Pengaruh Tontonan TV ke Anak: Nggak Selalu Buruk


Pernah nggak, lihat potongan video Kamari Wassink, gadis cilik putri seorang selebriti papan atas Indonesia, Jennifer Coppen yang baru-baru ini menikah dengan Justin .. apa? Bieber? Bukaaaaan! Hubner.

Nah, di salah satu video itu, 
Kamari memberi bunga pada maminya dengan berlutut. Sontak, warganet tertawa melihat kelucuan itu. Ternyata, belakangan ketika ditanya, Kamari meniru hal tersebut ketika Justin melamar maminya, berlutut dan memberi bunga!

Waaa.. ternyata anak memang seperti spons ya. Mereka menyerap apa saja yang mereka lihat, dengar dan ketahui!

Dulu, setiap kali dengar anak nonton TV atau pegang gadget, reaksi orang biasanya hampir sama.

“Waduh, nanti kecanduan.”
“Nanti jadi pasif.”
“Nanti nggak fokus.”

Seolah-olah TV selalu jadi kambing hitam.

Padahal, setelah menjalani sendiri perjalanan membersamai anak-anak dari kecil sampai dewasa, aku merasa semuanya nggak sesederhana itu.

Belum lama ini aku melihat postingan lucu tentang pengaruh tontonan TV ke toddler. Isinya bikin senyum-senyum sendiri.
  • Ada yang bilang anaknya jadi lebih ramah gara-gara nonton Bing.
  • Kosakatanya bertambah karena Bluey.
  • Bisa ngitung karena Number Blocks.
  • Bisa kenal warna lewat Colour Blocks.
Sampai akhirnya…
  • Bisa ngeluarin laser di tangan karena Ultraman.
  • Belajar menguasai 6 elemen dari Boboiboy.
Aku ngakak pas baca bagian itu.

Receh, tapi relate banget.

Karena memang begitulah anak-anak. Mereka menyerap apa yang mereka lihat, lalu mengolahnya dengan cara mereka sendiri. Kadang lucu, kadang random, kadang bikin orang tua speechless.

Anak-Anakku Sudah Lewat Fase Itu

Sekarang anak-anakku sudah jauh melewati fase toddler.

Yang nomor dua bahkan sudah mau wisuda.
Si nomor tiga dan si bontot juga sudah kuliah.

Rasanya baru kemarin sibuk nemenin mereka nonton kartun, eh sekarang obrolannya sudah tentang tugas kampus, masa depan, dan rencana hidup.

Time flies banget ya?

Tapi ada satu hal yang bikin aku sadar:
ternyata tontonan masa kecil memang meninggalkan jejak. Bukan cuma soal hiburan sesaat.

Kadang ada nilai, cara berpikir, bahkan gaya komunikasi yang ikut terbentuk dari sana.

Charlie and Lola, Tontonan yang Masih Membekas


Dari sekian banyak tontonan masa kecil anak-anak, yang paling membekas buatku adalah Charlie and Lola. Dan ini kebetulan relate banget sama kedua anakku (no 2 dan 3) yang jarak usianya dekat. 

Jujur, aku suka sekali dengan kartun ini.
Visualnya sederhana, unik, dan nggak heboh berlebihan.

Tapi yang paling menarik justru dinamika kakak-adiknya.


Charlie digambarkan sebagai kakak yang sabar, hangat, dan penuh usaha untuk memahami adiknya.

Sementara Lola… ya namanya juga anak kecil. Imaginatif, keras kepala, kadang lucu, kadang bikin gemas. Interaksi mereka terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Tentang belajar berbagi, memahami perasaan, dan yang penting : belajar berkomunikasi. Tanpa aku sadarin, anak-anak pun ikut menyerap hal-hal itu.
Tapi dalam cara mereka melihat hubungan, memahami emosi, dan berinteraksi.

Anak Memang Peniru Ulung

Semakin ke sini aku makin percaya satu hal:
Anak-anak adalah peniru yang luar biasa.

Mereka meniru cara bicara, cara bereaksi, cara menyelesaikan masalah.

Dari rumah, tentu saja.
Tapi juga dari lingkungan dan tontonan.

Makanya, menurutku pertanyaannya bukan lagi sekadar:

“Boleh nggak anak nonton TV?”

Tapi lebih ke:

“Apa yang mereka tonton?”

Nggak Semua Screen Time Itu Buruk

Di zaman sekarang, rasanya hampir mustahil membuat anak benar-benar steril dari screen.

TV ada.
HP ada.
Tablet ada.

Jadi fokusnya mungkin bukan anti-screen sepenuhnya.

Tapi bagaimana orang tua bisa lebih bijak.

Memilih tontonan yang:
  • sesuai usia
  • punya nilai positif
  • edukatif
  • tidak overstimulating
  • Dan yang nggak kalah penting: tetap ada pendampingan.

Karena secanggih apa pun tontonan edukatif, peran orang tua tetap nomor satu.

Pada Akhirnya, Anak Belajar dari Banyak Hal

Anak belajar dari apa yang mereka lihat.
Dari apa yang mereka dengar.
Dari apa yang mereka rasakan.

TV bisa jadi salah satu sumber belajar.

Bisa positif.
Bisa juga sebaliknya.

Semua kembali ke bagaimana kita mengelolanya.

Dan sekarang, melihat anak-anak yang sudah beranjak dewasa, aku jadi paham…

Fase kecil mereka memang sudah lewat.
Kartun-kartun itu pun mungkin tinggal kenangan.

Tapi jejak-jejak kecil dari masa itu ternyata masih ada.

Kadang tersimpan dalam cara berpikir.
Kadang dalam cara bicara.
Kadang dalam memori sederhana yang tiba-tiba bikin kita tersenyum.

Termasuk saat mengingat Charlie and Lola.

Sebuah tontonan sederhana yang meninggalkan kesan mendalam.

Dan ya… kalau dulu ada fase anak-anak tiba-tiba merasa punya kekuatan super setelah nonton kartun, mungkin itu juga bagian dari memori parenting yang akan selalu lucu untuk dikenang 😄

Komentar

Postingan Populer