Lebaran 2026, Ketika Keluarga Menjadi Tempat Pulang yang Sebenarnya


Lebaran 2026 ini rasanya beda.

Bukan karena lebih mewah. Bukan juga karena lebih ramai. Justru sebaliknya, semuanya terasa lebih sederhana. Tapi entah kenapa, hangatnya sampai ke dalam.

Mungkin karena ini Lebaran pertama setelah sekian lama aku belajar berdamai dengan kehilangan.

Aku pernah melewati Lebaran dengan hati yang bolong. Kehilangan Bapak. Kehilangan anak.  Tidak lama setelah itu, Ummi mertua juga pergi, l
alu berselang 2 bulan kemudian, disusul kehilangan adik. Rasanya seperti ombak yang datang tanpa jeda. Satu belum selesai, yang lain sudah menyusul.

Dan jujur saja, ada fase di mana aku menjalani Lebaran hanya sebagai rutinitas. Senyum seperlunya. Datang dan pulang tanpa benar benar hadir.

Tapi tahun ini, rasanya seperti ada yang pelan pelan kembali.

Seperti ujung pelangi yang muncul setelah hujan panjang. Tidak heboh, tidak mencolok, tapi cukup untuk menghangatkan hati.

Ramadhan kami lalui dengan tenang. Tidak ada drama sahur. Tidak ada drama buka. Anak anak sudah besar, jadi semuanya mengalir lebih ringan. Bahkan tanpa belanja kue kering berlebihan, tanpa ribet urusan baju Lebaran, semuanya tetap terasa cukup.

Hari pertama, kami menginap di Ciputat seperti biasa. Ada rasa familiar yang menenangkan. Seperti kembali ke pola lama yang dulu sempat terasa hilang.

Bersama para sesepuh di Komplek Inhutani Ciputat

Bertiga, eh berempat tapi eyang duduk di depan bersama para sesepuh

Setahun sekali,
ras terkuat di bumi kudu sungkem ke pawangnya.

Sholat Ied kami lakukan di hari Sabtu. Walau hari Jumat aku dan keluarga sudah tidak berpuasa, sementara Ibu, adikku, dan Calvin keponakanku masih melanjutkan. Perbedaan itu tidak terasa jadi jarak. Justru terasa seperti warna dalam satu cerita yang sama.

Di Slipi

Setelah sholat, kami lanjut ke Slipi. 

Halal bihalal bersama keluarga besar Bani Husen dari almarhum Ummi. Suasananya hangat, tidak berlebihan. Tidak terlalu lama, tapi cukup untuk saling menyapa dan melepas rindu.

Lalu kami bergerak ke Tebet. Ke gedung Muhammadiyah untuk bertemu keluarga besar Bani Arsyad, keluarga besar dari almarhum Ayah H. Satiri Arsyad.

Yang aku rasakan kali ini, semuanya lebih tertata. Lebih ringan. Tidak berlarut larut. Tidak sumpek. Tidak ada rasa lelah yang biasanya muncul karena acara terlalu panjang dan padat.

Titip ya Foto-foto Keseruan Kami di Hari lebaran 1 Syawal 1407 H 







Sekarang happy,
aku punya adik-adik yang cantik dan sholehah 

Napak Tilas di Blok M!

Kami bisa pulang lebih cepat. Dan mungkin justru di situlah letak nikmatnya. Karena setelah itu, kami mengikuti keinginan si cantik untuk foto di mini studio di Blok M.

Awalnya aku tidak terlalu excited. Dalam bayanganku, Blok M masih seperti dulu. Ramai, padat, dan mungkin sedikit melelahkan.

Tapi ternyata, aku salah.

Blok M sekarang terasa hidup dengan cara yang berbeda. Lebih rapi, lebih menarik, dan entah kenapa terasa menyenangkan.

Baru parkir aja, udah bisa foto di sini!

Kami masuk ke mini studio. Sederhana, tapi cukup. Dan saat sesi foto dimulai, aku baru sadar satu hal.

Kami tertawa lagi.

Bukan tawa basa basi. Tapi tawa yang lepas. Yang jujur.

Hasil fotonya bagus. Bahkan lebih dari yang aku bayangkan. Tapi yang lebih penting dari itu, ada rasa yang ikut terekam.

Rasa bahwa kami masih utuh.

Bahwa setelah semua luka yang datang bertubi tubi, kami masih bisa duduk berdampingan. Masih bisa bercanda. Masih bisa saling menatap tanpa rasa kehilangan yang terlalu menyesakkan.

Seolah bonding yang sempat retak, pelan pelan dirajut kembali.





Sore harinya, kami sempatkan sholat di lantai tujuh Plaza Melawai. Masjidnya luas, bersih, dan nyaman. Ada rasa damai yang sederhana saat sujud di tengah hiruk pikuk kota.



Pulangnya, aku dan Bang Dho menunggu di mobil. Sambil makan buah yang kami bawa dari rumah. Sederhana, tapi nikmat.

Sementara anak anak sepakat jajan cimol keju. Katanya enak, panas, dan pas banget ditemani ice lemon tea di sore menjelang magrib.

Aku hanya melihat mereka dari dalam mobil. Dan tanpa sadar, hatiku terasa penuh. Bukan penuh karena apa yang kami miliki.

Tapi penuh karena apa yang masih kami punya.

Lebaran tahun ini tidak sempurna. Tidak lengkap seperti dulu. Beberapa kursi akan selalu kosong.

Tapi mungkin, memang bukan itu yang sedang diajarkan. Mungkin, yang sedang diajarkan adalah bagaimana tetap merayakan, meski ada bagian yang hilang.

Bagaimana tetap bersyukur, meski hati pernah retak.
Dan bagaimana tetap mencintai hidup, meski kita tahu, kehilangan bisa datang kapan saja.

Lebaran 2026 ini tidak ramai. Tidak mewah. Tidak penuh persiapan, tapi hangat.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak hanya menjalani Lebaran.

Aku benar benar merasakannya.

Komentar

  1. MasyaAllah, rame banget ya. Beruntung sekali bisa berkumpul sebanyak ini tiap tahun di hari lebaran. Semoga setiap langkah untuk menyambung silaturrahim dibalas dengan pahala sebesar-besarnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yaa maklum, keluarga besar banget yaa.. aamiiin makasih doanya mbak

      Hapus
  2. Kehilangan bukan alasan untuk nggak mensyukuri apa yang masih tersisa dan yang bisa kita lakukan.

    Semangat, kakak. Minal aidzin wall faidzin ya. Maaf lahir batin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, sekarang mensyukuri terus dan terus apa yang kita miliki, bukan menyesali yang hilang...

      Hapus
  3. Barakallah, turut bahagia membaca cerita lebaran tahun ini. Ternyata ada banyak hangat yang terasa sangat jujur. Alhamdulillah, proses silaturahmi pun lancar jaya dan bisa ke Blok M bareng keluarga tercinta. Bahkan hasil jepretan foto studio nya pun cakep cakep.

    Masha Allah tabarakallah, hati yang sudah berdamai dan menerima dengan penuh kesadaran bikin momen hari raya jadi kian berkesan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya Lala, tersulit, ternyataaa... daripada sekedar ngomong "ikhlas" :)))

      Hapus
  4. Selamat merayakan hari raya Idul Fitri untuk Mbak Tanti dan keluarga besar. Nuansa ramadhan yang lekat dengan hari libur memang paling pas jika dijalani bersama keluarga besar. Jadi rindu masa kecil deh.... ketika semua masih lengkap.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, bener mas Adi, nuansa Ramadhan emang bahagia ketika di tengah keluarrga

      Hapus
  5. MasyaAllah banyak keluarga besar ya Tan. Seneng banget bisa kumpul-kumpul begitu di hari yang fitri. Ada rasa kebersamaan yang mungkin langka untuk dilakukan. Apalagi sekarang-sekarang semua terikat dengan kesibukan dan ada jarak di sana. Tapi begitu silaturahim itu hadir, jiwa rasanya meriah lagi.

    Aku sudah tiga tahun berlebaran tanpa satu pun orang tua. Baik dari sisi keluarga ku maupun dari sisi suami (yang sudah belasan tahun memang orang tua sudah gak ada). Yah kita pun sudah tua bukan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulilllah.. bersyukuuur bangeeetttt masih ada keluarga ini. Bersyukur juga karena ada yang sponsorin, masih ada motor yang mau menggerakkan, karena itu sulit

      Hapus
  6. senangnya bisa ngumpul bersama keluarga besar di hari Lebaran
    jadi pingin bikin tulisan juga tentang Lebaran, tapi bukan silaturahmi karena gak punya keluarga besar, tapi bikin tulisan tentang resep masakan Lebaran ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. aah dibuat resep lebaran yang memorable ya ambu

      Hapus
  7. Saya pernah merasakan kehilangan berturut-turut. Papah saya dan papah suami wafat di tahun yang sama. Hanya selang sekian bulan. Padahal rasanya belum lama, mamah mertua dan nenek suami wafat. Cukup berasa hampanya.

    Senang melihat Mbak Tanti bisa kembali merasakan nikmatnya hari raya. Ya memang rasa nikmat gak identik dengan kemewahan. Seperti saya saat ini, lagi suka menikmati hari raya dengan lingkup kecil aja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya Chi, sekarang rasanya jauh lebih damai setelah benar-benar "ikhlas"

      Hapus
  8. Masya Allah bacanya ikut hangat hati saya...Ini sih bukan keluarga besar lagi, Mbak Tanti tapi keluarga BESAAAAR...hihi. Alhamdulillah bisa merayakan Lebaran dengan hati lebih lapang. Semoga semua sehat sehingga bisa berjumpa lagi dengan Ramadhan dan Lebaran di tahun depan
    Oh ya lupa, mohon maaf lahir batin ya Mbak.....

    BalasHapus
  9. Selamat Idulfitri Mbak. Mohon maaf lahir batin ya...
    Senangnya membaca curahan hati yang tahun ini terasa penuh dan hangat. Bersyukur dengan apa yang dimiliki. Kata-katanya jadi reminder buat aku, supaya tetap bersyukur.
    BTW...senangnya masih bisa terlacak anggota keluarga besar dan masih bisa kumpul.

    BalasHapus

Posting Komentar

TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA BLOG NENG TANTI (^_^)

Postingan Populer