Main ke Museum Affandi Yogyakarta, Ternyata Bukan Sekadar Wisata Seni
Siang itu di tepi Sungai Gajah Wong, aku berdiri cukup lama di depan satu lukisan besar dan abstrak. Aku tercekat bukan karena melihat harganya yang bikin jantung deg degan. Tapi karena aku langsung tahu ini adalah lukisan Affandi.
Jadi aku waktu itu diajak adikku almarhum Tommy, saat itu ia memang sedang bekerja di bisnis tour & travel milik Umar Lubis, seorang aktor yang akrab disapa Umay, kebetulan Umay adalah sahabat Tommy. Mereka cukup sering melakukan perjalanan ke Yogya.
Berangkat ke Yogya!
Esok siangnya kami pun berangkat ke Yogya, ketemuan di bandara Soeta pastinya, karena dekat dari rumahku. Tiba di Yogya sudah pukul 15.00 dan dijemput lagi oleh dua sahabat almarhum, Okke dan Avi, karena kami akan menginap di salah satu rumah yang memang disewakan Avi.
Garisnya melingkar liar. Catnya tebal. Teksturnya seperti bekas jari yang sengaja tidak dirapikan. Wajahnya tidak dibuat tampan. Tidak dibuat halus. Bahkan cenderung tampak lelah.
Dan di situ aku merasa seperti sedang bercermin.
Sebagai ibu. Sebagai perempuan usia jelang lima puluhan yang kadang masih suka overthinking. Sebagai Neng yang kelihatan santai di luar tapi sering perang kecil di dalam kepala.
Lukisan itu seperti bilang, "It is okay if you are not perfect."
Aku pindah ke lukisan lain. Potret seorang ibu tua dengan tatapan dalam. Garis wajahnya kasar. Warna di sekelilingnya seperti berputar. Aku mendadak ingat ibuku.
Ibuku yang selalu rapi menyimpan barang. Ibuku yang mengajarkanku mix and match baju sejak kecil. Ibuku yang kuat tapi jarang mengeluh.
Aku berdiri cukup lama. Orang orang lewat. Ada yang terdiam mematung juga di sudut sana, beberapa berfoto cepat lalu pergi. Tapi aku tidak bisa cepat.
Karena untuk pertama kalinya dalam perjalanan, aku tidak sedang mencari konten. Aku sedang mencari makna!
Dulu aku pernah ada di fase traveling cuma supaya terlihat punya kehidupan. Feed harus hidup. Story harus update. Bali, Lombok, Jawa, sampai ke negeri China sana, mana saja asal estetik! Kalo perlu, di dalamnya banyak kisah inspiratif nya.. anjay..
Tapi di museum ini, aku seperti dipaksa duduk dan bertanya ke diri sendiri,
"Kamu sebenarnya lagi lari dari apa, sih Neng?"
Affandi melukis dengan tangan. Bukan cuma dengan kuas. Ia memeras cat langsung dari tube. Mengolesnya dengan jari. Teksturnya kasar. Tebal. Tidak disembunyikan.
Dan aku merasa, hidupku juga begitu.
Ada fase ketika aku merasa gagal. Ada fase ketika anak anak tumbuh dan aku bertanya, aku sudah cukup baik belum. Ada fase ketika pekerjaan sepi dan rasa percaya diri ikut goyah.
Semua itu tidak halus. Tidak rapi. Tapi nyata.
Di salah satu sudut ruangan, aku duduk sebentar. Menghadap jendela. Sungai di luar mengalir pelan. Tiba tiba aku sadar, mungkin selama ini aku terlalu keras pada diri sendiri.
Aku ingin semuanya terlihat seimbang. Produktif. Bahagia. Stabil.
Padahal mungkin, seperti lukisan Affandi, hidup memang lebih jujur ketika garisnya tidak lurus.
Yang bikin karya Affandi terasa kuat buatku bukan cuma teknik ekspresionisnya. Bukan cuma warna merah dan kuning yang berani. Tapi keberaniannya memperlihatkan sisi rapuh.
Affandi tidak menyembunyikan kerut wajah. Tidak menyembunyikan amarah. Tidak menyembunyikan lelah. Dan aku, si paling merasa harus kuat, mendadak merasa diizinkan untuk menjadi manusia biasa.
Indah menghampiri, "Keluar yok Neng, udah keliling, kan? Gw mau smoke sebentar nih.." Aku tertawa. "Sama In, gw mendadak pengen ngopi, yok cari Imot."
Jadi aku waktu itu diajak adikku almarhum Tommy, saat itu ia memang sedang bekerja di bisnis tour & travel milik Umar Lubis, seorang aktor yang akrab disapa Umay, kebetulan Umay adalah sahabat Tommy. Mereka cukup sering melakukan perjalanan ke Yogya.
Nah, satu siang, Tommy datang ke rumah seperti biasa, almarhum memang hobi mampir sejenak jika pulang dari kerja, karena waktu itu ia sempat bekerjasama dengan salah satu hotel juga di dekat rumahku di Karawaci.
Tentu saja aku kaget karena dengan santainya almarhum bertanya, "Neng, mo ikut gw gak, ngopi di Yogya?"
"Hah? Seriusan? Mo ngapain ke sana, Mot? Berapa hari?"
"Hah? Seriusan? Mo ngapain ke sana, Mot? Berapa hari?"
"Paling 3 hari ajalah, kita ke Yogya jalan santai aja. Makan gudeg, ngopi, kan Neng bisa ketemuan mbak Indah!" Mataku langsung berbinar.
Ya, Indah adalah sahabat dekat sejak di kampus sampai sekarang. Tak jarang kami telponan berjam-jam kalau sedang ingin curhat atau ada sesuatu yang baru. Pastilah aku excited ikutan ke Yogya untuk healing sejenak, apalagi sama adikku sendiri, udah pasti selain perijinan ke bang Dho beres, udah gitu semua "terjamin" ..ihiiiksss.. (adikku yang satu ini emang royal, pasti kalo ketemu anak-anak diamplopin lebih dari cukup jajan seminggu!)
Berangkat ke Yogya!
Esok siangnya kami pun berangkat ke Yogya, ketemuan di bandara Soeta pastinya, karena dekat dari rumahku. Tiba di Yogya sudah pukul 15.00 dan dijemput lagi oleh dua sahabat almarhum, Okke dan Avi, karena kami akan menginap di salah satu rumah yang memang disewakan Avi.
Telponan Indah bentar dan.. tadaaa langsung ketemuan deh! Indah akan menemaniku nginap karena pasti aku akan ditinggal Tommy juga untuk ngurusin bisnisnya.
Sore itu kami ngopi dan ngemil (jajan berat sih sebenernya heheee) di angkringan Kopi Joss, aku lupa nama daerahnya di mana, tapi letaknya persis di seberang SD Al Azhar Yogya.
Aku ingat banget, udara Yogya siang itu hangat. Tidak terlalu panas, tapi cukup bikin kita ingin berjalan pelan. Dianterin Indah, aku memasuki gerbang Museum Affandi. Sudah lamaa sekali pengen ke sini, pengen tahu gitu.
Fasad bangunannya unik, persis seperti pemiliknya!
Atapnya melengkung seperti perahu. Ada sungai mengalir di sampingnya. Rasanya bukan seperti masuk museum, tapi seperti masuk ke rumah seseorang, walau kudu bayar 20K per-pax untuk wisatawan lokal, dan 50K untuk wisatawan asing.
Begitu kaki melangkah masuk, aku langsung diam.
Tidak ada suara heboh. Tidak ada spot foto yang teriak minta diposting. Yang ada hanya dinding dinding penuh lukisan dengan warna yang seperti tidak mau kompromi.
Begitu kaki melangkah masuk, aku langsung diam.
Tidak ada suara heboh. Tidak ada spot foto yang teriak minta diposting. Yang ada hanya dinding dinding penuh lukisan dengan warna yang seperti tidak mau kompromi.
Rasanya.. seperti masuk ke dunia Hobbit versi Indonesia!
Affandi, Sang Maestro yang Unik, Nyentrik
Aku berdiri di depan satu lukisan potret diri Affandi.
Aku tidak tahu kenapa, tapi dada terasa membuncah, bangga. Lukisan ini, seolah merepresentasikan Indonesia itu sendiri.
Semua orang pecinta seni, pasti akan langsung tahu itu lukisan Affandi. Selain karena hanya dia satu-satunya yang membuat lukisan dengan aliran ekspresionis ini, tampak jelas ia jujur, karena emosinya tidak "disaring".
Aku berdiri di depan satu lukisan potret diri Affandi.
Aku tidak tahu kenapa, tapi dada terasa membuncah, bangga. Lukisan ini, seolah merepresentasikan Indonesia itu sendiri.
Semua orang pecinta seni, pasti akan langsung tahu itu lukisan Affandi. Selain karena hanya dia satu-satunya yang membuat lukisan dengan aliran ekspresionis ini, tampak jelas ia jujur, karena emosinya tidak "disaring".
Garisnya melingkar liar. Catnya tebal. Teksturnya seperti bekas jari yang sengaja tidak dirapikan. Wajahnya tidak dibuat tampan. Tidak dibuat halus. Bahkan cenderung tampak lelah.
Dan di situ aku merasa seperti sedang bercermin.
Sebagai ibu. Sebagai perempuan usia jelang lima puluhan yang kadang masih suka overthinking. Sebagai Neng yang kelihatan santai di luar tapi sering perang kecil di dalam kepala.
Lukisan itu seperti bilang, "It is okay if you are not perfect."
Aku pindah ke lukisan lain. Potret seorang ibu tua dengan tatapan dalam. Garis wajahnya kasar. Warna di sekelilingnya seperti berputar. Aku mendadak ingat ibuku.
Ibuku yang selalu rapi menyimpan barang. Ibuku yang mengajarkanku mix and match baju sejak kecil. Ibuku yang kuat tapi jarang mengeluh.
Aku berdiri cukup lama. Orang orang lewat. Ada yang terdiam mematung juga di sudut sana, beberapa berfoto cepat lalu pergi. Tapi aku tidak bisa cepat.
Karena untuk pertama kalinya dalam perjalanan, aku tidak sedang mencari konten. Aku sedang mencari makna!
Dulu aku pernah ada di fase traveling cuma supaya terlihat punya kehidupan. Feed harus hidup. Story harus update. Bali, Lombok, Jawa, sampai ke negeri China sana, mana saja asal estetik! Kalo perlu, di dalamnya banyak kisah inspiratif nya.. anjay..
Tapi di museum ini, aku seperti dipaksa duduk dan bertanya ke diri sendiri,
"Kamu sebenarnya lagi lari dari apa, sih Neng?"
Affandi melukis dengan tangan. Bukan cuma dengan kuas. Ia memeras cat langsung dari tube. Mengolesnya dengan jari. Teksturnya kasar. Tebal. Tidak disembunyikan.
Dan aku merasa, hidupku juga begitu.
Ada fase ketika aku merasa gagal. Ada fase ketika anak anak tumbuh dan aku bertanya, aku sudah cukup baik belum. Ada fase ketika pekerjaan sepi dan rasa percaya diri ikut goyah.
Semua itu tidak halus. Tidak rapi. Tapi nyata.
Di salah satu sudut ruangan, aku duduk sebentar. Menghadap jendela. Sungai di luar mengalir pelan. Tiba tiba aku sadar, mungkin selama ini aku terlalu keras pada diri sendiri.
Aku ingin semuanya terlihat seimbang. Produktif. Bahagia. Stabil.
Padahal mungkin, seperti lukisan Affandi, hidup memang lebih jujur ketika garisnya tidak lurus.
Yang bikin karya Affandi terasa kuat buatku bukan cuma teknik ekspresionisnya. Bukan cuma warna merah dan kuning yang berani. Tapi keberaniannya memperlihatkan sisi rapuh.
Affandi tidak menyembunyikan kerut wajah. Tidak menyembunyikan amarah. Tidak menyembunyikan lelah. Dan aku, si paling merasa harus kuat, mendadak merasa diizinkan untuk menjadi manusia biasa.
Indah menghampiri, "Keluar yok Neng, udah keliling, kan? Gw mau smoke sebentar nih.." Aku tertawa. "Sama In, gw mendadak pengen ngopi, yok cari Imot."
Saat keluar dari museum, aku tidak langsung buka ponsel. Tidak langsung update apa apa. Aku cuma berjalan pelan di halaman. Melihat patungnya. Menghirup udara.
Perjalanan ke Yogya kali itu tidak banyak spot yang kukunjungi. Tidak banyak tempat viral yang kucoba. Salah satunya nanti Gereja Ayam, penasaran ama Kisah Cinta dan Rangga. Aaah.. aku emang se-clingy itu emang kadang-kadang..
(sst.. ntar kapan-kapan pen nulis tentang dunia clingy-ku ini)
Tapi satu siang kali ini, di Museum Affandi rasanya cukup.
Cukup untuk mengingatkanku bahwa cerita hidup tidak harus selalu cantik. Tidak harus selalu seimbang. Tidak harus selalu terlihat kuat.
Kadang ia memang tebal. Berantakan. Penuh goresan.
Dan itu bukan sesuatu yang harus disembunyikan.
Kalau kamu main ke Yogya, coba sekali saja masuk ke museum itu. Jangan buru buru. Jangan cuma foto. Berdiri saja di depan satu lukisan sampai kamu merasa disentuh.
Siapa tahu, yang kamu temukan bukan cuma karya seni.
Tapi potongan dirimu sendiri yang selama ini terlalu sibuk untuk kamu dengarkan.
Perjalanan ke Yogya kali itu tidak banyak spot yang kukunjungi. Tidak banyak tempat viral yang kucoba. Salah satunya nanti Gereja Ayam, penasaran ama Kisah Cinta dan Rangga. Aaah.. aku emang se-clingy itu emang kadang-kadang..
(sst.. ntar kapan-kapan pen nulis tentang dunia clingy-ku ini)
Tapi satu siang kali ini, di Museum Affandi rasanya cukup.
Cukup untuk mengingatkanku bahwa cerita hidup tidak harus selalu cantik. Tidak harus selalu seimbang. Tidak harus selalu terlihat kuat.
Kadang ia memang tebal. Berantakan. Penuh goresan.
Dan itu bukan sesuatu yang harus disembunyikan.
Kalau kamu main ke Yogya, coba sekali saja masuk ke museum itu. Jangan buru buru. Jangan cuma foto. Berdiri saja di depan satu lukisan sampai kamu merasa disentuh.
Siapa tahu, yang kamu temukan bukan cuma karya seni.
Tapi potongan dirimu sendiri yang selama ini terlalu sibuk untuk kamu dengarkan.

.jpg)
.jpg)


.jpg)
.jpg)
.jpg)


Komentar
Posting Komentar
TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA BLOG NENG TANTI (^_^)