Manipulasi Menu Solaria: Benarkah Kita Memilih, atau Sedang Dipilih?


Di balik buku menu Solaria yang tebalnya mirip ensiklopedia, ada permainan psikologi halus, berujung memesan Nasi Goreng dan Es Teh Tawar lagi..

Aku menatap bingung lembar pesanan menu Solaria di tangan, bolak balik menyusur menu, diskusi kepada tiga teman lain yang sibuk melihat buku menu segede  gaban. Akhirnya kami sepakat memesan: 2 jenis Nasi Goreng (seafood dan ayam), Bihun Kuah, seporsi Pangsit Goreng, dan Nasi Fuyunghai, dengan minuman 4 gelas es teh tawar.

"Ah, nasi goreng lagi deh," celetuk Amie, tertawa. Kami berjalan menuju meja sambil nyengir...

Momen seperti ini rasanya familiar, gak? 

Di depan kita terpampang buku menu besar. Lembar demi lembar dibalik (dan dipelototin) dengan tekun. Ada Nasi Goreng Tom Yum, Kwetiau Siram Sapi, Chicken Cordon Bleu, Capcay, Steak, sampai Bihun Goreng. Ada ratusan kombinasi rasa yang siap memanjakan lidah.

Tapi setelah mengernyitkan dahi dan berdiskusi intens, seolah sedang menentukan masa depan finansial negara, ujung-ujungnya keputusan kita kembali ke zona nyaman. Ibarat musafir  nih, kita berkelana jauh menjelajahi puluhan menu eksotis, hanya untuk pulang kembali ke pelukan Nasi Goreng dan Es Teh!

Aku tertawa, dan tak lama, mataku tak sengaja terjebak ke seorang pria yang berdiri di depan kasir berdua (pacarnya mungkin?) Mereka juga lama "mempelajari" menu dengan tangan memegang list order dan pensil Solaria. 

Pria itu mengernyit. Dahinya berkerut. Lima menit lebih berlalu dalam keheningan yang intens, tanya jawab dengan pasangannya dan... akhirnyaaa, dengan helaan napas pasrah, ia mendongak ke arah kasir dan berkata:

        "Mbak... Nasi Goreng Spesial satu, Pangsit Goreng satu ya. Sama Es Teh Manis dua."

Aku terkekeh pelan dari mejaku. Bukan karena mengejek, loh yaaa... tapi karena merasa bernasib serupa.

Aku, dan mungkin banyak pembeli, pernah berada di posisi pria itu. Pesen Nasi Goreng sama Es Teh!

Pertanyaannya: Apakah kita benar-benar menginginkan nasi goreng itu, atau otak kita sebenarnya sedang "dikerjai"?

"Jebakan Batman" Bernama Paradox of Choice

Kita sering berpikir bahwa semakin banyak pilihan, kita akan semakin bahagia. Kebebasan menentukan nasib sendiri! begitu kira-kira slogan di kepala kita.

Tapi ilmu psikologi punya cerita lain.

Barry Schwartz
, seorang psikolog asal Amerika Serikat, menulis buku legendaris berjudul The Paradox of Choice.

Teori sederhananya begini: ketika disuguhi terlalu banyak pilihan, otak manusia tidak merasa bebas. Otak justru merasa tertekan. Kondisi ini memicu apa yang disebut choice paralysis alias kelumpuhan keputusan. Otak kita sibuk menimbang: Kalau pilih Kwetiau, nanti nyesel gak ya gak pilih Cordon Bleu? Tapi kalau pilih Cordon Bleu, kemahalan gak ya?

Akibatnya? Kita lelah sebelum makanan datang. Kondisi kelelahan mental ini dinamakan decision fatigue.

Dan saat energi mental kita habis setelah seharian kerja atau muter-muter mall, otak akan secara otomatis mencari jalan pintas (shortcut). Jalan pintas terbaik bagi otak yang lelah adalah memilih opsi yang paling aman dan paling dikenal.

Tebak apa opsi paling aman di Solaria? Yaaassss bestie, Nasi Goreng 😀

List Menu Panjang: Pelayanan Ekstra atau Strategi Bisnis?

Wahai Solaria, apakah kamu sengaja menumpuk ratusan menu untuk bikin kita bingung?

Secara resmi, tentu tidak ada dokumen rahasia Solaria yang bocor dan bilang mereka ingin "memanipulasi" kita. Tapi dalam ilmu pemasaran, ada teknik klasik bernama Menu Engineering.

Menu Engineering adalah seni menyusun daftar makanan, mulai dari tata letak, warna, penamaan, hingga variasi harga, agar secara tidak sadar mengarahkan keputusan konsumen. 

Aku kutip dari salah seorang pakar bernama Dhiraj Kumar, F&B Growth Specialist, Founder at Roloway Advertising, Consulted 50+ F&B Brands, Digital Marketing & Ecom Strategist :


Namun, jika kita lihat dari sudut pandang pakar branding Indonesia seperti Yuswo Hadi, banyaknya menu di Solaria justru merupakan strategi menaklukkan pasar family atau grup.

Coba bayangkan skenario makan siang keluarga ini:

  • Ayah: Ingin makan nasi goreng telor ceplok setengah mateng,
  • Ibu yang selalu lagi diet... cuman pingin makan kuah panas-panas
  • Anak pertama gaya-gayaan makan Western jadi dia pesen Chicken Cordon Bleu
  • Anak kedua ingin yang simple jadi makan kwetiau.

Di restoran lain, perbedaan selera ini bisa memicu Perang Dunia III di parkiran mal!

Tapi di Solaria? 
Semua masalah selesai di satu meja. Solaria menjadi neutral ground, a.k.a  zona netral yang menyelamatkan kedamaian keluarga!

'Ilusi Kebebasan' di Balik Buku Menu

Pada akhirnya, Solaria sebenarnya tidak sekadar menjual makanan. Mereka menjual kenyamanan dan kepastian.

Saat lapar dan lelah melanda, kita tidak mencari petualangan kuliner yang berisiko. Kita hanya ingin kepastian: tempatnya nyaman, harganya masuk akal, lokasinya gampang dicari, dan rasanya konsisten.

Solaria memangkas friksi (friction) dalam proses mengambil keputusan. 
Mereka menyediakan segalanya, lalu biarkan otak kita yang lelah mengambil keputusan paling praktis.

Kita merasa punya kendali penuh atas apa yang kita makan. Padahal, keputusan itu adalah hasil kompromi antara kelelahan otak, posisi menu, dan rasa nostalgia akan porsi nasi gorengnya yang melimpah.

Catatan untuk Para Pelaku Usaha

Fenomena "Buku Menu Solaria" ini membawa pelajaran penting buat kita yang bergelut di dunia bisnis atau konten:
  • Banyak pilihan itu bagus, tapi pastikan ada highlight atau rekomendasi utama agar pelanggan tidak mengalami kelelahan mental.
  • Orang datang bukan cuma cari produk, tapi cari solusi yang cepat dan praktis.
  • Jadi Safe Zone: Kadang, jadi opsi yang "paling aman dan dapat diandalkan" jauh lebih menguntungkan daripada menjadi opsi yang "paling eksentrik".
At the end,

Tentu saja, artikel ini tidak sedang menuduh Solaria melakukan konspirasi tingkat tinggi. Paradox of choice dan decision fatigue hanyalah kacamata sains untuk memahami dinamika unik antara perilaku manusia dan strategi pemasaran.

Kapan-kapan kalau lagi ke gerai Solaria dan baca buku menunya yang tebal itu,  atau baca list order yang bererot panjaaaang.... 


luangkan satu detik untuk bertanya pada diri sendiri:

"Aku benar-benar lagi pengen Nasi Goreng... atau otakku cuma sedang
malas berpikir?"

Bagaimana dengan kalian gaes? 

Kalau ke Solaria, kalian tipe pejuang yang selalu mencoba menu baru, atau tipe setia yang ujung-ujungnya balik lagi ke Nasi Goreng or Kwetiau or Nasi Capcay? Tulis di kolom komentar, ya! Mari kita hitung berapa banyak korban decision fatigue di sini!

Komentar

  1. Ternyata aku yang makannya susah (ngga mau yang aneh2) ini berguna kalo mau makan ke contohnya solaria ini ya, hihii
    Maunya cuma nasgor, ayam bakar atau mie... jadi ngga pusing milih menu segambreng yang ngisinya kek jawab soal ujian dan menyiksa bagi penderita rabun jauh haha
    Tapi POV aku solaria lumayan enak dan porsinya gedee

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha, berarti kamu termasuk tim yang kebal sama "jebakan" banyak pilihan menu ya. 😆

      Aku juga setuju sih, mau dibilang apa pun soal strategi menu, kalau nasi goreng, ayam bakar, atau mienya memang cocok di lidah dan porsinya bikin kenyang, ya susah buat pindah ke lain hati. Apalagi buat yang rabun jauh, lihat buku menu Solaria memang kadang rasanya kayak lagi ujian pilihan ganda.

      Hapus
  2. anehnya saya malah selalu pesan kwetiau goreng dan Chicken Cordon Bleu kalo ke Solaria
    Mungkin sejak dulu gak begitu suka nasi goreng ya
    Mmmm....maksudnya begini, nasi goreng mah bisa bikin sendiri
    Sementara yaang lain bikinnya ribet
    Eniwei, Solaria jadi solusi ketika saya jalan dengan anak-anak
    Karena comfort food dengan comfort place, dan pastinya halal
    Atau seperti kata Mbak Tanti: solusi tempat makan yang pasti-pasti aja :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwkwk nah ini dia... ternyata termasuk golongan "pesan yang susah dibikin di rumah" ya. 🤣

      Aku juga setuju banget sama logika ambu. Nasi goreng enak memang bisa bikin sendiri (meski rasanya belum tentu bisa ngalahin Solaria ..uhukkk), sedangkan kwetiau goreng atau Chicken Cordon Bleu itu butuh effort lebih, jadi sekalian aja pesan yang ribet-ribet.

      Dan iyaaa, Solaria memang sering jadi penyelamat kalau lagi jalan bareng keluarga. Menunya banyak, anak-anak biasanya masing-masing punya favorit sendiri, tempatnya nyaman, halal, jadi nggak perlu drama muter-muter cari tempat makan lagi. Benar-benar masuk kategori "tempat makan yang pasti-pasti aja".

      Hapus
  3. Adakalanya sih daku gitu Mak, kalau udah baca menu yang banyak dan tebel pula, ujung²nya ya pesen nasi goreng. Di lain sisi juga karena penyuka nasi goreng juga daku, jadi ga masalah hahah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku sekarang udah tau trik dari Tiktok itu hahahaha ... pake Solaria hacks jadi akhirnya nyoba menu lain (dasar ngga mau mikir)

      Hapus
  4. Hack makan Solaria di sosmed bikin penasaran dan menyobanya . Biar banyak menunya tapi kalau mpo gak tertarik semua dan cuma beli satu yaitu mie goreng atau kwitiau goreng seafood. + Minuman Soalnya sukanya itu doang wkkk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bersyukur ya Mpo karena ga repot pilah pilih menu!

      Hapus
  5. Yang menarik poin soal Solaria jadi neutral ground buat keluarga dengan selera beda-beda. Jujur saya juga gitu tiap makan bareng keluarga besar, akhirnya semua pesen menu masing-masing tanpa drama karena pilihannya banyak.

    Catatan buat pelaku usaha di akhir tulisan juga insightful, kadang jadi "safe zone" emang lebih menang daripada eksentrik

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yes mbak, ternyata kalau di keluargaku sih kompak ya kalau ditanya ke mana : Resto Padang! Kenapaaaa? Karena di situ semua punya kesukaan masing masing dan beda beda selera juga loh!

      Hapus
  6. sama lagi, aku juga seringnya pesen Nasi Goreng lagi hahahah bedanya rasa Tomyam yang gak ada di kang mie gerobakan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Weedeeeeh ada ya nasi goreng Tomyam wkkwkwkkwk sumpah ngga kebayang rasanya !

      tapi pasti asem asin seger gitu ngga sih? Plus ada seafood nya juga

      Hapus
  7. Sebenarnya, aku juga begitu. Nggak hanya di Solaria. Di restoran manapun yang menunya banyak, selama apapun aku memilih jatohnya tetap ke menu aman yang sudah akrab di lidah. Hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahhaa kita pemain "cari aman" ya mbak Yuni. Aku juga orangnya picky eater walau ngga banget, pernah nyoba menu yang actually ngga asing sama sekali yaitu di Pho, aku milih sejenis burger mereka yang daging sapi

      tapi ... masalahnya aku LUPA aku ngga suka kalo ada rasa apaaaa gitu .. nah si daun basilnya aku banyakin. Hasilnya... nyesel hahahhaa

      Hapus
  8. Hahah iya juga sih. Klo uda nyaman, emang biasanya yang dipilih ya menu itu itu aja. Aku klo ke Solaria, always nasi goreng 🤣

    BalasHapus
    Balasan
    1. wkwkwkkwkk tooossss.. menu untuk si paling aman, ga mau rempong yaaak

      Hapus
  9. Persis, ka Tantii..
    Kemarin pas ke Jakarta, aku sama anak-anak hang-out sendiri ke Blok M. Dan inget doonk, bisi suami belum makan yaa.. Jadi aku telp "Mau makan apa?"

    Jawabannya simpel "terserah".
    HIH!

    Gabisa diginiian akutuu... tapi karena males debat di telp, akhirnya aku memutuskan nasi goreng aja.
    Hahahhaa.. menu yang memenuhi seluruh kebutuhan energi. Dari mulai karbo hingga berbagai sumber protein ((tergantung topping)).

    Aku jadi ngerasaaa (( PROUD OF MA SELF)) karena berhasil memilih menu terbaik.
    Ternyata kata ka Tanti, memang ada sisi psikologisnya yaa.. ketika kita dibebaskan memilih.

    Cakeepp, ka Tantiii...

    BalasHapus
    Balasan
    1. WKWKWK... aku ketawa pas baca bagian jawabannya, "terserah." 🤣🤣 Itu satu kata yang sukses bikin otak langsung kerja lembur.

      Terus lucunya, ujung-ujungnya malah pilih nasi goreng. Ternyata bukan cuma karena aman dan enak, tapi secara psikologis juga memang jadi pilihan yang paling "menenangkan". Jadi rasa PROUD OF MA SELF itu valid banget dong.

      Hapus

Posting Komentar

TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA BLOG NENG TANTI (^_^)

Postingan Populer