Romantisisme Ghibli versus AI Style Ghibli


Painted skies, lush green hills, 

and the comforting hum of a distant train. 


Studio Ghibli doesn’t just animate stories; they animate the feeling of a warm summer breeze and the quiet comfort of a cup of tea. Let your mind wander to a place where the world feels just a little bit softer.


Bagi siapa pun yang tumbuh bersama mahakarya Hayao Miyazaki, kutipan di atas bukan sekadar untaian kata romantis. Itu adalah sebuah rasa. Ada ketenangan magis saat kita menatap visual awan putih bergulung di langit biru yang magis, perbukitan hijau yang rimbun, atau detail kepulan uap dari secangkir teh hangat di atas meja kayu. 


Dunia animasi Ghibli selalu berhasil membuat realitas hidup kita yang keras terasa sedikit lebih lembut.


Lalu, tibalah kita di era hari ini. 

Era di mana media sosial mendadak riuh oleh tren gambar dan video modifikasi digital. Hanya dengan memasukkan beberapa baris perintah teks (prompt), siapa pun kini bisa menyulap foto sehari-hari menjadi sebuah mahakarya visual baru dengan estetika yang sangat mirip dengan sentuhan khas rumah produksi legendaris asal Jepang tersebut. 


Banyak orang terpukau, menganggapnya menyenangkan, bahkan rela merogoh kocek demi berlangganan platform premium agar proses kalkulasi visualnya bisa selesai dalam hitungan satu menit saja.



Namun, di balik kepungan tren visual yang tampak estetik tersebut, ada sebuah ironi besar yang sedang berjalan: kita sedang menyaksikan bagaimana sebuah proses kreatif yang luhur dirampas secara instan oleh kecerdasan buatan.

Detik yang Abadi vs Menit yang Instan

Untuk memahami mengapa fenomena ini begitu mengusik hati para pekerja seni, kita harus kembali melihat bagaimana Studio Ghibli merawat culture atau budaya mereka dalam menghargai proses pembuatan sebuah karya. 

Mereka tidak mengenal kata instan. 

Setiap goresan latar belakang, bayangan daun, hingga kerutan pakaian tokohnya dikerjakan secara manual menggunakan tangan.

Mari kita ambil satu contoh kasus yang nyata. Lihat deh 4 detik video di atas ini.

Di salah satu film mereka, terdapat sebuah adegan keramaian (crowded scene) yang hanya melintas di layar sepanjang empat detik. 

Empat detik yang mungkin dilewati penonton sambil mengunyah berondong jagung. Namun tahukah Anda berapa lama Hayao Miyazaki dan tim animator sepuhnya menghabiskan waktu demi mewujudkan adegan super pendek tersebut?

Satu tahun tiga bulan!

Sebuah dedikasi waktu yang luar biasa panjang, melelahkan, dan menguras seluruh energi kehidupan demi kesempurnaan estetika empat detik. 

Maka, tidak sulit membayangkan bagaimana remuknya perasaan para animator senior tersebut ketika kerja keras puluhan tahun yang mereka bangun dengan tetesan keringat, tiba-tiba "dilahap" oleh mesin algoritma untuk kemudian direplikasi dan dijual kembali ke pasar sebagai komoditas hiburan massal.

Batas Hak Cipta dan Pelanggaran Trademark

Banyak pihak yang mencoba membela diri dengan argumen klasik: "Gaya gambar atau aliran seni kan tidak ada hak ciptanya. Siapa saja boleh meniru."

Di sinilah letak kesalahpahaman massal yang sering terjadi. Ini bukan sekadar perkara penolakan terhadap perkembangan teknologi AI atau ketakutan usang bahwa mesin akan menggantikan posisi manusia. 

Masalah mendasar dari platform AI generatif ini terletak pada bagaimana mereka mengumpulkan data untuk melatih mesin mereka.

Studio Ghibli bukan sekadar sebuah gaya coretan; mereka adalah sebuah entitas hukum yang memiliki hak merek dagang (trademark) yang sangat kuat.

 Ketika platform AI menggunakan elemen-elemen spesifik yang menjadi identitas hukum mereka tanpa izin untuk menghasilkan visual komersial, tindakan tersebut jelas telah melanggar kebijakan konten (content policy). 

Coba deh tanyain hal ini secara objektif kepada kecerdasan buatan seperti ChatGPT sekali pun.

Mesin tersebut akan memberikan jawaban yang sama: ada hak cipta para seniman yang telah dilewati batasnya di sana... 

Merawat Jiwa dari Jalanan Bandung

Di tengah gempuran visual instan yang kehilangan jiwa tersebut, untungnya kita masih bisa menemukan para penjaga nyala api kreativitas di dunia nyata. 

Salah satunya adalah kisah konsistensi seorang ilustrator lokal, namanya Bazroel.  Aku terpana loh ngeliat hasil karyanya di Instagram! 

Sumpah aku tahu persis, jalanan Bandung itu seperti apa, tapi di tangan Bazroel .. jalan itu seolah  "berubah" menjadi lintasan sunyi si penyihir cilik Kiki!

Bahkan atap rumah warga Bandung yang kumuh, perpaduan triplek dengan seng, sunggguh terlihat estetik! Menjura!

Semenjak tahun 2015, Bazroel memang memilih jalan yang sunyi namun sarat akan nilai kemanusiaan: menggambar sudut-sudut kota Bandung yang sering ia lewati sehari-hari. 

Dengan telaten, ia merekam denyut nadi kota, mulai dari hiruk-pikuk pemandangan pasar di Cikapundung, kawasan Kiaracondong, gang-gang di Jalan Gempol, hingga perbukitan Ciumbuleuit. 

Semua lanskap lokal tersebut ia interpretasikan ulang secara manual ke dalam ilustrasi berseri yang indah bertajuk Bandung Series, sebuah karya yang memiliki cita rasa background art ala anime namun tetap memiliki jiwa lokal yang kental!

Naa kaaan ... pasti langsung pada kepo atau langsung cek toko buku online! Kutauuu... aku gitu juga soalnya...


Apa yang dilakukan oleh Bazroel adalah antitesis dari apa yang ditawarkan oleh AI. Ia tidak sekadar memproduksi gambar; ia sedang memindahkan memorinya, perasaannya terhadap kota, dan jejak langkah kakinya ke atas media gambar. 

Proses yang memakan waktu bertahun-tahun itulah yang membuat karyanya memiliki soul atau jiwa yang tidak akan pernah bisa ditiru oleh kalkulasi matematika platform digital mana pun.

Pada akhirnya, AI hanyalah sebuah alat. Namun, menjadikannya sebagai sarana untuk memperjualbelikan "hasil jarahan"  dari proses kreatif yang ilegal jelas merupakan tindakan yang tidak etis.

Karena sekarang udah tau, self reminder  buatku, plus aku ngajak kalian para pengguna teknologi yang lebih bijak dan berempati. Hargailah proses, karena di dalam proses itulah letak kemanusiaan kita berada.

Yuk, Ngobrol di Kolom Komentar!

Sesudah aku ajak ngeliat hasil karya indah eeeh Hayao Miyazaki dan Bazroel, bagaimana pandangan kalian sendiri mengenai fenomena seni AI yang menggunakan gaya seniman atau studio legendaris tanpa izin ini?

Apa sih menurut kalian batasan antara pemanfaatan teknologi dan perlindungan hak cipta seniman di era digital yang sekarang sudah semakin kabur?

Hayuk mareee kita diskusikan opini dan sudut pandang kalian di kolom komentar di bawah!

Komentar

Postingan Populer