Ketika Hidup Terlalu Sibuk, Bahkan untuk Sekadar Menulis Blog


Beberapa minggu terakhir ini rasanya hidupku sedang berlari dengan kecepatan tinggi. Ada saja kegiatan yang harus dihadiri, pekerjaan yang mesti diselesaikan, sampai urusan rumah tangga yang tentu nggak bisa ditinggalkan begitu saja!

Sampai-sampai, blog yang biasanya jadi tempatku melarikan diri dan bercerita justru ikut terbengkalai.

Bukan karena kehabisan ide, apalagi kehilangan niat buat menulis. Justru ada banyak banget hal yang berkecamuk di kepala dan ingin kuceritakan. Masalahnya, waktu untuk duduk tenang, membuka laptop, lalu merangkai kata-kata seolah mendadak jadi barang langka.

Jadi ingat salah satu tulisan mbak Dian Restu, suhu nge-blog nih,  
Ketika Blogger Kehabisan Ide, Haruskah Memaksakan Diri Menulis?


Begitulah hidup, ya. Kadang kita punya segudang cerita, tetapi terlalu sibuk menjalaninya sampai lupa menuliskannya.

Kalau ditengok ke belakang, beberapa minggu ini memang cukup padat. Mulai dari keasyikan ikut pelatihan demi pelatihan, kesibukan menjelang wisuda si anak lanang, sampai satu proyek ilustrasi yang akhirnya terpaksa kulepaskan karena badan ngasih sinyal "tolong istirahat."

Yuk, kita ceritakan satu per satu.

1. Pelatihan demi Pelatihan: Sadar Kalau Kita Nggak Pernah Terlalu Tua untuk Belajar


Belakangan ini, aku lagi semangat-semangatnya ikut kegiatan komunitas UMKM Kabupaten Tangerang. Sempat beberapa kali ikut bazar, ketemu sesama pelaku usaha, sekaligus nambah ilmu baru soal bagaimana merintis dan membesarkan bisnis di era digital.

Awalnya, kukira kegiatan ini bakal berkutat seputar jualan, cara promosi, atau gimana supaya dagangan makin dikenal orang. Ternyata, materinya jauh lebih luas dari itu.

Mulai dari belajar pembukuan Falah, bikin QRIS biar transaksi gampang, sampai strategi digital marketing dan pemanfaatan berbagai tools digital. Nggak ketinggalan, Canva, Pixabay, sampai Lynk.id jadi bagian materi yang kami bedah bersama.

Buat aku yang sehari-hari akrab dengan dunia tulis-menulis, ilustrasi, dan konten digital, materi-materi ini rasanya relatable banget. Apalagi aku memang lagi getol mengembangkan produk-produk digital untuk storefront online.

Selama ini, aku pakai Canva buat desain, Pixabay buat nyari referensi visual, dan Lynk.id buat jualan. Tapi, ketika semuanya dipelajari lewat sudut pandang bisnis yang lebih terstruktur, rasanya seperti menemukan kepingan puzzle yang hilang.

Ternyata, bikin karya atau produk saja nggak cukup. Kita juga harus paham cara menghitung HPP, mengelola keuangan, ngebaca pasar, sampai membangun sistem penjualan yang rapi.

Banyak banget, ya? Tapi justru di situlah serunya.

Kadang kita merasa sudah cukup tahu, lalu ketemu ilmu baru yang bikin kita sadar: wah, ternyata duniaku seluas ini, masih banyak yang belum kukulik!

Rangkaian pendampingan dan pelatihan ini rencananya masih terus berjalan sampai akhir November 2026. Jangan ditanya berapa PR-nya yaa! Artinya, masih ada banyak ruang buat belajar, nanya-nanya, dan siapa tahu nemuin peluang baru yang sebelumnya nggak pernah kepikiran.

Dari sini, aku makin yakin: usia bukan alasan buat berhenti belajar. Selama masih ada kesempatan, kenapa nggak dicoba? Siapa tahu, dari satu ilmu sederhana yang dipelajari hari ini, kelak ada pintu rezeki baru yang terbuka.

2. Wisuda Si Anak Lanang: Babak Baru untuk Dio



Di tengah jadwal pelatihan dan setumpuk to-do-list pekerjaan, ada satu momen keluarga yang nggak mungkin dilewatkan: wisuda anak pertama kami, Thoriq Dio.

Kalau dilihat sekilas dari luar, acaranya mungkin terlihat sederhana. Datang, duduk mengikuti prosesi, foto-foto, lalu pulang membawa kenangan.

Tapi, di balik satu hari yang terasa manis itu, ada proses panjang yang dikerjakan diam-diam.

Jadiii ..  momen kelulusan si abang  ini berada di fase yang lumayan bikin deg-degan. Urusan skripsi ini memang tenggat waktunya mepet, karena Dio mengerjakan skripsi pas 3.5 tahun lebih dan dia menyambi juga jadi ass.lab fotografi di Univ Gunadarma, sambil (SAMBIL!!) magang lagi di tempat lain, 
sementara dosen pembimbingnya ada di Depok dan kampusnya di kawasan Karawaci, Tangerang. 

Di waktu bersamaan, dia juga diterima lagi dan sudah harus menjalani magang di DIBIMBING yang punya seabrek agenda corporate training di berbagai tempat.

Sebagai orang tua, tentu kami ingin memberikan dukungan terbaik. Memastikan semua kebutuhan skripsinya beres, urusan logistik kecil aman, dan mentalnya siap menghadapi hari-hari krusial tersebut.

Rasanya campur aduk. Ada lega, bangga, sekaligus terharu melihat anak yang dulu masih sering ngintip di balik pintu kamar sambil ngenyut jempol ini, kini sudah menapaki salah satu gerbang kedewasaan.

Menjadi orang tua ternyata memang seperti itu. 

Kita ikut lelah memikirkan banyak hal, ikut cemas saat mereka jatuh, dan ikut terbang tinggi saat mereka berhasil melewati satu rintangan.

Dan ketika hari wisuda itu akhirnya tiba, semua kepayahan di jalan mendadak lunas terbayar. Rasanya sah jadi bagian dari cerita yang layak dikenang.

Selamat melangkah ke babak berikutnya, Bang Dio. Semoga perjalananmu ke depan makin matang, penuh berkah, dan selalu dimudahkan di setiap langkahnya.

Sebagai ibu, aku tentu berharap jalannya selalu mulus. Tapi aku juga belajar, tugas orang tua bukanlah menyingkirkan semua batu di jalannya, melainkan mendampingi mereka agar tumbuh jadi pribadi yang tangguh menghadapi dunianya sendiri.

3. Ketika Deadline Terlewat: Menerima Realita Kalau Rencana Punya Jalannya Sendiri


Nah, kalau dua cerita di atas penuh warna kebahagiaan, ada satu hal lain yang sempat meninggalkan sedikit rasa mengganjal di dada.

Aku terpaksa melewatkan deadline ilustrasi para kontributor untuk buku Meretas Batas Menembus Dunia dari PAPI. Untung cover dan lainnya udah dari jauh hari aku siapkan :(( jadi ya udah setengah dari job itu yang kuterima.

Alhamdulillaaah ... (masih sangat bersyukur karena baru sadar, uangnya untuk syukuran Dio esokharinya!) tuh kaaan Allaah Maha Baik!


Padahal, kesempatan itu berharga banget buatku. Sebagai seseorang yang mencintai dunia literasi dan seni visual, bisa berkontribusi di sebuah antologi buku adalah sebuah kebanggaan tersendiri. Ada kepuasan batin saat karya kita bisa ikut meramaikan sebuah karya besar.



Tapi, kenyataan berkata lain.

Aku jatuh sakit sepulang dari Bandung, usai menghadiri silaturahmi keluarga besar Bang Dho. Awalnya rencana kami simpel : cukup Bang Dho saja yang berangkat. Tapi karena keluarga besar ingin kami datang lengkap seluarga, akhirnya kami berangkat bersama.


Senang? Jelas banget. 

Kapan lagi bisa berkumpul hangat dengan keluarga besar? Ada momen-momen kebersamaan yang nilainya jauh melampaui apa pun.

Hanya saja, tubuhku punya batas. Sepulang dari sana, badanku langsung tumbang. Di titik itu, aku dihadapkan pada pilihan: memaksakan diri menyelesaikan ilustrasi demi deadline, atau menyerah pada keadaan dan membiarkan tubuh beristirahat.

Kesehatan akhirnya menang, tapi deadline terlewat.

Jujur, ada rasa kecewa. Ada rasa bersalah sama mbak Annie, karena melewatkan kesempatan yang sudah di depan mata, padahal niat dan bayangan hasilnya sudah ada di kepala.

Namun, semakin direnungkan, aku sadar: hidup ini bukan tentang kita yang bisa mengendalikan segalanya.

Aku bisa menyusun jadwal rapi, membuat timeline kerja yang ketat, dan berusaha disiplin. Tapi aku nggak punya kuasa penuh atas kesehatan fisik atau hal-hal tak terduga yang datang tiba-tiba.

Bukannya menoleransi kemalasan, ya. Aku tetap harus belajar manajemen waktu yang lebih baik dan mengenali kapasitas diri. Hanya saja, aku nggak mau terus-menerus menghukum diri sendiri atas hal-hal yang di luar kendali.

Ada pelajaran yang bisa dipetik, ada ruang untuk memaafkan diri sendiri. Semoga di lain waktu, saat kesempatan itu datang lagi, aku sudah dalam versi yang lebih siap, baik dari segi waktu maupun fisik.

Pada Akhirnya, Aku Tetap Bahagia

Aku memilih bahagia.

Setelah badai kesibukan itu sedikit mereda, aku bisa kembali menarik napas dengan lega.


Beberapa minggu terakhir ini ibarat lemari pakaian yang pintunya susah ditutup karena terlalu penuh. Ada ilmu baru dari pelatihan UMKM, kebanggaan melihat wisuda anak, deadline yang setengah lepas dari genggaman, hingga tubuh yang minta rehat.

Tapi perlahan-lahan, semuanya mulai kembali ke tempatnya masing-masing. Seperti kepingan puzzle yang tadinya berantakan di atas meja, kini membentuk satu gambar utuh.

Aku jadi sadar: nggak semua hal harus selesai dalam waktu bersamaan. Nggak semua kesempatan yang terlewat berarti akhir dari segalanya. Dan nggak semua rencana yang meleset adalah sebuah kegagalan.

Kadang, kita memang cuma perlu berhenti sejenak, melepas lelah, dan menikmati prosesnya. Jadi kepikiran, gimana ya kalo jadi travel blogger yang schedule-nya ngelewatin kesibukan Mayor Teddy.. *eeh

Blog ini mungkin sempat sepi beberapa minggu kemarin. Tapi sekarang kalian tahu alasannya. Aku bukan kehabisan bahan cerita, melainkan terlalu sibuk menjalani cerita itu sendiri.

Dan hari ini, aku kembali ke sini untuk menuangkannya dalam tulisan.

Alhamdulillah, apa pun bentuk dinamikanya, aku tetap bahagia. Bukan karena semuanya berjalan sempurna, melainkan karena aku mulai berdamai dengan kenyataan bahwa hidup memang sepaket: ada tawa, ada lelah, ada bangga, dan ada pula jeda yang mengajarkan kita arti sabar.

Semoga setelah tulisan ini, aku bisa kembali menyapa kalian di lembar-lembar cerita berikutnya secara lebih rutin.

Sampai jumpa di catatan kaki kehidupan selanjutnya!

Komentar

Postingan Populer