Why You have to Workout when You Burnout
Mengenal Hormon D.O.S.E Agar Tidak Mudah Stres
Burnout, & Hormon
Dopamin: Semangat yang Harus Dijaga, Bukan Dikejar Berlebihan
Dopamin sering disebut sebagai hormon penghargaan atau reward chemical.
Saat kita menyelesaikan pekerjaan, mendapat notifikasi menyenangkan, atau mencapai target tertentu, dopamin meningkat. Kita merasa bersemangat dan termotivasi.
- Membuat target kecil harian.
- Mengurangi screen time (!!!!)
- Membiasakan diri menikmati momen tanpa distraksi.
- Menyelesaikan pekerjaan satu per satu.
Cukup:
- Jalan kaki 20–30 menit (aku melakukannya di rumah aja malah, pake headset terus setel YouTube Walking 5000 steps)
- Yoga ringan.
- Bersepeda santai.
- Berenang.
- Stretching sambil mendengarkan musik favorit.
Gerakan kecil yang dilakukan konsisten jauh lebih bermanfaat daripada olahraga ekstrem yang hanya dilakukan sesekali.
Kebahagiaan yang Seimbang, Bukan Sekadar Senang Sesaat
Banyak orang mengejar kebahagiaan melalui dopamin saja: likes, views, belanja, atau pencapaian tanpa henti.
Padahal kebahagiaan yang bertahan lama lahir dari keseimbangan D.O.S.E.
Dopamin memberi semangat untuk bergerak.
Oxytocin memberi rasa dicintai.
Serotonin memberi ketenangan dan makna.
Endorfin memberi ketahanan menghadapi tekanan hidup.
Ketika keempatnya bekerja seimbang, kita tidak hanya merasa senang, tetapi juga lebih kuat menghadapi tantangan sehari-hari.
Jadi saat hidup terasa terlalu berat dan burnout mulai datang, mungkin yang dibutuhkan bukan sekadar rebahan atau kabur dari rutinitas. Mungkin tubuh sedang meminta kita untuk bergerak, terhubung, bersyukur, dan kembali merawat "pabrik kebahagiaan" yang sudah Tuhan tanamkan di dalam diri kita sejak awal.
Karena terkadang, workout terbaik saat burnout bukan tentang membakar kalori. Melainkan tentang menghidupkan kembali hormon-hormon yang membuat kita merasa benar-benar hidup.
"Ma kok belum tidur? Nanti capek, loh?" tegur si bungsu saat melihatku masih menatap layar laptop padahal jarum jam hampir menunjukkan tengah malam.
Aku mengangkat alis. "Gak tahu ya dek, belum bisa tidur padahal badan berasa capeeek.. banget!"
Anak sulungku ikut menimpali, "Kayaknya burnout deh, Ma. Mama tuh dari pagi urus rumah, nulis blog, bikin konten, ngajar, belum lagi mikirin ini itu. Istirahatnya kapan?"
Aku terdiam.
Kadang memang begitu. Sebagai ibu rumah tangga yang juga bekerja dari rumah, aku sering merasa harus selalu produktif. Sampai suatu hari aku sadar, bukan pekerjaannya yang membuatku lelah, tapi karena aku sudah terlalu lama lupa mengisi ulang energi diri sendiri.
Di era ketika semua orang dituntut untuk selalu produktif, burnout menjadi salah satu masalah yang semakin sering dialami. Ironisnya, banyak orang berpikir bahwa saat lelah secara mental, yang dibutuhkan hanyalah tidur atau liburan.
Di era ketika semua orang dituntut untuk selalu produktif, burnout menjadi salah satu masalah yang semakin sering dialami. Ironisnya, banyak orang berpikir bahwa saat lelah secara mental, yang dibutuhkan hanyalah tidur atau liburan.
Padahal, menurut berbagai penelitian neurosains dan juga pembahasan dalam podcast , tubuh dan otak manusia memiliki sistem biologis yang jauh lebih kompleks.
Ketika stres berkepanjangan, bukan hanya pikiran yang lelah. Sistem hormon dan neurotransmitter dalam otak ikut terganggu. Akibatnya kita jadi mudah marah, kehilangan motivasi, sulit fokus, bahkan merasa kosong meskipun hidup terlihat baik-baik saja!
Suatu ketika aku mendengar podcast kesehatan tentang pentingnya fungsi hormon, terutama DOSE (Dopamin, Oksitosin, Serotonin dan Endorfin) aku lupa itu podcast siapa, kalo gak salah ya di Close the Door atau dr Tirta.
Ketika stres berkepanjangan, bukan hanya pikiran yang lelah. Sistem hormon dan neurotransmitter dalam otak ikut terganggu. Akibatnya kita jadi mudah marah, kehilangan motivasi, sulit fokus, bahkan merasa kosong meskipun hidup terlihat baik-baik saja!
Suatu ketika aku mendengar podcast kesehatan tentang pentingnya fungsi hormon, terutama DOSE (Dopamin, Oksitosin, Serotonin dan Endorfin) aku lupa itu podcast siapa, kalo gak salah ya di Close the Door atau dr Tirta.
Ya seperti biasa, kalau kita lagi pengen bahas sesuatu kan podcast lain bermunculan yaa.. singkatnya aku tulis di sini aja ya.
Burnout, & Hormon
Burnout bukan hanya rasa lelah biasa setelah bekerja seharian. Burnout adalah kondisi ketika tubuh dan pikiran sudah terlalu lama berada dalam mode "survival".
Tanda-tandanya bisa berupa:
- Bangun tidur tetapi tetap merasa lelah.
- Sulit menikmati hal yang dulu disukai.
- Mudah tersinggung.
- Kehilangan semangat menjalani aktivitas harian.
- Merasa tidak memiliki tujuan yang jelas.
Banyak orang mencoba mengatasinya dengan scrolling media sosial, binge watching, atau belanja impulsif. Sayangnya, aktivitas tersebut hanya memberikan lonjakan dopamin sesaat tanpa benar-benar mengisi ulang energi mental kita.
Akibatnya, kita terus mengejar sensasi baru tetapi tetap merasa kosong.
Tanda-tandanya bisa berupa:
- Bangun tidur tetapi tetap merasa lelah.
- Sulit menikmati hal yang dulu disukai.
- Mudah tersinggung.
- Kehilangan semangat menjalani aktivitas harian.
- Merasa tidak memiliki tujuan yang jelas.
Banyak orang mencoba mengatasinya dengan scrolling media sosial, binge watching, atau belanja impulsif. Sayangnya, aktivitas tersebut hanya memberikan lonjakan dopamin sesaat tanpa benar-benar mengisi ulang energi mental kita.
Akibatnya, kita terus mengejar sensasi baru tetapi tetap merasa kosong.
Terkait burnout, biasanya yang dibahas adalah hormon atau neurotransmiter D.O.S.E.:
D — Dopamine → rasa pencapaian dan motivasi.
O — Oxytocin → rasa percaya dan kedekatan sosial.
S — Serotonin → rasa tenang dan bahagia.
E — Endorphin → pereda nyeri alami dan pembangkit mood.
Keempat zat ini sebenarnya lebih tepat disebut neurotransmiter dan hormon yang bekerja sama mempengaruhi emosi, energi, dan kesejahteraan mental.
Menariknya, saat seseorang mengalami burnout berkepanjangan, keseimbangan kortisol, dopamin, serotonin, dan endorfin sering terganggu. Itulah sebabnya olahraga, tidur cukup, paparan sinar matahari, ibadah, dan hubungan sosial yang sehat sering membantu memulihkan kondisi mental dan fisik.
Dopamin sering disebut sebagai hormon penghargaan atau reward chemical.
Saat kita menyelesaikan pekerjaan, mendapat notifikasi menyenangkan, atau mencapai target tertentu, dopamin meningkat. Kita merasa bersemangat dan termotivasi.
Naaaah... masalah itu muncul jika otak terlalu sering mendapatkan dopamin instan dari media sosial, video pendek, atau hiburan tanpa jeda.
Neuroscientist TJ Power menjelaskan bahwa masyarakat modern mengalami "dopamine overload" karena otak terus-menerus menerima stimulasi tinggi. Akibatnya, aktivitas sederhana seperti membaca buku, berolahraga, atau mengobrol menjadi terasa membosankan.
Cara sehat menjaga dopamin:
Neuroscientist TJ Power menjelaskan bahwa masyarakat modern mengalami "dopamine overload" karena otak terus-menerus menerima stimulasi tinggi. Akibatnya, aktivitas sederhana seperti membaca buku, berolahraga, atau mengobrol menjadi terasa membosankan.
Cara sehat menjaga dopamin:
- Membuat target kecil harian.
- Mengurangi screen time (!!!!)
- Membiasakan diri menikmati momen tanpa distraksi.
- Menyelesaikan pekerjaan satu per satu.
- Mengerjakan outdoor activity atau aktivitas di luar rumah!
Secara tak langsung, kita memberi ruang bagi otak untuk merasakan kepuasan secara alami.
Oxytocin: Obat Stres yang Bernama Kedekatan
Ketika burnout datang, banyak orang justru menarik diri dari lingkungan sosial. Padahal tubuh manusia dirancang untuk terhubung dengan manusia lain.
Oxytocin adalah hormon yang muncul saat kita merasa dicintai, diterima, dan aman.
Hormon ini dapat meningkat melalui:
- Pelukan hangat dengan pasangan atau keluarga.
- Mengobrol dengan teman dekat.
- Bermain dengan hewan peliharaan.
- Membantu orang lain dengan tulus.
Menariknya, oxytocin juga membantu menurunkan kadar hormon stres atau kortisol dalam tubuh. Karena itu, sering kali satu percakapan hangat bisa terasa lebih menyembuhkan dibanding berjam-jam scrolling media sosial.
Serotonin: Fondasi Mood yang Stabil
Jika dopamin memberikan rasa senang sesaat, serotonin membantu menjaga ketenangan jangka panjang.
Serotonin berkaitan dengan rasa percaya diri, rasa bermakna, dan perasaan bahwa hidup kita memiliki arah.
Salah satu cara paling sederhana meningkatkan serotonin adalah berjalan kaki di pagi hari sambil terkena sinar matahari, dan kegiatan ini ternyata dicintai oleh para traveler atau travel blogger, seperti temenku Suci, Travel Blogger Medan.
Aktivitas sederhana ini sering diremehkan, padahal paparan cahaya matahari membantu regulasi serotonin dan ritme biologis tubuh. Selain itu, praktik bersyukur, meditasi, dan refleksi diri juga membantu meningkatkan hormon ini.
Ketika serotonin terjaga, kita tidak mudah terombang-ambing oleh emosi sesaat.
Endorfin: Alasan Mengapa Workout Saat Burnout Itu Penting
Inilah bagian yang sering mengejutkan banyak orang.
Saat burnout, tubuh sebenarnya membutuhkan gerakan.
Bukan untuk mengejar bentuk badan ideal, melainkan untuk mengaktifkan endorfin.
Endorfin adalah pereda nyeri alami tubuh yang muncul saat kita melakukan aktivitas fisik. Setelah olahraga, tubuh menghasilkan sensasi rileks dan nyaman yang sering dikenal sebagai "runner's high".
Karena itu, workout saat burnout bukan hukuman bagi tubuh yang lelah.
Sebaliknya, olahraga adalah salah satu cara biologis paling efektif untuk membantu otak keluar dari mode stres.
Tidak harus langsung gym selama dua jam.
Secara tak langsung, kita memberi ruang bagi otak untuk merasakan kepuasan secara alami.
Oxytocin: Obat Stres yang Bernama Kedekatan
Ketika burnout datang, banyak orang justru menarik diri dari lingkungan sosial. Padahal tubuh manusia dirancang untuk terhubung dengan manusia lain.
Oxytocin adalah hormon yang muncul saat kita merasa dicintai, diterima, dan aman.
Hormon ini dapat meningkat melalui:
- Pelukan hangat dengan pasangan atau keluarga.
- Mengobrol dengan teman dekat.
- Bermain dengan hewan peliharaan.
- Membantu orang lain dengan tulus.
Menariknya, oxytocin juga membantu menurunkan kadar hormon stres atau kortisol dalam tubuh. Karena itu, sering kali satu percakapan hangat bisa terasa lebih menyembuhkan dibanding berjam-jam scrolling media sosial.
Serotonin: Fondasi Mood yang Stabil
Jika dopamin memberikan rasa senang sesaat, serotonin membantu menjaga ketenangan jangka panjang.
Serotonin berkaitan dengan rasa percaya diri, rasa bermakna, dan perasaan bahwa hidup kita memiliki arah.
Salah satu cara paling sederhana meningkatkan serotonin adalah berjalan kaki di pagi hari sambil terkena sinar matahari, dan kegiatan ini ternyata dicintai oleh para traveler atau travel blogger, seperti temenku Suci, Travel Blogger Medan.
Aktivitas sederhana ini sering diremehkan, padahal paparan cahaya matahari membantu regulasi serotonin dan ritme biologis tubuh. Selain itu, praktik bersyukur, meditasi, dan refleksi diri juga membantu meningkatkan hormon ini.
Ketika serotonin terjaga, kita tidak mudah terombang-ambing oleh emosi sesaat.
Endorfin: Alasan Mengapa Workout Saat Burnout Itu Penting
Inilah bagian yang sering mengejutkan banyak orang.
Saat burnout, tubuh sebenarnya membutuhkan gerakan.
Bukan untuk mengejar bentuk badan ideal, melainkan untuk mengaktifkan endorfin.
Endorfin adalah pereda nyeri alami tubuh yang muncul saat kita melakukan aktivitas fisik. Setelah olahraga, tubuh menghasilkan sensasi rileks dan nyaman yang sering dikenal sebagai "runner's high".
Karena itu, workout saat burnout bukan hukuman bagi tubuh yang lelah.
Sebaliknya, olahraga adalah salah satu cara biologis paling efektif untuk membantu otak keluar dari mode stres.
Tidak harus langsung gym selama dua jam.
Cukup:
- Jalan kaki 20–30 menit (aku melakukannya di rumah aja malah, pake headset terus setel YouTube Walking 5000 steps)
- Yoga ringan.
- Bersepeda santai.
- Berenang.
- Stretching sambil mendengarkan musik favorit.
Gerakan kecil yang dilakukan konsisten jauh lebih bermanfaat daripada olahraga ekstrem yang hanya dilakukan sesekali.
Kebahagiaan yang Seimbang, Bukan Sekadar Senang Sesaat
Banyak orang mengejar kebahagiaan melalui dopamin saja: likes, views, belanja, atau pencapaian tanpa henti.
Padahal kebahagiaan yang bertahan lama lahir dari keseimbangan D.O.S.E.
Dopamin memberi semangat untuk bergerak.
Oxytocin memberi rasa dicintai.
Serotonin memberi ketenangan dan makna.
Endorfin memberi ketahanan menghadapi tekanan hidup.
Ketika keempatnya bekerja seimbang, kita tidak hanya merasa senang, tetapi juga lebih kuat menghadapi tantangan sehari-hari.
Jadi saat hidup terasa terlalu berat dan burnout mulai datang, mungkin yang dibutuhkan bukan sekadar rebahan atau kabur dari rutinitas. Mungkin tubuh sedang meminta kita untuk bergerak, terhubung, bersyukur, dan kembali merawat "pabrik kebahagiaan" yang sudah Tuhan tanamkan di dalam diri kita sejak awal.
Karena terkadang, workout terbaik saat burnout bukan tentang membakar kalori. Melainkan tentang menghidupkan kembali hormon-hormon yang membuat kita merasa benar-benar hidup.
_____________________________________
Referensi:
1. Youtube; Podcast Deddy Corbuzier
2. Pembahasan konsep D.O.S.E oleh neuroscientist TJ Power dan berbagai podcast neurosains terkait.




Komentar
Posting Komentar
TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA BLOG NENG TANTI (^_^)