Mie Laksa dan Chapjae, Sebuah "Data" Rasa yang Tak Terduga
Ada sebuah istilah dalam dunia teknologi yang disebut cache, yaitu data sementara yang disimpan, agar sistem bisa bekerja lebih cepat saat kita memanggil informasi yang sama.
Nah untukku, memori manusia punya cara yang jauh lebih canggih. Bukan lewat kabel atau sinyal, melainkan lewat aroma dan kepulan gurihnya kuah dan butiran wijen mengintip di sela soun yang renyah!
Namanya : Mie Laksa.
Bagi orang lain, Mie Laksa hanya sekadar kuliner peranakan yang lazim ditemukan di kedai Kopi Tiam. Untukku, Mie Laksa adalah sebuah mesin waktu yang langsung melempar memori kembali ke dekade silam, ke sebuah masa di mana rasa penasaran Ibu mengulik resep dan berubah jadi menu legendaris di meja makan kami.
Semangkuk Mie Laksa dari Hotel Royal, Tawau
Tawau adalah kota terbesar ketiga di Sabah Malaysia setelah Kinabalu dan juga Sandakan. Keunikannya adalah dari posisinya yang berbatasan dengan Kabupaten Nunukan yang menjadi bagian Kalimantan Utara. Itu sebabnya pasar tradisional yang ada di Tawau malah banyak dikunjungi warga Nunukan sebab harganya jauh lebih murah!
Ada kompleksitas rasa di sana. Kuahnya gurih mantap, hasil dari perpaduan santan dan rempah yang pas. Di dalamnya, berenang tahu goreng yang menyerap kaldu dengan sempurna, udang segar yang memberikan rasa manis alami laut, dan taburan bawang goreng yang melimpah sebagai topping wajib. Setiap suapan adalah perpaduan tekstur yang presisi.
Sampai sekarang, setiap kali aku mampir ke Kopi Tiam atau bahkan saat terakhir kali berkunjung ke Kuala Lumpur, aku selalu memesan Mie Laksa dengan penuh harap. Namun, sejujurnya? Aku belum pernah menemukan "replika" yang benar-benar identik dengan milik Ibu. Ada missing link yang hanya bisa ditemukan di dapur rumah kami dulu.
Diplomasi Chapjae di Meja Coffee Morning
Jika Mie Laksa adalah cerita dari Tawau, maka Chapjae adalah cerita dari Tarakan (yang sekarang masuk Kalimantan Utara).
Enkripsi Rasa yang Tak Terpecahkan
Secara teknis, memori tentang makanan (penciuman dan pengecap) adalah satu-satunya data yang masuk ke otak tanpa melalui "filter" talamus. Ia langsung menuju sistem limbik, pusat emosi dan memori.
Namanya : Mie Laksa.
Bagi orang lain, Mie Laksa hanya sekadar kuliner peranakan yang lazim ditemukan di kedai Kopi Tiam. Untukku, Mie Laksa adalah sebuah mesin waktu yang langsung melempar memori kembali ke dekade silam, ke sebuah masa di mana rasa penasaran Ibu mengulik resep dan berubah jadi menu legendaris di meja makan kami.
Semangkuk Mie Laksa dari Hotel Royal, Tawau
Makluuum.. sebagai anak perantau (sementara) di Nunukan, kami sering sekali bepergian ke Tawau. Udah kayak jalan-jalan dari Tangerang ke Depok, rasanya. Untuk menyeberang ke Tawau, cukup bawa paspor, naik kapal feri, dan 40 menit kemudian sudah sampai deh.. (jangan tanya detailnya ya, aku dah lupa soalnya waktu itu aku masih duduk di bangku sekolah dasar kelas 5 dan 6).
Salah satu hotel yang kami inapi adalah Hotel Royal, Tawau, Malaysia. Di sinilah aku (eh, keluargaku maksudnya) mengenal Mie Laksa ala Malaysia.
Karena alm. Bapak sukaa sekali, akhirnya Ibu seolah melakukan "studi banding" kuliner secara mandiri. Beliau mencicipi Mie Laksa di sana, dan bahkan memberanikan diri bertanya pada salah satu staf F & B di hotel.
Mie laksa Malaysia adalah hidangan mi berkuah pedas-gurih khas peranakan (campuran Tionghoa-Melayu) yang sangat populer di Malaysia. Terdiri dari mi tebal (biasanya mi beras), kuah kaldu rempah kaya rasa, serta topping seperti ikan, udang, atau telur.
Varian populernya adalah Asam Laksa (kuah asam pedas ikan, tanpa santan) dan Laksa Lemak (kuah bersantan kental)
Ternyata, memang pasta laksa ini sudah dijual di dalam botol kaca, kita tinggal menumisnya saja, sreeeng .. sreeng.. masukkan kaldu ayam, mie dan toge mentah, tahu dll.
Mie laksa kuah ala Tawau memiliki kuah kental gurih berbasis santan dengan bumbu rempah aromatik, udang, dan aroma terasi atau ebi yang kuat. Kuncinya adalah menumis bumbu halus (cabai, bawang, kunyit, jahe, kemiri, ebi) hingga matang, lalu dicampur kaldu udang dan santan kental. Disajikan dengan mie kuning/bihun, tauge, dan telur rebus.
Ketika Mie Laksa ala Ibu terhidang di meja, woow... rasanya lebih sedap loh! (Menurut pendapat sayaaa...)
Ada kompleksitas rasa di sana. Kuahnya gurih mantap, hasil dari perpaduan santan dan rempah yang pas. Di dalamnya, berenang tahu goreng yang menyerap kaldu dengan sempurna, udang segar yang memberikan rasa manis alami laut, dan taburan bawang goreng yang melimpah sebagai topping wajib. Setiap suapan adalah perpaduan tekstur yang presisi.
Sampai sekarang, setiap kali aku mampir ke Kopi Tiam atau bahkan saat terakhir kali berkunjung ke Kuala Lumpur, aku selalu memesan Mie Laksa dengan penuh harap. Namun, sejujurnya? Aku belum pernah menemukan "replika" yang benar-benar identik dengan milik Ibu. Ada missing link yang hanya bisa ditemukan di dapur rumah kami dulu.
Diplomasi Chapjae di Meja Coffee Morning
Jika Mie Laksa adalah cerita dari Tawau, maka Chapjae adalah cerita dari Tarakan (yang sekarang masuk Kalimantan Utara).
Japchae dibuat dari mi khusus yang terkesan transparan seperti kaca bernama dangmyeon. Dangmyeon adalah mi yang dibuat dari tepung ubi jalar khas Korea. Dangmyeon yang punya tekstur kenyal tersebut kemudian ditumis bersama banyak sayuran dan protein seperti daging sapi, ayam, atau aneka seafood.
Cerita sikit yaa, jadi karena alm. Bapak itu bertugasnya di prefab (sejenis plywood) kemudian Administratur Inhutani (mostly di persemaian hutan seingatku), jadi beliau memang sering sekali berpindah tugas, baik di dalam dan luar negeri.
Masa kecilku dihabiskan di Balikpapan, Samarinda, Tenggarong, lalu aku dan adikku Tommy, sempat dititipkan di Tegal selama 6 bulan di rumah mbah kakung putri dari Ibu, karena Ibu harus mendampingi Bapak tugas di Jepang dan Eropa.
Nah setelah stay di Nunukan 4 tahun, kami pun pindah ke Tarakan (kalo gak salah kami domisili di Tarakan selama kurang lebih 3- 4 tahun juga). Bapak terakhir dipindah ke Jakarta dan berangkat ke Takengon Aceh, sebelum berpulang.
Nah setelah stay di Nunukan 4 tahun, kami pun pindah ke Tarakan (kalo gak salah kami domisili di Tarakan selama kurang lebih 3- 4 tahun juga). Bapak terakhir dipindah ke Jakarta dan berangkat ke Takengon Aceh, sebelum berpulang.
Waktu kami tinggal di Tarakan, Ibu adalah sosok yang aktif dalam pergaulan sosial yang unik. Setiap dua minggu sekali, beliau mengikuti acara Coffee Morning.
Tarakan memang kota kecil tapi daerah tambang minyak mentah (kapan-kapan aku ceritain yaa daerah Tarakan ini!), jadi di sana berkumpul ibu-ibu ekspatriat dari Jepang, Korea, dan Australia. Di sinilah terjadi pertukaran budaya dalam bentuk yang paling lezat.
Tarakan memang kota kecil tapi daerah tambang minyak mentah (kapan-kapan aku ceritain yaa daerah Tarakan ini!), jadi di sana berkumpul ibu-ibu ekspatriat dari Jepang, Korea, dan Australia. Di sinilah terjadi pertukaran budaya dalam bentuk yang paling lezat.
Di sini, Ibu belajar membuat Chapjae, sejenis soun goreng khas Korea langsung dari sumber aslinya, Mrs Yang Soo, yang aku inget banget, selalu mengenakan stoking putih.
Pastilah di tangan Ibu, chapjae buatannya berubah sedikit. Chapjae buatan Ibu punya karakteristik yang khas. Tekstur sounnya kenyal, tidak lembek, dengan sayuran yang masih crunchy. Dan bagian yang paling memikat secara visual adalah taburan biji-biji wijen di atasnya.
Pastilah di tangan Ibu, chapjae buatannya berubah sedikit. Chapjae buatan Ibu punya karakteristik yang khas. Tekstur sounnya kenyal, tidak lembek, dengan sayuran yang masih crunchy. Dan bagian yang paling memikat secara visual adalah taburan biji-biji wijen di atasnya.
Buatku, biji wijen itu seperti mutiara kecil yang memberikan aroma kacang yang dipanggang (toasted) saat digigit. Ini adalah "diplomasi kuliner" yang terekam sempurna dalam ingatan, dan... yes, you're right, sampai sekarang di dapurku selalu HARUS ADA minyak wijen!
Enkripsi Rasa yang Tak Terpecahkan
Secara teknis, memori tentang makanan (penciuman dan pengecap) adalah satu-satunya data yang masuk ke otak tanpa melalui "filter" talamus. Ia langsung menuju sistem limbik, pusat emosi dan memori.
Inilah alasan mengapa ketika aku mencium aroma wijen dipanggang, otakku langsung melakukan retrieval data tentang Tarakan tanpa butuh waktu lama (zero latency).
Masalahnya, resep Ibu ini seolah memiliki sistem "enkripsi" yang kuat. Meski aku sudah mencoba mengikuti langkah-langkahnya, rasanya tetap saja berbeda. Mungkin ada variabel yang tidak tertulis, seperti suhu tangan Ibu saat mengaduk bumbu, atau jenis air di Tarakan yang memberikan pengaruh pada tekstur sounnya.
Masalahnya, resep Ibu ini seolah memiliki sistem "enkripsi" yang kuat. Meski aku sudah mencoba mengikuti langkah-langkahnya, rasanya tetap saja berbeda. Mungkin ada variabel yang tidak tertulis, seperti suhu tangan Ibu saat mengaduk bumbu, atau jenis air di Tarakan yang memberikan pengaruh pada tekstur sounnya.
Meskipun pencarianku di Kopi Tiam hingga ke pusat kota KL waktu itu belum membuahkan hasil yang 100% sama... bagi seorang blogger dan penikmat seni sepertiku, setiap masakan bukan cuma soal mengenyangkan perut, tapi soal menghargai proses kreatif dan sejarah di balik sebuah piring.
Nah, kalau kalian, apa resep masakan jadul orang tua yang sampai sekarang rasanya belum ada tandingannya di restoran mana pun? Apakah kalian juga berusaha memasaknya sendiri atau pasrah menjadi penikmat memori saja? Yuk, cerita di kolom komentar!
Nah, kalau kalian, apa resep masakan jadul orang tua yang sampai sekarang rasanya belum ada tandingannya di restoran mana pun? Apakah kalian juga berusaha memasaknya sendiri atau pasrah menjadi penikmat memori saja? Yuk, cerita di kolom komentar!
.jpg)
.png)


Komentar
Posting Komentar
TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA BLOG NENG TANTI (^_^)