Bunda Belajar di Era Digital: Cara Bijak Menyaring Informasi Parenting dari Media Sosia


Pernah nggak sih, Bun… tiba-tiba lihat sebuah video di media sosial yang bikin kaget? Judulnya besar banget:

“WAJIB TAU!!!” “BAHAYA KALAU ORANG TUA MASIH MELAKUKAN INI!” “TERNYATA SELAMA INI KITA SALAH!”

Lalu tanpa sadar… jempol langsung pencet share. Masuk grup keluarga. Masuk grup sekolah anak. Masuk grup ibu-ibu. Dengan niat baik tentunya.

Karena sebagai orang tua, kita memang punya naluri ingin melindungi. Kita ingin berbagi sesuatu yang menurut kita bermanfaat untuk anak dan keluarga.

Tapi beberapa menit kemudian ada yang bertanya:
    “Ini sumbernya dari mana ya?” “Ini bener nggak?” “Sebenernya kasusnya gimana?”

Dan kita cuma bisa jawab:
    “Hmm… kurang tau juga sih Bun, aku lihat lewat FYP tadi… tapi kayaknya penting.” 🤣

Nah… selamat datang di zaman informasi berlari lebih cepat daripada kita memahami isinya!

Bunda Belajar Bukan Sekadar Mengumpulkan Informasi

Menjadi ibu di zaman sekarang memang unik.
Dulu orang tua belajar dari pengalaman keluarga, buku, atau nasihat orang sekitar.

Sekarang seorang ibu bisa belajar tentang tumbuh kembang anak, kesehatan mental, nutrisi, sampai parenting hanya dari genggaman tangan.

Teknologi membuat kesempatan belajar menjadi jauh lebih luas.
Tapi ada satu hal penting:

Bunda belajar bukan hanya tentang seberapa banyak informasi yang kita konsumsi, tapi seberapa bijak kita menyaringnya.

Karena tidak semua informasi yang viral adalah informasi yang benar. Tidak semua yang ramai dibicarakan cocok diterapkan untuk setiap keluarga.

Setiap anak punya karakter berbeda. Setiap keluarga punya kondisi berbeda.


Fenomena “Aku Share Karena Kayaknya Penting”

Kadang lucu juga melihat bagaimana kita hidup di era “potongan informasi”. Kita melihat video 20 detik. Kita membaca judul 1 kalimat. Kita mendengar opini seseorang.

Lalu otak kita langsung menyimpulkan satu cerita lengkap!

Padahal bisa jadi video itu hanya potongan kecil dari sebuah pembahasan panjang. Ibarat melihat satu halaman novel lalu merasa sudah tahu seluruh ceritanya.

Dalam dunia parenting, ini bisa jadi tantangan tersendiri.
Karena keputusan orang tua berhubungan langsung dengan anak.

Misalnya tentang pola makan, pendidikan, emosi anak, atau cara mendisiplinkan anak. Butuh lebih dari sekadar video viral untuk memahami sesuatu.


Parenting di Era Digital: Orang Tua Juga Perlu Literasi
Menjadi orang tua bukan berarti harus tahu semuanya.

Justru menjadi orang tua adalah perjalanan belajar seumur hidup. Dan mungkin inilah arti sebenarnya dari parenting:

Bukan menjadi orang tua yang selalu benar.
Tapi menjadi orang tua yang mau terus belajar. Bunda belajar !

Belajar bertanya. Belajar mencari tahu. Belajar mendengar. Belajar mengakui kalau ada hal yang belum kita pahami.
Karena anak-anak kita hidup di zaman yang berbeda dengan masa kecil kita.

Mereka tumbuh dengan teknologi, informasi, dan tantangan baru. Maka orang tua juga perlu bertumbuh bersama mereka.


Sebelum Share, Coba Berhenti Sebentar dan Tanya 3 Hal

Sebelum menyebarkan sebuah informasi, 
mungkin kita bisa mulai dengan kebiasaan kecil:

  1. Apakah ini benar atau hanya terdengar meyakinkan?
    Karena sesuatu yang dikemas dramatis belum tentu akurat.
    2. Apakah ini relevan untuk kondisi keluarga saya?
        Karena tips parenting yang cocok untuk satu anak belum tentu cocok untuk anak lainnya.

    3. Apakah saya membagikan karena bermanfaat, atau karena ikut panik?

        Karena kadang bukan informasi yang kita butuhkan… tapi ketenangan sebelum mengambil keputusan.

Pada akhirnya, menjadi bunda di era digital adalah tentang keseimbangan. Tetap terbuka dengan ilmu baru, tapi tidak mudah terseret arus. Tetap mengikuti perkembangan zaman, tapi tetap menggunakan logika dan hati.

Karena bunda yang hebat bukan bunda yang tahu semua hal.
Tapi bunda yang selalu mau belajar.

Dan mungkin kalimat paling jujur di zaman sekarang adalah:

“Bunda mau cerita… jadi gini ceritanya… awalnya tuh begini… terus agak susah dijelasin… pokoknya gitulah…” :))

Tidak apa-apa, Bun.

Yang penting setelah itu kita lanjut:
“Yuk cari tahu dulu kebenarannya.” 

Aku ikut ketawa karena ini memang fenomena zaman sekarang banget… kadang kita bukan kekurangan informasi, tapi kelebihan informasi yang datangnya potongan-potongan.

PS.
        Buat ibu-ibu ya Buuuun, tolong yang niat awalnya selalu mulia: “Ini aku share ya, siapa tau berguna…” 

        Tapi setelah ditanya: “Bun ini penelitian siapa?” “Ini kejadian di mana?” “Ini konteksnya apa?"

        langsung mode: “Eee… pokoknya tadi lewat…” pliissss.. gather facts dulu  yaa, bisa di Cek Hoax atau dari sumber berita resmi pemerintah. Kalo dah valid beritanya, baru deh pede buat di-share, okeh!
 

Komentar

Postingan Populer