Tips Sketching Seru Pada Saat Traveling
Liburan Itu Gak Cuma Foto, loh!
Siapa bilang liburan bareng keluarga itu cuma soal rebutan milih tempat makan atau ribet ngurusin koper? Pas kemarin aku road trip maraton Yogya - Solo - Cirebon, aku nemuin satu cara biar memori liburan gak cuma numpuk di cloud storage HP yang udah penuh: sketching.
Jujurly, sketching pas lagi traveling itu kayak meditasi di tengah keriuhan. Kamu gak cuma ‘melihat’, tapi ‘mengamati’. Ada koneksi yang lebih dalam antara mata, tangan, dan suasana yang lagi kamu rasain.
Buat kamu yang pengen coba bawa art kit pas liburan tanpa bikin keluarga nungguin kelamaan, nih aku bagi tipsnya!
1. Bawa alat-alat minimalis!
Jangan bawa satu set cat minyak atau kanvas segede gaban. Inget, kita lagi liburan, bukan mau buka studio, kecuali kayak ada event tertentu (seperti aku di Malaysia dulu, khusus untuk para seniman kudu nge-doodle)
Cukup bawa sketchbook ukuran A5 atau A6, satu pensil mekanik, satu drawing pen (pilih yang waterproof ya!), dan travel-size watercolor set.
Saat ini, juga tersedia banyak brush marker yang worth to buy and bring it on. Favoritku adalah snowman, karena warnanya cukup mewakili warna-warna dasar.
Pro Tip: Pakai water brush pen. Gak perlu ribet bawa gelas air yang rawan tumpah dan bikin drama di meja makan.
Pro Tip: Pakai water brush pen. Gak perlu ribet bawa gelas air yang rawan tumpah dan bikin drama di meja makan.
2. Teknik "Capture Now, Detail Later"
Pas di Solo atau Yogya, tempat wisatanya kan rame banget. Gak mungkin kita duduk diem 2 jam buat nyelesain satu lukisan sementara anak-anak udah laper.
Strateginya: Bikin quick sketch (sketsa kasar) 5-10 menit buat nangkep komposisi dan suasana.
Analoginya: Ambil foto objeknya pakai HP buat referensi detail, lalu lanjutin warnainnya pas malam hari di hotel atau pas lagi santai di kereta arah Cirebon.
Pas di Solo atau Yogya, tempat wisatanya kan rame banget. Gak mungkin kita duduk diem 2 jam buat nyelesain satu lukisan sementara anak-anak udah laper.
Strateginya: Bikin quick sketch (sketsa kasar) 5-10 menit buat nangkep komposisi dan suasana.
Analoginya: Ambil foto objeknya pakai HP buat referensi detail, lalu lanjutin warnainnya pas malam hari di hotel atau pas lagi santai di kereta arah Cirebon.
3. Jangan Takut Gak Mirip, Ini Bukan Ujian Seni!
Banyak yang jiper duluan karena ngerasa gak jago gambar. Hey, chill out. Sketsa traveling itu soal cerita, bukan soal estetika perfeksionis.
Kalau jendela bangunan di Cirebon yang kamu gambar agak miring, ya udah! Itu namanya karakter.
Objektifnya: Menangkap vibe tempat tersebut. Tambahin catatan kecil di samping gambar, misalnya: "Es Dawet depan Pasar Beringharjo, manisnya pas kayak janji mantan." Itu yang bikin sketsanya jadi hidup.
4. Jeli Melihat Sudut Pandang (Point of View)
Nah ini agak tricky. Yang ada, kita memang langsung terpana sama ikon tempat itu, kan? Tipsnya sih, jangan cuman gambar gedung yang udah mainstream. Coba cari detail kecil yang unik, misalnya;
- Pola tegel kunci di penginapan Yogya.
- Bentuk piring sate buntel yang legendaris di Solo.
- Arsitektur unik gapura di Cirebon.
Menurut riset psikologi, menggambar secara manual bisa meningkatkan daya ingat kita terhadap suatu kejadian hingga 29% dibanding cuma difoto. Jadi, sketsa kamu itu investasi memori!
Eh gimana.. gimana... yok kita ulik!
Sketsa Meningkatkan Daya Ingat
Nah, bagian ini sebenarnya menarik banget kalau didalamin.
Ada beberapa riset psikologi kognitif yang menunjukkan bahwa ketika kita menggambar secara manual, otak bekerja jauh lebih aktif dibanding saat kita hanya mengambil foto. Salah satu temuan yang sering dikutip menyebutkan bahwa aktivitas menggambar bisa meningkatkan daya ingat terhadap suatu informasi atau kejadian hingga sekitar 29 persen dibanding hanya melihat atau memotret objek tersebut.
Kenapa bisa begitu?
Karena ketika kita menggambar, otak tidak cuma “merekam.” Ia memproses.
Saat memotret, prosesnya relatif instan. Kita arahkan kamera, klik, selesai. Informasi visual memang tertangkap, tapi sering kali hanya tersimpan di galeri, bukan benar benar di memori jangka panjang. Kita merasa sudah menyimpan momen itu, padahal yang menyimpan sebenarnya adalah perangkat, bukan otak.
Sebaliknya, ketika kita menggambar sebuah tempat, wajah, atau situasi, ada beberapa proses yang terjadi sekaligus.
Pertama, kita harus mengamati dengan lebih teliti. Otak dipaksa memperhatikan detail. Bentuk atapnya miring atau datar. Jendelanya berapa. Bayangannya jatuh ke mana. Proses observasi ini sudah menjadi latihan fokus.
Kedua, kita menerjemahkan apa yang dilihat menjadi garis. Di sini terjadi proses encoding yang lebih dalam. Informasi visual diubah menjadi gerakan tangan, koordinasi motorik, dan keputusan artistik. Ini melibatkan area visual cortex, motor cortex, hingga hippocampus yang berperan penting dalam pembentukan memori.
Ketiga, ada unsur seleksi. Kita tidak mungkin menggambar semuanya. Kita memilih apa yang penting. Dan proses memilih itu membuat otak memberi label makna pada objek tersebut. Semakin bermakna sesuatu, semakin kuat ia tertanam di ingatan.
Itulah kenapa setelah menggambar sebuah tempat, kita sering merasa lebih “terhubung” dengannya. Bukan cuma ingat bentuknya, tapi juga suasananya. Anginnya. Suaranya. Bahkan perasaan saat itu.
Dalam psikologi, ini berkaitan dengan konsep deep processing. Semakin dalam kita memproses informasi, semakin besar kemungkinan informasi itu bertahan lama di memori. Menggambar adalah bentuk deep processing karena melibatkan penglihatan, gerakan, emosi, dan interpretasi sekaligus.
Bandingkan dengan memotret sepuluh tempat dalam sepuluh menit. Cepat memang. Tapi sering kali setelah beberapa bulan, kita harus melihat ulang fotonya dulu untuk benar benar ingat momen itu. Bahkan kadang kita lupa kapan persisnya foto itu diambil.
Sketsa berbeda. Karena prosesnya lambat, momen itu ikut melambat di kepala kita.
Bahkan sketsa yang tidak sempurna pun tetap kuat secara emosional. Garis yang miring, shading yang berantakan, atau proporsi yang tidak presisi justru menjadi jejak kehadiran kita di situ. Itu bukan sekadar gambar. Itu bukti bahwa kita benar benar berhenti dan hadir.
Makanya aku selalu merasa, kalau sedang traveling lalu menyempatkan diri menggambar, rasanya seperti sedang menabung kenangan. Bukan dalam bentuk file digital, tapi dalam bentuk pengalaman yang benar benar diproses oleh otak dan hati.
Jadi ketika ada yang bilang sketsa itu cuma coretan biasa, aku justru melihatnya sebagai investasi memori. Karena setiap garis yang kita tarik, sebenarnya sedang mengikat satu momen supaya tidak mudah hilang.Kesimpulannya... bepergian sambil sketching itu ngajarin kita buat slow down. Di dunia yang serba instan ini, goresan tangan di atas kertas itu jadi bukti kalau kita bener-bener "hadir" di sana, bukan cuma numpang lewat buat konten.
Gimana, ada yang suka bawa sketchbook juga pas liburan? Atau baru rencana mau mulai? Coba dong share di kolom komentar, alat gambar apa yang wajib masuk tas kamu!


Komentar
Posting Komentar
TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA BLOG NENG TANTI (^_^)