Melintasi Batas: Menemukan Makna Perjalanan Jiwa dalam 101 Puisi, Karya Diajeng Laraswati H
taburkan abu kremasiku di tengah laut biru, agar angin sebut namaku perlahan
biarkan ombak jadi perahu terakhirku, bawa sisa raga pulang ke pelukan Tuhan
"Aku memang pengen kalau mati dikremasi aja," katamu suatu kali. Aku terdiam sejenak. "Kenapa, Mbak?" Mbak Laras meneruskan jawabannya dengan lirih, "Supaya kelak nggak menyusahkan orang."
Aku tak langsung menjawab. Ada sesuatu dari kalimat sederhana itu yang membuatku berpikir. Sebuah percakapan singkat, tetapi menyimpan perenungan tentang kehidupan, kematian, dan keinginan untuk tidak menjadi beban bagi orang-orang yang kita sayangi.
Entah kenapa, percakapan itu kembali teringat ketika aku membaca buku kumpulan puisi karya Diajeng Laraswati H, Melintasi Batas: Puisi Perjalanan Jiwa Menuju Keheningan.
Mungkin karena buku ini memang mengajak kita memikirkan hal-hal yang sering kali kita simpan sendiri dalam hati. Tentang perjalanan hidup, kasih sayang, kehilangan, spiritualitas, hingga bagaimana seseorang mempersiapkan diri untuk menerima segala sesuatu yang pada akhirnya menjadi bagian dari perjalanan manusia.
Aku mengenal Mbak Laras bukan baru kemarin sore. Ibu ini seorang pejabat teknokrat yang luar biasa dan semangat dalam berkarya. Karya-karyanya tak terhitung jumlahnya, seolah kesibukan di dalam BRIN tak cukup untuk menenangkan kepalanya yang berisik!
Kami sudah cukup lama saling mengenal, dan dalam perjalanan berkaryanya, Mbak Laras beberapa kali menggandengku untuk menjadi ilustrator. Sebuah kepercayaan yang tentu saja membuatku merasa senang, karena bisa ikut mengambil bagian dalam perjalanan kreatif seseorang yang kukenal baik.
![]() |
| Mbak Laras dan Direktur Pusat Teknologi Agroindustri Bapak Ir. Arief Arianto, M.Sc. |
Mbak Laras sendiri adalah sosok yang baik dan lembut. Ada ketenangan dalam dirinya yang, menurutku, menarik untuk dikenali lebih jauh. Dan ketika membaca kumpulan puisinya ini, aku merasa ada sisi lain dari kelembutan tersebut yang dituangkan melalui kata-kata. Tentang kehidupan, cinta, kehilangan, spiritualitas, hingga perjalanan manusia untuk memahami dirinya sendiri.
Seratus Puisi, Delapan Bab Perjalanan Kehidupan
Melintasi Batas: Puisi Perjalanan Jiwa Menuju Keheningan memuat 100 puisi yang dibagi ke dalam delapan bab.
Setiap bab membawa pembaca pada ruang perenungan yang berbeda, tetapi tetap terhubung dalam satu perjalanan besar: perjalanan jiwa manusia dalam memahami kehidupan dan menemukan kedamaian.
Delapan bab tersebut adalah :
- Aku dan DIA, Aku dan Semesta, Aku dan Kekasih Hati, Aku dan Diriku, Aku dan Merdeka, Aku dan Mereka, Aku dan Cangkir Kopi, serta Aku dan Karyaku.
Dari judul-judulnya saja, kita bisa melihat bahwa perjalanan yang ditawarkan buku ini tidak hanya berkutat pada hubungan manusia dengan dirinya sendiri. Ada hubungan dengan Sang Pencipta, alam semesta, orang-orang terkasih, lingkungan sosial, hingga karya yang menjadi bagian dari identitas seseorang.
Bagiku, pembagian ini menarik karena hidup memang tidak pernah berdiri dalam satu ruang saja. Kita adalah bagian dari banyak hubungan, pengalaman, kenangan, dan peristiwa yang perlahan membentuk siapa diri kita hari ini.
Ada kalanya kita merasa dekat dengan Tuhan, tetapi jauh dari diri sendiri. Ada saatnya kita sibuk mencintai orang lain, tetapi lupa memberi ruang bagi hati kita untuk beristirahat. Ada pula masa ketika secangkir kopi, bangku tua, atau pemandangan alam justru menjadi teman untuk memahami perasaan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Dan sepertinya, ruang-ruang semacam itulah yang ingin dijelajahi Mbak Laras melalui puisinya.
Ketika Puisi Menjadi Ruang untuk Merenung
Salah satu hal yang menarik perhatianku adalah bagaimana buku ini membawa tema spiritualitas ke dalam pengalaman hidup sehari-hari.
Dalam puisi Dalam Pelukan Kasih, misalnya, pembaca diajak memasuki suasana penuh doa, kasih, dan rasa syukur. Ada penyebutan Bunda Maria dan Tuhan Yesus, serta gambaran tentang kasih yang memberi ketenangan dan kekuatan dalam perjalanan hidup.
Sementara itu, melalui puisi-puisi yang berbicara tentang alam, kehilangan, cinta, dan diri sendiri, kita diajak melihat kehidupan dari sudut pandang yang lebih luas.
Hidup bukan hanya tentang apa yang berhasil kita raih. Ada pula hal-hal yang harus kita lepaskan, kenyataan yang perlu kita terima, serta pertanyaan-pertanyaan yang mungkin tidak selalu memiliki jawaban sederhana.
Aku suka gagasan bahwa perjalanan hidup tidak harus selalu dimaknai sebagai perlombaan untuk sampai lebih cepat. Kadang-kadang, kita justru perlu memperlambat langkah agar bisa memahami apa yang sebenarnya sedang kita jalani.
Membaca puisi-puisi seperti ini mengingatkanku bahwa setiap orang mempunyai perjalanan batinnya sendiri. Kita mungkin terlihat baik-baik saja dari luar, tetapi di dalam diri ada begitu banyak cerita yang tidak selalu bisa dibagikan kepada orang lain.
Puisi kemudian menjadi salah satu cara untuk menyentuh bagian-bagian tersebut, tanpa harus menjelaskan semuanya secara gamblang.
Tentang Cinta, Kehilangan, dan Keikhlasan
Kalau ada satu hal yang terasa dekat dengan kehidupan siapa pun, barangkali itu adalah pengalaman mencintai dan kehilangan.
Kita pernah bahagia karena kehadiran seseorang. Kita pernah menaruh harapan pada sesuatu. Kita juga mungkin pernah merasakan kecewa ketika kenyataan ternyata berjalan tidak sesuai keinginan.
Dalam daftar isi buku ini, ada banyak judul yang terasa akrab dengan pengalaman manusia, seperti Kasih Sayang Ibu, Renjana untuk Ayah dan Bunda, Pertemuan Terakhir, Setelah Kau Tiada, Sebelum Segalanya Membisu, dan Surat untuk yang Telah Pergi.
Judul-judul tersebut mengisyaratkan bahwa kumpulan puisi ini turut menyentuh tema kasih sayang, kenangan, perpisahan, serta hal-hal yang sering kali baru benar-benar kita pahami setelah melewati berbagai peristiwa dalam hidup.
Bagiku, kehilangan tidak selalu berarti kehilangan seseorang secara fisik. Ada pula kehilangan kesempatan, impian, kepercayaan, atau bahkan versi diri kita yang dulu pernah begitu kita kenal.
Seiring bertambahnya usia, kita mulai memahami bahwa tidak semua hal bisa dipertahankan. Ada yang memang harus dilepaskan, bukan karena tidak lagi berarti, melainkan karena kehidupan terus bergerak.
Keikhlasan pun bukan sesuatu yang selalu mudah. Ia membutuhkan waktu, penerimaan, dan keberanian untuk berdamai dengan kenyataan.
Melalui tema-tema seperti ini, Melintasi Batas mengingatkan pembaca bahwa suka dan duka merupakan bagian dari perjalanan yang sama. Keduanya tidak harus selalu kita lawan. Ada kalanya kita cukup memberi ruang bagi perasaan itu untuk hadir, lalu perlahan belajar melanjutkan langkah.
Secangkir Kopi dan Hal-Hal Kecil yang Bermakna
Aku juga tertarik dengan bab Aku dan Cangkir Kopi.
Sebagai seseorang yang menikmati kegiatan menulis dan berkarya, aku merasa ada sesuatu yang istimewa dari momen sederhana ketika kita duduk bersama secangkir kopi, membiarkan pikiran berjalan ke sana kemari, lalu menemukan ide atau sekadar menikmati waktu untuk diri sendiri.
Kopi mungkin hanya minuman. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, ia bisa menjadi teman untuk mengawali pagi, menyelesaikan pekerjaan, berbincang dengan sahabat, atau menemani kesunyian.
Ada banyak hal yang kelihatannya biasa, tetapi justru menyimpan kenangan dan makna yang tidak sederhana.
Melalui judul-judul seperti Pelipur Rindu Tak Hanya Secangkir Kopi, Secangkir Diam di Sudut Senja, Kisah Hujan dan Cerita Menyatu, hingga Mozaik Kepingan Cangkir Kopi, aku menangkap kesan bahwa benda dan suasana sehari-hari pun dapat menjadi pintu masuk untuk membicarakan sesuatu yang lebih dalam.
Barangkali, kita memang tidak selalu membutuhkan peristiwa besar untuk menemukan makna kehidupan. Kadang-kadang, kita hanya perlu duduk sebentar, memandangi hujan, menyeruput kopi, dan mendengarkan isi kepala sendiri.
Sesederhana itu, tetapi tidak selalu sempat kita lakukan.
Kelembutan yang Menjadi Bagian dari Perjalanan Berkarya
Ada perasaan senang ketika melihat seseorang yang kita kenal terus bertumbuh melalui karya. Apalagi ketika karya tersebut lahir dari perjalanan panjang, pengalaman hidup, dan perenungan yang tidak selalu sederhana.
Aku percaya, menulis puisi membutuhkan kepekaan untuk memperhatikan hal-hal yang mungkin luput dari pandangan orang lain. Sebuah percakapan singkat, kenangan yang tiba-tiba muncul, suasana senja, atau perasaan yang sulit dijelaskan bisa menjadi bahan untuk merangkai kata.
Dan tentu saja, setiap penulis mempunyai caranya sendiri dalam mengolah pengalaman menjadi karya.
Dalam buku ini, Mbak Laras mengajak pembaca menjelajahi banyak sisi kehidupan, dari hubungan spiritual hingga relasi antarmanusia, dari pergulatan batin hingga pengalaman kehilangan. Semuanya dirangkum dalam perjalanan menuju keheningan, sebuah keadaan yang tidak selalu berarti kesunyian secara harfiah, tetapi juga dapat dimaknai sebagai ruang untuk berdamai dengan diri sendiri.
Aku senang melihat bagaimana perjalanan kreatif seseorang bisa terus berkembang dan menemukan bentuknya.
Sebab, pada akhirnya, berkarya bukan hanya tentang menghasilkan sesuatu untuk dibaca orang lain. Ada proses mengenali diri, mengolah pengalaman, dan membagikan sebagian perjalanan tersebut kepada dunia.
Melintasi Batas, Menemukan Keheningan
Judul Melintasi Batas terasa menarik karena kehidupan memang penuh dengan batas yang harus kita kenali, hadapi, atau bahkan lampaui.
Ada batas antara harapan dan kenyataan. Ada batas antara keinginan dan kemampuan. Ada pula batas antara apa yang bisa kita kendalikan dan apa yang harus kita terima dengan lapang dada.
Seiring perjalanan waktu, kita belajar bahwa kedewasaan bukan berarti memiliki jawaban atas semua pertanyaan. Terkadang, kedewasaan justru hadir ketika kita mampu menerima bahwa ada hal-hal yang belum kita pahami sepenuhnya.
Kita belajar untuk tidak selalu terburu-buru menilai. Belajar memaafkan, melepaskan, bersyukur, dan menghargai hal-hal kecil yang selama ini mungkin kita anggap biasa.
Menurutku, itulah salah satu hal yang membuat kumpulan puisi ini layak mendapat ruang untuk dibaca dan direnungkan. Buku ini menawarkan kesempatan bagi pembaca untuk berhenti sejenak dari kesibukan, lalu kembali memeriksa perjalanan hidup masing-masing.
Tidak harus membaca seratus puisi sekaligus. Kita bisa membacanya perlahan, beberapa puisi dalam satu waktu, sambil memberi kesempatan bagi setiap larik untuk menemukan maknanya sendiri.
Sebab, puisi yang sama bisa menghadirkan perasaan berbeda bagi setiap pembaca. Apa yang terasa biasa hari ini mungkin akan terasa begitu dekat ketika kita mengalaminya sendiri beberapa tahun kemudian.
Penutup: Setiap Orang Punya Perjalanan Jiwa
Buatku, Melintasi Batas: Puisi Perjalanan Jiwa Menuju Keheningan karya Diajeng Laraswati H bukan sekadar kumpulan seratus puisi yang dibagi ke dalam delapan bab. Buku ini juga merupakan ajakan untuk melihat kembali kehidupan melalui beragam pengalaman: cinta, spiritualitas, alam, keluarga, kehilangan, kebebasan, hingga karya.
Ada banyak hal dalam hidup yang tidak bisa kita pilih. Namun, kita selalu punya kesempatan untuk belajar dari apa yang telah terjadi dan menentukan bagaimana kita melangkah setelahnya.
Dan mungkin, keheningan yang kita cari selama ini bukanlah keadaan ketika semua persoalan selesai, melainkan ketika kita mulai mampu menerima kehidupan dengan lebih bijaksana.
Aku ikut bahagia melihat perjalanan Mbak Laras melalui buku ini. Semoga Melintasi Batas menemukan pembacanya, menemani mereka dalam berbagai suasana, dan menjadi pengingat bahwa setiap perjalanan jiwa memiliki cerita yang layak dihargai.
Selamat berkarya, Mbak Laras. Semoga kata-kata yang telah dirangkai dengan sepenuh hati ini terus menemukan jalannya menuju hati para pembaca.
Karena pada akhirnya, kita semua sedang melintasi batas masing-masing, dengan cara dan waktu yang berbeda.
Dan semoga, di sepanjang perjalanan itu, kita tidak lupa memberi ruang bagi diri sendiri untuk berhenti sejenak, bersyukur, dan menemukan keheningan di dalam hati.
Informasi Buku
Judul: Melintasi Batas: Puisi Perjalanan Jiwa Menuju Keheningan
Penulis: Diajeng Laraswati H
Jenis buku: Kumpulan puisi
Isi: 101 puisi dalam 8 bab (112 halaman)
Tema: Spiritualitas, cinta, keluarga, alam semesta, refleksi diri, kehilangan, kebebasan, dan perjalanan berkarya.
Penerbit: Bukunesia - ISBN 978-272-377-7
.jpg)




.jpg)

.jpg)






Komentar
Posting Komentar
TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA BLOG NENG TANTI (^_^)