Mata Kering Saat Melukis Doodle, Karena Remehkan Gejala SePeLe

Ada satu momen yang paling ditakuti pelukis selain cat tumpah,
yaitu paduan warna di atas kanvas terlihat  tak selaras, padahal ternyata yang bermasalah bukan harmoni cat, melainkan mata yang lelah...

Malam itu saya hampir mengulang satu bagian lukisan doodle yang sudah dikerjakan berjam-jam. Pesanan doodle di kanvas berukuran besar harus selesai sebelum tenggat. Detail yang rumit dengan permainan warna- warni cerah dan bergradasi itu seolah tak seimbang di mata.
Saya mundur beberapa langkah untuk mengecek komposisi keseluruhan. 

Rasanya tetap ada yang salah. Warna terracotta yang sejak awal saya campur dari warna merah, kuning dan coklat, terlihat terlalu terang, sehingga mendominasi sisi kanan lukisan doodle. Dengan hati-hati, saya menambahkan sedikit pigmen coklat tua agar lebih bernuansa tanah, sesuai dengan tema doodle kali ini, "Safari In a Jungle".

Hmm.. tetap terasa aneh.

Saya menggeser letak lampu, berharap itu karena pencahayaan studio. Saya juga mengubah posisi kanvas. Ya, pencahayaan di malam hari memang sangat jauh berbeda dengan di siang hari. 

Masih tak puas, saya mengamati campuran cat di palet. Apa mungkin itu disebabkan karena saya menggunakan campuran cat dari merek yang berbeda?

Saya membuka kacamata, dan kemudian tersadar, distorsi warna di atas kanvas itu terjadi karena .. mata saya yang lelah!

Ketika Mata Mulai Memberikan Sinyal


Sudah dua hari berturut-turut saya memang mempercepat pengerjaan lukisan doodle, dan hari ini, sejak sore saya nyaris tidak beranjak dari depan kanvas.

Fokus mengejar tenggat waktu, membuat saya tenggelam dalam mode hyperfocus, sebuah kondisi ketika waktu terasa berjalan begitu cepat, sementara tubuh perlahan lupa mengirimkan sinyal bahwa ia juga butuh istirahat.

Tentu saja yang sangat terasa adalah mata  yang lelah dan terasa berat. Awalnya mata hanya terasa SEpet. Kelopak mata seperti bergesekan dengan permukaan yang kering setiap kali berkedip.

Saya mengabaikannya, berharap "Ah, mungkin cuma capek biasa."

Tapi, tak lama kemudian muncul rasa PErih. Mata mulai terasa panas dan refleks ingin terus digosok.

Saya masih bertahan, karena merasa sedang mood mengerjakan, hingga akhirnya datang rasa LElah yang jauh lebih mengganggu!

Mata yang biasanya cukup peka membedakan ketajaman gradasi warna, dan detail garis yang semestinya mudah saya lihat, terasa sedikit mengabur. Akhirnya saya menaruh kuas, dan membuka kacamata. 

Sebagai ilustrator, saya menyadari satu hal yang sederhana sekaligus penting.
Kuas bisa diganti, cat bisa dicampur ulang, bahkan kanvas baru selalu bisa dibeli.

Namun ketika mata mulai kehilangan kemampuannya membaca detail dan warna dengan tepat, kualitas sebuah karya ikut dipertaruhkan.

Ternyata Bukan Sekadar Mata Lelah

Rasa penasaran membuat saya mencari tahu penyebabnya. Dari berbagai referensi kesehatan, salah satunya dari National Eye Institute, saya menemukan bahwa gejala yang saya alami sangat mirip dengan kondisi mata kering (dry eyes).

Saat seseorang berkonsentrasi tinggi sepreti melukis, mendesain, mengedit video, membaca, atau menatap layar komputer, frekuensi berkedip cenderung menurun. Padahal, setiap kedipan berfungsi menyebarkan lapisan air mata (tear film) agar permukaan mata tetap lembap dan terlindungi.

Ketika kedipan berkurang, sementara ruangan ber-AC atau sirkulasi udara mempercepat penguapan air mata, permukaan mata menjadi lebih mudah kering. Akibatnya muncullah sensasi yang dikenal sebagai gejala SePeLe: SEpet, PErih, dan LElah.

Di situlah saya menyadari bahwa menjaga kelembapan mata bukan sekadar soal kenyamanan. Bagi pekerja kreatif, ini juga tentang menjaga ketelitian, konsentrasi, dan kualitas hasil kerja.

Menemukan Jeda yang Ternyata Saya Butuhkan

Sejak kejadian sering merasa lelah jika mata terlalu dipaksakan bekerja terus menerus,  ada satu benda kecil yang hampir selalu berada di meja kerja saya, yaitu INSTO Dry Eyes.

Saya memilihnya karena memang diformulasikan sebagai tetes mata pelumas (artificial tears) untuk membantu melembapkan mata yang kering. Kandungan Hydroxypropyl Methylcellulose (HPMC) membantu menggantikan kelembapan alami pada permukaan mata sehingga rasa kering, perih, atau mengganjal akibat kurangnya produksi air mata dapat berkurang.

Saat gejala mulai muncul, saya memilih berhenti sejenak, meneteskan INSTO Dry Eyes sesuai petunjuk penggunaan pada kemasan, lalu memejamkan mata beberapa saat sebelum kembali bekerja.

Yang saya rasakan bukan sekadar sensasi segar, tetapi juga pengingat bahwa tubuh memiliki batas yang sebaiknya tidak terus dipaksa.

Tentu saja, saya tidak menganggap tetes mata sebagai "izin" untuk bekerja tanpa henti. Justru pengalaman itu membuat saya mulai membangun kebiasaan baru yang lebih ramah bagi mata.

Saya berusaha menerapkan aturan 20-20-20, yaitu setiap 20 menit mengalihkan pandangan ke objek yang berjarak sekitar 20 kaki (sekitar 6 meter) selama 20 detik.

Saya juga lebih sadar untuk berkedip secara penuh ketika sedang sangat fokus, sesuatu yang ternyata sering terlupakan tanpa disadari.

Dan ketika gejala mata kering mulai terasa mengganggu, saya menggunakan #InstoDryEyes sesuai aturan pakai sebagai salah satu cara membantu menjaga kenyamanan mata saat beraktivitas.

*Catatan:
Jika keluhan mata kering tidak membaik atau justru semakin berat, sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Penggunaan tetes mata juga perlu mengikuti petunjuk yang tertera pada kemasan.

Mata yang Sehat, Bikin Produktif Berkarya

Pengalaman itu mengubah cara saya memandang produktivitas.

Dulu saya mengira semakin lama bertahan di depan kanvas, semakin cepat sebuah karya akan selesai. Kini saya justru memahami bahwa jeda bukanlah musuh produktivitas.

Jeda adalah bagian dari proses berkarya.

Karena bagi seorang ilustrator, mata bukan hanya indera penglihatan. Mata adalah alat untuk membaca detail, menangkap nuansa warna, dan memastikan setiap garis lahir dengan presisi.

Sejak malam ketika warna-warna di atas kanvas terasa "berbohong", saya belajar bahwa merawat mata sehingga 
#BebasMataKering sama pentingnya dengan merawat kreativitas itu sendiri.

Sebab pada akhirnya, karya terbaik tidak lahir dari tubuh yang terus dipaksa bekerja, melainkan dari tubuh yang cukup diberi kesempatan untuk tetap berfungsi sebagaimana mestinya.

Jadi, ketika mata mulai mengirimkan sinyal SEpet, PErih, dan LElah, saya memilih untuk tidak lagi menganggapnya sebagai rasa lelah biasa. Karena gejala SePeLe untuk 
#MataSePeLeJanganSepelein  dan cukup tetesin Insto Dry Eyes sebagai bagian dari langkah preventif menjaga kenyamanan mata.

Beberapa minggu kemudian, setelah lukisan terpasang di rumah klien, saya  menerima undangan makan siang di rumah klien, dan betapa senangnya saya karena lukisan itu menjadi pusat perhatian. 

Kanvas yang dulu hanya saya lihat bersandar di dinding studio, kini sudah dipajang di tengah ruangan keluarga. Cahaya jendela memantul lembut di permukaannya, seolah memberi kehidupan baru pada setiap sapuan warna yang pernah saya kerjakan hingga larut malam.


Hampir setiap tamu yang hadir, menyempatkan diri berfoto di depan lukisan tersebut!
Saya hanya bisa tersenyum. 

Semua rasa pegal di punggung, tangan yang sempat kaku karena terlalu lama memegang kuas, hingga mata yang pernah memberi sinyal SEpet, PErih, dan LElah, rasanya seperti terbayar lunas. Ada kepuasan yang sulit dijelaskan ketika sebuah karya akhirnya bukan hanya selesai, tetapi juga menjadi bagian dari cerita dan kebahagiaan orang lain. 

Mungkin itulah alasan mengapa saya tetap mencintai profesi ini. Namun kini saya juga tahu, agar masih bisa terus melukis dan menghadirkan kebahagiaan lewat warna-warna di atas kanvas, saya harus mulai menjaga "alat berkarya" yang paling berharga: mata saya.

Komentar

Postingan Populer