Wednesday, October 9, 2013

DIKSI Dari Sudut Pandangku




 D. I. K. S. I

Sumber : 123rf.com
           Beberapa kali saat menulis, aku terpergok dengan kata yang satu ini : Diksi. Selama ini aku pikir, MENULIS itu ya bermain dengan kata - quote - potongan syair lagu gitu ^_^ ternyata..oh ternyata.. ada yang namanya dialog, EYD (tanda baca dan kawan-kawan), atribusi dan diksi.

PENGERTIAN DIKSI

           Diksi adalah pilihan kata. Maksudnya, kita memilih kata yang tepat untuk menyatakan sesuatu. Kan tidak mungkin, saya nulis berulang kali dengan kalimat yang sama! Misalnya?

Ia memasak sayur untuk makan siang.
 
Bandingkan dengan :
 
Racikan irisan tomat, selada dengan siraman saus mayones itu ia hidangkan dengan riang selewat tengah hari.
Salad  : Avocado and corn salad 
        Terasa 'kaya' yaa. Ini semua tak lepas dari kecermatan dalam melukiskan banyak hal di sekeliling kita. Bisa dibantu juga dengan rajin melihat kamus, ensiklopedia atau jaman sekarang ini ; wikipedia, hooraay!
 
          Kata yang tepat akan membantu seseorang mengungkapkan dengan tepat apa yang ingin disampaikannya, baik lisan maupun tulisan di waktu yang tepat pula. 

          Dengan kata lain, kalau perbendaharaan dan kosa kata kita banyak, kita bisa langsung menentukan kalimat apa yang harus diucapkan atau dituliskan saat itu.

PENGERTIAN DIKSI DARI WIKIPEDIA

          Diksi dalam arti aslinya dan pertama, merujuk pada pemilihan kata dan gaya ekspresi oleh penulis atau pembicara. 

          Arti kedua, arti "diksi" yang lebih umum digambarkan dengan enunsiasi kata - seni berbicara jelas sehingga setiap kata dapat didengar dan dipahami hingga kompleksitas dan ekstrimitas terjauhnya. Arti kedua ini membicarakan pengucapan dan intonasi, daripada pemilihan kata dan gaya.

         Analisis diksi secara literal menemukan bagaimana satu kalimat menghasilkan intonasi dan karakterisasi, contohnya penggunaan kata-kata yang berhubungan dengan gerakan fisik menggambarkan karakter aktif, sementara penggunaan kata-kata yang berhubungan dengan pikiran menggambarkan karakter yang introspektif. 

         Diksi terdiri dari delapan elemen: Fonem, Silabel, Konjungsi, Hubungan, Kata benda, Kata kerja, Infleksi, dan Uterans.

Fonem adalah sebuah istilah linguistik dan merupakan satuan terkecil dalam sebuah bahasa yang masih bisa menunjukkan perbedaan makna. Fonem berbentuk bunyi.

        Misalkan dalam bahasa Indonesia bunyi [k] dan [g] merupakan dua fonem yang berbeda, misalkan dalam kata "cagar" dan "cakar". Tetapi dalam bahasa Arab hal ini tidaklah begitu. Dalam bahasa Arab hanya ada fonem /k/.

Suku kata atau silabel (bahasa Yunani: συλλαβή sullabē) adalah unit pembentuk kata yang tersusun dari satu fonem atau urutan fonem. Sebagai contoh, kata wiki terdiri dari dua suku kata: wi dan ki. Silabel sering dianggap sebagai unit pembangun fonologis kata karena dapat memengaruhi ritme dan artikulasi suatu kata.

Konjungsi gramatical yaitu kata sambung


Nomina atau kata benda adalah kelas kata yang menyatakan nama dari seseorang, tempat, atau semua benda dan segala yang dibendakan. Kata benda dapat dibagi menjadi dua: kata benda konkret untuk benda yang dapat dikenal dengan panca indera (misalnya buku), serta kata benda abstrak untuk benda yang menyatakan hal yang hanya dapat dikenal dengan pikiran (misalnya cinta).

       Selain itu, jenis kata ini juga dapat dikelompokkan menjadi kata benda khusus atau nama diri (proper noun) dan kata benda umum atau nama jenis (common noun). Kata benda nama diri adalah kata benda yang mewakili suatu entitas tertentu (misalnya Jakarta atau Ali), sedangkan kata benda umum adalah sebaliknya, menjelaskan suatu kelas entitas (misalnya kota atau orang).

Verba atau kata kerja (bahasa Latin: verbum, "kata") adalah kelas kata yang menyatakan suatu tindakan, keberadaan, pengalaman, atau pengertian dinamis lainnya. Jenis kata ini biasanya menjadi predikat dalam suatu frasa atau kalimat. Berdasarkan objeknya, kata kerja dapat dibagi menjadi dua: kata kerja transitif yang membutuhkan pelengkap atau objek seperti memukul (bola), serta kata kerja intransitif yang tidak membutuhkan pelengkap seperti lari.

Infleksi afiks sebagai alat pembentuk kata. Dari kajian pola-pola tata kerja inilah akan didapati dua buah jenis afiks yang berbeda, yaitu afiks-afiks infleksional dan afiksafiks derivasional (Brinton 2000: 78). Afiks infleksional adalah afiks yang mampu menghasilkan bentuk-bentuk kata yang baru dari leksem dasarnya.
(http://pusatbahasaalazhar.wordpress.com/artikel-bahasa/kajian-morfologi-infleksi-dan-derivasi-dalam-perspektif-edi-subroto/)
 
Uterans-belum ada padanan katanya, tapi arti harfiahnya sih 'sisi dalam' ^_^

Nah, sebagai penutup saya selipkan beberapa diksi keren Dewi Dee Lestari yang saya ambil dari blogwalking di http:www.anneadzkia.com 


Dongeng Perempuan muda itu benar. Dirinya bukan malaikat yang tahu siapa lebih mencintai siapa dan untuk berapa lama. Tidak penting. Ia sudah tahu. Cintanya adalah paket air mata, keringat, dan dedikasi untuk merangkai jutaan hal kecil agar dunia ini menjadi tempat yang indah dan masuk akal bagi seseorang. Bukan baginya. Cintanya tak punya cukup waktu untuk dirinya sendiri. Tidak perlu ada kompetisi di sini. Ia, dan juga malaikat, tahu siapa juaranya. (Malaikat Juga Tahu – Dee)
 
Aku tidak tahu kemalangan jenis apa yang menimpa kamu, tapi aku inginpercaya ada insiden yang cukup dasyat di dunia serba seluler ini hingga kamu tidak bisa menghubungiku. Mungkinkah matahari lupa ingatan lalu keasyikan terbenam atau terlambat terbit? Bahkan, kiamat pun hanya bicara soal arah yang terbalik, bukan soal perubahan jadwal. (Selamat Ulang Tahun – Dee)

Ingin rasanya aku ikut berlari, berteriak agar kau kembali, mencengkeram bahumu agar kau tahu aku ada di sini. Namun, bahasaku tinggal rasa. Dan entah bagaimana caranya agar rasa bisa bersuara jika raga tak lagi ada. Aku hanya ingin merengkuhmu. Adakah engkau tahu? Aku ada. Setahun sudah sejak kau mencatat tanggak kepergianku, dan memang aku tak perneh kembali dalam bentuk yang kau harapkan. Namun, adakah engkau tahu? Aku masih ada. Meski mendapatkanmu seperti lawatan ke museum tempat segala keindahan dikurung etalase kaca hingga berlapis saat disentuh, aku tetap merasa utuh. (Aku Ada – Dee)


Aku menatapnya sambil meratap. Tolong aku. Dunia tidak lagi sama. Hidup ini menjadi asing. Aku sedih untuk sesuatu yang tak kutahu. Aku galau untuk sesuatu yang tak ada. Dan jari ini ingin menunjuk sesuatu yang bisa menjadi sebab, tapi tak kutemukan apa-apa. Pada saat yang sama, seluruh sel tubuhku seperti berkata lain. Mereka tahu sesuatu yang tak dapat digapai pikiran. Apa rasanya, jika tubuhmu sendiri menyimpan rahasia darimu? (Firasat – Dee)


Aku tak pernah tahu ke mana aku saat kutidur. Aku tak pernah tahu ke mana orang-orang pergi saat mereka tidur. Yang kutahu, kita tiba di suatu tempat. Kita bahkan tidak mengerti mengapa dan bagaimana kita bisa di sana. Sementara yang kita lakukan hanyalah memejamkan mata. (Tidur—Dee)

Cintanya adalah paket air mata, keringat, dan dedikasi untuk merangkai jutaan hal kecil agar dunia ini menjadi tempat yang indah dan masuk akal bagi seseorang. Bukan baginya. Cintanya tak punya cukup waktu untuk dirinya sendiri. Tidak perlu ada kompetisi di sini. Ia, dan juga malaikat, tahu siapa juaranya. (Malaikat Juga Tahu – Dee)
 
Ingin rasanya aku ikut berlari,berteriak agar kau kembali,mencengkeram bahumu agar kau tahuaku ada di sini. Namun, bahasakutinggal rasa. Dan entah bagaimanacaranya agar rasa bisa bersuara jikaraga tak lagi ada. Aku hanya inginmerengkuhmu. Adakah engkau tahu?Aku ada. Setahun sudah sejak kaumencatat tanggak kepergianku, danmemang aku tak perneh kembalidalam bentuk yang kau harapkan.Namun, adakah engkau tahu? Akumasih ada. Meski mendapatkanmuseperti lawatan ke museum tempatsegala keindahan dikurung etalasekaca hingga berlapis saat disentuh,aku tetap merasa utuh. (Aku Ada -Dee)

No comments:

Post a Comment

Thanks sudah mengunjungi blog Neng ya, sahabat ^_^