah (ka’bah).
Semoga Allah mudahkan adikku mendekat dan bisa menjadi salah satu tamu Allah di Mekkah dan tamu Rasullullah di Madinah Al mukarramah aaamiiiin..

Labbaiiik Allahumma labbaiiik....

Dan ini salah satu video hasil karyanya selama bertugas di akun youtube channel  Oting.


43 comments

  1. Terharuuuu....semoga adik menjadi salah satu yang beruntung diajak unroh ya Mak Tanti. Dan bisa berdoa sepuasnya di sana. ...ah..saya sendiri juga ingin menginjakkan kaki ke sana. Entah seperti apa jalannya nanti

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aaah mbak Nunung, terimakasih banyak mbak
      Aku usulkan dikau untuk berangkat juga yaaaa

      Delete
  2. semangat mba, untuk adikknya. Semoga diberikan kelapangan rejeki dan waktu yang diberikan untuk dapat memenuhi panggilan umroh ke tanah suci.. aamiin.. aku percaya setiap kebaikan dan kesabaran pasti berbalas

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aaamiiin terimakasih banyak mas Unggul, kalimatnya sungguh menguatkan

      Delete
  3. Aku baru tahu ada sebutan "tentara langit". Terdengar keren, tapi sesungguhnya berisiko juga, ya. Terima kasih sudah sharing-sharing, ya, Mbak. Kudoakan semoga dibukakan dan dimudahkan jalan-Nya. Amin. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, sebutannya keren ya tapi ... resiko pekerjaannya berbahaya!

      Delete
  4. Semoga doa Mbak Tanti dikabulkan, ya. Aamiin Allahumma aamiin. Tetap tabah dan kuat untuk adiknya. InsyaAllah akan ada ujung yang bahagia untuk yang bersabar.

    ReplyDelete
    Replies
    1. aamiiiin terimakasih banyak doanya mom Chi

      Delete
    2. Sama-sama, Mbak. Semoga adiknya juga lekas dapat kerjaan lagi ya, Mbak. Rezeki yang lebih baik. Aamiin Allahumma aamiin

      Delete
  5. Wah bagus judulnya. Seram ya naik ke ke tempat ketinggian dan rawan kesetrum atau jatuh. Lihat fotonya berasa berkunang-kunang, karena was-was adiknya jatuh. Semoga kak Tanti dimudahkan ke tanah suci bareng adiknya, aamiin. Salam sehat kak Tanti:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu dia .. kadang hanya doa yang menemani mereka di atas sana
      aamiiiin terimakasih banyak doa indahnya

      Delete
  6. Saya bacanya mewek, Mbaaa.. Ya Allah, tega banget istrinya ya. Bener, Mba Allah tindak memanggil orang yang mampu tapi Allah mampukan orang yang Ia panggil. Itu dah terbukti ke ade, Mba. Yakin kalau Mba Tanti dan Adik Mba Tanti diundang oleh Allah, pasti sampai kesana sekalipun dana atau kesempatan kesana menurut orang banyak suatu hal yang tak mungkin. Insya Allah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jujur aja ini nulisnya sambil mberebes mili Adeeee

      terimakash doa indahnyaaaa semoga Ade bisa berangkat bareng yaaaa

      Delete
  7. Insha Allah..Allah gantikan yang terbaik hanya bisa bantu do'a, kesehatan yang baik,rejeki yang baik, dan pasangan hidup setia hingga jannah..

    Semiga bisa berangkatbumroh bersama..sehat bahagia sekeluarga..aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin aamiin semoga ya mbak
      . terimakasih banyak turut mendoakan 😭❤️

      Delete
  8. Doa terbaik untuk adik tercinta..semoga diberi kesehatan, rezeki juga pasangan terbaik nanti Aamiin.
    Insya Allah bisa ke rumah Allah bersama Adik ya, Mbak Tanti

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak Dian
      Pastinya Allah SWT punya rencana yang jauh lebih indah ya mbak

      Delete
  9. Semoga terwujud ya kak keinginannya ..Semua yang terjadi sudah ketetapan Allah..dan pasti yang terbaik...tetep semangat pokoknyah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. insya Allaaah terimakasih mbak Diane, aku berusaha menguatkan tapi karena anaknya juga tertutup yaaaa... berdoa dari jauh aja

      Delete
  10. Mbak Tanti aku terharu banget baca perjuangan adeknya sebagai mantan tentara langit. semoga kelak adek bisa dapat perkerjaan lagi dan tetap bisa berkumpul sama anak2 kesayangannya yaa.. juga tentu saja semoga bisa umrah dan naik haji sama kakak juga ibu tercinta :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aaamiiiin terimakash banyak doanya yang indah, Cindy,
      kudoakan dikau sekeluarga sehat selalu ya say *love love

      Delete
  11. Ya Allah, mbak Tantiiiiiii....aku baca tulisan ini dengan dada bergemuruh. Salam hangat untuk adik mbak tersayang ya. Semoga cobaan ini tidak membuatnya patah semangat dan akan terus berikhtiar. Allah pasti melihat segala sesuatu yang telah dilakukan sebaik2nya dengan tulus ikhlas. Mudah2an bisa naik haji, umrah, dipanggil Allah dan dimampukan semuaaaaaanya aamiin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku nulisnya juga mbrebes mili terus, dan aku rahasiakan takut dia baca nih hihihihi dia tertutup anaknya, kalo gak dikorek korek ga bakalan ngomong

      Ammiiiin yaa Allah terimakash banyak doanya Nurul sayang, doa yang indah juga kulangitkan untuk dirimu sekeluarga aamiiiin

      Delete
  12. Semoga adiknya selalu sehat, banyaj rezeki dan mendapat pengganti yang lebih baik ya Mak. Semoga terijabah untuk berangkat ke tanah suci segera

    ReplyDelete
  13. Mahluk halus di atas tower ngapain? Mau jadi sinyal atau mau loncat indah dari ketinggian? Hahaha ya ampun aku ngakak pas bagian mahluk halus. Ada-ada aja nangkring di pucuk tower.

    Mbak, dari ceritamu ini, aku jadi makin hormat pada mereka yang disebut para tentara langit. Sebutan yang indah untuk mereka yang telah banyak berjasa demi melancarkan kebutuhan internet yang tiap hari kita gunakan. Pahlawan tanpa tanda jasa. Semoga setiap pinta dan doa baik, terkabulkan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku mikirnya iseng aja mahluk halus nya
      pasti pas di bawah sebenernya dia ngerasa iseng jahil gitu ya mbak Rien hehehehe

      aamiiin terimakasih doanya untuk mereka semua

      Delete
  14. Mereka adalah salah satu pahlawan kita. Semoga selalu dalam kondisi sehat dan dilindungi oleh Tuhan YME ya pak... Semangat untuk para tentara langit dan keluarga.

    ReplyDelete
  15. Lutut saya langsung lemes waktu nonton videonya, Mak Neng. Ngeri lihat pemandangan di ketinggian seperti itu.
    Kisah rumah tangganya kenapa mirip dengan kejadian sepupu baru-baru ini ...hiks. Sepupu juga diperlakukan seperti itu oleh istrinya.
    BTW, semoga Mak Neng dan adik bisa segera mendapat panggilan beribdah di tanah suci, ya. Aamiin

    ReplyDelete
  16. Tentara langit yang sering terlupa karena begitu tinggi. Aku suka melihat teknisi memperbaiki kabel tapi kalau BTS belum pernah, itu tinggi sekali ... buat pembelajaran anakku, ini lho superhero! Entah ya K3 mereka beneran cukup apa enggak? tapi gajinya ternyata ... hiks. Semoga terkabul yaa untuk beribadah ke tanah suci. Salut sama adikmu, neng!

    ReplyDelete
  17. Ikut mengaminkan doa-doanya

    Kalau dipikir, tugas mereka berat ya dengan segala risikonya. Kita harus banyak berterima kasih sama mereka

    ReplyDelete
  18. Makneng nangis aku bacanya, semoga impian adek untuk berangkat ke Tanah Suci terkabul, Makneng dan adek sekeluarga diberikan kebahagiaan dan kesehatan serta rezeki berlimpah aamiin..

    ReplyDelete
  19. sambil berkaca kaca aku baca ini mbak
    suka dengan optimisme dan semangat kerja keras adiknya
    semoga segera menjadi tamu Allah ya mbak, bisa ke tanah suci

    ReplyDelete
  20. Terharu Mak Neng, masyaAllah. Jadi inget pekerja tower yang kerja di sebelah rumahku. takjub mereka setiap kali naik turun bener bener penuh resiko tapi kedengarannya riang aja. padahal mungkin banyak hal yang indah bisa dilihat dari atas ya dan mengetuk jiwa kehambaannya kepada Allah Maha Pencipta.

    mak neng, moga terkabul apa yang dicita-citakan adiknya mak neng. semoga Allah segera memanggilnya ke rumah Allah dan dimudahkan jalannya. Aamiin ya rabbal alamin.

    ReplyDelete
  21. Harus berterima kasih pada para tentara langit ini ya, karena pekerjaan mereka kita bisa menikmati kecepatan internet yang selalu dibutuhkan setiap saat. Panas terik mungkin bisa ditahan tapi perjuangannya itu tinggi sekali risikonya beada di ketinggian tertentu yang belum tentu setiap orang bisa menjalaninya.
    Terharu banget bacanya, ikut mendoakan untuk adiknya semoga segera bisa berangkat ke Baitullah. Insya Allah ada jalan yang terbaik untuknya.

    ReplyDelete
  22. Ya Allah, kerjaannya bener-bener berisiko ya, MakNeng. Dan duh, low return. Sedih bacanya. Yang begini yang sering terlupakan. Kita menikmati hasil pekerjaaan mereka, tapi mereka terlupakan. Semoga keinginan mereka bisa terkabul. Semoga juga taraf kehidupannya lebih diperhatikan lagi. Mengingat betapa berisikonya pekerjaan mereka. Aamin.

    ReplyDelete
  23. Adik sepupu saya juga ada yang pekerjaannya seperti itu, Mak. Tapi yaa orang-orang seperti itu kok ya biasanya menceritakan segala lika-liku pekerjaannya dengan tersenyum dan tertawa. Masya Allah.. mereka memang luar biasa ya..
    Btw semoga adik mak Tanti bisa berkesempatan untuk umroh atau haji, ya. Dan semoga setelah ini pintu-pintu rezeki yang lebih indah akan terbuka untuknya. Aamiin.
    *terharu*

    ReplyDelete
  24. Kaaaakk~
    MashaAllah~

    Semoga Allah mudahkan dan ijabah niat baik ini. Semoga kak Tanti dan keluarga mampu saling menguatkan.
    kisah inspiratif yang membuat mataku berkaca-kaca, kak..

    Aku pernah dengar kejadian kurang menyenangkan terkait pekerjaan para tentara langit ini.
    Karena papa mertua pernah menjadi karyawan PLN dan dimulai dari menjadi teknisi.
    Terbayang Papa kalau sedang cerita bagaimana resiko yang harus dihadapi tidak seimbang dengan gaji yang diterima.

    MashaAllah...
    Tabarakallahu. Sehat dan penuh berkah selalu.

    ReplyDelete
  25. Mak Neng, merinding saya baca ceritanya. Di awal cerita udah langsung menyesal karena sering sewot gara-gara inet mati, kemudian menyesal kembali melihat cara kerja tentara langit. Bagian tengah ke bawah semakin merinding dengan perjaungan adiknya. Semoga dimudahkan dan dimampukan ya, Mak. Bismillah, yakin Allah mencatat semua perjuangan hamba-Nya.

    ReplyDelete
  26. Bener-bener perjuangan banget ternyata ya Mak pekerjaan mereka. Bukan cuma tentang resiko kerjanya tapi juga impact buat masyarakat. Semoga sistem rewardingnya juga jadi lebih baik setelah ini.

    ReplyDelete
  27. Ya Alloh, liat dua foto pertama kaki saya gemeter 😁😁
    Ini orang orang pemberani banget, mereka berjuang untuk kemanfaatan orang banyak.

    ReplyDelete
  28. MasyaAllah orang orang yang terlupakan padahal andilnya begitu besar ya mba… dan juga resikonua sangat sangat tinggi. Semoga sehat sehat selalu dan semuaaa mimpi mereka bisa terlaksana

    ReplyDelete
  29. Semoga adiknya selalu diberi kesehatan ya, dan memang tanpa kita sadari orang yang bekerja di bidang tersebut sangatlah berjasa.
    Karena resikonya pun sangat berbahaya,bukan ketinggian aja tapi juga tegangan arus listrik.

    ReplyDelete

TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA BLOG NENG TANTI (^_^)