Parenting dan Pesta Babi, Sebuah Pesta yang Tak Patut Dirayakan
![]() |
| Foto dari Wikipedia |
“Mah, udah lihat belum film dokumenter Pesta Babi yang lagi viral itu?” tanya anakku sambil membuka laptopnya.
Dia memang dari dulu suka ikut diskusi-diskusi kampus, apalagi dulu sempat aktif dan menjabat di BEM Universitas Gunadarma.
Aku yang sedang mengupas mangga cuma menggeleng. “Ya belum lah bang, emang kenapa sih? Kok rame banget? Mama liat potongannya di tiktok banyak banget ya..”
“Karena banyak yang bilang film ini bikin orang jadi mikir ulang tentang banyak hal di Indonesia,” jawabnya serius.
Belum selesai dia bicara, adiknya langsung ikut nimbrung sambil nyeruput kopi. “Di kampus juga lagi banyak dibahas, Mah. Apalagi di circle anak-anak LASKUM dan IMM UMJ. Ada yang ngomong soal demokrasi, masyarakat adat, sampai kebebasan berpendapat.”
Aku tertawa kecil. “Ya ampun… Mama kira kalian ngobrolnya cuma tugas kampus sama outfit.”
“Mama jangan salah,” katanya sambil ngakak. “Anak muda sekarang tuh isi otaknya campur-campur. Habis bahas negara, lanjut bahas skincare.”
“Terus menurut kalian gimana filmnya?” Aku akhirnya ikut penasaran.
Anak pertamaku diam sebentar lalu bilang pelan, “Kadang kita tuh hidup terlalu nyaman ya, Mah. Sampai lupa kalau di luar sana ada banyak orang yang hidupnya nggak seberuntung kita.”
Sedangkan si adik langsung menambahkan, “Makanya penting buat ngerti banyak sudut pandang. Biar nggak gampang nge-judge sesuatu cuma dari potongan video TikTok.”
Obrolan malam itu akhirnya panjang sekali. Dari film dokumenter, melebar ke parenting, sosial media, sampai masa depan Indonesia. Dan entah kenapa, sebagai ibu rumah tangga, aku merasa malam itu bukan cuma sedang ngobrol dengan anak-anak… tapi juga sedang belajar memahami dunia dari cara pandang generasi mereka.
Ketika Isi Kepala Mendadak Penuh dengan Pesta Babi
Aku yang sedang mengupas mangga cuma menggeleng. “Ya belum lah bang, emang kenapa sih? Kok rame banget? Mama liat potongannya di tiktok banyak banget ya..”
“Karena banyak yang bilang film ini bikin orang jadi mikir ulang tentang banyak hal di Indonesia,” jawabnya serius.
Belum selesai dia bicara, adiknya langsung ikut nimbrung sambil nyeruput kopi. “Di kampus juga lagi banyak dibahas, Mah. Apalagi di circle anak-anak LASKUM dan IMM UMJ. Ada yang ngomong soal demokrasi, masyarakat adat, sampai kebebasan berpendapat.”
Aku tertawa kecil. “Ya ampun… Mama kira kalian ngobrolnya cuma tugas kampus sama outfit.”
“Mama jangan salah,” katanya sambil ngakak. “Anak muda sekarang tuh isi otaknya campur-campur. Habis bahas negara, lanjut bahas skincare.”
“Terus menurut kalian gimana filmnya?” Aku akhirnya ikut penasaran.
Anak pertamaku diam sebentar lalu bilang pelan, “Kadang kita tuh hidup terlalu nyaman ya, Mah. Sampai lupa kalau di luar sana ada banyak orang yang hidupnya nggak seberuntung kita.”
Sedangkan si adik langsung menambahkan, “Makanya penting buat ngerti banyak sudut pandang. Biar nggak gampang nge-judge sesuatu cuma dari potongan video TikTok.”
Obrolan malam itu akhirnya panjang sekali. Dari film dokumenter, melebar ke parenting, sosial media, sampai masa depan Indonesia. Dan entah kenapa, sebagai ibu rumah tangga, aku merasa malam itu bukan cuma sedang ngobrol dengan anak-anak… tapi juga sedang belajar memahami dunia dari cara pandang generasi mereka.
Ketika Isi Kepala Mendadak Penuh dengan Pesta Babi
![]() |
| Gambar milik instagram |
Sebagai ibu rumah tangga, memang kadang hidup terasa seperti playlist yang diputar berulang. Bangun pagi, masak, nyuci, beresin rumah, nemenin anak belajar, lalu malam tiba dan besok .... begituuu lagi. Di tengah rutinitas itu, rasanya jarang sekali ada ruang untuk benar-benar berhenti dan berpikir tentang hal-hal besar di luar pagar rumah.
Untunglah dunia kita saat ini kan ngga hanya di dunia nyata, ada dunia maya juga, dan sebagai salah satu IRT yang "si mantengin berita dari tiktok" akhirnya aku nonton juga film dokumenter Pesta Babi yang mendadak viral di mana-mana ini.
Film dokumenter karya Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale ini ramai dibicarakan setelah berbagai acara nobarnya dibubarkan di beberapa daerah. Banyak orang penasaran, sebenarnya film ini tentang apa, sih... sampai reaksinya sebesar itu?
Secara garis besar, Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita mengangkat tentang masyarakat adat Papua, konflik agraria, pembukaan hutan besar-besaran, dan bagaimana kehidupan warga terdampak oleh proyek-proyek besar di tanah mereka sendiri.
Jujur, sebagai ibu rumah tangga, aku pikir ini hanya film “berat” yang mungkin cocok ditonton aktivis atau mahasiswa. Tapi ternyata setelah melihat cuplikan dan membaca berbagai diskusi netizen, aku langsung tertampar hal penting; Kadang yang paling berbahaya bukanlah ketidaktahuan… tapi terlalu sibuk (Ama diri sendiri dan urusan periuk nasi) sampai lupa peduli!
Di media sosial dan forum seperti Reddit, banyak penonton mengaku emosional setelah menonton film ini. Ada yang marah, sedih, bahkan menangis karena merasa baru benar-benar melihat sisi lain Indonesia yang selama ini jauh dari kehidupan sehari-hari mereka.
Aku sendiri, merasa cuplikan filmnya yang melintas di beranda sosmed awalnya tak membuat aku tersentak. Malahan ketika melihat banyak penonton yang menangis...aku sontak berpikir ada yang gak beres!
Sebagai ibu, aku jadi berpikir tentang anak-anak.
Tentang .. ya Allah, ini nih...dunia seperti apa yang kelak sedang kita wariskan ke mereka? (Ini sebenernya tanda tanyanya banyaaaak.. )
Tentang bagaimana nanti anak-anak kita tumbuh di era ketika informasi bisa dibungkam, suara kecil bisa kalah oleh kekuasaan besar, dan manusia kadang terlalu sibuk mengejar pembangunan sampai lupa menjaga kemanusiaan...
Jadi Ibu Itu Sekolahnya Seumur Hidup, Gaes..
Di titik itu aku sadar, ternyata menjadi ibu rumah tangga bukan berarti hidup kita hanya soal dapur dan cucian.
Karena ibu juga adalah “sekolah pertama” untuk anak-anaknya.
Dari situ aku ingat tentang beberapa tips parenting moderen yang pernah aku baca. Coba kalau seorang ibu berhenti belajar "memahami dunia", lalu bagaimana anak-anak bisa tumbuh menjadi manusia yang punya empati?
Di titik itu aku sadar, ternyata menjadi ibu rumah tangga bukan berarti hidup kita hanya soal dapur dan cucian.
Karena ibu juga adalah “sekolah pertama” untuk anak-anaknya.
Dari situ aku ingat tentang beberapa tips parenting moderen yang pernah aku baca. Coba kalau seorang ibu berhenti belajar "memahami dunia", lalu bagaimana anak-anak bisa tumbuh menjadi manusia yang punya empati?
kejauhan mikirnya? oke.. kita sederhanakan ..
Gimana misal anak beranjak dewasa lalu kudu hidup sendiri, bisa nggak dia punya "skill khusus" kayak memasak nasi, bikin mie instan enak, nyapu yang bersih, menyetrika, bahkan sampai ke yang sederhana deh, cara merapikan kamar tidur dan naro baju bekas dipakai di gantungan?
Lanjut ke masalah lain,
pernah liat anak yang jutek saat bertamu di rumah orang atau rewel luar biasa pas lagi jalan ke mall?Pernah liat ada anak yang mendadak sangat pemalu dan ngga bisa diajak ngobrol dengan orang lain?
Aaah banyak deh yang pasti kalian juga tanpa sadar lihat, kan?
![]() |
| Ilustrasi dari Rowan Salah |
back to Pesta Babi yaa..
Inilah kenapa menurutku film seperti Pesta Babi penting, terlepas dari setuju atau tidak setuju dengan isinya. Film ini membuat orang berdiskusi. Membuat orang bertanya. Membuat orang mau mencari tahu lebih jauh.
Dan di era sekarang, kemampuan berdiskusi tanpa jadi saling adu otot dan benci justru jadi tips dan bagian penting parenting modern, right?
Anak-anak zaman sekarang tumbuh di tengah banjir informasi. Mereka bisa melihat berita viral hanya lewat TikTok atau YouTube Shorts dalam hitungan detik. Kalau orang tua tidak hadir untuk membantu mereka memahami mana fakta, mana opini, dan bagaimana melihat masalah dengan empati, maka internet akan mengambil peran itu.
Sebagai orang tua modern, kita mungkin tidak harus selalu punya jawaban untuk semua hal. Tapi kita perlu membiasakan anak untuk berpikir kritis dan berani bertanya.
Misalnya dengan hal sederhana
- mengajak anak berdiskusi,
- mendengar pendapat mereka tanpa langsung memotong,
- mengajari bahwa perbedaan pandangan bukan alasan untuk saling membenci,
- dan menunjukkan bahwa manusia lain (meski tinggal jauh di Papua sekalipun) tetap layak dipedulikan.
Pesta Babi, Sebuah Pesta Yang Hanya Dinikmati Dia, Bukan Kita
“Selama ini… sebenarnya kita sedang hidup di negara seperti apa?”
Yes.. bahkan aku sebagai ibu rumah tangga, ikutan memikirkan hal itu. Pertanyaan-pertanyaan di kepalaku ternyata ikut terbawa sampai ke meja makan, ke kamar anak, bahkan sampai diskusi keluarga kalau misal salah satu sedang scroll media sosial!
At the end , dunia di luar rumah tetap akan mempengaruhi kehidupan anak-anak kita di dalam rumah.
Diskusi publik yang sedang ramai dibahas, sekaligus menjadi pengingat untuk anak (apalagi anakku sudah remaja semua yaa) bahwa seorang ibu pun berhak punya suara, sudut pandang, dan kepedulian terhadap isu sosial di sekitarnya. Terkhusus di sudut pandangku, yang juga sadar kalau anak-anakku semua aktif berorganisasi dan bergerak di BEM.
Kan katanya ibu juga adalah “sekolah pertama” untuk anak-anaknya padahal menurut aku, justru aku belajar banyak hal dari anak-anakku juga...
....
termasuk belajar akronim MBG singkatan dari mas Bahlil ganteng ... (hadeeeh terbayang bayang mulu nih lagunya.. buahliiil buahliiiilll.... )
...
...
skip.
Punya empati tu penting. Nonton berita penting, tapi melihat Mens Rea gak kalah penting.
Film seperti Pesta Babi penting, terlepas dari film dokumenter jujur ini mengundang komen "Astaghfirullah! Kayak gini amat negeriku..."
atau
"Pesta Babi itu dibuat oleh antek asing untuk mempengaruhi pola pikir masyarakat Indonesia!" which is manipulasi politik yang dibiayai asing ..(ini cuplikan kalimat Ade Armando yang ... isi sendiri lah yaaaa ..)
Setuju atau tidak setuju dengan isinya, film ini membuat orang berdiskusi.
Membuat orang bertanya (-tanya).
Membuat orang mau mencari tahu lebih jauh.
Membuat kita ketawa bersama para komika yang nyinyirin para petinggi negara yang ketakutan.
Aku sadar sepenuhnya, sebagai orang tua dengan anak yang lahir di generasi emas, kita mungkin tidak harus selalu punya jawaban untuk semua hal. Tapi kita perlu membiasakan anak untuk berpikir kritis dan berani bertanya.
Hare gene, parenting bukan lagi sekadar memastikan anak makan kenyang dan nilai sekolah bagus.
Aku sadar sepenuhnya, sebagai orang tua dengan anak yang lahir di generasi emas, kita mungkin tidak harus selalu punya jawaban untuk semua hal. Tapi kita perlu membiasakan anak untuk berpikir kritis dan berani bertanya.
Hare gene, parenting bukan lagi sekadar memastikan anak makan kenyang dan nilai sekolah bagus.
Tapi juga tentang membentuk hati mereka.
Dan kita, sebagai orang tua.





Setuju bahwa tugas orang tua bukan hanya memenuhi kebutuhan anak, tetapi juga menemani mereka memahami dunia dengan lebih bijak dan terbuka terhadap berbagai sudut pandang. Sebab di era banjir informasi seperti sekarang, kemampuan berpikir kritis dan berempati menjadi bekal yang sangat penting. Btw, waktu ini aku juga ngobrolin Pesta Babi ini sama anakku, Mbak Tanti.Ternyata jadi tema diskusi panas juga di kalangan teman-temannya.
BalasHapusMasya Allah iya banget Mbak Dian 😄
HapusSekarang tuh tantangannya bukan cuma “melindungi” anak dari dunia luar, tapi juga ngajarin mereka cara mencerna dunia yang makin absurd dan serba cepat ini. Kadang satu isu aja bisa jadi bahan debat satu tongkrongan yaa
Aku nontonnya lebih ke geram, Bu...
BalasHapusApalagi sama pengusaha2 bang**t yang seenak udel membabat hutan, negara yang membeli tanah dengan harga murah, membodoh2i penduduk setempat.
Sungguh diri ini pribadi ikut "mengutuk"
Jadi keinget sudara2 di Aceh yang sampe sekarang terabaikan karena ulah seperti mereka2 ini, serakah betul...
Ataghfirullaah, masih emosi huhuuu
Aku paham banget perasaan Suci 😔
HapusJujur waktu nonton juga ada rasa geram yang susah dijelaskan. Kadang yang bikin sesak bukan cuma pestanya, tapi melihat bagaimana kekuasaan dan uang bisa bikin manusia kehilangan empati. Alam dibabat, masyarakat kecil tersingkir, lalu semuanya dibungkus seolah “normal” dan legal 😢
Dan iya, luka-luka kayak di Aceh atau daerah lain tuh bikin kita sadar kalau ketamakan memang nyata dan dampaknya panjang banget. Wajar kalau emosi ikut naik, karena hati kita masih punya rasa peduli. Tinggal gimana caranya supaya marah itu nggak berhenti jadi umpatan di kepala aja, tapi juga jadi pengingat buat kita tetap waras, kritis, dan manusiawi di tengah dunia yang kadang makin chaos ini ... hiks hiks
Jleb banget baca tulisan ini mbaaa.... Saya yang juga ibu rumah tangga kadang merasa 'terisolasi' oleh tugas domestik.
BalasHapusTapi di sisi lain merasa lebih aman begini daripada harus tau setiap inci pemberitaan di luar sana. Mau aksi tak bisa, malah overthinking.
Setuju banget sepenggal kalimatmu tentang skill anak. Di zaman yang entah gimana membahasakan PR kita sebagai ibu adalah bagaimana mendidik mereka untuk bisa 'survive' utuh baik dengan bekal akademik, skill, dan tentunya moril.
Mbak Minaaa, peluk online dulu sini 🥺🤍
HapusAku rasa banyak ibu diam-diam ada di fase itu… di antara rutinitas domestik yang kelihatannya “biasa aja”, tapi sebenarnya capek mental juga. Kadang rumah terasa aman, tapi sekaligus bikin kita seperti terputus dari dunia luar. Pas terlalu banyak baca berita juga malah kepala jadi penuh dan overthinking ke mana-mana 😭
Dan bener banget, sekarang tuh rasanya tantangan parenting bukan lagi sekadar “anak pintar di sekolah”, tapi gimana caranya mereka tetap punya hati, nalar, skill hidup, dan daya tahan mental buat menghadapi dunia yang makin random ini. PR para ibu sekarang udah level multi-job description banget 😆
Makasih banyak ya Mbak sudah mampir dan cerita juga. Kadang dari obrolan kecil antar ibu begini malah terasa: oh ternyata kita nggak sendirian
Saya belum sempat nonton film ini, karena pinginnya sih nobar supaya bisa diskusi sesudahnya
BalasHapusDulu sering banget saya ikut nobar film2 seperti ini, gak tau kenapa udah lama gak ada
mungkin seperti kata Mbak Tanti, sekarang kita merasa terlalu nyaman dan akhirnya "mager" untuk tahu bahwa kenyamanan kita ternyata berharga mahal
Pemerintah menina bobokan kita
Nah itu dia Ambu :((
HapusFilm kayak gini tuh memang paling “nikmat” kalau habis nonton bisa langsung diskusi panjang sambil ngopi. Karena yang tertinggal bukan cuma ceritanya, tapi rasa nggak nyaman dan pertanyaan-pertanyaan di kepala setelahnya!
Dan aku setuju banget… kadang kita tuh pelan-pelan dibuat terlalu nyaman sampai lupa bertanya, lupa curiga, lupa peduli sama hal-hal di luar gelembung hidup kita sendiri. Tiba-tiba sadar kalau kenyamanan itu ternyata ada “harga” yang dibayar entah oleh alam, masyarakat kecil, atau generasi berikutnya 🥲
Salut banget sama kedua anak mbak yang mau berdiskusi terkait film Pesta Babi. Dan lewat artikel ini aku belajar banyak seputar parenting. Menjadi ibu beneran belajarnya seumur hidup, keren banget emang. Sungkem sama para ortu yang bisa menyelipkan ilmu terkait empati terhadap sesama di era yang makin bikin istighfar karena banyak orang egois yang mementingkan diri dan keluarganya saja.
BalasHapusAduh Mbak Lalaa, aku juga masih belajar bangettt 😭🤍
HapusKadang diskusinya sama anak-anak malah bikin aku ikut mikir ulang dan belajar melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Jadi bukan cuma anak yang belajar dari orang tua, tapi orang tua juga sering “ditampar halus” sama cara pikir anak-anak sekarang 😆
Dan iya sih, menurut aku sekarang tantangan terbesar bukan cuma ngajarin anak jadi pintar, tapi tetap punya empati di tengah dunia yang makin individualis dan serba “yang penting gue selamat dulu.” Susah banget menjaga hati tetap lembut tanpa jadi rapuh
Aku gak kaget saat dapat info bahwa Dandhy Laksono akhirnya membuat film tentang Papua ini. Karena sebelumnya lewat buku Reset Indonesia, beliau sudah menulis tentang "penjajahan modern" di Papua. Gak berapa lama setelah buku tersebut dibicarakan di banyak acara diskusi, berlimpah peserta yang mengusulkan agar bahasan tentang Papua diperdalam lagi. Mungkin inilah yang menjadi obor bagi Dandhy untuk melahirkan film Pesta Babi.
BalasHapusYang pasti Pesta Babi beneran bikin diriku tambah merinding. Penekanan sudah terjadi dan dilakukan oleh tiga Presiden RI dengan dalih bahwa dengan membabat hutan dan menanam kembali kita bisa menciptakan sumber energi baru yang membuat negara kita kaya. Sementara masyarakat setempat jauh dari kesejahteraan. Ah sedih banget kalau mau diulas.
Aku juga langsung kepikiran hal yang sama waktu tahu ini filmnya Dandhy Laksono 😭
HapusKayak ada benang merah dari keresahan-keresahan yang sebelumnya sudah beliau tulis dan suarakan. Dan memang isu Papua tuh rasanya selalu menyisakan ruang diskusi yang panjang, kompleks, dan sering bikin dada sesak kalau benar-benar mau mendengarkan dari sisi manusianya 🥺
Yang bikin merinding memang ketika pembangunan dan “kemajuan” terus digaungkan, tapi masyarakat yang hidup paling dekat dengan tanahnya justru sering terasa paling jauh dari kata sejahtera. Kadang narasi besar soal energi, investasi, atau pertumbuhan ekonomi terdengar megah banget di atas kertas, tapi di lapangan ada hutan yang hilang, ruang hidup yang mengecil, dan suara warga yang perlahan tenggelam 😔
Buatkuuuu (dengan keyakinan saya pribadi ) itu kenapa film seperti ini penting ya… bukan untuk membuat kita merasa paling benar, tapi supaya kita nggak mati rasa dan tetap mau bertanya: siapa sebenarnya yang menikmati hasil pembangunan ini?
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusSemakin canggih teknologi semakin besar tantangan untuk orang tua dalam mendampingi anaknya. Semakin dewasa justru kita semakin khawatir karena anak sudah bisa mengambil keputusan sendiri yg kadang belum tentu sejalan dengan pemikiran orang tuanya. Orang tua juga harus terus belajar ya
BalasHapusMinimal bis kasih pendapat saat anak bertanya atau mulai bimbang
Kalau ortunya gak tahu, bisa2 anak lari ke tempat lain
Bener bangettt
HapusDulu waktu anak masih kecil tuh kita mikir tantangannya cuma soal makan, sekolah, atau kesehatan. Eh pas mereka makin besar, ternyata tantangannya naik level jadi bagaimana mendampingi cara berpikir, cara mengambil keputusan, sampai cara mereka menyikapi dunia yang makin ruwet ini 🥺
Dan iya, sekarang orang tua juga dituntut terus belajar. Karena anak-anak hidup di zaman yang beda banget sama zaman kita dulu. Informasi datang deras, opini berseliweran, belum lagi pengaruh media sosial yang kadang lebih “didengar” daripada suara orang rumah..
Makanya aku setuju banget, minimal anak merasa orang tuanya adalah tempat pulang untuk ngobrol tanpa takut dihakimi. Karena kalau rumah terasa tertutup, mereka pasti mencari jawaban di luar… dan belum tentu dapat tempat yang benar atau aman 🥲
PR parenting sekarang memang nggak main-main yaa, upgrade ilmunya seumur hidup
Aku suka bagian di mana apapun hiruk-pikuk di luar sana bisa kita jadikan bahan diskusi di keluarga. Kemampuan komunikasi efektif untuk bisa berbeda pendapat tanpa debat kusir ini penting banget di tengah seliweran info.
BalasHapusbetul mbak .. kadang aku sengaja diskusi yang viral untuk memberi masukan tentang memahami cara berpolitik dan berpikir anak anak
HapusJujur saya sebagai 'mantan' orang yang sedikt nyicipin dunia pergerakan, pengen juga nonton film ini tapi ga sempet, waktu abis buat mikirin cara dapur sendiri tetap ngebul.
BalasHapusHahahah untuk yang satu ini saya no comment mas Adi. Semua orang juga pasti ingin dapurnya ngebul terus di ruang yang aman yaa... nonton di YouTube saja mas
HapusDaku belum sempet nonton Ma Tanti. Tadinya ada salah satu komunitas menayangkannya buat nobar, dan daku mau daftar film ini. Eh entah gimana ga jadi nobarnya, sayang sih.
BalasHapusRame juga yang membahas tentang ini film.
Intinya sih, kita sibuk boleh ya, tapi tetep urusan politik dalam negeri jangan sampai kita ga paham, minimal ada yang diketahui ya
Sekarang tersedia di YouTube Fenny, bisa diakses seluruh Indonesia tanpa harus nobar.
HapusNobar kan emang dikasih gratis sejak awal juga Untuk membuka ruang diskusi ya tadinya , jadi ketika dilarang ya sekalian aja seluruh Indonesia biar pada nonton. Judulnya tetep Pesta Babi
Pas banget saya belum nonton, jadi kepikiran mau mengajak nonton anak saya yang pra-remaja juga ah. Makasih sudah diulas ya mbak.
BalasHapusSama dengan mbak Fenni, kegiatan nobar di daerah saya sempat dibatalkan penyelenggara, mungkin akibat tekanan pihak tertentu ya
Nah sekalian kak Nisa nonton d YouTube. Untuk di awal sih kita sendiri saja yang nonton duluan biar tahu alurnya dan ngga salah menerangkan ke anak yaa
HapusOya sebaiknya yang sudah REMAJA ke atas aja yaaa.. banyak yang anak pra remaja belum tahu konteksnya
HapusSepakat mbak, jadi orang tua tu proses belajar seumur hidup ya mbak
BalasHapusParenting itu juga soal banyak diskusi dengan anak ya