Ide Ngonten di Bali


Canang sari di depan rumah, penjor yang melengkung di atas jalan, sampai aroma dupa yang ikut terbawa angin, mengingatkan bahwa aku sedang di Pulau Dewata, Bali!

Harum wewangian dupa khas Bali, berbaur dengan bau lembab tanah setelah terkena embun pagi, menyergap indera penciumanku ketika membuka pintu kamar menuju teras. bang Dho menggamit tanganku, "Kita cari sarapan di luar yuk," 

Aku mengangguk dan gegas memasukkan kaki ke sandal jepit pink. Kami berjalan bersisian, sambil sesekali tanganku meraih gadget.. Rimbun, nama homestay tempat kami menginap memang "segitu estetiknya"!  


Beruntung memang punya temen yang berkelindan di dunia pariwisata, jadi kami bisa dapet penginapan cantik dengan separuh harga :))



Baru beberapa langkah keluar kamar, mataku sudah sibuk ke mana-mana. Ba
hkan teras Rimbun ini benar-benar tipe tempat yang bikin tangan otomatis mencari kamera. Ada tanaman hijau, furnitur kayu, cahaya pagi yang jatuh cantik, dan suasana yang entah kenapa membuat secangkir kopi terasa wajib hadir di situ... Kalau begini caranya, niat awal cuma mau cari sarapan bisa berubah jadi sesi foto dulu. 

Sarapannya.. nggg.. belakangan.


Keluar dari Rimbun, yang terletak di Jl. Pantai Batu Bolong no 55 ini -rasanya seperti membuka pintu menuju sisi Canggu yang lain.

Hotel ini memang berada di kawasan Batu Bolong, salah satu area yang paling hidup di Canggu. Jalanannya tidak pernah benar-benar sepi. Ada motor yang melintas, orang-orang berjalan santai dengan pakaian pantai, pesepeda yang sesekali muncul dari tikungan, sampai suara musik dari kafe yang samar-samar terdengar dari kejauhan.

Yang paling menyenangkan, kami tidak perlu pergi jauh-jauh untuk menemukan sesuatu.

Keluar hotel, tinggal berjalan beberapa langkah, sudah mulai bertemu deretan kafe, restoran, coffee shop, tempat wellness, toko kecil, sampai butik-butik yang menjual berbagai pernak-pernik khas Canggu. Kawasan Batu Bolong memang dikenal sebagai salah satu pusat aktivitas Canggu, dengan pantai, tempat makan, dan toko-toko yang saling berdekatan.

Ada Love Anchor yang bisa dijadikan tempat melihat-lihat souvenir dan barang-barang unik. Ada pula berbagai tempat ngopi yang seolah tidak pernah kehabisan ide untuk membuat secangkir kopi terlihat fotogenik!

Dan buat aku?

Ini jelas masalah. Karena setiap beberapa meter selalu ada sesuatu yang membuat mata berhenti.

“Eh, lucu!”

“Eh, itu bagus, bentar paaa aku mau foto itu!”

Bang Dho mungkin dalam hati sudah mulai menghitung berapa kali kata "eh" keluar dari mulutku pagi itu. 😂

Kami berjalan ke arah pantai, karena di tikungan sudut jalan ini ada sebuah warung makan yang menjual Nasi Soto. Hahaha.. jauh-jauh ke Bali, kuliner yang kami cari tetep soto.

Di kiri kanan jalan, kafe-kafe dengan konsep tropis kekinian bermunculan. Orang-orang duduk santai menikmati sarapan. Ada yang membuka laptop, ada yang bercakap-cakap sambil membawa kopi, bahkan sepagi itu, banyak bule-bule bertelanjang dada atau berkaos singlet khas Bali yang berjalan menuju pantai dengan papan selancar.

Inilah Canggu yang sering kulihat di media sosial.

Tapi berada langsung di dalamnya ternyata berbeda. Di layar ponsel, Canggu terlihat seperti kumpulan foto cantik. Di sini, aku bisa mendengar suara motornya, mencium aroma kopi dari kafe, bahkan bau-bau khas Bali dengan semerbak wangi parfum atau .. aroma khas badan terkena matahari ... (^_^)'

Dan melihat bagaimana orang-orang benar-benar menjalani hari dengan ritme mereka masing-masing.

Tak jauh dari kawasan ini ada Pantai Batu Bolong. Dari Rimbun, informasi hotel menyebutkan pantai dapat dicapai sekitar 5–10 menit berkendara, sementara beberapa sumber akomodasi mencatat kawasan pantai sekitar 1,6 kilometer dari hotel.

Beberapa penjor berbaris rapi di kiri kanan, dan pastinya ada beberapa canang sari  di dekat pintu masuk dengan patung batu penjaga dengan wastra poleng-nya , menjadi pengingat bahwa aku sedang di pulau Dewata.

*note :
  • Penjor adalah Bambu melengkung bertabur janur dan hasil bumi yang berbaris megah di sepanjang jalan
  • Canang Sari & Dupa Nyala: Persembahan harian berupa anyaman daun kelapa berisi bunga dan hiasan,
  • Wastra Poleng: Sarung kain motif kotak hitam-putih yang melingkari patung penjaga gawang maupun pohon-pohon tua

Bali memanjakan seluruh inderaku, tak hanya visual!

Melangkah lebih jauh, deretan patung batu padas berbalut wastra poleng berdiri gagah seolah menjaga kedamaian setiap sudut jalan.

Suasana kian hidup dengan hiruk-pikuk khas jalanan tropis. 

Di antara gesitnya lalu-lalang sepeda motor, terdengar riuh suara sapaan hangat dan teriakan khas para penjaja lokal. "Bli! Mari singgah dulu, Bli! Beli kainnya, Bli!" atau sapaan akrab untuk para perempuan, "Mba! Cari souvenir apa hari ini, Mbok?"

Sepagi ini, para penjaja sudah giat mencari pembeli, menghadirkan rasa hangat tersendiri.

Bali memang sesuatu. Bukan sekadar karena bentangan pantainya yang molek, pendar matari terbenam yang tampak seolah sudah dipoles filter, atau riak ombaknya yang konstan. Bali memiliki sesuatu yang jauh lebih bernyawa: setiap sudut menyimpan narasi yang siap dituturkan kembali.

Bagi seorang pembuat konten, Bali bukan sekadar bintik destinasi di peta untuk melepas penat. Bali adalah sebuah content playground yang mahaluas. Aku jadi ingat salah satu  Travel Blogger Medan  bernama Suci. Ia sanggup merekam jejak setiap perjalanan dengan sangat apik, lengkap dengan pengalaman pribadi yang mendebarkan! Waktu seolah terbang jika membaca pengalaman demi pengalamannya di blog.

Dan ketika aku memutuskan untuk menetap sejenak selama seminggu dengan Canggu sebagai basecamp, satu kesadaran pelan-pelan muncul: bener juga yaaa... seminggu ternyata terlampau singkat!

Kenapa Harus di Bali? 


Sebenarnya ide luar biasa ini terjadi gara-gara Anik dan Luwiek, dua sahabat alumni ITI yang memang telah lama menetap di sana. 

Anik boyongan bersama suaminya Yongki (sekarang udah mantan) dan Luwiek memang asli orang Bali yang sudah memiliki KTP DKI, tapi entah kenapa semesta malah mempertemukannya dengan Wayan yang jelas orang Bali asli! Akhirnya ia memilih pindah lagi ke tanah kelahirannya ini. 

Bersyukur memang, punya teman yang domisili di sini, karena Anik yang memang punya bisnis hotel dan furnitur, jadi merekomendasikan (plus dapat diskon separuh harga kamar) untuk menginap di Rimbun sekitar Canggu yang cantik. Sementara, untuk jalan ke sana kemari, aku mengandalkan motor pinjaman Luwiek! 

Back to laptop, cara kita memaknai perjalanan telah bergeser. 

Traveling tak lagi melulu soal berpose membelakangi lanskap indah demi foto “aku dan tempat ini”. Kita datang melangkah bukan hanya untuk menyaksikan, melainkan untuk mengalami, mencatat, menggoreskan pena, memotret, dan merajutnya kembali menjadi sebuah narasi.

Di situlah, Bali membuka ruangnya. Dalam satu lintasan hari saja, spektrum konten yang bisa dipetik begitu beragam.


Pagi hari dibuka dengan aroma arabika di sudut kedai kopi lokal. Siang sedikit, kita bisa berpindah mencari teduh di working space bernuansa tropis. Menjelang sore, langkah kaki menuntun kita berburu spektrum jingga di pesisir pantai. Lalu malam ditutup dengan mengudap kuliner lokal yang menggugah selera.

Besoknya? 
Tema bisa berganti sekelat mata: dinamika budaya, lekuk arsitektur, keriuhan pasar tradisional, hingga jejak aktivitas luar ruang.

Jika biasanya kita kerap bersetegang mencari ide, di Bali persoalannya justru berbalik menjadi: “Yang mau digambar dulu yang mana, ya?” 😆

Merekam Ritme dan Mengunjungi love anchor Canggu


Canggu punya napas yang khas. Ada perpaduan organik antara ritme tropis, gaya hidup pesisir, kebiasaan ngopi yang kental, ruang kreatif, hingga deretan penginapan berdesain apik yang membuat siapa pun betah menepi lama-lama.

Bagi seorang kreator, kombinasi ini sangat menenangkan. Konten tak melulu lahir dari jadwal perjalanan (itinerary) yang padat dan tergesa-gesa. Daya pikat Canggu justru terletak pada slow content.

Bangun saat udara masih segar. Menyeruput kopi hangat. Melakukan outdoor activity seperti berjalan kaki tanpa arah menuju pantai, menunggu sore dengan memperhatikan para peselancar memotong gelombang.

Buatku? Menemukan sudut tenang, lalu membuka sketchbook. Dan.. voila! Tahu-tahu, sang surya sudah condong ke barat.

Elemen visualnya begitu melimpah untuk diterjemahkan ke atas kertas: lalu lalang sepeda motor, papan nama kafe bernuansa kayu, kelopak bunga kamboja yang gugur, arsitektur Bali modern, hingga cangkir kopi yang bersanding dengan drawing pen. Semuanya bicara. Semuanya punya cerita.

Bali dari Sudut Pandang Neng Tanti Doodle


Menetap seminggu di Canggu, tentu saja aku tak hanya berbekal kamera.Ada satu kebiasaan yang sulit aku tinggalkan setiap kali bepergian: menggambar.

Entah kenapa, setelah melihat sebuah tempat, tanganku seperti otomatis ingin membuat garis.

Mungkin karena hobi, aku memang tidak pernah benar-benar hanya datang dan melihat. Mataku sibuk memperhatikan bentuk, warna, ekspresi orang, benda-benda kecil yang sering kali luput dari perhatian orang lain.

Begitu juga ketika aku berada di Canggu.

Aku datang dengan niat berlibur, tetapi tanpa sadar perjalanan ini berubah menjadi semacam proyek kecil yang menyenangkan. Aku membawa sketchbook, alat gambar, dan tentu saja laptop untuk menulis, karena perjalanan di Bali adalah bahan bakar visual yang tak pernah habis.

Apa aja ide untuk fragmen konsep yang siap dituangkan ke dalam goresan coretan?

Doodle  & Ilustrasi “A Day in Canggu”


Satu lembar visual diary yang merangkum ritme seharian penuh: dari cangkir kopi pagi, jalanan tropis, deretan papan selancar, mangkuk ramen siang hari, hingga siluet sunset. Bukan sekadar merekam bentuk tempatnya, tapi mengabadikan rasanya.

Canggu Coffee Crawl

Seri 7 Days, 7 Coffees in Canggu.
Setiap kedai kopi menyumbang satu ilustrasi kecil: bentuk cangkir, gumpalan busa latte, papan petunjuk, hingga gestur orang-orang yang  (keliatannya) tekun di depan laptop, entah sedang kerja, meeting online atau... cuman scroll sosmed.

Aku membayangkan, kalau semua ilustrasi ini dikumpulkan, kelak mereka bisa menjadi lembaran poskad atau sticker sheet kecil.

Semacam oleh-oleh dari Canggu yang tidak perlu dimasukkan ke dalam koper. Cukup dimasukkan ke dalam cerita.

Btw aku pernah (eh sering malahan), ngide bikin cerpen ketika di cafe, salah satu (dua tiga empat wkwkkwk ... cari aja di #cerita pendek yaak) eh salah satunya ini .

Sang Penyihir Tepung  - Prelude Cafe

atau Aroma Kemenangan dan Cinta Beraroma Saga atau yang plot twist banget..

Between


Bali Food Doodle


Aku mulai merekam makanan Bali lewat cara yang paling aku suka: gambar sederhana dan catatan kecil.

Nasi campur (cari yang halal) dengan lauk yang memenuhi piring, Sate Lilit yang aromanya sudah menggoda bahkan sebelum masuk mulut. Es kelapa muda yang terasa seperti hadiah setelah berjalan cukup jauh di bawah matahari.

Aku menggambar bentuknya, mencatat tempatnya, menuliskan harganya, lalu menambahkan satu hal yang paling subjektif tetapi paling jujur: rasanya menurut lidahku sendiri.

Karena buatku, makanan dalam perjalanan bukan cuma soal “enak” atau “tidak enak”. Ada suasana di baliknya, termasuk vibes warung dan apa yaa percakapan saat makan di tempat itu?

Dan bertahun-tahun kemudian, mungkin justru detail-detail kecil itulah yang membuat kita kembali mengingat sebuah perjalanan.

Aktivitas Luar Ruang dalam Goresan

Semakin lama berada di Canggu, aku juga semakin sulit hanya duduk diam. Kawasan ini seperti mengajak kaki untuk terus berjalan. Maka aktivitas luar ruang pun ikut masuk ke dalam sketchbook-ku.

Berjalan menyusuri jalan-jalan kecil, mencari sudut yang belum pernah kulihat, menunggu matahari terbit atau sekadar melihat orang berlari di tepi pantai dan para surfer membawa papan selancar.

Aku mulai membayangkan karakter-karakter kecil dalam doodle-ku ikut melakukan semua itu. Ada karakter yang kepanasan,  sibuk mencari spot foto, atau sepertiku, duduk menunggu sunset.

Dan tentu saja, ada karakter yang sudah capek tetapi tetap bilang, “Sebentar lagi…” Padahal sebentar laginya masih tiga kilometer. wkwkwkwk

Doodle memang punya cara yang menyenangkan untuk membuat perjalanan terasa lebih ringan. Sebuah aktivitas sederhana bisa berubah menjadi cerita kecil yang jenaka. Dan tiba-tiba, bucket list perjalanan tidak lagi terasa seperti daftar kewajiban yang harus dicentang satu per satu.

Ia berubah menjadi kumpulan kenangan.

'Things I Saw in Bali'

Aku tidak ingin membuat daftar tempat yang “wajib banget dikunjungi kalau ke Bali”.Karena rasanya Bali terlalu luas untuk diringkas menjadi daftar seperti itu.

Aku justru ingin menggambar hal-hal kecil yang kutemui sepanjang perjalanan, misal senyum ibu-ibu tua menganakan kaos kutang dan kain lusuh, yang sedang menyusun canang sari. Seekor anjing Bali yang tidur pulas di ambang toko, seolah dunia tidak punya urusan apa-apa dengannya.

Pintu ukir tua yang dinaungi pohon kamboja, dengan canang sari yang  berantakan tak sengaja keinjek kaki ... bahkan bayangan daun yang jatuh di trotoar pun rasanya ingin aku abadikan!

Pokoke aku ingin mengabadikannya lewat doodle kecil yang mungkin bagi orang lain terlihat sederhana, tetapi bagiku menyimpan satu pagi, satu sore, satu percakapan, atau satu perasaan.

Karena setiap perjalanan pada akhirnya memang akan selesai...


Bali dalam Tujuh Hari
Proyek sketchbook ini "rencananya" alurnya akan mengalir seperti :

HariTema Catatan VisualFokus Goresan
DAY 1Hello BaliJejak awal: koper, tiket, impresi pertama, dan sudut kamar.
DAY 2Canggu LifeDinamika jalanan, sepeda motor, kafe, dan nuansa tropis.
DAY 3Coffee & CreateMenyesap kopi sambil menyelesaikan ilustrasi di meja kayu.
DAY 4Beach DayPesisir, buaian angin, peselancar, dan spektrum senja.
DAY 5Bali CultureDetail arsitektur, wanginya canang sari, dan sudut pura.
DAY 6Outdoor ActivityLangkah kaki menyusuri pematang dan sudut hijau.
DAY 7Goodbye BaliBenda-benda kecil yang menjadi saksi bisu perjalanan.

Ketika Traveling Menjadi Lebih Personal


Ada perbedaan mendasar antara membawa pulang sekadar foto dengan membawa pulang cerita yang kita goreskan sendiri. Foto merekam apa yang tertangkap oleh mata; doodle merekam apa yang diresapi oleh hati.


Sebuah cangkir keramik yang sudah kosong menjadi berarti karena di sanalah aku duduk berjam-jam, ditemani kopi, menyusun kata demi kata. Sandal jepit yang mulai terkikis menjadi berharga karena dialah yang setia membawaku menyusuri gang-gang kecil Canggu, dari satu cerita ke cerita lainnya.

Mungkin itulah cara seorang pembuat konten menyimpan perjalanan. Bukan sekadar mengumpulkan foto sebanyak-banyaknya, tetapi memilih potongan-potongan kecil yang terasa personal, lalu mengubahnya menjadi sesuatu yang bisa dikenang.

Sebab perjalanan seorang pembuat konten tidak selalu berakhir ketika koper kembali masuk rumah. Kadang, perjalanan justru baru dimulai ketika sketchbook dibuka kembali, laptop dinyalakan, dan satu per satu kenangan mulai diterjemahkan menjadi garis, warna, dan kata.

Travel. Draw. Create. Repeat.

Dan untuk Bali, rasanya aku tidak ingin hanya mengingat ceritanya.

Aku ingin menggambarnya.

Komentar

  1. Akhir2 ini Bali imagenya lagi "dirusak" jusrtu sama warloknya sendiri ya, Bu. Entah sebuah ketidaksengajaan atau malah sebuah kebanggaan bisa merendahkan suku lain bahkan sebangsanya sendiri. Yang dielu2kan malah pendatang pembawa dolar.
    Bali yang belasan tahun lalu kudatangi, sempat bikin rindu pingin kembali tapi akhir2 ini keikut sugesti malah kek takut ke Bali. Takut ngga diladenin karena aku wisatawan lokal, huhuuu
    Semoga kenyataannya ngga begitu yaa...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oohh iyaa aku kemaren jgua baru nonton vlog Edward Halim
      bahkan bule yang cinta Bali, udah berkali kali ke Bali aja sedih dia ... :(((

      Hapus
  2. Keren banget, satu hari satu karya
    Jadi pingin ke Bali dan seminggu di sana. Walau pastinya saya gak mungkin bisa bikin, 1tulisan 1hari, saya tuh termasuk orang yang lama pemanasannya, apalagi jika kena jeda berhari hari bisa sebulan kemudian baru selesai 😀

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha iyaaa ambuuu, nggak harus satu hari satu karya kok. 😄 Kadang justru tulisan yang “lama matangnya” punya cerita dan rasa yang lebih dalam.

      Aku juga percaya, yang penting bukan seberapa cepat sebuah tulisan selesai, tapi bagaimana kita menikmati prosesnya. Kalau jedanya sampai sebulan, berarti tulisannya sedang menjalani masa incubation dulu ! ya kan ya kan ya kaaan

      Semoga nanti bisa benar-benar sempat staycation ke Bali dan punya waktu seminggu di sana. Siapa tahu suasana Bali malah bikin mesin kreatifnya panas sendiri, jadi belum sempat sebulan… eh, tulisannya sudah lahir duluan!

      Hapus
  3. Ide ngonten di Bali ini beneran brilian sih. Bahkan Canggu saja saya amat mempesona apabila diperhatikan secara mendetail. Semua indera seolah dimanjakan oleh pesona dan diresapi sampai ke hati lalu di goreskan indahnya dalam doodle art. Sungguh salutttt. Sangat suka sama semua hasil Doodle nya 🤩🤩🤩 cakep-cakep pisan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. buatku, doodle itu memang cara untuk menyimpan perjalanan. Bukan cuma mengabadikan di mana kita pernah berada, tapi juga apa yang kita rasakan ketika berada di sana. Jadi terharu banget kalau hasil doodle-nya ternyata bisa ikut dinikmati orang lain... maaciiih Lalaaaaa

      Hapus
  4. Bali memang kayak nggak pernah kehabisan bahan buat ngonten ya, Mbak Tanti. Dari satu tempat saja bisa lahir banyak ide, tinggal bagaimana kita melihat sudut yang berbeda. Btw, saya suka tipsnya yang mengingatkan bahwa bikin konten itu nggak harus selalu sesuatu yang “wah”. Pengalaman sederhana selama liburan pun sebenarnya bisa jadi cerita yang menarik kalau dikemas dengan sudut pandang personal. Apalagi Bali, mau kulineran, jalan-jalan, menikmati suasana, sampai sekadar cerita perjalanan pun sudah punya daya tarik sendiri.

    Jadi pengin ke Bali lagi nih, secara saya pernah 8 tahun tinggal di sana saat masih mudaaaa. Kalau sudah sampai sana, kayaknya bukan cuma stok foto yang bertambah, tapi stok ide tulisan berbau nostalgia juga ikut menggunung haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wooow 8 tahun!
      aku setuju banget, justru cerita nostalgia biasanya punya rasa yang berbeda. Tempat yang dulu terasa biasa saja, ketika dikunjungi lagi setelah bertahun-tahun bisa tiba-tiba jadi sangat personal: “Dulu aku sering lewat sini…”, “Dulu tempat ini belum begini…” sampai cerita-cerita kecil yang mungkin nggak ada di Google Maps... aiiih envy mbak Dian!

      Hapus
  5. Ide-idenya segar dan kreatif banget! Bali memang nggak pernah kehabisan sudut estetis buat dijadikan konten, tapi panduan di artikel ini bikin proses brainstorming konten jadi jauh lebih terarah. Pas banget buat referensi liburan sambil produktif!

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak .. rasanya seminggu terbang begitu saja, tak bosan bosan merekam aneka ide lucu dan keren d tiap sudutnya

      Hapus
  6. Doddle-nya lucu-lucu. Keren ya. Bali emang tempat sejuta ide. Ada saja hal yang memang layak untuk dijadikan inspirasi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aih makasih mas Adi , sepertinya banyak juga yang membuat Doodle tentang Bali. Ada banyak wisatawan lokal dan wisatawan mancanegara yang mengabadikan Bali!

      Hapus
  7. Bali punya banyak spot menarik untuk dieksplor dan dibuat konten bermanfaat. Pengen juga kapan-kapan buat konten tentang Bali dari sudut pandang beda.

    BalasHapus

Posting Komentar

TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA BLOG NENG TANTI (^_^)

Postingan Populer