Seribu Origami, Seribu Doa

Sumber : instagram @melvinsabitul

Jumlahnya tidak main-main: 999 buah. Untuk seorang yang dia sayangi

Linimasa media sosial bergulir di layar ponselku, dan terhenti pada sebuah video berdurasi pendek. Tanpa musik latar yang menghentak, video itu hanya menampilkan jemari seseorang yang tengah telaten melipat lembar demi lembar kertas kecil berwarna-warni, membentuk burung bangau origami.

Awalnya aku cuma mikir, “Wah… niat banget ya.”

Yes, sebagai seorang content creator yang terbiasa melihat berbagai tren visual, cuma itu yang melintas di kepalaku. 

Tapi...
begitu kubaca komentar demi komentar, atmosfer kamar mendadak berubah. 

Hatiku terasa sesak. Di balik 999 origami itu, ada banyak cerita. Ada seribu harapan dan doa yang tak sempat ia sampaikan secara verbal 😢

Seketika aku jadi membayangkan prosesnya.
Seorang gadis yang duduk di kamar, sesekali menyesap kopi di cangkir yang terisi setengah, di spotify terdengar alunan playlist lagu galau atau lagu-lagu mellow favoritnya. Di hadapannya terserak gunting, kertas warna-warni origami, dan lem kertas.

Kubayangkan gadis itu sedang memisahkan kertas origami dari bungkusnya, mengambil sebuah pena, pelahan berpikir dan tersenyum sambil menulis pesan di atas kertas, setelah itu melipatnya menjadi siluet burung bangau yang sayapnya mengepak ke atas...

Lalu ritual itu diulang lagi.
Dan lagi.

Sampai 999 kali.


Fragmen Luka di Balik Toples Kaca

Yang membuat dadaku mencelos adalah saat tahu dengan pasti bahwa origami-origami itu bukanlah lipatan kosong. 

Di dalam perut kertas yang tersembunyi, ada goresan tinta berisi kalimat-kalimat bersahaja: “Semoga harimu menyenangkan,” “Jangan lupa makan,” “Aku bangga sama kamu.” 

Sederhana, ya?

Bahkan mungkin terkesan klise. Tapi justru dari kesederhanaan itulah, kasih sayang yang paling murni biasanya lahir. Cinta tidak selamanya harus bising dalam bentuk barang bermerek dengan harga selangit. Kadang, ia menjelma menjadi sepasang mata yang rela terjaga hingga dini hari, demi melipat doa di atas selembar kertas.

Lalu aku membaca komentar warganet.
Aku berhenti cukup lama untuk scroll komen-komen mereka.
  • Ada yang menulis bahwa dulu ia pernah membuat seribu bintang origami untuk mantannya. Seribu!

    Kertasnya diwarnai sendiri dengan cat air, dipotong secara manual dengan penggaris, dan dimasukkan ke dalam toples kaca yang cantik. Hubungan itu berakhir mengenaskan karena sebuah pengkhianatan...
Nyesek banget kan?
Ada juga komentar lain yang lebih nyesek.
  • Seorang gadis menulis dengan nada getir, ia bilang pernah melipat seribu origami serupa untuk kekasihnya, tentu dengan seribu harapan dan doa. Namun menjelang hari pernikahan sang mantan dengan orang lain, ia memilih menyulut korek api dan membakar seluruh origami beserta decomposes kenangannya hingga menjadi abu.
Jujur, membaca komentar-komentar itu membuatku berpikir lama.
Kadang hidup memang absurd.

Ada orang yang diberi ketulusan luar biasa, tapi tidak tahu cara menghargainya.
Ada orang yang menerima cinta besar, tapi justru menyia-nyiakannya.

...... plot twist, right?

Seni Menghargai Potongan Hidup

What so ever, mungkin cerita tentang 1000 origami ini sebenarnya bukan sekadar kisah romantis. Ini adalah cerita tentang value. 

Tentang siapa yang layak menerima versi terbaik dari diri kita, karena tidak semua orang bisa menghargai ketulusan.

Sebagian orang di dunia memang hanya pandai menerima, tapi belum tentu mampu menjaga. Origami yang diberikan seseorang, apalagi dengan jumlah fantastis,  ibarat seseorang menyerahkan potongan hidupnya, waktu yang tidak akan pernah bisa diputar kembali, serta emosi yang ditenun di setiap lekukan kertas.

Perasaan yang dititipkan di setiap lipatan, semua itu punya nilai.

Kalau kamu pernah ada di posisi itu, memberikan sesuatu dengan tulus, tapi akhirnya tidak dihargai... aku tahu rasanya pasti nggak mudah.

Sedih. Kecewa. Marah.

Bahkan mungkin sempat bertanya:

“Kenapa ya aku harus sebaik ini ke orang yang salah?”

Namun, ada satu sudut pandang objektif yang menenangkan. Saat jemari kita menggoreskan kalimat-kalimat baik di atas kertas-kertas doa itu, sejatinya doa tersebut tidak pernah salah alamat. 

Energi baik tidak pernah menguap sia-sia ke udara. Ketika kamu menulis, "Semoga kamu bahagia," getaran positif itu ikut hidup dan menetap di dalam dirimu sendiri.

Doa-doa itu akan kembali pulang. Mungkin bukan lewat pintu yang sama, dan pasti bukan lewat orang yang telah membuangnya. Ia akan kembali dalam wujud takdir yang jauh lebih santun dan megah.



Langit yang Selalu Lebih Luas dari Bintang

Kuharap gadis yang komen dan membuat 1000 bintang itu sadar. Origami 1000 bintang itu bukan tentang seberapa besar cinta. Tapi tentang menunjukkan siapa yang pantas menerima cinta tersebut.

Semoga saja ia belajar, kalau "Oh… ternyata manusia ini worth-nya cuma segitu."

Karena kehilangan orang yang tidak bisa menghargaimu bukanlah kerugian terbesar. Kerugian terbesar justru kalau kamu terus bertahan pada orang yang salah.

Ada satu pemikiran yang terus terlintas di kepalaku.

Bagaimana kalau 1000 origami itu sebenarnya bukan akhir cerita?
Bagaimana kalau itu justru bagian dari proses menuju sesuatu yang lebih besar?

Jika manusia yang kita tangisi hanya mampu melihat nilai diri kita sebatas toples kaca berisi lipatan bintang kecil, mungkin itu cara semesta memberi tahu bahwa ruang kita memang bukan di sana..

Bukan sekadar segenggam bintang-bintang kecil di dalam toples.
Tapi langit biru yang luas, lapang, teduh, tanpa batas...

Langit itulah yang kelak akan menaungi seluruh bintang-bintangmu yang sesungguhnya.


PS. Note to myself, too…

Emang ya, hidup nggak selalu ngasih kita segenggam berlian setiap hari. 

Kadang yang datang justru hal-hal yang bikin hati retak sedikit ... kecewa, kehilangan, atau rasa capek karena pernah memberi terlalu banyak pada orang yang ternyata nggak tahu cara menghargai. 

Tapi, Neng… kalau hari ini masih ada sisa luka karena semua itu, ingat ya: jangan pernah menyesal sudah tulus. Jangan malu pernah sayang sepenuh hati. Ketulusan itu nggak pernah murahan, apalagi memalukan. 

Justru di zaman yang serba instan begini, hati yang masih bisa tulus itu mahal. Sangat mahal. Yang salah bukan caramu mencintai. Kamu cuma sempat meletakkan hati di tempat yang belum tepat. 

Alhamdulillaah terbukti saat ini, bahwa yang dulu "kupikir tepat" the one and only Prince of Charming adalah bukan untukku! 

Aku ternyata dipertemukan dengan langit, yang tak pernah kusangka warnanya sangat biru, teduh dan menenangkan...
Untuk si pembuat seribu origami bintang… 
semoga suatu hari nanti kamu dipertemukan dengan seseorang yang nggak cuma melihat dirimu sebagai si pembuat kertas lipat atau hadiah lucu.

Tapi seseorang yang paham, bahwa di balik setiap lipatan ada doa yang kamu panjatkan, ada harapan yang kamu simpan rapat-rapat, ada cinta yang tumbuh dari hati yang sungguh-sungguh. 

Gaes, yuk kita ngobrol di Kolom Komentar!

Kalian pernah nggak, berada di fase memberikan usaha terbaik (maximum effort) untuk seseorang, baik dalam bentuk perhatian, barang buatan sendiri, atau waktu, namun akhirnya harus berlapang dada karena tidak dihargai? 

Bagaimana cara kalian menyembuhkan luka dan kembali melangkah setelah momen itu?

Komentar

Postingan Populer