Untuk Adikku Tersayang, Imot Kami yang Selalu Dirindukan


Untuk Adikku Tersayang, Tommy Arhaditya Moelyono — Imot Kami yang Selalu Dirindukan
Bacanya bisa sambil dengerin ini yaa.. 


Ada orang-orang yang kehadirannya begitu besar dalam hidup kita, sampai saat mereka pergi, rasanya seperti ada bagian dari diri kita yang ikut hilang.

Bagiku, orang itu adalah adikku, almarhum Tommy Arhaditya Moelyono.

Hampir semua orang mengenalnya dengan nama panggilan kesayangan: Imot.

Sebagian memanggilnya Imot.
Sebagian lagi memanggilnya Wak Imot.
Anak-anakku bahkan punya panggilan spesial untuknya: Papa Imot.



Dan semua panggilan itu punya satu benang merah yang sama; penuh kasih sayang.

Karena begitulah Tommy.
Ia bukan sekadar adik.
Ia adalah sosok yang kehadirannya selalu membawa energi. Membawa tawa. Membawa rasa aman. Membawa rasa “tenang, semua akan baik-baik saja.”

Tommy adalah tipe orang yang sulit diam.
Lincah. Aktif. Selalu bergerak. Selalu ada ide. Selalu ada yang dikerjakan.

Kalau ada orang kesusahan, dia biasanya yang paling cepat sigap membantu.

Kadang aku sampai berpikir, entah bagaimana caranya ia selalu punya energi untuk mengurus banyak hal sekaligus. Seolah tubuhnya punya baterai ekstra yang tak pernah habis.


Ia punya hati yang sangat besar.

Sangat penyayang terhadap keluarga.
Sangat mencintai kedua anaknya, Calvin dan Kayla.



Aku tahu, di balik semua kesibukannya, hatinya selalu pulang kepada mereka.

Cintanya kepada anak-anaknya begitu nyata. Bukan cinta yang hanya diucapkan, tapi cinta yang hadir dalam perhatian kecil, dalam kerja keras, dalam cara ia berusaha memastikan orang-orang yang dicintainya merasa aman dan bahagia.

Bukan cuma keluarga.

Teman-temannya menyayanginya.
Banyak orang menghormatinya.
Bahkan hampir seluruh karyawannya pun mencintainya. Di saat ia berpulang, kami dikejutkan dengan banyaknya sahabat dan mantan karyawan yang menangis tersedu, tak sempat berterimakasih padanya...

Itu bukan hal yang mudah.

Karena untuk bisa dicintai oleh begitu banyak orang dari berbagai lingkaran kehidupan, seseorang harus punya sesuatu yang sangat tulus dalam dirinya.

Dan Tommy punya itu.

Ia punya hati yang terlalu mudah memikirkan kebahagiaan orang lain.

Mungkin dalam bahasa sekarang, Tommy adalah seorang people pleaser.

Ia sangat ingin membahagiakan orang lain.
Sangat ingin menolong.
Sangat ingin menjadi orang yang bisa diandalkan.

Kadang… terlalu ingin.
Sampai tak jarang ia mengorbankan kepentingannya sendiri.

Ia rela lelah.
Rela repot.
Rela mengalah.

Asal orang lain bahagia.

Tentu, seperti manusia pada umumnya, Tommy bukan orang yang sempurna.

Ada kalanya ia bercanda dengan gaya yang ceplas-ceplos. Kadang usil. Kadang keterlaluan sampai bikin orang geleng-geleng kepala.

Tapi lucunya, justru itulah yang sekarang dirindukan.

Candaan-candaan recehnya.
Komentar spontannya.
Cara dia membuat suasana ramai.

Hal-hal kecil yang dulu mungkin terasa biasa, sekarang justru menjadi kenangan yang begitu mahal.

Karena begitulah kehilangan bekerja.


Saat seseorang masih ada, kita sering menganggap kehadirannya 
sebagai sesuatu yang biasa. Namun saat ia tiada, kita baru sadar betapa besar ruang yang selama ini ia isi.

Saat Tommy sakit stroke, rasanya seperti ada sesuatu di dalam diriku yang ikut runtuh.

Sulit sekali menggambarkan perasaan itu.

Melihat seseorang yang biasanya begitu aktif, begitu lincah, begitu penuh tenaga… tiba-tiba harus terbaring lemah di tempat tidur.

Tak berdaya.

Rasanya menyakitkan.

Hatiku hancur.

Aku tahu betapa ia membenci kondisi itu.
Aku tahu betapa jiwanya ingin bergerak, ingin bangun, ingin kembali melakukan banyak hal.

Karena diam bukan dirinya.

Tapi bahkan dalam masa tersulit itu, Tommy tetap menunjukkan satu hal yang selalu menjadi kekuatannya: ketabahan.

Ia luar biasa tabah.

Ia menjalani rasa sakitnya dengan kekuatan yang mungkin tidak semua orang miliki.

Dan di tengah semua kenangan yang ada, ada satu memori yang akan selalu kusimpan di tempat paling istimewa dalam hatiku.

Kenangan umroh bersama

Lo  kebayang ngga sih Mot, 
betapa bahagianyaaa Ibu lo?
Betapa indah senyum beliau bahkan hingga detik ini...

Tommy mengajak aku dan ibuku ke Tanah Suci, ke Makkah.
Sampai hari ini, kalau mengingat perjalanan itu, hatiku selalu penuh.
Ia benar-benar menunjukkan kasih sayangnya lewat tindakan nyata.

Hospitality-nya luar biasa.

Ia memastikan semuanya nyaman.
Ia memastikan semuanya aman.
Ia memastikan kami bisa beribadah dengan tenang.

Ia memperhatikan detail-detail kecil yang kadang luput dari perhatian orang lain.

Dan dari situ aku semakin sadar…

Cinta Tommy sering kali hadir dalam bentuk tindakan.




Bukan kata-kata besar.
Bukan kalimat manis berlebihan.

Tapi tindakan.

Ia menunjukkan cinta lewat perhatian.
Lewat bantuan.
Lewat keberadaan.

Lewat hal-hal yang kadang tidak banyak dibicarakan.

Lalu tibalah hari yang paling berat dalam hidupku.

Hari ketika aku harus mengucapkan selamat tinggal...
Tommy meninggal dalam pelukanku.

Bahkan saat menuliskan kalimat ini, air mataku masih mengalir.

Ia masih tersenyum saat kuantar ke rumah sakit.

Masih tersenyum.

Entah bagaimana ia bisa setabah itu.

Di tengah rasa sakit.
Di tengah kondisi tubuhnya yang melemah.

Ia masih memberi senyum.

Senyum yang kini menjadi salah satu kenangan terakhir yang tak akan pernah kulupakan.

Mungkin Allah memang menitipkan kekuatan yang luar biasa besar dalam dirinya.

Dan mungkin juga, Allah sedang menunjukkan kepada kami bahwa Tommy pulang dalam keadaan yang indah.

Tabah.
Tenang.
Ikhlas.

Ada begitu banyak hal yang ingin kusampaikan tentang Tommy.

Rasanya seribu kata pun tidak akan cukup.

Karena hidupnya meninggalkan terlalu banyak jejak kebaikan.

Banyak sekali amal jariyah yang ia lakukan.

Lucunya, ia hampir tak pernah mau mengakuinya.

Setiap kali ada yang berterima kasih atau memuji kebaikannya, jawabannya hampir selalu sama:

“Bukan dari gue. Itu titipan Allah, mungkin lewat gue.”

Kalimat itu sederhana.

Tapi sangat mencerminkan siapa dirinya.

Ia menolong tanpa ingin terlihat hebat.
Ia memberi tanpa ingin dipuji.

Barangkali banyak orang yang bahkan tidak tahu seberapa banyak kebaikan yang pernah ia lakukan.

Dan aku percaya, Allah tahu semuanya.
Tidak ada satu pun kebaikan yang luput dari perhitungan-Nya.

Bahkan untuk orang-orang yang mungkin masih memiliki hutang padanya…
Aku hanya berharap semuanya menjadi amal kebaikan baginya.
  • Semoga itu menjadi salah satu pemberat amalnya kelak.
  • Semoga menjadi cahaya yang menerangi jalannya.
  • Semoga menjadi pembuka pintu surga untuknya.

Aku percaya, tugas Tommy di dunia ini telah selesai...

Allah sudah menuntaskan bagiannya.

Dan sekarang yang tertinggal adalah jejak-jejak cintanya.

Kenangan-kenangan indah.
Tawa yang pernah dibagikan.
Pelukan yang pernah diberikan.
Kebaikan yang pernah ditanamkan.

Semua itu masih hidup.

    Di hati kami.

    Di hati orang-orang yang mencintainya.

    Dan rasa rindu ini… sepertinya tidak akan pernah benar-benar hilang.

Ia hanya berubah bentuk.
Menjadi doa.
Menjadi kenangan.
Menjadi cinta yang tetap hidup meski pemiliknya sudah tiada.

Ada satu titipan kalimat yang sangat menyentuh dari putri tersayangnya, Kayla.

Kalimat ini sederhana, tapi menghantam hati begitu dalam.

“Kalau rindu bisa jadi jalan, mungkin adek udah sampai ke tempat Papa berkali-kali. Dan kalau Allah memberi kesempatan untuk mengulang hidup, adek akan tetap pulang ke rumah yang sama, jadi anak Papa lagi.”

Saat membaca kalimat itu, rasanya hati seperti diremas.

Karena di sana ada cinta yang begitu murni dari seorang anak untuk ayahnya.

Cinta yang tak terputus oleh kematian.

Dan mungkin memang seperti itulah cinta sejati.

Ia tidak berhenti hanya karena fisik seseorang sudah tidak ada.

Ia tetap hidup.

Ia tetap tinggal.

Ia menetap dalam hati orang-orang yang ditinggalkan.

Untuk adikku tersayang, Tommy Arhaditya Moelyono.

Imot kami.
Wak Imot.
Papa Imot.

Terima kasih untuk semua cinta yang sudah kamu berikan.

Terima kasih karena sudah menjadi adik yang luar biasa.

Terima kasih atas segala pengorbanan, kebaikan, tawa, dan kasih sayangmu.

Kami semua merindukanmu.
Sangat merindukanmu.

Tapi kami juga percaya…

Kamu kini berada di tempat terbaik.

Di tempat tanpa rasa sakit.
Tanpa air mata.
Tanpa penderitaan.

Semoga Allah SWT melapangkan kuburmu.
Semoga Allah mengampuni segala khilafmu.
Semoga Allah menerima semua amal ibadah dan amal jariyahmu.
Semoga Allah menempatkanmu di surga terbaik-Nya.

Sampai bertemu lagi, Mot, di tempat yang lebih indah





Tenang di sana ya, Mot.

Tugas lo di dunia ini sudah kelar.

Lo sudah melakukan bagian lo dengan sangat baik. Bahkan lebih dari baik.

Lo sudah jadi anak yang berbakti.
Lo sudah jadi adik yang luar biasa.
Lo sudah jadi ayah yang hebat.
Lo sudah jadi sahabat, teman, dan pemimpin yang dicintai banyak orang.

Dan yang paling penting…

Anak-anak lo tumbuh dengan sangat baik.

Calvin dan Kayla adalah bukti nyata dari cinta, kerja keras, dan nilai-nilai hidup yang lo tanamkan selama ini.

Mereka bertumbuh menjadi pribadi-pribadi yang kuat.
Berhasil.
Membanggakan.
Dan insyaAllah akan terus melanjutkan semua kebaikan yang pernah lo ajarkan.

Jadi tenang ya, Mot.
Nggak usah khawatir lagi.

Semua yang lo sayangi akan baik-baik saja.

InsyaAllah doa kami selalu bersamamu.
Namamu selalu ada dalam setiap doa yang kami panjatkan.

Dan rindu ini… akan selalu ada.

Bukan untuk melemahkan kami, tapi untuk mengingatkan betapa berharganya dirimu dalam hidup kami.

Rest well, Mot.

Sampai nanti, saat Allah mempertemukan kita kembali
dalam versi terbaik kita. 🤍

InsyaAllah. Di tempat yang jauh lebih indah.

Al-Fatihah. 🤍

Komentar

Postingan Populer