Modal 10 Ribu Perak ke Puncak Gede Pangrango


Aroma solar truk tentara, berbaur dengan aroma tubuhku  yang lengket dan basah keringat. Sesekali, truk menerjang bebatuan, mengguncang tubuhku. Masih terpatri jelas di ingatan, sesekali debu jalanan Raya Bogor menyelinap masuk melalui sela terpal yang terikat kencang di badan truk. 

Di dalam badan truk beratapkan terpal itu, salah satunya adalah aku. 

Duduk di antara tumpukan ransel, gulungan tenda kusam dan riuh tawa para anggota Manunggal Bhawana (MB). 

Angin yang menerjang wajah, sesekali mengacak-acak rambutku, tapi yang lebih berantakan sebenarnya adalah isi kepalaku. Saat itu aku sedang menuju Gunung Gede Pangrango, tanpa persiapan, tanpa baju gunung sendiri, dan yang paling krusial: tanpa pamit pada Bapak dan Ibu!

Impulsivitas Anak Semester Empat


Semua ini gara-gara Indah. 

Dan.. tentu saja, salahku juga! Pulang kuliah, aku mampir ke kost Indah, yang terletak di seberang kampus. Indah terlihat terburu-buru, dan kali ini ia datang ke kampus hanya mengenakan celana pendek selutut dan baju berbahan flanel. 

Di saku belakang, terlihat sebuah sapu tangan merah miliknya, seragam anggota Manunggal Bhawana (disingkat MB aja ya), saputangan khas pendaki, yang biasanya diikatkan di tangan atau kepala. 

Tentu saja, sebagai sahabat yang baik kepo, aku jadi pingin tahu, ada apa sampai Indah terburu-buru begitu. Indah sendiri, malah senang, karena dari kampus ia harus membawa dua buah kantong besar yang terlihat berat. Aku menawarkan diri membawakan salah satunya (tentu saja yang dipilih yang paling kecil ..)

Setiba di kost, terlihat Zul (ini adik kelas persis di bawahku) dan beberapa anggota MB sudah bersiap-siap. Ada yang mengepak ulang peralatan tenda, mengecek konsumsi dan menyambut kantong kresek kami yang ternyata berisi peralatan seperti senter, tali dan tambahan mie instan, kornet dan beras. Pantesan berat.. sigh!

"Neng, mo ikutan gak?" Zul menyapaku, tawanya menggoda banget. Ia tahu, sebenarnya aku tergolong "anak mami" yang suka ribet dengan exit permit.

Aku nyengir. "Mau aja sih, tapi... "

"Tapi kenape Neng, kan udah kelar ujian?" Indah menyambar. "Sini, ntar gue yang pamitin ke Ibu deh," sahutnya lagi.

Mataku mendelik, "Sekarang?"

Timbul Pardede, si gondrong berwajah sangar berhati Mickey Mouse yang mendengar omongan kami menyahut, "Ya sekarang laaah Neng, masak tahun depan!"

"Hah? Gilee.. gue kan gak bawa duit, ga bawa baju, gak bawa apa-apa!" protesku. 

"Gampaaang... lo pake baju-baju gue," Indah seketika menjawab.

"Gue ada sarung, ada jaket, masalah konsumsi dan yang lain-lain mah gampanglah, urusan anak-anak!" Timbul dan Zul saling menimpali. 

Zul, si wakil ketua MB menambahkan. "Ini momennya jarang loh, Neng, ini pelantikan anggota baru nih, kan lo bisa ikut melihat." jelasnya. "Ada lagi tahun depan, loh!"

Hmm... hatiku seketika bergetar.... menarik juga, nih, apalagi aku belum pernah ke Gunung Gede Pangrango bersama teman-teman kuliah!

Ya, pendakian kali ini bersama tim MB yang dipimpin Kang Mono (Rusmono), seniorku di TT 84, dalam rangka pelantikan calon anggota baru Manunggal Bhawana. Pastinya menarik, karena melibatkan perploncoan ala MB, jurit malam, hingga pentahbisan dengan api unggun.

Sebagai mahasiswa semester empat yang jiwanya sedang haus petualangan, kata "hayuk" meluncur begitu saja sebelum logika sempat memprotes!

The problem is....

Era itu bukan zaman di mana aku bisa kirim pesan WhatsApp singkat: "Bu, aku naik gunung dulu ya." Tidak ada ponsel. Yang ada hanya aku, ransel pinjaman, sepatu gunung milik teman yang ukurannya mungkin agak meleset, dan uang sepuluh ribu perak yang (kebetulan) terselip di dompet, sisa uang sakuku minggu itu. Modal nekat yang kalau dipikir sekarang, sungguh sebuah "keajaiban" logistik!

Akar yang Tak Bisa Bohong


Sebenarnya, aku bukan pendaki kemarin sore. 

Jiwa petualang ini sudah dipupuk oleh almarhum Bapak. Karena bekerja di Kehutanan, beliau juga kadang bisa bertindak seperti ranger hutan persemaian di pelosok hutan Kalimantan. Ya, Bapak waktu itu ditugaskan di perbatasan Kalimantan Utara. Pulau Nunukan, Pulau Sebuku, hingga Pulau Sebatik, adalah gugusan pulau  yang sesekali kami datangi mengendarai speed boat.

Makanya, sejak berseragam Pramuka di SD dan SMP, hingga pindah ke Jakarta dan mengikuti pelatihan pecinta alam bersama Gasakpala di SMAN 46, aku sering ikut kegiatan di alam seperti ini. 

Mungkin itu sebabnya aku merasa "aman-aman saja" meski pergi dengan perlengkapan minim, dan pinjaman pula! Ada insting yang sudah terlatih, meski kali ini insting itu agak kalah dengan rasa bersalah karena belum melapor ke rumah... hi hi...

A Little Drama at Bogor

Ini nih gaes, yang namanya telepon umum jaman baheula.
Foto ilustrasi ini kuambil dari website lovelybogor.com


Kami berangkat mengendarai mobil bak terbuka hingga daerah Parung, dan akan bertemu grup lain di situ, dilanjutkan naik truk tentara hingga tujuan akhir nanti di Selabintana. 

Aku lupa nama daerahnya, tapi seingatku itu sudah masuk ke daerah Bogor, dan dengan girang aku berlari ke telepon umum.  Ternyata, Indah sebenernya sudah berusaha menghubungi rumahku sebelum berangkat, tapi telpon rumah tidak diangkat.

Jadilah, aku berdiri di depan telepon umum. Jari-jariku gemetar memasukkan koin. Saat suara Ibu terdengar di ujung sana, jantungku berdegup lebih kencang daripada saat menanjak nanti.... mulutku komat kamit baca mantra, eh doa.

"Assalamulaaikum Ibu, ini Neng, aku udah di Bogor. Mau berangkat diajak Indah sama anak-anak MB naik Gunung Gede Pangrango..." aku bicara tanpa titik koma.

Hening sejenak. 

Aku sudah siap dengan ceramah panjang. Namun, di situlah letak keajaiban orang tuaku. Mereka paham. Mereka tahu anak gadisnya ini memang "anak hutan" sejak kecil. Alih-alih marah, mereka justru memberi restu dengan pengertian yang luar biasa. 

Fiuuuhh... itu yaaa, sepuluh ribu perak di kantongku mendadak terasa seperti satu juta karena beban di pundakku baru saja diangkat oleh suara Ibu yang adeeem.. bangeeet!

The Experience: Satu Malam di Gede yang Berubah Jadi Dua Malam


Singkat cerita, dengan langkah ringan, aku pun mulai pendakian ke Gede Pangrango!

Tapi, pendakian ke Gede Pangrango bersama Kang Mono dan kawan-kawan MB kali ini, adalah campuran antara keletihan fisik dan euforia mental. Yes, kan mereka juga sedang membawa calon anggota baru!

Syukurlah, karena cuaca juga sedang bersahabat, plus suasana hati yang gembira, aku dan kawan-kawan menikmati sekali. Perploncoannya juga engga gimana-gimana banget, formalitas saja karena ini malam pelantikan.

Yang jelas, ekspektasiku menginap satu malam di sana, di bawah langit yang saat itu masih bersih dari polusi cahaya, membuatku sadar betapa kecilnya aku, dan betapa luasnya ruang yang diberikan orang tuaku untuk aku tumbuh. Aku bersyukur sekali, karena aku jadi bisa menikmati banyak cerita lucu, mulai dari kaki yang lecet karena sepatu pinjaman, hingga candaan khas anak pecinta alam yang membuat perjalanan yang berat terasa ringan.

Emang ga ada dramanya blas, Neng? Oohhh tentu saja : adaaa! Ini dia ceritanya...

Tragedi Logistik & Solusi Absurd



Namanya juga bocah nekad yaaa, biar pun di akhir ada restu ortu, tapi kaaan.. pergi kali ini minim persiapan ya. 

Pasti pada bisa nebak, yang paling bikin pecah adalah tragedi logistik "pribadi" hahaha... 

Karena berangkat tanpa rencana, aku cuma modal pakaian dalam seadanya, alias pinjam punya Indah satu setel saja. Ya Indah kan juga anak kos, jadi persediaan pakaiannya juga terbatas.

Sampe besok sih, masih aman ya, aku masih pede karena merasa punya persediaan. Masalah muncul saat Kang Mono dan tim MB mulai sesi "akrab dengan alam" alias perploncoan anggota baru. Kami main kotor-kotoran, dan bergumul dengan lumpur, dan diguyur hujan gunung yang nggak kenal ampun. Otomatis, stok pakaian dalamku habis total!

Dan, karena komunikasi kurang lancar, ternyata kami akan dijemput lagi di malam hari ketiga! Waduh, aku langsung keringat dingin. Udah gelisah, kan gak lucu kalo semriwing ga jelas yaaa! 

Di tengah krisis itu, Adib (senior Ars 84 dan dedengkot MB) plus seorang teman harus turun ke daerah Bogor untuk restock logistik. Aku menitip misi suci: tolong belikan pakaian dalam! Untuk sementara.. aku berbesar hati pake sarung aja dan mengurusi konsumsi di tenda. Aman...


Ketika beberapa jam kemudian Adib datang, aku berseri-seri menunggu, akhirnyaaa... 

Tapi... kenyataan pahit menghantamku: anggaran menipis, dan mereka harus memilih antara "kenyamanan pribadi" atau "perut kelompok". Akhirnya, uang itu dialihkan untuk beras, telor, kornet dan mi instan!

Gubrak.

Melihat mukaku yang nelangsa, Adib dengan wajah tanpa dosa menawarkan solusi paling absurd sepanjang sejarah pendakianku. "Nih Neng, gue masih punya singlet, plus... ini, pakai punya gue aja. Sumpah, ini baru, masih dalam kotak!" katanya sambil menyodorkan CD pria miliknya. 

Sontak, tawa meledak di tengah hutan. Jadilah hari itu aku resmi jadi "anggota kehormatan" dengan perlengkapan yang sangat tidak standar. 

Puncaknya, saat aku sedang mandi di sungai, suara cempreng teman-teman  cowok membahana dari balik semak: "Neeeeng, cukup nggak Neeeng? Nggak kedodoran kan?!" yang sukses bikin aku pengen tenggelam aja di air sungai yang dingin itu... hiks hiks..

The Circular Ending


Aaah..walau drama kecil terjadi, tak membuat aku sedih loh, malah jadi bikin cengar cengir sendiri setiap saat dan membuat memori di teman-teman juga.. ha haaaa... (sampe sekarang, kalau lagi reunian, peristiwa ini tuh sesekali dibahas!)

Truk tentara yang membawaku pulang akhirnya menurunkan kami kembali ke realita kampus Serpong.  Aku pulang dengan baju bau asap api unggun dan hati yang penuh. 

Pendakian ke Gunung Gede Pangrango pertama itu, mengajarkanku bahwa petualangan terbaik sering kali datang dari ketidak sempurnaan. Ajakan berangkat yang mendadak, dapat restu utuh ortu, persahabatan yang terjalin akrab seperti saudara senasib se-celana dalam .. eeh maksudnya seperjuangan, adalah puncak tertinggi yang sebenarnya.

Kenangan itu masih rapi tersimpan, jauh lebih awet daripada uang sepuluh ribu perak yang habis di perjalanan...

Pernah nggak sih kalian melakukan hal senekat ini di masa kuliah? Ceritain dong pengalaman impulsif kalian yang paling berkesan di kolom komentar!

Komentar

  1. keren nih survival instingnya kuat banget. aku pas SMA ikut ekskul pencinta alam. kami diajarkan untuk tetap penuh persiapan saat akan mendaki atau kegiatan alam lainnya. jadi, senekat2nya kita tetep kayanya masih bisa selamat lah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Naah iya, aku juga belajar makan pucuk-pucuk daun, belajar masak seadanya, dan yang penting juga kalo misal kena pacet (lintah) atau amit-amit... ular, dll

      Hapus
  2. Ini sih inspiratif sekali. Sebagai keluarga besar kehutanan ternyata kakak melanjutkan tradisi 'munggah gunung' juga ya. Salut kak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulillaah ..
      tapi aneh deh mas, adikku 2 laki-laki ngga ada yang ngikutin jejak almarhum Bapak!

      Hapus
  3. Haha ya ampun kompak dan solid banget teman-teman mba Neng ini. Kebayang saking perhatiannya sampe nawarin sewempak euy. Kira-kira abis dipake dibalikin lagi gak tuh? Uhuy. Bukan aja mba Neng yang senyum-senyum mengingat memory itu. Yang baca juga ikutan senyum saking serunya baca cerita ini. Apalagi pas telpon tuh, aku dulu juga nelponnya pake koin cepek, kalo kelamaan ngomong suka bunyi nut nut nut 😅

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahahha ini tuh memori yang sangat membekas buatkuuuu... ga pernah in a thousand years ada kejadian kayak gini lagi (((tutup muka maluuu)))

      Hapus
  4. Astaga. Gong banget tuh yang pake pakaian dalam temennya. Kalau punya sesama cewek sih mending ya. Lha ini dikasih punya cowok. Gokil. Hahaha

    BalasHapus
  5. kegiatan paling seru saat nanjak adalah makan bersama dipuncak :D

    BalasHapus
  6. Dih nekad betol hahahaha. Aku senang menjelajah tapi kalau urusan naik gunung, nehi dah hahahaha. Bukan takut tapi memang gak kuatan nafas sama dengkul. Tapi cerita ini seru sih. Apalagi berangkat dengan status "serba nebeng" hahahaha. Bondo nekad gak ada tandingan.

    BTW, inget banget yak susahnya komunikasi jaman kita itu. Ngandalin telpon koin dan warnet. Jadi teringat, gue bikin skripsi masih pakai mesin ketik. Yang kalo direvisi di tengah-tengah kudu ngetik ulang bagian yang bergeser karena revisi hahahaha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini kan judulnya ga naik gunung serius katanya para pecinta alam beneran wkwkwkkwk apalaaah gw si pecinta alam abal abal

      iyaaa bener .... ngalamin banget tuh ngetik setengah mati trus ketumpahan kopi !!!

      Hapus
  7. Wkwkwk.. Mba ade ngakak baca ceritamu. Ade bayanginnya geliii.. Hahaha.. Walau bersih juga. Otak ade dah kemana-mana.. Hahaha.. Ampun daah.. Bener-bener dah tuh jadi memori tak terlupakan sepanjang masa.. Hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. bahahahaha Jangaaan Deeee jangan diterusin hayalan kotormu ituuuhhhh *dilempar sendal sama Ade

      Hapus
  8. saudara senasib se-celana dalam, hehehe... Tapi masih untunglah mbak, ada CD baru walau CD untuk pria. Yah, gimana lagi, yang punya sendiri kan udah nggak bisa di pakai side A side B.

    Saya juga pernah mendadak mendaki ke Gunung Lawu, di hari terakhir ujian. Tapi karena kos pas di depan kampus, masih sempat packing perbekalan sebelum berangkat. Ditungguin serombongan di depan kos, jadi serasa di buru-buru. Dan pastinya nggak ngasih tahu ortu. Lha di rumah ortu, di kampung, nggak ada telepon.

    BalasHapus
    Balasan
    1. mana senior beneran itu mbak Naniiikkk aku tengsin banget kalo ketemu dia lagi pastinya

      Hapus
  9. Mak Neng sesuatu banget dah menghadapi rintangan pada jaman yang MasyaAllah hehe. Pakaian dalam yang berbagi, soal telepon era bahela, dan keunikan lainnya. Daku mah waktu kuliah nggak macam tu Mak, apalagi sampai hiking ke gunung, soalnya gak dibolehin huhu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Feeeennn
      you know what? sekarang aku yang malah over protective sama anak gadiskuuuu

      Hapus
  10. semula "reuwas" baca Mbak Tanti mau nekad naik gunung
    sesudah baca kalo pecinta gunung, barulah tenang
    Dan ngakak ketika harus pake CD cowok, hahaha.... pasti jadi pengalaman terindah yang sulit dilupakan ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku sih engga pecinta nanjak nanjak amat, kalo pas lagi ada acara seru seruan aja baru mau ikutan hahahhaa

      Hapus
  11. Seru banget baca cerita ini, kayak nostalgia ke 2005-2008 pas masih aktif-aktifnya nanjak.

    Tragedi logistik pribadinya lucu amat mbak. Wkwkwkwk. Niatnya titip pakaian dalam, pulangnya malah ditawari CD cowok ama senior. Kebayang banget itu ngakak rame-rame di tengah hutan.

    BalasHapus
  12. Ya ampun seru banget, indahnya masa muda masa remaja, saat banyak teman dan banyak melakukan kegiatan yang menantang :D
    Tapi nekat juga nih ya gak bilang ortu, sini cubit dulu haha. Untung orang tuanya bijak yaa, gak langsung ngomelin, karena udah paham keknya tabiat anaknya :D
    Ngakak bagian disodorin singlet ma CD wkwk, dibalikin gak tuuu wkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. qiqiiqqii ampuuun April 😁😁😁😁😁

      iya ini sekarang kalo diingat ingat lagi agak emejing

      Hapus

Posting Komentar

TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA BLOG NENG TANTI (^_^)

Postingan Populer