SELINGKUH = KETIKA MIMPIMU TAK SAMA DENGAN MIMPIKU

Lagu instrumental dari laptop menderum pelan, membelah hening kamar yang mendadak terasa terlalu lapang.

Jemari Gev mendadak membeku di atas papan ketik. Tatapannya terkunci pada pendar layar kaca di hadapannya—sebuah tab peramban terbuka, menampilkan deretan artikel review kabin business class, rekomendasi hotel berbintang, dan kafe-kafe estetik di belahan dunia yang bahkan belum pernah ia pijak.

Di samping laptopnya, tergeletak sebuah buku besar bersampul tebal yang sudut-sudutnya mulai mengelupas. Isinya bukan jajaran tiket pesawat mahal atau voucer menginap mewah, melainkan lembaran kliping sederhana: potongan majalah tua, tempelan peta jalanan, dan foto-foto toko buku bekas dari negara-negara jauh yang saban malam ia impikan.

Mimpi Gev sederhana, tapi nyata. Sementara mimpi di layar itu… begitu megah, begitu menyilaukan, tapi melukai.

Kamu tak nyata, batin Gev, menatap pantulan dirinya sendiri di layar yang gelap. Kamu hadir untukku, tapi kamu bukan milikku. Kamu ada di sini, tapi kamu tak pernah setia.

Satu bulir bening menetes perlahan di sudut matanya, jatuh menimpa permukaan meja kayu. Cairan hangat itu seolah menyimpan jutaan kata yang tak sanggup terucap. Orang bilang, jatuh cinta itu indah. Namun buat Gev, jatuh cinta adalah proses menguliti diri sendiri secara perlahan demi menyesuaikan bentuk dengan orang lain. Dan pada akhirnya, orang yang paling kau cintai memang belum tentu bisa kau miliki sepenuhnya—terutama jika jiwanya sudah tertambat pada hal lain.

Bukan sekali ini Gev terpaksa berpura-pura tuli. Hampir setiap pekan, adegan yang sama terus berulang.

Fia yang selalu pamit hang out hingga larut malam demi mencari riuh yang tak bisa ia temukan di rumah. Diasti yang pelan-pelan menyesap gelase demi gelas alkohol di bar remang, melarikan diri dari kenyataan. Serta Henidar yang memilih menenggelamkan diri dalam tumpukan pekerjaan kantor tanpa kenal waktu.

Orang-orang di luar sana mungkin berpikir mereka sedang menyimpan seseorang di belakang pasangan masing-masing. Tapi Gev tahu kebenarannya. Mereka tidak sedang membagi hati dengan manusia lain.

Mereka cuma sedang selingkuh dengan mimpi mereka sendiri.

Selingkuh tak selalu tentang hadirnya orang ketiga, pelukan rahasia, atau pesan-pesan gelap di tengah malam. Pintu perselingkuhan paling menyakitkan justru terbuka saat dua orang yang tidur di bawah atap yang sama sadar: mimpiku dan mimpimu tak lagi berjalan ke arah yang sama. Rasanya perih luar biasa ketika seluruh harapan yang kau bangun dengan susah payah, ternyata hanya menjadi beban bagi orang yang kau sayangi.

Gev mengusap air matanya, lalu perlahan menutup laptop di hadapannya dengan lembut. Pendar layar padam seketika, menyisakan buku kliping kusamnya di bawah pendar lampu meja.

Telepon genggamnya berdering pendek. Satu pesan masuk dari orang yang paling ia rindukan sekaligus paling ia takuti keberadaannya saat ini.

“Gev, aku baru aja booked tiket business class ke Iceland buat kita berdua bulan depan. Surprise! Kamu pasti suka, kan?”

Dada Gev mendadak teremas hebat. Napasnya tertahan di tenggorokan.

Bukan. Bukan karena ia bahagia. Melainkan karena ia baru saja menyadari satu hal yang menghancurkan seluruh dunianya:

Selama ini, ia selalu mengutuk Fia, Diasti, dan Henidar yang sibuk "selingkuh" memburu mimpi mereka sendiri. Ia selalu merasa menjadi korban yang paling setia, yang paling bertahan, yang paling terluka karena mimpinya tak pernah dihargai.

Namun tepat di detik itu, saat menatap pesan di layarnya, Gev akhirnya paham. Pasangannya tidak pernah berniat mengabaikannya. Pasangannya justru sedang berjuang setengah mati mewujudkan mimpi untuk membahagiakan Gev—berburu tiket, bekerja keras demi fasilitas terbaik, menata masa depan yang ia kira adalah impian mereka bersama.

Ternyata, orang yang selama ini diam-diam "selingkuh" dari hubungan itu… adalah Gev sendiri.

Gev-lah yang selama ini memeluk erat mimpi sederhananya di dalam hati, menolak untuk sejajar, dan melarikan diri ke dalam buku kliping kusamnya—sambil perlahan-lahan membenci orang yang justru sedang mencintainya dengan cara terbaik yang ia bisa.

Komentar

Postingan Populer