CARA DAN MANFAAT MEMBUAT JURNAL SYUKUR

 
Temans, pernahkah kalian menulis jurnal syukur?

Ada hal menarik, ketika berbicara jurnal syukur.
Karena biasanya syukur dikaitkan dengan hal-hal yang disukai oleh diri. Jika apa yang diharapkan sesuai dengan realita barulah disitu ada rasa syukur, namun jika tidak sesuai harapan maka rasa kecewalah yang didapat. 

Benarkah demikian? 


Tahu tidak,
77% manusia ketika diminta menulis “Apa kekurangan dan kelebihan kamu?” maka jawaban “kekurangan” biasanya lebih banyak ditulis dan ditemukan lebih cepat dibandingkan dengan kelebihan dirinya!

Padahal, rasa syukur berbanding lurus dengan penerimaan diri (kelebihan dan kekurangan) yang dilakukan secara proporsional.

Gallup, sebuah perusahaan konsultasi manajemen global yang berbasis di Amerika Serikat, meneliti emosi 154 ribu orang di lebih dari 145 negara.

Dalam laporan berjudul Negative Experiences Index— dituliskan data bahwa rata-rata orang melaporkan rasa sakit fisik, kesedihan, kemarahan, kekhawatiran, serta stres dengan perbandingan : satu dari lima penduduk dunia, mengalami kesedihan (23 persen) atau rasa marah (20 persen)!

Data itu juga menyebutkan bahwa di tahun 2017, adalah tahun dengan hasil laporan tertinggi sejak dibuat pertama kali tahun 2006! Dari data ini saja, terlihat bahwa sebagian besar orang ya memang tak bersyukur atas kehidupan ini!

Wah semoga saja aku dan kamu tidak akan pernah termasuk ke dalam yang satu (banding lima) itu ya!

Bagaimana sih caranya kita untuk selalu bersyukur? 

Sholat udah, berdoa juga kan udah. Tapi kok masih nyeseeeek aja gitu, karena di medsos si Adul sedang jalan-jalan ke Jepang sekeluarga, si Gendis tetangga sebelah baru aja pamer punya mobil Wuling terbaru.

Hmmm... kalo gitu, kamu butuh baca tulisan aku ini sampe bawah!

Diary, Bullet Journal, Scripting dan Gratitude Journal 

Dulu, aku mengenal diary sebagai tempat menulis segala sesuatu yang kualami, "tempat sampah" kala ku sedih dan marah kepada seseorang, sekaligus kotak harta karun untuk menyimpan  aneka memory.

Sementara saat ini, aku lebih suka menulis dengan alat bernama journal, atau bullet journal serta gratitude journal. Bahkan sepertinya dalam waktu dekat aku sedang bersiap menulis dengan metode Morning page dan 369 Journal.

Tahu tidak sih, sejarah di balik terjadinya bullet journal ini?



Bullet journal pertama kali dipopulerkan Ryder Caroll, desainer produk digital dari Austria. Ia dulu adalah penderita anxiety (kecemasan berlebihan) dan ADHD sehingga terlalu aktif.

Ia membuat bullet journal - sebuah sistem perencanaan yang bersifat analog dan membantu mengatur serta melakukan rutinitas menjadi lebih terfokus dan terorganisasi, untuk terapi dirinya, dan berhasil mengatasi penyakitnya ini.

Kelebihan metode bullet journal adalah adanya ruang untuk mengombinasikan tulisan dengan gambar,diagram, atau kaligrafi dalam satu buku. 
Bullet journal sangat menarik, karena di dalamnya kita bisa menulis dengan berbagai gaya seperti mind map, poin-poin, atau to-do list.

Bullet journal ini lah yang kemudian menjadi cikal bakal dari berbagai jenis journal. Sebut saja, ada gratitude journal, maternity journal, daily journal, healthy lifestyle journal, junk journal, morning page, dan yang terbaru 369 journal.

Lalu apa hubungannya dengan bahagia? Dengan pencapaian keinginan? Untuk itu, kita fokus ke satu jenis jurnal saja ya, yaitu gratitude journal a.k.a jurnal syukur.

Mengenal Manfaat Jurnal Syukur

Karena kamu pasti udah tahu apa itu jurnal, maka aku perlu menulis poin penting ini, dan sengaja kutulis di awal kalimat yaitu : saat menuliskan jurnal syukur, utamakan RASA dan bukan AKSI. Jadi rasa syukur ini yang kita tuangkan ke dalam kertas.

Bingung? Awalnya aku juga. Tapi gini aja, untuk membedakannya secara sederhana : 
  • AKSI adalah tulisan syukur  yang kita ingin capai - dan ada seorang trainer yang bahkan menyuruh kita untuk menuliskannya selama berulang-ulang sampai 1000 kali misalnya. 

    Jadi isi bukunya nanti mulai dari halaman pertama sampai lembar terakhir hanya berisi : Aku bersyukur bisa punya rumah seluas 1000 meter di Pondok Indah, dengan mobil 13 dan uang 1 milyar rupiah. Ini tuh ditulis berulang untuk "mencapai" daftar keinginannya.

  • Sementara RASA - adalah hal-hal kecil yang kita syukuri saat itu juga. Kalau di aku, tulisannya berupa : Aku bersyukur hari ini cuaca cerah, cucianku kering, ngga menumpuk, jadi aku ngga cape liatnya.

    Atau : Aku bersyukur banget, hari ini Derry bisa pulang lebih cepat sehingga jadwal kami pergi ke Tangcity bisa on time

Berbeda, right?

Teknik pertama itu disebut scripting dan merupakan salah satu metode Law of Atrraction (LoA) yang bertujuan untuk menuliskan segala hal yang dirasakan dan diinginkan. Dan ketika seseorang memercayai apa yang dituliskan (afirmasi), maka di situlah scripting bekerja.

Btw - untuk scripting agar berhasil, maka kita harus berkomunikasi dengan menggunakan bahasa yang juga sama (sama seperti kode-kode tertentu ke dalam komputer), di sini komputer itu = alam bawah sadar manusia. 

Scripting bekerja di alam bawah sadar juga, namun gunakan kode-kode dengan cara sebagai berikut :

1. Gunakan bahasa gambar 
2. Gunakan present tense (saat ini)
3. Gunakan feeling (perasaan) sudah terjadi! Gunakan ke - 5 panca indera untuk bisa "merasakannya".

Jadi jangan gunakan tulisan : tahun depan aku akan ... karena tak akan bisa terjadi!

Yes, memang benar afirmasi adalah salah satu cara yang akan menjadi jet supersonik untuk mencapai tujuan. Tapi buatku, menulis hal seperti : "aku ingin cincin berlian" sampe 10 ribu kali - akan membuat aku merasa lelah, fatigue dan boro-boro bisa tersenyum sambil menuliskannya!

Padahal, tujuan kita menulis jurnal syukur ini kan agar bisa bijak dalam menyikapi kekurangan dan kelebihan diri!
Menuangkan hikmah-hikmah dalam setiap fase kehidupan yang dilalui dalam jurnal syukur, akan membuat seseorang lebih mudah untuk berpikir positif, dengan pikiran-pikiran positif yang mendominasi diri maka menjalani hidup akan menjadi lebih optimis dalam memanfaatkan modal waktu yang sudah Tuhan berikan.

Menulis jurnal syukur ini juga tak ditentukan kok, waktunya. Boleh dilakukan di pagi hari maupun malam hari, namun akan lebih maksimal hasilnya jika dilakukan di pagi hari saat kondisi badan masih fresh .

Oya seorang Rani noona aka Rani R Tyas, ternyata juga belajar membuat jurnal syukur, untuk self healing dari luka-luka yang belum sembuh, which is her inner child. Waaw... makin penasaran kan?  

Pertama. Apa saja yang dicantumkan di Jurnal Syukur?

Berikut poin-poin yang bisa dicantumkan di jurnal syukur:

1. Tuliskan 3 Hal yang Paling Disyukuri Hari Itu
   Mengingat kembali kenikmatan yang telah Tuhan berikan. Contoh:

“Nafas yang masih normal alias tanpa alat bantu”
“masih terbangun dari tidur”
“kaki dan tangan yang masih bisa digerakkan”
“masih bertemu dengan suami dan anak”

2. Tuliskan 3 Kebaikan Pasangan dan Anak-Anak
    Hal ini dilakukan agar semakin menikmati kebersamaan bersama pasangan dan anak-anak. Contoh:

“Alhamdulillah, kemarin jalan-jalan bareng suami dan anak-anak ke mall”
“Alhamdulillah, kemarin Papah (suami) membelikan kue kesukaanku”
“Alhamdulillah, kemarin putriku membantuku dalam membersihkan rumah”

3. Afirmasi Pagi
   Afirmasi ini seperti menginstal suatu keyakinan dalam diri agar siap menyambut hari dengan maksimal. Contoh:

"Hari ini adalah hari terbaik dari Tuhan, ku siap menjalani hari dengan penuh semangat"

4. Goals Hari ini
    Pada poin ini dicantumkan hal-hal apa saja yang perlu diselesaikan di hari itu. Contoh:

menyetrika baju sekolah anak-anak, mencuci piring, menulis satu artikel

5. Quotes Favorit
   Setiap orang biasanya memiliki quotes yang membuat diri lebih semangat atau trigger. Tidak semua quotes bisa memberikan dampak, maka temukan quotes yang membuat diri semangat untuk bergerak alias ga mager.

6. List 3 Nama Saudara/Teman yang Ditanya Kabarnya
     Menanyakan kabar teman/kerabat/saudara atau orang tua hal ini bisa menjadi pemicu rasa bahagia loh. Karena seyogyanya manusia itu senang jika diperhatikan oleh sesama. Maka memperhatikan orang-orang disekitar adalah satu cara untuk menjemput kebahagiaan

7. Evaluasi Hari Ini (Isi di Malam Hari)
    Dalam menjalani hari pasti tidak akan mulus 100%, maka di bagian inilah dituangkan hal-hal apa saja yang perlu diperbaiki agar kesalahan di hari ini tidak terjadi di kemudian hari

Manfaat Apa Saja Yang Didapat Setelah Menulis Jurnal Syukur?

1. Mampu merapikan pikiran

Kekacauan dalam hidup kita biasanya bermula pada kekacauan yang ada pada jiwa kita. Apa yang tampak dari luar seringkali menjadi cerminan bagaimana diri kita dari dalam. Rapikan kekacauan dalam diri itu dengan menuliskan hal-hal positif yang kita dapatkan dan kita miliki yang selama ini mungkin kita anggap sepele dan sering kita remehkan.

2. Mampu mengubah sudut pandang


Terkadang, hal buruk sekalipun jika kita pikirkan dengan baik, sebenarnya bisa kita syukuri. Ketika kita mampu memahami makna di balik sebuah peristiwa, entah itu menyenangkan atau tidak, kita pasti akan sadar bahwa sebenarnya yang memberikan label senang atau sedih itu adalah diri kita sendiri. Jadi, kita juga yang memegang kendali untuk bersedih tanpa akhir atau mengambil pelajaran darinya.

Nah jadi terjawab kan yaaa.. pertanyaan di atas? Kesimpulannya gak usah silau melihat orang lain, karena diri kita aja harusnya udah nulis banyak poin di jurnal syukur!

"Sholat udah, berdoa juga kan udah. Tapi kok masih nyeseeeek aja gitu, karena di medsos si Adul sedang jalan-jalan ke Jepang sekeluarga, si Gendis tetangga sebelah baru aja pamer punya mobil Wuling terbaru."


3. Mampu mengurangi stres


Menulis jurnal harian juga bisa menjadi sarana untuk mengurangi stres. Fokus pada perasaan syukur dapat membuat seseorang mampu melawan stres secara alami, merasa jauh lebih baik, serta mampu menghadapi kesulitan dengan lebih siap dan lebih baik.

4. Mampu mengundang kebaikan

Ketika kita meluangkan waktu untuk fokus pada hal-hal baik yang ada dalam hidup, kita akan menjadi pribadi yang memancarkan aura positif baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Sehingga, biasanya orang-orang akan tertarik kepada kita. Hal ini dapat menarik banyak peluang dan relasi serta kebaikan yang bermanfaat untuk kita.

5. Membuat kita lebih percaya diri


Melalui jurnal syukur, kita jadi tahu bahwa kita memiliki banyak hal. Terus-menerus merasa kurang tidak akan membuat kehidupan kita menjadi lebih baik. Bersyukur dengan apa yang telah kita miliki mampu membuat kita memandang dunia dengan cara yang berbeda.

Itulah lima manfaat atau dampak positif yang bisa kamu rasakan sendiri ketika mempraktikkan jurnal syukur setiap harinya. 

Hidup sudah serba cepat. Tak cepat maka terlewat. So, imbangi ini semua dengan latihan kesabaran melalui jurnal syukur. Yuk kita coba... kapan-kapan kita bahas yang 369 Journal dan neurografika art yuk!

45 komentar

  1. Bagus banget kebiasaan menulis jurnal syukur ini. Selain menambah nikmat, berpahala, juga bikin pikiran cenderung positif

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mbak hanya saja ya harus konsisten dan disiplin ya. Minimal dua Minggu pertama dilakukan tanpa henti

      Hapus
    2. Jadi kepengen juga mulai menulis jurnallagi,kebetulan banyak buku2 notes di ruah tak terpakai, tinggal nyari spidol dan sticker gemes aja kali ya untuk melengkapinya hehehe

      Hapus
  2. “Nafas yang masih normal alias tanpa alat bantu”
    “masih terbangun dari tidur”
    “kaki dan tangan yang masih bisa digerakkan”
    “masih bertemu dengan suami dan anak”


    Mbaaaa, aku baca hal² ini dan mAaaak dhegggg rasanyaaa.
    Banyak hal² yg tampak biasaaaa dan taken for granted, padahal jikalau nikmat itu dicabut, tak bisa kita menebusnya , even dgn uang trilyunan

    Bismillah, besok aku mau coba tulis jurnal syukur juga ahhh 😍

    BalasHapus
  3. MasyaAllah.. jadi pengen rajin lagi nulis jurnal syukur ini. Soalnya aku dah cukup lama males nulis-nulis beginian mbak. hiks. padahal manfaatnya banyak banget ya.

    BalasHapus
  4. Mbak, sepertinya aku perlu mencoba bikin nurnal syukur ini.
    Semoga aku ngga males, bisa konsisten dan ngga lupa2 mulu.
    Terima kasih tulisannya ngena, banget...

    BalasHapus
  5. wah bagus juga ya bikin jurnal syukur ini, buar refleksi diri juga nih, jadi kita bisa lebih bersyukur menghadapi hidup dan tantangannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul kalau aku lebih ke review diri sendiri

      Hapus
  6. Bener banget mbak. Syuku itu identik dengan realitas yang sesuai harapan. Sedang kalau sebaliknya, kita harus bersabar. Jadi seolah-olah syukur dan sabar itu pasangan serasi.
    Efeknya dahsyat ya kalau kita bikin jurnal syukur... Yuk, kita siapkan buat jurnal syukur demi kebaikan kita semua...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuuk dok, makasih ya dengan bersyukur kita jadi lebih sabar dan baik

      Hapus
  7. Rasa syukur memang luar biasa, tidak bisa dinyatakan hanya dengan kata tapi juga perbuatan. Namun, dengan menulis jurnal setidaknya terbantu, ya, mengungkapkan kebahagiaan dan rasa syukur. Nantinya saat dalam keadaan paling rapuh bisa dilihat kembali untuk memunculkan kembali rasa syukur. Terima kasih sharingnya!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yes mbake, Syukur membuat kita lebih bisa melihat apa saja kenikmatan yang sudah kita dapatkan tapi kita nggak sengaja melupakannya

      Hapus
  8. Saya nih diingatkan banget dengan tulisan ini, di mana udah lama terpikirkan bikin semacam tulisan syukur deh kayaknya, jurnal juga ya itu namanya, hahaha.
    Nggak perlu yang dihias-hias gitu, karena seni atau art saya sangat tidak mumpuni, tapi cuman menuliskannya di buku harian gitu, rasanya lebih kerasa ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Keajaiban rasa syukur yaa, membuat kita lebih bisa melihat apa saja kenikmatan yang sudah kita dapatkan tapi kita nggak sengaja melupakannya

      Hapus
  9. Seruu banget bikin jurnal syukur, mba Tanti. Rasa syukur yang ditulis dan diucapkan akan menarik energi positif kepada kita ya. Jadi, pikiran lebih ploong dan hati lebih tenang menghadapi hidup.

    BalasHapus
  10. Lewat jurnal syukur, memungkinkan kitanya jadi terkejut deh, karena betapa banyak nikmat karunia yang diberikan oleh-NYA, dan membuka jiwa juga untuk menerima dan makin self love ya

    BalasHapus
  11. Menarik bangettttt. Jurnal syukur. Wah, ternyata Ryder Caroll itu anak istimewa. Keren banget dia ya bisa menggagas bullet journal.

    Buat yang suka corat-coret, ilustrasi, keren banget nih pasti bikin jurnal syukur. Jadi pengen intip punya Mba Tanti. Hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, aku juga baru tahu si Ryder Caroll itu..... anak laki!
      Dan baru tahu juga dia ADHD dan pengidap anxiety! Tuh tanda seru semua hahahahaa

      Hapus
  12. kayanya semua udah saya kerjain deh, kecuali ......menyapam orang!!!

    hehehe ...karena walau di rumah aja saya banyak berinteraksi dengan orang via online

    padahal esensinya bukan sapa menyapa biasa ya?

    BalasHapus
  13. Manfaat menulis jurnal syukur ini banyak ya mbak
    Bisa ikut menjaga kesehatan mental juga
    Aku g pernah bisa rutin nulis jurnal syukur, nih

    BalasHapus
  14. Dengan kata lain. Bikin jurnal syukur adalah bentuk kita supaya terus memgingat nikmat Tuhan ya kak. Supaya selalu senantiasa bersyukur atas apapun yang kita dapat. Sesepele apa pun itu. Seperti bernafas misalnya

    BalasHapus
  15. Manfaat menuliskan jurnal syukur banyak banget yah..
    Dan menjadikan kita pribadi yang memaknai setiap detik yang hadir di dalam hidup kita. Aku kadang kalau malam suka belum bisa tidur tuh membayangkan "Aku hari ini sudah ngapain aja yaa..?"

    Jadi penting banget menuliskannya.
    Aku juga punya buku diary, biasanya aku tulisin tanggal penting kaya ujian anak-anak, DL postingan dan quote drama yang aku suka, hehhee...
    Gajauh-jauh dari itu yaa, kak Tanti.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waaaa bagus juga ini ya Len, pertanyaan sederhana : "Aku hari ini sudah ngapain aja yaa..?"

      Hapus
    2. Kayanya pertanyaanku selalu sesederhana itu, kak Tanti.
      Soalnya anaknya suka ngayal. Jadi kalau ditanyain hal lain, misalnya rencana besok, aku susah banget jawabnya. Karena rasanya setiap hari yang dilewati sama aja yaa.. Jadi merasa penting banget bikin jurnal syukur agar ke-tracking mood setiap hari oke or not.

      Hapus
  16. bisa buat makin bahagia ya Mba. Belakangan udah mulai nulis di buku harian, setelah sekian lama off.. ternyata menulis itu masya Allah sekali , banyak manfaatnya. jadi makin tau dan sadar banyak nikmat yang patut disyukuri

    BalasHapus
  17. Wah saya ternyata jarang memperinci apa saja kekurangan saya maupun kelebihan saya dan mencatatnya. Ternyata baru tahu ternyata penting dituliskan ya, karena ini bagian dari pengenalan diri sendiri. Adanya jurnal syukur ini bagus ya supaya kita menghargai diri kita dari beragam prespektif yang ada. Thanks sharingnya kak :)

    BalasHapus
  18. Aku sampai baca headernya lagi kirain ini blog mbak Rani.
    Seru bikin jurnal2 gini tuh,jd ingat masa2 SMP SMA, sekarang belum kepikiran lagi udah mumet dulaun tulisan tanganku makin jelekapa krn keseringan negtik yaa wkwk :p
    Tp kyknya seru nih bikin ginian kyk ngajarin telaten, trus menulisdi jurnal kan gak mungki error ilang kek pas nyimpen di gadget yaa. TFS inspirasinya.

    BalasHapus
  19. Ya ampun kak, terimakasih sudah mengingatkan diriku dengan tips ini. Dulu aku suka nulis diary, sekarang udah gak sempet meluapkan emosi di atas kertas diary, akibatnya sering uring-uringan. Mari kita terus bersyukur

    BalasHapus
  20. Pernah bikin, tapi saya belum konsisten.Kalau lihat jurnal syukur yang lucu-lucu, suka jadi pengen bikin lagi. Suka sama jurnal yang banyak gambarnya

    BalasHapus
  21. Hahaha... jadi nggak boleh nulis "besok saya akan diet " ya Mak, karena pasti besok nggak bakal terlaksana.

    Pengetahuan baru nih buat saya tentang jurnal syukur ini, dan ternyata banyak banget macamnya jurnal ini. Ditunggu tulisan selanjutnya tentang jurnal 369

    BalasHapus
    Balasan
    1. syiaaaabbbbb aku pun penasaran dengan metode metode healing melalui tulisan! Suwun idenya mbak nanik

      Hapus
  22. Nah kaaan .. terjawab : Syukur membuat kita lebih bisa melihat apa saja kenikmatan yang sudah kita dapatkan tapi kita nggak sengaja melupakannya

    BalasHapus
  23. Aku belajar lagi dari tulisan ini. Tentang hal-hal yang sebenarnya kalau dituliskan di jurnal syukur, tidak ada hentinya. Bahkan bisa-bisa satu buku tidak cukup untuk menuliskannya. Terima kasih remindernya ya Mbak, bismillah besok akan lebih banyak tulisan syukur yang bisa kita tulis.

    BalasHapus
  24. Yaampun ini tulisannya kok pas banget kayanya buat aku. Kebetulan aku juga lagi suka Journaling, tapi masih ngacak banget isinya.. Aahh, aku save ya oma, nanti aku contek langkah-langkahnya. Ntar aku tag oma ah kalo udah bikin, ehehe

    BalasHapus
  25. Terima kasih Mak Tanti jadi inspirasi untukku menuliskan jurnal syukur, sesuatu yang memang dibutuhkan ya biar bisa rapihkan fikiran

    BalasHapus
  26. Dah lama sejak punya anak gak pernah bikin jurnal harian lagi, padahal membantu banget buat healing stress

    BalasHapus
  27. wah saya belum ada nih nyoba bikin jurnal syukur. adanya cuma agenda tempat menulis berbagai kejadian sehari-hari. berarti untuk jurnal syukur ini juga harus dibikin di buku yang berbeda ya, mbak dengan buku agenda biasa

    BalasHapus
  28. MasyaAllah bener juga ya, banyak banget manfaat membuat jurnal syukur itu. Bisa digunakan untuk mengingat diri kalo lg futur ya mba. Hal sekecil apapun jangan lupa disyukuri, misalnya masih bernafas, masih bisa bangun pagi. Bagus nih kalo dipraktekkan jurnal syukurnya

    BalasHapus
  29. Jujur aja sih baru tau mengenai konsep jurnal syukur, kebanyakan kan buat jurnal utk kegiatan jadwal sehari2 ataupun finansial.
    Tapi menarik juga ya..jd seakan membuat afirmasi dan merenung kembali atas berkah yg selama ini didapat

    BalasHapus
  30. Aku pernah coba rutin mengisi jurnal syukur ini, tapi yang versi aplikasi gitu mbak. Niatnya biar praktis dan nggak males ngisi. Eh ternyata beda 'feel' nya antara yang pakai aplikasi dengan yang tulis tangan langsung. Sekarang lagi vakum bikin jurnal syukur, soalnya suka lupa.

    BalasHapus
  31. Masya Allah terima kasih Mbk, aku juga mau mulai lagi merapikan ibadah yang sempat enggak rapi kalau abis haid. Makaish sudah diingatkan membuat jurnal syukur.

    BalasHapus
  32. Pernah sekali nyoba menulis jurnal syukur, tapi baru beberapa paragraf dah males banget ngelanjutinnya. Baca poatingan ini jadi pengen melakukannya lagi.

    BalasHapus
  33. Baca tulisan Tante Tanti bikin Arin pengen nulis jurnal syukur juga. Padahal yaaa, Mbak Rani tu udah beberapa kali ngajakin untuk mem-bujo alias bikin bullet journaling. Cuma ya itu, Arinnya ngga pede karena ngga bisa gambar. Padahal manfaatnya banyak banget ya, Tante...


    NB: selalu sukaaa sama tulisan Tante Tanti.. ❤️

    BalasHapus
  34. Sejak kenal bujo, saya jadi semangat untuk menjalani hari meski sekarang lebih banyak ke scrapbooking (nempel menempel) stiker dan berbagai printilan lain. Kapan kapan aku colek mak Tanti ya di postinganku

    BalasHapus

TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA BLOG NENG TANTI (^_^)