Bedah Strategi Mie Sedaap vs Indomie


Kalau kita bicara mi instan di Indonesia, 
rasanya Indomie itu bukan sekadar produk FMCG (Fast-Moving Consumer Goods). Bagi mayoritas dari kita, mulai dari veteran angkatan 90-an sampai Gen Z, Indomie adalah core memory

Jujur deh, pernah nggak sih kamu berdiri di depan lorong mi instan di supermarket raksasa atau minimarket langganan, terus mendadak kena brain freeze

Maksud hati cuma mau beli satu dua bungkus mi buat stok pas lapar malam-malam melintas, tapi begitu sampai di depan rak... BUM! Mata langsung disambut oleh lautan warna-warni bungkus mi instan yang membentang berderet dari lantai sampai setinggi jangkauan tangan.

Ada rasa Soto Lamongan, Rendang, Ayam Bawang, Seblak Pedas, Myeongdong Spicy, Cheese Buldak, sampai varian rasa kuah lokal yang namanya bahkan asing di telinga.

Hayooo apa aja? Nih kusebutin beberapa yang kutahu, dan kayaknya udah ngga ada lagi deh di rak... Ada Indomie Tahu Tek, Mie Celor, Mie Laksa, Empal Gentong (!) dan Salted Egg. Ada lagi Indomie yang ngga dijual di Indonesia seperti Gourmet Soya Souce, Relish Chicken Delight, Onion Chicken, Beef Flavor, Shrimp Flavor, Chicken Pepper Soup, dll.


Anyway...
di momen itu aku yang niat awalnya cuma mau belanja kilat, berakhir berdiri dan jalan mondar-mandir ngeliatin varian mie, sambil (biasa deeh emak-emak..) merhatiin dan bandingin harga. Otak juga ngomong sendiri,  "Mau pilih yang klasik otentik, atau yang kriuk berani? Mau yang rasa Nusantara, apa yang ada foto oppa K-Pop-nya?"

Sensasi kebingungan ini bukan cuma drama personal, lho. Dalam psikologi konsumen, fenomena ini dikenal dengan istilah Choice Overload Effect atau The Paradox of Choice (Schwartz, 2004)

Semakin banyak pilihan yang disodorkan di depan mata, bukannya bikin kita makin senang, otak kita justru mengalami Decision Fatigue alias kelelahan mengambil keputusan.

Dan kalau kita amati lebih dalam di lorong mi instan yang maha luas itu, persaingan sengit ini sejatinya mengerucut pada perseteruan dua raksasa FMCG (Fast-Moving Consumer Goods) Indonesia: Indomie sang penguasa heritage vs Mie Sedaap sang challenger yang tak pernah kehabisan akal!

Mie Instan, Si Paling Bener


Indomie, 
adalah senjata pamungkas anak kos tanggal tua, penyelamat pekerja pulang shift malam yang kelaparan jam 2  dini hari, hingga komoditas kebanggaan nasional yang terbang sampai ke Afrika Barat. Dominasinya begitu mutlak. Konon, market share-nya dulu menyentuh angka fantastis: di atas 90%!

Lalu datanglah tahun 2003. Sebuah bendera baru berkibar dari Grup Wings: Mie Sedaap.

Secara logika bisnis konvensional, menantang penguasa tunggal yang sudah mengakar secara budaya adalah tindakan nekat. Tapi faktanya? Perang mi instan ini menjadi salah satu studi kasus psikologi konsumen paling legendaris di Asia Tenggara.

Jadilah, sekarang mie instan area ini dihampiri puluhan brand dari lokal sampe ke mancanegara! Ada Mie Gaga, Supermie, Lemonilo, Sarimie dan buanyaaak lainnya! Tapi raksasa mie instan tetep Indomie dan Mie Sedaap.

Sebagai pembelajar bisnis (dan penikmat mi instan berijazah "Lolita" alias Lolos Lima Puluh Tahun 😄), yuk kita persempit dan kita bedah anatomi psikologi marketing di balik persaingan dua raksasa ini!

1. Status Quo Bias & Trap of Complacency: Saat Sang Raja Terlalu Nyaman

Di dunia psikologi, ada istilah keren namanya Status Quo Bias. Bahasa sederhananya begini: kita sebagai emak-emak tuh bawaannya males coba-coba hal baru kalau udah nemu yang pas. Kalau udah cocok sama satu bumbu dapur atau mi instan, ya bakal itu-itu lagi yang dibeli pas belanja bulanan. Aman, pasti enak, dan nggak berisiko bikin anak atau suami protes pas makan.

Nah, Indomie itu udah menikmati "zona nyaman" ini bertahun-tahun.

Saking mendarah dagingnya, kalau kita bilang ke warung, "Bang, beli mi satu," si abang warung udah pasti otomatis ngambilin Indomie tanpa nanya lagi. Indomie udah jadi istilah umum buat mi instan di rumah kita.

Tapi ya gitu, kadang kalau sudah merasa paling laku dan dicintai, suka muncul yang namanya Trap of Complacency alias Jebakan Rasa Nyaman. Sang raja pasar ini jadi kepedean dan mikir:

"Ah, emak-emak mah udah cinta mati sama rasa kita. Nggak usah aneh-aneh bikin inovasi baru, dijual gitu-gitu aja pasti tetep diborong!"

Padahal, segelutuk-gelutuknya emak-emak yang setia, kalau disodorin hal baru yang lebih menarik dan harganya ramah kantong, tetep aja bisa goyah juga, kan?

Nah, Mie Sedaap ini pinter banget ngeliat celah. Mereka sadar betul, kalau cuma numpang jualan dengan gaya yang persis sama kaya Indomie, ya jelas bakal kejebak dan kalah telak. Mana ada orang mau beli "Indomie KW"?

Makanya, mereka sengaja ngusik rasa bosan yang diam-diam nyelip di lidah kita. Caranya? Bikin kejutan rasa yang lebih 'nendang'! Bumbunya dibuat lebih bold alias berani, rempahnya makin kerasa, dan rasanya gurih-gurih nyoy. Pokoknya racikan yang pas banget buat ngebangunin lidah emak-emak yang mulai bosan sama rasa mi yang itu-itu aja!

2. Rahasia Bawang Goreng Kriuk Yang Bikin Telinga dan Lidah Langsung Kepikat!

Pertanyaannya, gimana cara Mie Sedaap ngenalin sensasi baru tanpa bikin lidah orang Indonesia kagok? Jawabannya ternyata bukan bikin rasa yang aneh-aneh, tapi pakai jurus Sensory Marketing (pemasaran lewat panca indra) lewat satu rahasia kecil: Bawang Goreng Kriuk!

Di dunia kuliner, kenikmatan makanan itu bukan cuma urusan lidah, tapi gabungan tiga indra sekaligus:

  • Telinga (Suara): Bunyi garing pas dikunyah... "Kriuk!"

  • Lidah & Mulut (Tekstur): Perpaduan antara tekstur mi yang lembut kenyal sama taburan bawang yang renyah.

  • Mata (Visual): Begitu dituang ke piring, taburan bawang gorengnya kelihatan melimpah dan menggugah selera.

Secara psikologis, suara "kriuk" renyah di telinga itu otomatis ngirim sinyal ke otak kalau makanan ini masih segar dan nikmat banget pas dikunyah. Mie Sedaap nggak perlu capek-capek teriak di iklan "Mie kami paling enak!", tapi panca indra kita sendiri yang nyeletuk: "Wah, ini sih sensasi makannya beda banget!"

3. Numpang Laris di Demam Korea: Gaet Hati Anak dan Remaja di Rumah

Memasuki era medsos, selera anak-anak kita (si Gen Z) kan berubah cepat banget ya, Mak. Demam drama Korea sama K-Pop bukan cuma bikin mereka hobi ngerem di kamar, tapi juga bikin mereka ketagihan makanan yang pedas-pedas membara ala Korea.

Nah, Mie Sedaap gercep alias pinter banget manfaatin momen ini lewat strategi Trend Riding (numpang beken di tren yang lagi viral). Mereka langsung ngeluarin seri Korean Spicy Chicken, lengkap sama foto idol Korea ganteng di bungkusnya!


Melihat fotonya aja, anak-anak muda langsung penasaran pengin coba. Membeli mi pedas Korea ini bukan cuma buat kenyangin perut, tapi bikin mereka merasa kekinian dan relate sama tren anak muda zaman sekarang, yang hobinya selain traveling juga kulineran. To be honest, traveling di Jogja atau daerah lain di Indonesia memang menyenangkan loh.. cobain deh, sekarang gen Z lebih tertarik jalan dan jajan keliling Indonesia!

Indomie memang nggak tinggal diam dan ikutan merilis varian kekinian. Tapi kecepatan Mie Sedaap dalam menangkap demam Korea ini sukses besar nyolong perhatian anak-anak muda di rumah kita!

4. Perang Gerilya di Warung Sebelah Rumah: Yang Paling Kelihatan, Itu Yang Dibeli!

Mari jujur ya, Mak... seberapa sering sih kita mau beli mi instan pakai mikir keras atau bikin perbandingan rumit dulu? Hampir nggak pernah, kan? Keputusan beli mi itu biasanya cuma butuh waktu hitungan detik pas kita lagi mampir ke Warung Madura, Toko Kelontong, atau minimarket dekat kompleks.

Di sinilah berlaku hukum psikologi yang namanya Availability Heuristic. Bahasa gampangnya: otak kita cenderung milih barang yang paling gampang dilihat dan paling gampang dijangkau mata saat itu juga.

Dalam bisnis barang kebutuhan sehari-hari, Physical Availability alias keberadaan barang di rak warung itu hukumnya wajib dan mutlak.

Elemen StrategiIndomie (Sang Incumbent)Mie Sedaap (Sang Challenger)
Positioning UtamaHeritage, Nostalgia, Standard of TasteRasa Berani, Tekstur Tebal, Sensasi Sensorik
Kunci DiferensiasiBumbu legendaris & ikatan memori emosionalKriuk renyah, porsi bumbu tajam, inovasi tren
Strategi KomunikasiKebangsaan, kehangatan keluarga, persatuanPop-culture, K-Pop, gaya hidup dinamis Gen Z
Penetrasi DistribusiJaringan ekosistem Indofood yang sangat dalamJaringan distribusi Wings Group hingga pelosok warung

Nah, Wings Group (produsen Mie Sedaap) ini kan otot jalur distribusinya jempolan banget. Mereka gerilya sampai ke warung-warung kecil gang terpencil, memastikan posisi bungkus Mie Sedaap digantung persis berdempetan di samping Indomie.

Hasilnya? Pas emak-emak mau beli mi goreng tapi stok Indomie di warung abang lagi habis, atau pas mata kita jelalatan nemu promo diskon Mie Sedaap yang lebih miring... pilihan otomatis (default choice) di otak kita langsung berubah dalam sekejap!

Istilah kerennya: "Availability defeats preference!" alias kebiasaan dan rasa suka itu bisa langsung kalah kalau barang sebelah lebih gampang diambil dan harganya lebih menggoda!


5. Bikin Mata Melirik di Depan Rak Minimarket: Kemasan Ramai yang Curi Perhatian

Seperti kasus aku di atas, pernah nggak, pas berdiri di lorong minimarket atau supermarket, mata rasanya sepet dan pusing sendiri karena diserbu ratusan warna bungkus mi instan yang ramai banget? Dalam psikologi, ini namanya Decision Fatigue alias kelelahan mengambil keputusan gara-gara otak kita keberatan nampung kebanyakan pilihan.

Nah, di era Attention Economy (siapa yang paling pintar nyuri perhatian, dia yang menang), bungkus mi instan itu bukan cuma plastik wadah makanan, tapi ibarat papan iklan mini berukuran 15x10 cm!

Mie Sedaap paham banget trik ini. Mereka pakai desain kemasan dengan warna kontras yang nabrak dan tajam, tulisan huruf tebal, plus gambar visual yang "teriak" kayak tulisan KRIUK! atau LEVEL PEDAS! yang mencolok mata.

Tujuannya cuma satu: bikin Pattern Interrupt! Alias bikin langkah kaki atau pandangan mata emak-emak yang lagi pusing/bingung di minimarket langsung terhenti mendadak, melirik ke bungkus mereka, lalu jemari tangan refleks menjangkau dan masukin ke dalam keranjang belanjaan.

6 Pelajaran Bisnis & Psikologi Penting (Takeaway ala Emak-Emak):

6 pelajaran bisnis & psikologi ini ternyata bisa kita terapkan ke kehidupan sehari-hari loh...

Menghadapi tetangga, memilih teman, membaca situasi, sampai memahami kenapa kita suka sesuatu pun ternyata ada ilmunya. Bedanya, kalau di bisnis kita menyebutnya strategi. Kalau di kehidupan sehari-hari... biasanya kita bilangnya pengalaman :)))

1. Jangan Lawan Orang di Kandangnya
Kalau tetangga jago bikin kue, ya nggak usah ikut perang bikin kue juga. Cari kelebihan kita sendiri. Dia jago baking, kita mungkin jago bikin dekorasi atau masak lauk.
Intinya: nggak semua persaingan harus dimenangkan dengan cara yang sama.

2. Hal Kecil Bisa Bikin Orang Ingat
Kadang bukan hadiah mahal yang bikin orang senang. Bisa cuma ingat ulang tahun, bawain makanan kesukaannya, atau sekadar bilang, “Eh, kemarin kamu cerita soal itu kan?”
Perhatian kecil sering lebih nempel daripada sesuatu yang mahal.

3. Jangan Kalah Sama Orang yang Lebih Cepat
Ada teman yang baru lihat tren langsung mencoba. Kita masih sibuk mikir, “Bagus nggak ya? Nanti aja deh...” 
Tahu-tahu dia sudah jalan duluan.
Nggak harus selalu paling hebat. Kadang cukup berani mulai lebih dulu.

4. Percuma Dicari Kalau Nggak Ada
Ini berlaku juga dalam hubungan. 
Mau bilang, “Aku tuh sebenarnya perhatian,” tapi orangnya nggak pernah hadir ketika dibutuhkan... ya gimana mau terasa?
Sesuatu yang baik harus benar-benar hadir dan bisa dirasakan.

5. Kita Sering Memilih Sesuatu Karena Itu “Gue Banget”
Kenapa ada orang rela antre demi kopi tertentu, pakai merek tertentu, atau memilih tempat nongkrong tertentu? Karena kadang yang dibeli bukan cuma barangnya, tapi perasaan dan identitasnya.
Dalam kehidupan juga begitu: kita cenderung dekat dengan orang dan lingkungan yang membuat kita merasa, “Ini gue banget.”

6. Saingan Kadang Justru Bikin Kita Naik Kelas
Punya teman yang lebih pintar kadang bikin kita sebel. Tapi diam-diam dia juga bisa jadi alarm: “Kayaknya gue harus belajar lagi deh.”
Orang yang membuat kita tertantang belum tentu musuh. Bisa jadi dia sedang memaksa kita bertumbuh.

Kesimpulan: Kemenangan Sejati Sang Challenger

Jadi, kalau ditanya siapa pemenang sejati dari perang mi instan ini?

Jawabannya: Indomie memang tetap jadi raja yang sulit digoyahkan berkat memori nostalgia dan rasa otentik yang udah nempel di hati. Tapi, Mie Sedaap udah meraih kemenangan terbesar buat ukuran sang "penantang": yaitu berhasil bikin sang raja nggak bisa santai-santai lagi!

Coba bayangin, gara-gara ada Mie Sedaap yang lincah dan berani, Indomie jadi kepancing buat terus berbenah dan ngeluarin varian rasa baru yang makin seru, bikin tampilan kemasan lebih segar, sampai makin rapi ngatur pasokan ke warung-warung. Ujung-ujungnya, persaingan sengit ini justru jadi bahan bakar inovasi yang bikin pilihan buat emak-emak pas belanja jadi makin beragam dan nggak ngebosenin!

Dari Meja Kerja Neng Tanti:

Di dunia bisnis maupun di kehidupan sehari-hari kita eh.. aku sebagai emak-emak, kita tuh nggak harus selalu jadi nomor satu kok buat bawa perubahan positif. Kadang, jadi 'nomor dua yang lincah, berani, dan kreatif' udah lebih dari cukup buat ngebongkar kebiasaan lama dan bikin suasana makin berwarna.

Lagian sebagai konsumen, kita mah untung banyak yekaaan? Mau pilih yang mana aja, tinggal seduh air mendidih, racik bumbunya, terus nikmati mi hangat sambil selonjoran santai, baca blog Rianadewi.com yang hobi mengulas banyak tempat wisata di dalam dan luar negeri!

Gimana nih kalau versi kalian di rumah? Pas lagi belanja bulanan atau nyetok di lemari dapur, biasanya Tim Indomie Goreng Otentik yang rasanya nostalgia banget, atau Tim Mie Sedaap Kriuk yang bumbunya bold dan berani?


Sumber tulisan :

Persaingan Market Leader vs Challenger (Ekuitas Merek & Penetrasi):

1. Rachmad Yuanito (UII) — "Analisis Ekuitas Merek Mie Sedaap dan Indomie sebagai Market Leader dan Follower". (Membahas bagaimana Mie Sedaap menggerus market share Indomie yang sempat mendominasi di atas 90%).

2. Nurdianty, Salsabila, duka. (2024) — "Analisis Persaingan Produk Indomie & Mie Sedaap", Jurnal Ilmiah Manajemen, Bisnis dan Ekonomi (JIMBE). (Menganalisis persepsi harga, daya tarik iklan, dan brand switching konsumen).

3. Almufi Jurnal Sosial dan Humaniora (2025) — "Perbandingan Kepuasan Konsumen terhadap Indomie dan Mie Sedap". (Menjelaskan faktor psikologis, motivasi, dan heritage budaya yang membentuk persepsi produk).



Sensory Marketing & Embodied Cognition (Inovasi Kriuk):

1. Krishna, Aradhna (2012) — "Sensory Marketing: Research on the Sensual Side of Products". (Menjelaskan bagaimana rangsangan pendengaran/auditori seperti suara "kriuk" dan kontras tekstur mempengaruhi persepsi kesegaran & kelezatan di otak).

2. Cognitive Biases & Decision Making (Status Quo & Availability Heuristic):Kahneman, Daniel (2011) — "Thinking, Fast and Slow". (Menjelaskan System 1 Thinking atau kebiasaan memilih produk secara otomatis di minimarket, serta Status Quo Bias).
Samuelson, W., & Zeckhauser, R. (1988) — "Status Quo Bias in Decision Making". (Landasan analisis jebakan rasa nyaman sang pemimpin pasar).

3. Trend Riding & Identity Signaling (Phenomena Korea Wave / K-Pop):
Berger, Jonah (2016) — "Invisible Influence: The Hidden Forces That Shape Behavior". (Membahas bagaimana konsumen membeli produk/tren untuk mengirim sinyal identitas sosial / identity signaling).

4. Attention Economy & Physical Availability:
Sharp, Byron (2010) — "How Brands Grow: What Marketers Don't Know". (Gagasan utama bahwa dalam FMCG, Physical Availability / ketersediaan di rak warung dan visibilitas visual jauh lebih menentukan daripada sekadar preferensi merek)
.

Komentar

  1. Ngobrolin mie gak pernah lepas dari 2 brand besar ini yaa..
    Padahal sempalan para mie ini ada beberapa brand juga.. seperti brand Gaga yang aslinya dari Indomie.

    Tapi tetep pas milihnya, lagi lagiii Indomie.

    Kita pernah juga tuh, ka Tanti.. ada di posisi yang fomo cobain mie korea yang bergambar oppa ganteng. Tapiii anak-anak tetep baliknya selera klasik, Indomie. Kayaakk uda nyaman aja gituu.. semua takarannya pas. Meski jumlah bumbunya sedikit berkurang dan mie-nya makin saupriitt..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah iyaaa aku malah sempat back to mie ayam bawang lagi dan lagi! terus kalo bosen malah beli bihunku

      Hapus
  2. saya team mie sedaap, hehehe
    dan sesudah mencoba beberapa rasa, akhirnya memutuskan hanya rasa kaldu ayam dan ayam bawang
    termasuk varian "Tasty" nya kalo lagi pingin makan mie ayam
    oiya, pernah suka banget dengan Indomie varian Tori Kara dan Tori Miso
    Sekarang bosen, lagi suka Miemu dari Muhamadiyah
    Hehehe ternyata jadi banyak ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. waaa baru tauuuu... aku mau cari juga ah Miemu 😍😍😍

      Hapus
  3. Saya jarang makan mie instan, yang biasa pilih variannya: suami dan anak remaja saya. Suami nyetok keduanya: Indomie dan Mie Sedaap, si bocah SMA pilih yang taste Korea..Saya pasrah aja haha, kalau pengin ikutan makan ya sesekali yang versi Indonesia pastinya.
    Menarik banget membedah persaingan dua merek mi instan yang rasanya sudah begitu dekat dengan keseharian kita: Indomie dan Mie Sedaap. Selama ini mungkin kita cuma mikir soal rasa dan mana yang lebih enak, padahal di baliknya ada strategi branding, inovasi produk, harga, sampai cara membangun kedekatan dengan konsumen. Setelah membaca tulisan ini jadi makin sadar bahwa persaingan bisnis makanan sesederhana mi instan pun ternyata penuh strategi. Seru banget ulasannya, Mbak Tanti!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang seru ya, karena dari kebiasaan kecil di rumah saja kelihatan bagaimana kedua merek ini punya cara masing-masing untuk merebut hati konsumen. Ada yang menang di rasa nostalgia, ada yang berani terus berinovasi mengikuti tren dan selera anak muda.

      Hapus
  4. Indomie emang nostalgia banget. Padahal dulu banget ada brand yang namanya Sarimi kan ya. Tetap saja, Indomie yang keinget.

    Nah mie sedap ini bener-bener bisa banget nyalip tanpa pake sein. Kalau soal varian rasa, mie sedap emang nggak ada tandingannya. Banyak banget variannya.

    Sementara Indomie? Banyak juga. Cuma seringnya ya itu lagi, itu lagi yang tersedia. Hmm...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nahhh iyaaa, Sarimi! 😂 Dulu kayaknya semua merek pernah punya masa kejayaannya masing-masing, tapi entah kenapa kalau disuruh menyebut mi instan, yang otomatis nongol di kepala memang Indomie. Nostalgianya sudah level auto-play.. wkwkwkwkkk

      suka banget istilahnya: Mie Sedaap nyalip tanpa sein! Wkwkwk. Karena memang salah satu senjata mereka kelihatan banget di keberanian main rasa dan inovasi. Mereka seperti bilang, “Kalau nggak bisa mengalahkan yang sudah jadi kebiasaan, bikin orang penasaran dulu.”

      Hapus
  5. Kalo menurut gue sih INDOMIE seng ada lawan. Dari pertama gue kenal (baca: mencoba) kehadirannya sebagai "pengganjel" perut tuh memang belom ada yang bisa menyaingi. Dan bener seperti yang lo tulis, INDOMIE itu tuh seakan-akan jadi icon buat mie instan. Dimana-mana kalau nyebut mie instan ya INDOMIE. Sama perkaranya kek air mineral yang selalu kita sebut sebagai AQUA.

    Ah mendadak teringat saat masa-masa kos dan dompet sudah setipis kertas putih 80gr hahahaha. INTERNET (Indomie telor kornet) selalu jadi pilihan yang tepat. Bisa makan di warteg, cepat prosesnya, murah harganya.

    Dipegang oleh jaringan produsen makanan - F&B manufacture - jelajah INDOMIE ke seluruh dunia emang gak main-main. Sebagai "pemain besar" gebrakannya moncer juga di LN. Gampang nemunya di rak supermarket di kawasan Asia. Laris pulak. Belum lah terkalahkan oleh negara-negara. Hence, sejatinya kita tuh jagoan dalam mengolah rasa instan ya Tan.

    Ah. Jadi pengen INDOMIE goreng telur pake tauge jadinya haahahaa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Et daaaah bahayaaa... artikel blomkelar dibahas perut dah minta eksekusi hahaha

      Aku langsung ngakak di bagian “dompet setipis kertas putih 80gr” dan tentu saja INTERNET! 🤣

      Itu mah bukan sekadar makanan, tapi survival kit anak kos zaman perjuangan. Indomie + telur + kornet, udah berasa makan menu premium. 😂

      Hapus
  6. Mie Sedaap bisa masuk as challenger menarik banget emang. Penting juga dalam dunia bisnis ya mbak. Supaya meminimalisir monopoli juga. Ternyata cara brand berebut perhatian dan cara manusia memilih teman atau mengambil keputusan punya pola yang mirip juga ya. Hehehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ternyata strategi brand rebutan tempat di kepala konsumen punya kemiripan dengan cara kita memilih teman, pasangan, bahkan mengambil keputusan sehari-hari. Kita merasa memilih dengan bebas, padahal sering kali ada banyak "pemicu" kecil yang diam-diam memengaruhi pilihan kita.

      Hapus
  7. Persaingan antara Indomie dan Mie Sedaap ini memang menarik banget untuk dianalisis dari sisi pemasaran. Kedua brand ini sekarang punya banyak varian rasa. Tapi, bagi saya, lama-lama Mie Sedaap sih yang rasanya lebih enak. Meskipun secara brand memang kelihatannya Indomie masih lebih unggul. Mungkin karena sejak kecil lebih dulu mengenal Indomie.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, ini menarik banget, karena ternyata lidah dan memori punya "politik" sendiri yaa.Makanya perang mi instan ini seru, bukan cuma soal siapa yang rasanya paling enak, tapi juga siapa yang berhasil menempel paling kuat di ingatan konsumennya. Dan ternyata, kenangan masa kecil bisa jadi bumbu marketing yang lebih kuat daripada micin.

      Hapus
  8. Kalau harus memilih antara Indomie atau mie sedap, aku akan pilih Indomie sih. Soalnya semua rasa Indomie pas buatku dan di rumah ortu sedianya itu hahaha. Jadi familiar banget.

    Mie sedap, sesekali coba kalau ada rasa yang bikin penasaran. Tapiii, ada satu merk lagi yang aku suka, Sarimi, salah satu mie yang kuah ayam bawang rasanya khas banget. Dan setiap belanja, aku suka nggak bisa nahan tangan buat nggak ambil mie instan hahaha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Indomie memang punya faktor nostalgia yang kuat ya... apalagi kalau dari kecil sudah jadi stok wajib di rumah ortu. Lidah tuh akhirnya punya standar rasa yang familiar.

      Tapi aku baru ngeh juga sama Sarimi kuah ayam bawang. Ada memang beberapa produk yang nggak terlalu heboh di permukaan, tapi begitu dicoba malah bikin, “Lho, kok enak?”

      Hapus
  9. Saya tim Indomie, suka aja gitu. Banyak pilihannya, cocok sama rasa bumbunya, dan tekstur mienya. Eh tapi kalau mau makan mie ringan-ringan, ingat jaman dulu di kampung, beli merk Vitami yang murah meriah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga baru ngeh kalau Sarimi kuah ayam bawangnya memang punya rasa yang khas banget. Nah kalo VItami ... nggg.. baru denger !

      Hapus
  10. Wohoooo, mau Indomie atau Mie Sedaap, aku suka galau kalo disuruh milih antara keduanya. Biasanya suka sok adil gitu sih akunya. Kalo beli Indomie 6 bungkus, pasti akan beli yang satunya lagi dalam jumlah yang sama. Bedain variannya aja. Haha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. justru di situlah hebatnya strategi mereka—kita dibuat galau, tapi akhirnya dua-duanya masuk keranjang. Marketing boleh perang, stok mi di rumah tetap kompak.

      Hapus
  11. Eh beneeeer sih mba... Mie sedaap ini pelan2 makin naik mengejar Indomie. Aku sendiri fans setia Indomie sebenernya, tp 1 bulan belakangan ini, ntah kenapa list belanja jadi belj mie sedaap Mulu 🤣🤣.

    Dari segi rasa mie sedaap memang LBH bold. Lebih pekat kuahnya. Cobain deh yg kari Indomie Ama kari mie sedaap. Kebanting yg Indomie punya.

    Apalagi rasa2 mie sedaap itu variatif, tp banyak dijual di mana2. Indomie juga banyaaaaak pilihannya, tp terkadang kayak rasa mie celor, prasaan di JKT ga pernah Nemu 😅😅. Hrs ke Palembang dulu kayaknya.

    Skr ini aku LGS suka mie sedaap yg laksa Singapore 😄. Udah lama kluar, tp baru nyobain hahahah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku setuju banget soal rasa. Mie Sedaap memang cenderung lebih bold, bumbunya berani dan kuahnya lebih “nendang”. Dan ini yang menarik dari perang mereka: bukan cuma perang harga, tapi perang selera dan inovasi rasa. Kita yang awalnya cuma mau beli satu merek, akhirnya malah jadi korban eksperimen rasa.

      Hapus
  12. Aku sihh timnya Mie Sedap :D
    Variannya yang variatif tuh kayak memuaskan rasa penasaran dengan berbagai rasa yg cuma bisa aku temukan di Mie Sedap.
    Apalagi bumbunya yang gk pelit membuat rasa mie-nya nagih terus hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwkwk berarti sudah jelas yaa, ini Tim Mie Sedaap garis keras. 😂

      Hapus
  13. 2 brand besar yang cukup mendominasi pasar mie instan. Benar-benar khas dan punya value masing-masing yang ditawarkan. Apalagi belakangan mulai hadir dengan skema bundling. Jadi makin sering grain freeze kalau di supermarket, sih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwkwk iyaaa, dua brand ini memang sudah sampai level “mau pilih yang mana, ujung-ujungnya dua-duanya masuk keranjang.” 😂🍜

      Apalagi kalau sudah main bundling, makin susah menjaga niat awal: “Aku cuma mau beli satu.” Tiba-tiba pulang bawa stok mie buat satu RT. 🤣

      Hapus
  14. persaingan bisnis di dunia mie instan lumayan "ketat" juga ya, masing-masing perusahaan membuat strategi gimana masyarakat bisa terus membeli produknya
    nama Indomie memang sudah melekat di masyarakat, kadang kalau kita beli mie secara refleks pasti bilang indomie, padahal yang dijual ada banyak produk

    BalasHapus

Posting Komentar

TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA BLOG NENG TANTI (^_^)

Postingan Populer