Kenapa sih Anak Sekarang Dikit-Dikit Nanya Why?


Pertanyaan itu keluar gitu aja, setengah bercanda, tapi jujur ada sisa-sisa rasa "gemas" di ujung lidah. Dan anehnya, aku sendiri yang nanya, tapi aku juga yang langsung kepikiran jawabannya.

Kejadiannya pas lagi di depan laptop, ditemani kopi yang udah mendingin, sambil mandangin chat dari tim Gen Z-ku. Dia nggak langsung meng-iyakan instruksi. Dia nanya dulu. Detail. Bahkan menurutku... terlalu detail.

Dulu, di zamanku (iya, zaman old), kita nggak banyak tanya. Dikasih kerjaan ya sikat. Disuruh revisi ya revisi lagi sampai tipis. Kadang sambil nahan kesel di batin, tapi ya kaki tetap jalan terus. Tapi sekarang? Dunianya udah beda total. Dan di situlah keresahan itu muncul. Bukan cuma soal mereka, tapi sejujurnya... soal aku juga.

Antara Kesel dan Kagum: Sebuah Pengakuan


Kalau mau jujur banget, perasaan kita ke Gen Z di dunia kerja itu kayak naik roller coaster. Campur aduk.

Kadang kesel karena mereka terlihat santai banget, nggak ada takut-takutnya sama atasan, dan berani ngomong apa pun yang ada di kepala mereka. Tapi di sisi lain, diam-diam aku kagum. Mereka berani pasang boundaries, nggak mau overwork tanpa alasan jelas, dan sadar banget kalau kesehatan mental itu bukan sekadar tren, tapi kebutuhan.

Aku sempat mikir: ini anak-anak yang kurang tahan banting, atau justru mereka yang cara mikirnya lebih sehat? Pelan-pelan aku sadar, ini bukan soal siapa yang benar atau salah, tapi tentang dua cara pandang yang lagi "tabrakan" di satu ruang kerja yang sama.

Adaptasi Itu Perlu, Tapi Jangan Sampai Kehilangan Kompas

Banyak yang bilang, "Ya udah sih, kita harus menyesuaikan sama Gen Z."

Setuju banget. Tapi ada satu catatan penting: Menyesuaikan itu beda sama permisif. Kalau semua dimaklumi dengan dalih "ya namanya juga Gen Z", itu bukan adaptasi, tapi kehilangan arah. Aku pernah di titik itu—capek sendiri karena terlalu "mengerti" tanpa pernah negasin batas.

Ternyata, bersahabat dengan mereka bukan berarti kita nurunin standar, tapi kita mengubah cara menyampaikan standar itu.

Dulu: "Pokoknya harus selesai hari ini!"


Sekarang: "Aku butuh ini kelar hari ini karena besok ada deadline ke klien. Menurut kamu realistis nggak kalau dikerjain sekarang?"

Hasilnya? Surprisingly, mereka jauh lebih kooperatif. Kenapa? Karena mereka nggak merasa cuma dikasih perintah, tapi diajak mikir bareng. Mereka butuh tahu context, bukan cuma text.

Humility: Mengakui Bahwa Kita Juga "Murid"

Di satu titik, aku berhenti melihat diri sebagai si paling senior yang tahu segalanya. Faktanya, aku banyak belajar dari mereka. Mulai dari cara kerja yang lebih efisien, tools baru yang bikin hidup lebih gampang, sampai keberanian untuk bilang, "Aku lagi nggak baik-baik aja hari ini."

Dulu, kalimat itu tabu banget. Sekarang? Itu jadi bentuk kejujuran yang sehat.

Tapi di sisi lain, mereka tetap butuh kita untuk belajar soal komitmen, konsistensi, dan cara menghadapi konsekuensi. Ini bukan hubungan satu arah, ini tukar energi. Mereka kasih perspektif baru, kita kasih kedalaman pengalaman. Kalau dua-duanya mau buka diri, hasilnya bisa powerful banget.

Belajar dari Banyak Perspektif

Menghadapi pergeseran ini memang butuh asupan insight yang waras. Aku sering cari perspektif tambahan dari platform kayak tehokti

Bahasannya tentang dinamika kerja dan pengembangan diri itu relate banget sama kondisi sekarang. Ngebantu aku ngerti kalau perubahan ini bukan masalah pribadi, tapi memang pergeseran generasi yang nyata.

Selain itu, aku juga sering nemu refleksi yang "ngena" banget dari akun Instagram @indungbageur

Isinya sering ngingetin buat jadi manusia yang lebih sadar diri, lebih jujur, dan lebih hangat. Hal-hal kecil kayak gini yang ternyata krusial banget buat ngejaga suasana kerja tetap cair tapi tetap manusiawi.

Jadi, harus gimana?

Mungkin jawabannya bukan "ikut mereka" atau "mereka harus ikut kita". Tapi tentang ketemu di tengah. Kita tetap pegang nilai, tapi nggak kaku. Kita tetap mendidik, tapi nggak menghakimi. Kita tetap belajar, meskipun usia nggak lagi muda.

Karena pada akhirnya, dunia kerja itu bukan soal siapa yang paling kuat bertahan, tapi siapa yang paling mampu beradaptasi tanpa kehilangan arah. Mungkin... bukan Gen Z yang perlu kita taklukkan, tapi "cara lama" dalam diri kita sendiri yang perlu pelan-pelan kita lepaskan.

Gimana menurut kalian? Pernah ngalamin gesekan serupa di kantor? Share di kolom komentar ya!

Komentar

Postingan Populer