Naik Bus Lintas Negara: Dari Kuala Lumpur ke Singapore, Pulang Bawa Cerita dan Persahabatan
Ada satu hal yang aku sadari setiap kali traveling.
Kadang yang paling membekas bukan hanya tempat wisatanya, bukan foto estetiknya, bahkan bukan juga oleh-olehnya. Tapi… orang-orang yang hadir selama perjalanan itu berlangsung.
Trip ke Malaysia dan Singapore kali ini jadi salah satu perjalanan yang rasanya akan lama tinggal di kepalaku. Walau sebelumnya waktu aku kecil aku beberapa kali ke Malaysia, tapi bukan daerah KL. Aku selalu hanya main ke Tawau, Sandakan, Kuching, dskt. Udah pernah aku tulis di sini ya..
Trip ke Malaysia dan Singapore kali ini jadi salah satu perjalanan yang rasanya akan lama tinggal di kepalaku. Walau sebelumnya waktu aku kecil aku beberapa kali ke Malaysia, tapi bukan daerah KL. Aku selalu hanya main ke Tawau, Sandakan, Kuching, dskt. Udah pernah aku tulis di sini ya..
Dan, aku juga pernah ke KL dalam rangka blogging, Eat, Travel, Doodle tapi aku belum pernah ke destinasi wisata lainnya.
Bukan cuma karena akhirnya bisa melihat langsung megahnya Universal Studios Singapore, foto di beberapa ikon negara Singa, atau menyaksikan Batu Caves dan Genting Highland yang selama ini cuma saya lihat di media sosial. Tapi karena perjalanan ini mempertemukan saya dengan orang-orang yang satu frekuensi.
Dan lucunya, semua ini berawal dari sebuah ajakan sederhana.
Dan lucunya, semua ini berawal dari sebuah ajakan sederhana.
Berawal dari Mentor Menulis yang Justru Tidak Ikut Berangkat
Trip ini awalnya diinisiasi oleh Teh Meli, mentor menulis yang selama ini sering membersamai kami belajar dan berkembang di dunia kepenulisan. Tapi plot twist-nya sungguh di luar nalar Gen Z: beliau malah tidak jadi ikut pergi.
Awalnya kami sempat merasa agak bingung. Kayak, “Lho… ini serius tetap jalan?” Tapi ternyata justru dari situlah cerita serunya dimulai.
Saya berangkat bersama Teh Noeng, Mbak Dwi, Mbak Ajeng, dan juga Ari Dianing beserta putrinya Aleya, Ari ini sebenarnya teman kuliah adik saya. Lucu yaa.. yang tadinya cuma saling tahu nama, akhirnya malah jadi dekat selama perjalanan!
Kadang semesta memang suka aneh. Orang yang awalnya terasa asing, tiba-tiba bisa jadi teman ngobrol paling nyambung saat sama-sama antre imigrasi sambil menahan kantuk dan pegal.
Awalnya kami sempat merasa agak bingung. Kayak, “Lho… ini serius tetap jalan?” Tapi ternyata justru dari situlah cerita serunya dimulai.
Saya berangkat bersama Teh Noeng, Mbak Dwi, Mbak Ajeng, dan juga Ari Dianing beserta putrinya Aleya, Ari ini sebenarnya teman kuliah adik saya. Lucu yaa.. yang tadinya cuma saling tahu nama, akhirnya malah jadi dekat selama perjalanan!
Kadang semesta memang suka aneh. Orang yang awalnya terasa asing, tiba-tiba bisa jadi teman ngobrol paling nyambung saat sama-sama antre imigrasi sambil menahan kantuk dan pegal.
Mendarat di KLIA, Lanjut Perjalanan Darat ke Singapore
Perjalanan dimulai saat kami tiba di Kuala Lumpur International Airport atau yang lebih dikenal dengan KLIA.
Jujur ya, bandara ini luas banget. Rasanya seperti masuk ke kota kecil yang isinya koper, troli, dan manusia dari berbagai negara. Setelah urusan imigrasi selesai, kami tidak lama-lama di Kuala Lumpur karena tujuan pertama kami justru Singapore.
Dan yes… kami memilih jalur darat.
Buatku pribadi, perjalanan lintas negara lewat darat itu punya sensasi tersendiri. Ada rasa seru yang beda. Bisa melihat perubahan suasana kota, rest area, jalanan, sampai bahasa yang perlahan berubah sepanjang perjalanan.
Di bus, obrolan mulai ngalor-ngidul. Dari dunia menulis, drama deadline, kehidupan emak-emak kreatif, ada yang cerita tentang ... ehem ehem jugaaaa, sampai teori absurd kenapa penulis sering overthinking jam 2 pagi.. wkkwkwk..
Entah kenapa, perjalanan panjang jadi terasa pendek kalau dilakukan bersama orang yang nyambung.
Singapore: Negara Kecil yang Rasanya Super Rapi
Begitu masuk Singapore, hal pertama yang langsung terasa adalah… semuanya tertib. Bahkan saya sempat bercanda, “Ini rumputnya kayak habis disisir.”
Kami langsung menuju ke beberapa destinasi ikonik yang selama ini cuma muncul di beranda sosmed, karena kami tidak akan menginap di Singapore.
Akhirnya Sampai di Universal Studios Singapore
Momen paling heboh tentu saat mengunjungi Universal Studios Singapore.
Sebagai orang dewasa yang kadang capek sama realita hidup, masuk ke tempat ini tuh seperti diberi izin resmi untuk jadi anak kecil lagi.
Kami foto-foto tanpa jaim, ketawa-ketawa naik wahana, panik bareng, dan sibuk saling jadi fotografer dadakan. Ada momen ketika saya melihat teman-teman saya tertawa lepas, dan rasanya hangat banget.
Karena ternyata kebahagiaan sederhana itu memang nyata.
Bukan tentang naik wahana paling ekstrem atau punya foto paling aesthetic. Tapi tentang bisa menikmati momen tanpa sibuk memikirkan pekerjaan, tagihan, atau drama kehidupan.
Sebagai orang dewasa yang kadang capek sama realita hidup, masuk ke tempat ini tuh seperti diberi izin resmi untuk jadi anak kecil lagi.
Kami foto-foto tanpa jaim, ketawa-ketawa naik wahana, panik bareng, dan sibuk saling jadi fotografer dadakan. Ada momen ketika saya melihat teman-teman saya tertawa lepas, dan rasanya hangat banget.
Karena ternyata kebahagiaan sederhana itu memang nyata.
Bukan tentang naik wahana paling ekstrem atau punya foto paling aesthetic. Tapi tentang bisa menikmati momen tanpa sibuk memikirkan pekerjaan, tagihan, atau drama kehidupan.
Drama Sakit Perut di Merlion dan Makan Nasi Plastik ..
Tentu saja kami juga mampir ke Merlion.
Yes, landmark legendaris yang selalu jadi bukti sah seseorang pernah ke Singapore.
Area sekitar Merlion ramai banget wisatawan dari berbagai negara. Ada yang serius bikin konten, ada yang sibuk cari angle foto terbaik, ada juga yang cuma duduk menikmati suasana sore.
Dan akuuu? Aku malah sibuk bolak-balik ke rest room!
Omaygad. Ngga nyangka kalo makan nasi lemak pagi-pagi bisa seketika bikin perutku ngga kompromi... Allah memang Maha Baik, di saat aku udah panik, si bus tau-tau dihentikan persis di depan pintu masuk Merlion, dan... tadaaa.. aku langsung berlari ke rest room yang apik dan fancy di situ!
Drama ke dua...
di Garden's by The Bay, kami si para penumpang yang terhormat, dibagiin nasi yang dibungkus pake plastik!
Hadeeh.. ya iya sih, tau kalo nasi lemak atau nasi rames yang dibeliin pasti enak, karena kan buat wisman mereka yah, tapi kaaan.. dibungkus plastik, terus dijadiin di satu kantong besar... dan dibagiin pas udah siang jam 1 kalo ga salah.
Kebayang kan, bentukannya kek mana? Udah gitu aja..
Keliling Belanja di Bugis Street Sampai Kaki Mau Copot
Kalau perempuan-perempuan kreatif dikumpulkan dalam satu trip, jangan harap pulangnya cuma bawa oleh-oleh seperlunya. Kami keliling beberapa pusat belanja, masuk keluar toko, saling racunin barang lucu, dan berkali-kali berkata:
“Ini murah gak sih kalau dirupiahin?”
Lucunya, yang paling seru justru bukan barang yang dibeli... malah cekikikan tiap keluar masuk shopping center. Yang dibeli ngga jauh-jauh dari aksesoris, coklat, roti-roti lucu buat dimakan di hotel, sampe ke.. Vicks seharga cuman $1 ! Gara-gara itu, kami berlima langsung jadi dekat dan kompak!
“Ini murah gak sih kalau dirupiahin?”
Lucunya, yang paling seru justru bukan barang yang dibeli... malah cekikikan tiap keluar masuk shopping center. Yang dibeli ngga jauh-jauh dari aksesoris, coklat, roti-roti lucu buat dimakan di hotel, sampe ke.. Vicks seharga cuman $1 ! Gara-gara itu, kami berlima langsung jadi dekat dan kompak!
Traveling memang aneh. Kadang itinerary penting, tapi chemistry antar orang jauh lebih menentukan.
Kembali Lagi ke Malaysia
Setelah puas menikmati Singapore, kami kembali lagi ke Malaysia lewat jalur darat.
Meski badan mulai lelah, suasana tetap hidup. Ada yang mulai ketiduran di bus, ada yang scrolling foto hasil perjalanan, ada juga yang masih kuat ngobrol sampai malam.
Aku pribadi merasa perjalanan ini seperti recharge mental.
Bukan tipe healing yang penuh quotes motivasi, tapi healing yang sederhana. Ketawa bareng, makan bareng, tersesat sedikit, lalu menemukan jalan lagi bersama-sama.
Batu Caves: Megah, Ramai, dan Penuh Warna
Keesokan harinya kami mengunjungi Batu Caves.
Tempat ini benar-benar ikonik. Tangga warna-warni dengan patung emas raksasa itu ternyata jauh lebih megah saat dilihat langsung dibanding di foto.
Tapi ya… naik tangganya juga lumayan bikin napas auto evaluasi gaya hidup.
Di atas, suasananya unik sekali. Ada nuansa spiritual, wisata, budaya, dan keramaian yang bercampur jadi satu. Saya suka tempat yang punya karakter seperti ini.
Dan tentu saja, kami kembali sibuk foto-foto sambil sesekali mengeluh:
“Ya Allah panas banget tapi fotonya harus bagus.”
Perjuangan konten kreator memang kadang tidak masuk akal....
Genting Highland: Negeri di Atas Awan
Hal pertama yang wajib kamu lakukan ketika berlibur di Genting Highland district adalah naik kereta gantung. Gondola ini berjalan di lintasan sepanjang 2.8 km dengan waktu tempuh sekitar 10 menit. Ada dua jenis gondola yang bisa kamu tumpangi di sini Gondola standar dan lantai kaca.
Satu kabin standar bisa muat hingga 10 penumpang dan kabin kaca muat untuk 6 orang. Jika takut ketinggian, maka lantai tertutup bisa jadi pilihan. Namun, jika kamu tak ada masalah dengan ketinggian, maka pilih lantai kaca.
Perjalanan menuju ke sana cantik banget. Kabut, pegunungan, udara dingin… rasanya seperti masuk ke scene drama Asia.
Begitu sampai, aku langsung paham kenapa tempat ini begitu fenomenal.
Lampu-lampunya, bangunannya, suasana modern bercampur hawa dingin pegunungan. semuanya punya vibe yang berbeda dibanding kota biasa.
Sebelum mencapai Genting Highlands, kamu bisa turun terlebih dahulu di Stasiun Chin Swee untuk berkunjung ke Kuil Gua Chin Swee.
Kuil untuk umat Taoisme ini berlokasi di atas pegunungan sehingga memberikan daya tarik tersendiri. Kamu bisa berkeliling kuil untuk melihat Patung Qingshui, naik ke pagoda berlantai 9 untuk melihat panorama Genting Highland Malaysia secara 360 derajat.
Lucunya, ketika sampai di Skytropolis, alih-alih keliling (lagi..) kami malah ndelosor cari tempat duduk dekat eskalator, jajan macam-macam sate ala taichan dan minum kopi. Abis itu ngerumpi hahaha...
Tentang mimpi.
Tentang hidup.
Tentang perjuangan jadi perempuan yang tetap berkarya di usia yang tidak lagi muda. Tentang rasa lelah yang sering disembunyikan di balik senyum dan deadline.
Mungkin karena sama-sama penulis, kami jadi punya cara pandang yang mirip. Sama-sama suka mengamati hidup, sama-sama menyimpan cerita di kepala.
Lucunya, ketika sampai di Skytropolis, alih-alih keliling (lagi..) kami malah ndelosor cari tempat duduk dekat eskalator, jajan macam-macam sate ala taichan dan minum kopi. Abis itu ngerumpi hahaha...
Tentang mimpi.
Tentang hidup.
Tentang perjuangan jadi perempuan yang tetap berkarya di usia yang tidak lagi muda. Tentang rasa lelah yang sering disembunyikan di balik senyum dan deadline.
Mungkin karena sama-sama penulis, kami jadi punya cara pandang yang mirip. Sama-sama suka mengamati hidup, sama-sama menyimpan cerita di kepala.
Pulang dengan Hati yang Lebih Penuh
Esoknya kami masih keliling tapi dengan destinasi Central Market, karena Dataran Merdeka ditutup, ada upacara entah apa... dan ke Harriston Boutique Museum Coklat, di situ sepuasnya makan coklat gratis!
Pilihan rasa coklat yang dipajang di etalase Harriston Chocolates ada banyak. Seperti dark chocolate, tiramisu, kopi, almont, hazelnut, sampai rasa buah-buahan, yaitu strawberry, durian, dan lainnya.
Sore pun tiba. Kami mampir ke kedai yang menyediakan bihun kuah yang aku lupa namanya apa, tapi enaak banget, seger... usai dari situ, kami bergegas ke KLIA karena waktu berangkat kami memang langsung checkout dari hotel.
Perjalanan ini akhirnya selesai. Tapi ada sesuatu yang ikut pulang bersama saya.
Bukan cuma oleh-oleh dan foto atau video untuk media sosial.
Tapi rasa syukur karena dipertemukan dengan orang-orang baik.
Teh Noeng, Mbak Dwi, Mbak Ajeng, dan Ari Dianing bukan lagi sekadar teman perjalanan. Mereka jadi bagian dari cerita yang akan saya ingat lama.
Kadang hidup memang lucu.
Bukan cuma oleh-oleh dan foto atau video untuk media sosial.
Tapi rasa syukur karena dipertemukan dengan orang-orang baik.
Teh Noeng, Mbak Dwi, Mbak Ajeng, dan Ari Dianing bukan lagi sekadar teman perjalanan. Mereka jadi bagian dari cerita yang akan saya ingat lama.
Kadang hidup memang lucu.
Kita berangkat untuk melihat tempat baru, tapi justru pulang sambil membawa hubungan baru.
Dan mungkin itu alasan kenapa traveling selalu terasa magis.
Karena di beberapa perjalanan, yang sebenarnya sedang kita temukan bukan destinasi… melainkan manusia.
Dan mungkin itu alasan kenapa traveling selalu terasa magis.
Karena di beberapa perjalanan, yang sebenarnya sedang kita temukan bukan destinasi… melainkan manusia.



.jpg)
.jpg)
.jpg)

.jpg)
.jpg)

.jpg)




Komentar
Posting Komentar
TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA BLOG NENG TANTI (^_^)