Friday, January 31, 2014

::: Ibu Sayang Kamu :::

|Desember 2013 | Penulis : Irma Irawati | Ilustrasi : Agus Willy K |
| Tata Letak Isi : Adibintang@Creasi | Pewajah Sampul : Doni Ramdhoni |
| Penyunting : Imran Laha & Siti Rahmiyah|
| Penerbit : Adibintang - Zaytuna Ufuk Abadi | ISBN : 978-602-1254-57-6 |
| Harga Rp. 57.000,00 | 120 Hal |
|Peresensi : Tanti Amelia @nengdiary.blogspot.com|



K
umpulan kisah nyata ini dibuka dengan pertanyaan. Mengapa seorang gadis cilik dari keluarga berada menganggap sebuah telepon genggam bekas adalah hadiah ulang tahun istimewanya? Ada apa dengan benda itu?  

Kisah demi kisah tentang pengorbanan, kasih sayang dan ketulusan hati Ibu pun terkuak satu per satu. 

Hari itu, Jendral Su Hwan mengikuti kata hatinya saat menjadi seorang relawan di sebuah kota yang terguncang gempa hingga porak poranda. Sesudah dua hari menyisir reruntuhan, ia menemukan seorang ibu yang duduk dengan posisi tubuh mengunci rapat tangan, seperti melindungi sesuatu. Betapa terperanjatnya ketika diketahui ia tengah menyusui bayinya yang mungil! Sang ibu muda juga mengetikkan kalimat terakhir di telepon genggamnya : 

Anakku sayang, jika kau hidup, ingatlah ini,
Mama akan selalu mencintaimu.

Doa? ya, doa. 
Seorang Ibu tak melindungi anak-anak dengan fisiknya saja. Untaian doa juga. Karenanya, sebuah buku harian mencatat dalam kebisuan tentang sebuah penantian panjang, sekaligus tragedi yang menimpa anak tersayang ketika lehernya terjerat kain gorden dan harus dilarikan ke NICU.  Semua disikapi dengan doa. Ikhlas.

“Ya Allah, sedikit sedekah ini mungkin tak berharga di mataMu. 
Namun, aku memberikannya setulus hati. 
Aku berharap ketulusan ini akan mengetuk pintu kasih sayangMu. Berilah hidup serta kesehatan pada putraku tercinta.”

Buku yang indah ini juga dihiasi oleh banyak ilustrasi oleh Agus Willy K yang menggambarkan kedukaan, kegembiraan, harapan sekaligus ketegaran. Kita diajak melihat jalur jalan raya luar kota yang lengang dan gelap dari kacamata putri kedua. Ia menuliskannya dalam kisah Ibuku, Ibu Kangguru.  Ibu harus menyetir kendaraan dengan satu tangan menggendong si bungsu yang terlelap. Ia terpaksa melakukan itu karena putera pertama mondok di pesantren.

    Dan dekapan Ibu-lah yang paling aman, 
untuk adikku yang masih kecil. 
Selamat berjuang Ibu, aku akan selalu di sisi Ibu. 
Menemani di saat perjalanan berat ataupun ringan.

Kasih Ibu benar-benar tak mengenal batas. Jika yang lain diberi kekuatan untuk menerima seorang anak piatu bernama Ibam, Ibu yang lain mendapat anugerah berupa seorang anak yang terlahir cacat ganda akibat virus rubella. Tapi Ibu tak berkecil hati, malah bertekad akan memberi setiap langkah untuk sang putera tercinta. Dengan langkah berkekuatan seribu kuda!

Subhanallah..
Cinta Ibu bergerak di semua lini. Ia menjadi kuat demi anak-anaknya. Dan ia juga menjadi sumber kekuatan buat anak-anaknya. Dan itu berarti… pengorbanan..

Ibu tahu, putrinya akan bangga memakai baju baru di depan keluarga dan teman-teman di Hari Raya, sehingga Ibu tak mempedulikan sakit gigi. Ibu juga tahu bahwa ia harus berjuang ketika melahirkan, sehingga menurut pada setiap kata dari bidan yang mendampingi. Dan semua itu mereka tebus dengan nyawa mereka.

Ibu adalah pejuang. Ia berlari di dalam kobaran api, untuk menyelamatkan anak tercinta yang bahkan tak mau mengakui. Karena ia buruk rupa.
Ibu juga akan mengenang kepergian anak-anaknya. Entah karena sakit atau karena diambil secara paksa darinya. Hatinya akan sakit. Dan ia akan berkata,

“Cinta Mama tak pernah habis, nak..”

*************
Saya membaca buku ini karena beruntung. Beruntung bisa ikut dalam bedah buku oleh penulisnya, Irma Irawati sekaligus menjadi moderator dadakan (^_^). Irma bercerita tentang proses kreatif buku dengan meneteskan air mata haru dan suara tercekat. Yaa, sosok Ibu dalam hidup Irma juga telah lama berpulang. Irma bercerita tentang kehilangan ini dalam kisah Baju baru Terakhirku.

Beberapa halaman awal dan akhir dipenuhi oleh endorse dari 50 Ibu yang menjadi first reader Irma Irawati. Semua terkesan kagum dan teringat akan ibu masing-masing. Saya sendiri tuntas membacanya dalam semalam. Irma bercerita dengan bahasa yang lugas dan santun. Walaupun ada beberapa kata yang salah, narasi yang panjang dan ending yang tergesa di beberapa kisah, namun tak mengurangi makna serta kedalaman pesan. Ilustrasi menarik, serta layout yang rapi membuat mata ini terasa dimanjakan. 

Kisah demi kisah diceritakan dengan berbagai sudut pandang. Kadang dengan sudut pandang orang ketiga, atau dengan tokoh ‘aku’ – berupa sebuah buku harian maupun anak yang mendampingi.

Saya menikmati setiap kisah diseling membesut airmata. Pesan moral yang ingin disampaikan adalah cinta, pengorbanan dan kasih sayang seorang Ibu yang takkan padam. 

Maafkan Ibu, Nak. 
Ibu hanya punya cinta dan sayang…

No comments:

Post a Comment

Thanks sudah mengunjungi blog Neng ya, sahabat ^_^