Pergi ke Puncak, Makan di Huize Trivelli, dan Pelajaran Kecil tentang Melambat
Pergi ke Puncak?
Lagi? Nggak bosan apa?
Tapi kami ternyata memang tak pernah bosan. Apalagi kali ini agendanya bukan cuma soal kabur sebentar dari rutinitas, tapi juga soal janji kecil yang kami buat dengan penuh kesadaran: pakai outfit yang cute, yang dipilih bukan asal ambil dari lemari, tapi disiapkan seperti sedang menyiapkan mood!
Huize Trivelli Heritage Resto & Patisserie
Dress flowy yang jatuhnya manis, cardigan tipis biar nyambung sama udara dingin, sepatu yang tetap nyaman tapi tetap proper buat difoto kalau tiba-tiba nemu spot cakep. Seniat itu. Karena kadang, effort kecil buat tampil rapi dan serasi bukan soal gaya doang, tapi cara halus bilang ke diri sendiri—hari ini spesial, dan aku mau hadir sepenuhnya.Ada perjalanan yang sebenarnya tidak direncanakan untuk jadi istimewa. Awalnya cuma pengin “cabut sebentar” dari rutinitas yang rasanya makin hari makin padat, walaupun secara fisik cuma duduk di depan laptop. Kepala penuh, hati sumpek, dan notifikasi gak ada habisnya. Maka diputuskanlah satu hal sederhana: ke Puncak.
Bukan buat liburan mewah. Bukan juga staycation fancy. Cuma ingin udara dingin, jalan berkelok, dan pemandangan hijau yang bisa bikin napas terasa lebih panjang.
Perjalanan ke Puncak selalu punya ritualnya sendiri. Macet yang entah kenapa tetap dilalui dengan sabar, jendela mobil dibuka sedikit supaya angin masuk, playlist diputar pelan. Begitu mulai naik, pohon-pohon tinggi di kiri kanan jalan seperti menyambut dengan tenang. Suhu turun perlahan, dan tubuh otomatis ikut rileks.
Di tengah perjalanan itu, kami berhenti di sebuah resto Sunda. Lokasinya tidak terlalu mencolok, tapi justru itu yang bikin penasaran. Dari luar sudah kelihatan bangunan kayu dengan sentuhan modern, berpadu dengan taman hijau yang tertata rapi. Estetik, iya. Tapi bukan estetik yang berisik minta difoto. Lebih ke estetik yang bikin orang pengin duduk lama.
Begitu masuk, suasananya langsung beda. Ada suara air mengalir pelan, meja-meja kayu dengan jarak yang cukup lega, dan aroma masakan Sunda yang hangat—bukan yang menusuk, tapi yang bikin perut langsung “eh, kayaknya aku lapar.”
Kami memilih duduk di area semi-outdoor. Dari kursi, pemandangan hijau terbentang, kabut tipis sesekali lewat seperti tamu yang datang dan pergi tanpa permisi. Udara dingin bikin tangan otomatis memeluk gelas teh hangat lebih lama.
Menu datang tanpa drama. Nasi liwet, ikan goreng, lalapan segar, sambal yang kelihatannya sederhana tapi menggoda. Tidak ada plating ribet. Tidak ada saus dituang melingkar-lingkar. Tapi justru itu yang bikin rasanya jujur.
Suapan pertama selalu jadi penentu. Dan di momen itu, aku sadar satu hal: makanan enak itu tidak selalu harus heboh. Kadang, yang bikin “wah” justru karena rasanya familiar. Seperti pulang.
Sambil makan, obrolan mengalir tanpa arah yang jelas. Dari hal-hal ringan sampai refleksi hidup yang tiba-tiba muncul sendiri. Aneh ya, di kota kita sering makan bareng tapi sibuk dengan layar masing-masing. Di sini, sinyal pun rasanya ikut melambat. Ponsel lebih sering tergeletak di meja daripada di tangan.
Aku memperhatikan sekitar. Ada keluarga dengan anak kecil yang lari-lari kecil di taman. Ada pasangan yang makan sambil sesekali diam, tapi diam yang nyaman. Ada juga rombongan teman yang ketawa pelan, tidak berisik, seolah sadar sedang berada di ruang yang meminta untuk dihargai.
Resto ini tidak mencoba menjadi “paling”. Tidak paling modern, tidak paling tradisional. Ia berdiri di tengah, dengan percaya diri. Dan mungkin itu yang membuatnya terasa estetik—bukan karena dekorasi saja, tapi karena suasana yang konsisten.
Di Puncak, waktu memang terasa berbeda. Jam seolah berjalan lebih lambat, atau mungkin kita yang akhirnya berhenti mengejarnya. Setelah makan, kami tidak langsung pergi. Duduk saja. Menikmati sisa teh. Menghirup udara. Mengizinkan diri untuk tidak produktif selama beberapa menit.
Ada rasa bersalah kecil yang sempat muncul. Pikiran tentang pekerjaan, deadline, hal-hal yang belum selesai. Tapi lalu aku ingat: melambat bukan berarti malas. Kadang, itu justru cara paling masuk akal untuk bertahan.
Perjalanan pulang dari resto itu terasa lebih ringan. Bukan karena perut kenyang semata, tapi karena hati ikut terisi. Puncak, dengan segala klisenya, tetap punya cara sendiri untuk mengingatkan bahwa hidup tidak harus selalu dikejar.
Dan resto Sunda itu—dengan nasi liwet sederhana, sambal pedas yang jujur, dan pemandangan hijau yang tenang—menjadi bagian dari cerita kecil yang akan diingat.
Bukan karena tempatnya viral. Tapi karena di sana, aku sempat berhenti. Benar-benar berhenti. Dan itu, di zaman sekarang, adalah kemewahan yang sering kita lupakan.





Komentar
Posting Komentar
TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA BLOG NENG TANTI (^_^)