Life in Nunukan: Serunya Jadi Bocah Perbatasan yang 'Pusing-Pusing' ke Malaysia
Berpaspor Sejak SD: Memoar Bocah Perbatasan di Jalur Nunukan-Tawau
Gara-gara menulis tentang masakan Ibu yang memorable, aku jadi ingat tentang Nunukan.Ya, dulu orangtuaku pernah tinggal selama kurang lebih 4 tahun di Nunukan, sebuah pulau kecil di wilayah paling utara Kalimantan Timur, dan sekarang sudah menjadi Kalimantan Utara.
Pelabuhan Nunukan yaitu Tunon Taka (artinya pelabuhan kita) terkenal karena merupakan pelabuhan lintas dengan kota Tawau, Malaysia.
Pelabuhan Nunukan yaitu Tunon Taka (artinya pelabuhan kita) terkenal karena merupakan pelabuhan lintas dengan kota Tawau, Malaysia.
Jadi, kalau orang Jakarta curhat capek PP Bogor-Depok 3 jam sehari, warga Nunukan cuma bisa senyum simpul. Kami juga komuter kok, cuma beda paspor aja!
Labirin Air dan Paspor yang Cepat Penuh
Pernah tidak, kamu merasa bahwa geografi adalah sebuah takdir?
Sependek ingatanku, aku dan keluarga jarang naik speed boat kecil, kami hampir selalu naik kapal sejenis feri (yang mirip dengan feri lintas Batam Singapore itu) untuk membelah laut di Selat Makassar menuju Tawau.
Buatku yang masih bocil,
aku suka sekali dan menikmati ritual jalan-jalan ini. Ada misteri yang selalu kurasakan setiap kali melewati pos imigrasi. Kenapa petugas di sana selalu terlihat begitu serius? Kenapa cap di pasporku harus berbentuk kotak atau bulat? Bagiku saat itu, paspor bukan sekadar dokumen perjalanan; itu adalah buku koleksi stiker paling keren sedunia! Ahahhaa...
Bau Kedai Kopi dan Riuh Pasar Gantung
Aaah, sampai sekarang, kalau aku memejamkan mata, aku masih bisa loh, merasakan sensasi makan Nasi Kuning dan Ayam Masak Merah serta... Mee Kolok di sebuah kedai di Tawau. Restoran Haji Thamrin, namanya.
Lalu ada Pasar Gantung. Oh, tempat ini adalah surga bagi indra sensorik. Warna-warni kain, gantungan kunci, hingga aroma buah-buahan tropis yang beradu dengan bau laut.
Objektivitas di Balik Nostalgia
Sebagai orang yang pernah tinggal di beberapa daerah terpencil, bahkan berbatasan dengan hutan, mari kita bicara sedikit teknis (tapi tetap santai, janji!).
Kembali ke Debu Pelabuhan
Aku masih bisa melihat bayangan bocah perempuan kecil sebagai cermin masa lalu. Dia yang memegang paspor dengan bangga, menunggu kapal feri yang akan membawanya pulang ke Nunukan setelah lelah "pusing-pusing" di Tawau, Sandakan atau Kuching.
Dulu, aku pikir perjalanan itu hanya soal beli mainan baru atau makan enak. Sekarang aku sadar, perjalanan masa kecil itu adalah fondasi caraku melihat dunia. Bahwa dunia ini luas, batas negara itu buatan manusia, tapi kemanusiaan dan rasa ingin tahu adalah bahasa universal yang tidak butuh stempel imigrasi.
Aku belajar bahwa menjadi "orang perbatasan" adalah sebuah anugerah. Kita dipaksa untuk adaptif, terbuka, dan punya selera humor yang luas untuk menertawakan keributan-keributan kecil antar negara yang kadang terasa seperti drama anak kecil berebut mainan.
Nah, itu tadi sekelumit memori masa kecilku di ujung utara Kalimantan. Kalau kalian, apa memori masa kecil yang paling membentuk cara pandang kalian terhadap dunia sekarang?
Tapi buatku dan teman-teman sebaya, bocah yang tumbuh di Nunukan, Kalimantan Utara, "jalan-jalan" berarti melintasi batas negara. Kami tidak menyebut "ke luar negeri" dengan nada pretensius. Kami menyebutnya "menyeberang".
Labirin Air dan Paspor yang Cepat Penuh
Pernah tidak, kamu merasa bahwa geografi adalah sebuah takdir?
Nah, jadi warga Nunukan berarti menerima kenyataan bahwa Tawau di Malaysia terasa lebih dekat secara psikologis (dan logistik) daripada Jakarta.
Sependek ingatanku, aku dan keluarga jarang naik speed boat kecil, kami hampir selalu naik kapal sejenis feri (yang mirip dengan feri lintas Batam Singapore itu) untuk membelah laut di Selat Makassar menuju Tawau.
Mesin kapal feri tak terlalu bising, tapi memang hanya dengan jarak tempuh sekitar 1 jam, kami lebih menikmati perjalanan. Aku biasanya menempelkan hidung ke kaca jendela yang buram oleh uap air, memperhatikan garis pantai yang perlahan berganti kedaulatan.
Buatku yang masih bocil,
aku suka sekali dan menikmati ritual jalan-jalan ini. Ada misteri yang selalu kurasakan setiap kali melewati pos imigrasi. Kenapa petugas di sana selalu terlihat begitu serius? Kenapa cap di pasporku harus berbentuk kotak atau bulat? Bagiku saat itu, paspor bukan sekadar dokumen perjalanan; itu adalah buku koleksi stiker paling keren sedunia! Ahahhaa...
Analogi Kantong Ajaib: Dari Tawau, Sandakan hingga Lahad Datu
Hidup di daerah perbatasan, buatku yang waktu itu masih duduk di bangku Sekolah Dasar, rasanya seperti punya teman Doraemaon yang punya "pintu ajaib".
Nunukan adalah rumah, tempat tidur, dan sekolah. Tapi Tawau, Sandakan, dan Lahad Datu adalah playground raksasa tempat aku menemukan benda-benda ajaib yang tidak ada di warung depan rumah.
Jika Nunukan adalah tempat aku tinggal dan belajar tradisi Suku Tidung yang unik, juga multikultural karena banyak sekali suku yang keluar masuk ke pulau ini, maka perjalanan ke Tawau, Kuching, Sandakan dan Lahad Datu adalah kursus singkat tentang multikulturalisme internasional.
Jika Nunukan adalah tempat aku tinggal dan belajar tradisi Suku Tidung yang unik, juga multikultural karena banyak sekali suku yang keluar masuk ke pulau ini, maka perjalanan ke Tawau, Kuching, Sandakan dan Lahad Datu adalah kursus singkat tentang multikulturalisme internasional.
Ya tentu saja, karena di Tawau dan sekitarnya ada 4 budaya, yaitu orang Melayu, China, orang India dan Inggris, karena mereka adalah negara persemakmuran Inggris.
Bahasa yang dipakai tentu saja percampuran antara bahasa Melayu dan Inggris. Aku masih ingat betapa bingungnya ketika pertama kali mendengar istilah "pusing-pusing" untuk jalan-jalan, atau "kereta" untuk menyebut mobil.
Yang jelas, aku selalu happy kalau ke Tawau. Samalah rasanya kalau liburan panjang dan bepergian ke Pulau Jawa!
Yang jelas, aku selalu happy kalau ke Tawau. Samalah rasanya kalau liburan panjang dan bepergian ke Pulau Jawa!
Soalnya, rasanya kayak dari hutan masuk ke kota gitu. Padahal, Tawau itu juga kota kecil, kayak di Serpong jaman now gitu... tapi karena kelamaan "bertualang" di hutan, jadi ya seneng aja kan, lihat kesibukan yang berbeda.
Kalau ke Tawau,
tujuan utamaku satu : cari toko buku, dan membeli pernak-pernik lucu Sanrio hahaha.. sementara dua adikku yang laki-laki, akan sibuk cari mainan.
Kalau aku telaah sekarang, aku baru sadar bahwa secara objektif, wilayah perbatasan adalah urat nadi perdagangan yang unik. Kita tidak bicara soal ekspor-impor skala korporat, tapi tentang bagaimana kaleng biskuit Jacob's, cokelat Van Houten, dan Milo Malaysia masuk ke meja makan kami di Nunukan.
Ada simbiosis mutualisme yang terjadi di bawah radar birokrasi yang kaku. Perbatasan bukan sekadar garis di peta, tapi sebuah ruang bernapas di mana dua budaya saling bertukar oksigen.
Bau Kedai Kopi dan Riuh Pasar Gantung
Aaah, sampai sekarang, kalau aku memejamkan mata, aku masih bisa loh, merasakan sensasi makan Nasi Kuning dan Ayam Masak Merah serta... Mee Kolok di sebuah kedai di Tawau. Restoran Haji Thamrin, namanya.
Masih terngiang Mee Kolok disajikan panas-panas, berkepul-kepul dengan aroma gurih dan taburan daging yang melimpah. Minumnya? Sudah pasti Teh Tareek!
Di samping kanan kiri meja kami, orang-orang berbicara dalam dialek yang campur aduk. Sebuah lingua franca perbatasan yang tidak akan kamu temukan di kamus manapun.
Lalu ada Pasar Gantung. Oh, tempat ini adalah surga bagi indra sensorik. Warna-warni kain, gantungan kunci, hingga aroma buah-buahan tropis yang beradu dengan bau laut.
Oh yaaa kenapa namanya Pasar Gantung?
Soalnya literally yang dijual di situ rata-rata digantung-gantung di kiosnya, bergelantungan tapi tetep estetik.
Soalnya literally yang dijual di situ rata-rata digantung-gantung di kiosnya, bergelantungan tapi tetep estetik.
Aku ingat pernah berdiri terpaku melihat tumpukan cokelat impor yang harganya jauh lebih murah daripada buku tulis!
Di sana, ada pedagang dari Filipina, Malaysia, dan Indonesia bertransaksi tanpa hambatan bahasa, hanya dengan bahasa isyarat dan kalkulator besar. Seperti melihat barter dalam bentuk moderen.
Kenapa yaa.. kita, orang dewasa, seringkali membuat sekat yang begitu tebal, padahal di pasar ini, semua orang hanya ingin bertahan hidup dan pulang membawa ringgit atau rupiah?
Kenapa yaa.. kita, orang dewasa, seringkali membuat sekat yang begitu tebal, padahal di pasar ini, semua orang hanya ingin bertahan hidup dan pulang membawa ringgit atau rupiah?
Objektivitas di Balik Nostalgia
| Tawau Pasar Gantung / The Old Central Market |
Sebagai orang yang pernah tinggal di beberapa daerah terpencil, bahkan berbatasan dengan hutan, mari kita bicara sedikit teknis (tapi tetap santai, janji!).
Secara geopolitik, Nunukan adalah buffer zone.
Hidup di sana membuat aku punya perspektif yang objektif terhadap nasionalisme. Nasionalisme kami di perbatasan tidak melulu soal teriak "Merdeka!" di medsos, tapi tentang bagaimana kami tetap merasa Indonesia meski bumbu dapur di dapur kami berasal dari negara tetangga.
Ada ironi yang lucu kalau diingat.
Ada ironi yang lucu kalau diingat.
Kami memakai baju merk luar, makan cokelat luar, tapi kalau timnas sepak bola Indonesia tanding lawan Malaysia, tetap saja kami teriak paling kencang mendukung Garuda. Itulah uniknya anak perbatasan: kami adalah hibrida. Kami kritis terhadap kekurangan fasilitas di daerah sendiri, tapi cinta kami pada tanah ini tidak pernah luntur.
Kembali ke Debu Pelabuhan
Aku masih bisa melihat bayangan bocah perempuan kecil sebagai cermin masa lalu. Dia yang memegang paspor dengan bangga, menunggu kapal feri yang akan membawanya pulang ke Nunukan setelah lelah "pusing-pusing" di Tawau, Sandakan atau Kuching.
Dulu, aku pikir perjalanan itu hanya soal beli mainan baru atau makan enak. Sekarang aku sadar, perjalanan masa kecil itu adalah fondasi caraku melihat dunia. Bahwa dunia ini luas, batas negara itu buatan manusia, tapi kemanusiaan dan rasa ingin tahu adalah bahasa universal yang tidak butuh stempel imigrasi.
Aku belajar bahwa menjadi "orang perbatasan" adalah sebuah anugerah. Kita dipaksa untuk adaptif, terbuka, dan punya selera humor yang luas untuk menertawakan keributan-keributan kecil antar negara yang kadang terasa seperti drama anak kecil berebut mainan.
Nah, itu tadi sekelumit memori masa kecilku di ujung utara Kalimantan. Kalau kalian, apa memori masa kecil yang paling membentuk cara pandang kalian terhadap dunia sekarang?
Atau mungkin ada yang punya pengalaman tinggal di perbatasan juga? Curhat yuk di kolom komentar, siapa tahu kita pernah satu kapal feri di Tawau dulu!


Komentar
Posting Komentar
TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA BLOG NENG TANTI (^_^)