Reuni Kecil, Rasa Besar: Dari Keliling Malaysia ke Semangkuk Mie Ayam di Tangerang


Jujur yaaa, tulisan kali ini cuman pengen ngulas persahabatan kecil yang aku miliki bersama para teman penulis istimewa!
Yes, beb.. ada pertemanan yang lahir karena sering ketemu, ada yang tumbuh karena sering ngobrol. Tapi ada juga yang menguat karena pernah berpetualang bareng!

Aku bersyukur punya banyak circle lucu-lucu itu, dan ini adalah teman-teman di tipe yang terakhir itu.

Long story short, beberapa waktu lalu, aku janjian ketemu tiga perempuan kece yang pernah jadi teman seperjalanan 5 hari 4 malam ke Singapore dan Malaysia. Mbak Ajeng. Ari Dianing dan Mbak Anne. Dan aku baru ngeh… kok huruf depannya A semua ya? Ini circle penulis atau girl band vokal utama? Hihi ..😆

Perjalanan ke luar negeri bareng itu bukan hal kecil. Lima hari itu cukup untuk tahu siapa yang bangun paling pagi, siapa yang ribet urusan koper, siapa yang kalem pas nyasar, dan siapa yang panik kalau sinyal hilang.

Dan anehnya, justru di situlah bonding-nya, right?

Kami pernah berdiri bareng di depan ikon kota yang megah, tertawa karena .. karenaaa.. aaah akhirnya ghibah juga deeeh... 

Jadi waktu itu aku diajak salah seorang teman, dan akhirnya nyemplung ke grup ini untuk bepergian selama 5 hari 4 malam ke Malaysia dan Singapore pake jalan darat, pastinya. Tadinya pengen bablas ke Thailand tapi kok males karena ngebayangin bakalan naik turun bus selama seminggu, aku udah pegel duluan..

Nah pokoke si penyelenggara tour ini, mungkin karena murah yaaa.. kami dikasih makan nasi lemak dibungkus kertas makan terus pake kantong plastik! Yes, kantong plastik! Duh rasanya gimanaa gitu, iya sih di negeri orang, iya sih fotonya di bawah Gardens by the Bay yang sungguh ikonik, tapi ya Allaah... makan di kantong plastik tu gimana yaaa!


Ya wes daripada malu, kami akhirnya.. jajan ajah, makanannya kami buang hahahaa...

Memang ya, akhirnya karena senasib se-malu bareng-bareng, dan banyak kejadian unik selama di perjalanan, curhat colongan, sampai ngobrol serius tentang hidup di sela-sela langkah kaki yang pegal bikin grup kecil kami solid.

Perjalanan itu bukan cuma tentang foto estetik dan itinerary padat aja ternyata. Tapi tentang ruang aman yang terbentuk pelan-pelan. Tentang cerita yang keluar tanpa dibuat-buat, setuju?

Dan waktu berlalu.

Sampai akhirnya aku kepikiran, “Udah lama nggak ketemu mereka. Harus bikin momen lagi.”

Aku pun mengundang mereka makan mie ayam.

Iya. Dari negara tetangga turun level jadi mie ayam. Tapi jangan salah. Ini bukan mie ayam sembarangan. Ini Mie Ayam Bunda, milik sahabatku Lia, di Tangerang!

Tempatnya di rumah Lia yang estetik, karena rumahnya emang didesain sebagai hunian sementara tadinya, dengan nuansa Jawa yang kental. So, teman-temanku semangat buat foto sana sini, ngobrol dengan hangat dan nyaman!

Begitu mereka datang, rasanya kayak waktu mundur sebentar. Pelukan. Tawa. Kalimat, “Eh, kamu nggak berubah!” yang selalu jadi template reuni tapi tetap bikin hati hangat.

Kami duduk, memesan mie ayam, dan seperti biasa… obrolan langsung mengalir.

Topiknya? Campur aduk. Dari dunia kepenulisan, algoritma media sosial yang makin random, ide buku yang belum sempat lahir, sampai cerita rumah tangga yang realistis tapi tetap penuh humor.

Mie ayam datang. Uapnya naik pelan. Aromanya bikin fokus agak buyar.

Suapan pertama selalu sakral.

Dan di antara kunyahan dan tawa, aku sadar satu hal:
aku bersyukur punya teman yang bukan cuma pintar menulis, tapi juga pintar menjaga energi.

Karena penulis itu unik. Kami bisa sensitif, bisa overthinking, bisa idealis banget. Tapi kalau sudah ketemu frekuensinya, rasanya klik.

Setelah perut kenyang, apakah kami pulang?

Tentu tidak.

Namanya juga ibu-ibu sosialita versi realistis. Habis makan berat, lanjut cari kopi dan cemilan. Itu sudah hukum alam.


Kami pun melipir ke Kebon Kita Cafe, hidden gem di arah BSD, tak jauh lah dari rumahku. Tempatnya lebih tenang. Banyak tanaman. Ada sudut-sudut yang cocok buat ngobrol lama tanpa merasa diusir waktu.

Pesan kopi. Tambah cemilan lagi. Padahal tadi sudah makan mie ayam. Tapi begitulah. Perempuan kalau ngobrol butuh properti ahahaha...

Di kafe itu, obrolan berubah jadi lebih dalam.

Tentang fase hidup. Tentang menerima perubahan. Tentang mimpi yang mungkin bentuknya sudah berbeda dari lima tahun lalu. Tentang menjadi perempuan dewasa yang tetap ingin berkarya tanpa kehilangan diri.


Aku memandangi mereka satu-satu.

Mbak Ajeng dengan ketenangannya.
Ari Dianing dengan energinya.
Mbak Anne dengan kebijaksanaannya.

Perempuan-perempuan yang pernah satu langkah denganku di negeri orang, kini duduk satu meja lagi di kota sendiri.

Waktu memang berjalan, tapi kualitas pertemanan terasa utuh. Kami tertawa. Kami saling menyemangati. Kami saling mendengar.

Dan di momen itu, aku merasa kaya. Bukan karena materi. Tapi karena koneksi.

Ada yang istimewa ketika teman seperjalanan tetap mau duduk bareng, makan sederhana, dan ngobrol tanpa pretensi. Tidak ada yang sedang pamer pencapaian. Tidak ada yang sibuk mengungguli. Yang ada cuma saling update dan saling dukung.

Aku percaya, kolaborasi yang baik lahir dari hubungan yang sehat.

Dan hari itu rasanya seperti pengingat:
kita pernah melangkah bareng, dan mungkin ke depan bisa melangkah bareng lagi—dalam bentuk yang baru.

Entah menulis buku bersama.
Entah bikin proyek kreatif.
Entah traveling lagi (tapi kali ini koper jangan overweight ya, tolong 😆).

Pertemuan hari itu mungkin terlihat sederhana bagi orang lain. Cuma mie ayam. Cuma kopi. Cuma ngobrol.

Tapi buatku, itu recharge.

Aku pulang dengan hati ringan. Dengan senyum yang lama hilangnya. Dengan rasa syukur yang pelan-pelan mengendap.

Karena tidak semua pertemanan bertahan setelah perjalanan selesai.
Tidak semua circle tetap hangat setelah waktu memisahkan.

Tapi yang ini… masih terasa dekat.

Dan aku berdoa dalam hati, semoga ke depan kami bisa kolaborasi lagi. Dalam karya. Dalam perjalanan. Dalam tawa-tawa yang nggak dibuat-buat.

Kadang, yang kita butuhkan bukan liburan jauh.
Cukup teman yang tepat, mie ayam hangat, dan kopi yang menemani cerita.

Dan hari itu, semuanya lengkap.

Pokoknya berkesan banget.

Insya Allah, ini bukan pertemuan terakhir, ya temaaanssss..


Komentar

Postingan Populer