BELAJAR ARTI KATA "CUKUP"


Kemarin sebenarnya bukan hari yang istimewa. Tidak ada perjalanan jauh, tidak ada acara besar, dan sama sekali tidak ada rencana untuk menjadikannya sebuah cerita di blog.

Awalnya sederhana sekali: seorang teman—sebut saja Yuli—mengajakku pergi ke mall. Katanya mau makan dan ngobrol santai. Simple. Tapi ternyata, dari sebuah ajakan sederhana itu, aku justru pulang dengan dada yang agak penuh dan kepala yang ramai.

Bukan cuma tentang pertemanan, tapi tentang keluarga, uang, rasa sungkan, prasangka orang lain, dan satu kata yang belakangan ini semakin sering mengetuk pintuku: cukup.

“Kok Ditolak Terus, Sih?”

Jujur, ini bukan kali pertama Yuli mengajakku bertemu. Dan bukan kali pertama pula aku menggeleng halus.

Bukan karena aku tidak rindu. Bukan karena tidak suka berjalan dengannya. Apalagi karena ada ganjalan di antara kami. Aku cuma… sedang berhitung.

Di dompetku mungkin masih ada lembaran uang. Tapi sebagai pemegang kendali 'dapur' rumah tangga, aku tahu persis uang itu sudah punya "nama" dan "pemiliknya" masing-masing. Ada kebutuhan anak-anak yang sedang kuliah, ongkos transportasi, uang saku, biaya persiapan magang, dan deretan pos-pos lain yang seperti tidak pernah benar-benar berhenti. Kebutuhan anak-anak di usia beranjak dewasa ini memang sedang melaju sekencang-kencangnya.

Orang luar mungkin hanya melihat sisa angka di rekening atau lembaran di dompet. Tapi di dalam kepalaku, uang itu sudah habis terbagi untuk masa depan anak-anak.

Aku memilih tidak menceritakan semuanya. Bukan karena malu, tapi menurutku, tidak semua dinamika rumah tangga harus digelar di hadapan orang lain. Hari ini ada lebih, besok harus berhemat. Hari ini bisa makan enak di luar, besok mungkin harus mengetatkan sabuk pengaman. Begitulah dinamika keluarga. Toh, ada hal-hal yang memang lebih bijak jika tetap menjadi rahasia dapur sendiri.

Tapi rupanya, penolakanku yang berulang mulai melukai perasaan Yuli. Sampai akhirnya sebuah pesan masuk. Yuli bilang, mungkin lain kali dia tidak akan mengajakku lagi, supaya dia tidak terus-menerus merasa ditolak.

Membaca pesan itu, ada 'nyut' halus di dadaku. Sedih.

Bukan karena marah padanya, tapi justru karena aku sangat memahami perasaannya. Dari sudut pandangnya, dia hanya rindu dan ingin menghabiskan waktu bersama temannya. Mengajak berkali-kali dan ditolak berkali-kali tentu menyisakan tanya dan rasa tidak enak. Sementara dari sudut pandangku, ada perjuangan sunyi yang tidak bisa kuceritakan.

Akhirnya, aku mengalah. Sore itu kami pergi ke mall.

Belakangan, Via teman kami yang lain—ikut menyusul di sela urusan pindahan restorannya. Jelang malam, satu teman lagi bergabung. Dan akhirnya? Kami tertawa lepas. Ngobrol ke sana-kemari, makan enak, dan bernostalgia.

Senang? Tentu saja. Hati ini hangat. Tapi di selipan tawa itu, ada satu kesadaran yang tetap kupeluk erat: aku tetap harus berhitung.

Dan aku belajar bahwa dua hal itu bisa berjalan berdampingan. Kita bisa menikmati momen tawa bersama teman, tanpa harus memaksakan gaya hidup yang belum menjadi prioritas. Alhamdulillah, Yuli akhirnya paham. Dan aku sangat bersyukur untuk pengertian itu.

Batas yang Tidak Perlu Dijelaskan

Semakin bertambah usia, aku makin sadar bahwa kita tidak berkewajiban memberikan eksplanasi panjang lebar atas setiap keputusan hidup kita.

Kadang kita berkata "tidak" karena memang lelah, tidak sempat, atau sederhananya… anggarannya memang sedang tidak ada untuk itu. Tidak ada yang salah dengan ucapan jujur, "Aku belum bisa, ya."

Yang sering membuat hidup terasa berat adalah ketika kita merasa harus membuktikan kepada dunia bahwa kita mampu mengikuti ritme orang lain. Padahal, setiap rumah punya napas dan kapasitas yang berbeda.

Aku dan Bang Dho saat ini sedang berada di fase krusial: mengantarkan anak-anak meniti jalan masa depannya. Kuliah, magang, dan segala perintilannya butuh fondasi finansial yang fokus.

Kami tidak sedang menahan diri dari menikmati hidup; kami hanya sedang memilih mana yang harus didahulukan. Dan menurutku, berani menentukan prioritas adalah bentuk pendewasaan yang hakiki.

Saat Cerita Lain Datang Mengetuk

Belum selesai aku mencerna perenungan kemarin, hari berikutnya datang kabar lain yang kembali menguji rasa di dada.

Bang Dho (keluargaku tentunya :)) ) saat ini menempati rumah keluarga yang di atasnya terdapat sekitar sebelas ruko sewaan. Tentu, ada tanggung jawab moral dan fisik yang melekat. Kebersihan lingkungan, perawatan, hingga urusan teknis lainnya menjadi pikiran sehari-hari.

Lalu, seorang anggota keluarga kembali mempertanyakan soal uang kontrakan.

Awalnya, rasa sesak itu muncul lagi. Rasanya ada bisikan di kepala yang ingin berteriak: 

“Memangnya mereka pikir kami hidup berlimpah di sini?”

Bahkan untuk beberapa biaya kuliah anak-anak pun, kami sangat terbantu oleh kebaikan saudara-saudara yang sedang diberi kelapangan rezeki oleh Allah. Kami tidak sedang bergelimang kemewahan. Kami hanya sedang bertahan dan berjalan sebisa kami.

Namun, setelah napas ditarik dalam-dalam, cara pandangku perlahan bergeser.

Mungkin, orang yang terus mempertanyakan kita tidak selalu benci kepada  kita.

Bisa jadi, dia sedang tidak nyaman dengan keadaan dirinya sendiri. Bisa jadi dia sedang lelah membandingkan hidupnya dengan orang lain, atau sedang merasa kehabisan. Dan saat seseorang merasa kurang, melihat orang lain—sekecil apa pun yang tampak dari luar—bisa menjadi cermin yang memantulkan rasa kekurangannya sendiri.

Aku berhenti di situ. Aku tidak ingin menghakimi, karena siapa tahu, di momen lain aku pun pernah tanpa sadar melakukan hal yang sama.

Mengejar “Cukup” yang Tak Pernah Bertepi

Semua peristiwa beberapa hari ini—tentang teman, keluarga, tenggat kebutuhan, dan uang—membawa satu pertanyaan menohok yang berbalik menyasar diriku sendiri:

“Tanti, kamu sendiri… sebenarnya sudah merasa cukup belum, sih?”

Pertanyaan yang terdengar sederhana, tapi jawabannya membutuhkan kejujuran yang dalam.

Pertanyaan itu membuka goresan luka yang cukup dalam di hati.

Tanti yang dulu sering bepergian ke luar negeri sejak kecil, setir kendaraan roda empat pribadi yang hampir tiap tahun berganti merek :) dan keluar masuk mal sekelas Pondok Indah hampir tiap jam makan siang... eheheheee

Manusia itu unik.

Saat tidak punya, kita yakin bahagia itu ada pada angka yang lebih besar. Begitu angka itu didapat, mata kita tertuju pada mereka yang punya lebih banyak. Begitu memiliki, kita cemas kehilangan. Begitu satu target tercapai, kita buat target baru—lalu membungkus rasa lapar itu dengan label "motivasi". Padahal, bisa jadi itu hanyalah bentuk lain dari rasa tidak pernah merasa cukup.

Aku mendadak teringat berita-berita tentang korupsi atau penumpukan harta yang jumlahnya di luar nalar. Ratusan miliar, tumpukan emas, lembaran valas di dalam peti. Yang membuatku bergidik bukan cuma angkanya, tapi pertanyaan mendasarnya: Jika sebanyak itu pun belum bisa menenangkan jiwa, lantas di angka berapa manusia benar-benar merasa cukup?

Mungkin, cukup memang tak pernah terletak pada angka.

Ketika Al-Qur'an Menyapa Hati

Di tengah riuhnya pikiran, ada ayat yang mendadak bergema sangat dalam di kepala. Allah mengingatkan kita dalam QS. At-Takatsur: 1–2:

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.”

Ayat ini seperti tamparan lembut. Takatsur bukan cuma tentang menumpuk harta benda, tapi tentang tabiat manusia yang suka berlomba, membandingkan, dan memamerkan apa yang digenggam. Siapa yang lebih kaya, siapa yang anaknya lebih sukses, siapa yang liburannya lebih mewah, siapa yang lebih dipandang mampu.

Padahal pada akhirnya, garis finish kita semua sama: tanah yang sunyi.

Lalu, hati ini dihangatkan kembali oleh janji-Nya dalam QS. Ibrahim: 7:

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.”

Indah sekali. Allah tidak menyuruh kita memiliki segalanya dulu baru bersyukur. Justru hatinya yang bersyukur itulah yang membuat nikmat terasa berlipat dan meluas. "Cukup" bukan berarti kita berhenti bermimpi atau tidak boleh memperjuangkan hidup yang lebih baik. Cukup adalah kemampuan jiwa untuk melihat apa yang sudah ada di tangan, tanpa perlu merasa kalah oleh apa yang ada di genggaman orang lain.

Me-reset Cara Pandang

Aku pulang dengan satu helaan napas lega dan kesimpulan kecil. Sesekali, kita memang perlu melakukan reset.

Bukan reset saldo rekening atau mengubah hidup secara dramatis, melainkan me-reset cara pandang kita terhadap hidup.

  • Mana yang benar-benar kebutuhan, mana yang hanya keinginan karena silau melihat orang lain?

  • Mana yang demi kesejahteraan keluarga, mana yang cuma demi memberi makan gengsi?

  • Apakah kita sedang bekerja untuk melanjutkan hidup, atau hidup kita habis hanya untuk mengejar bayangan yang tidak pernah selesai?

Aku pun tidak punya jawaban sempurna. Aku masih terus belajar. Masih sering tergoda, masih kadang membandingkan diri, dan masih kerap merasa kurang. Namanya juga manusia.

Tapi setidaknya, hari ini aku sedang melatih diri untuk memegang prinsip ini:

  • Tidak semua ajakan harus diiyakan.

  • Tidak semua penolakan harus diperpanjang dengan alasan.

  • Tidak semua prasangka orang harus dilayani.

  • Dan yang paling penting: apa yang terlihat di permukaan hidup orang lain hanyalah etalase, bukan keseluruhan isi rumahnya.

Begitu pula dengan hidup kita. Orang lain mungkin melihat kita tertawa di mall, makan enak, dan tampak tanpa beban. Mereka tidak melihat berlembar-lembar catatan prioritas di meja makan rumah kita, tidak tahu perjuangan di balik layar, dan memang… mereka tidak perlu tahu.

Setiap keluarga punya ritme dapurnya sendiri.

Ada hari di mana bahan makanan melimpah, ada hari di mana kita harus kreatif mengolah yang ada. Ada hari untuk berbagi tawa di luar, ada hari untuk rapat mengetatkan ikat pinggang. Dan semuanya adalah bagian indah dari pendewasaan.

Jadi, kalau hari ini ada yang bertanya padaku, “Tanti, kamu sudah merasa cukup belum?”

Mungkin jawabanku adalah: "Sedang kubuka selebar-lebarnya rasa syukurku."

Karena hidup pada akhirnya bukan tentang memiliki sebanyak-banyaknya, melainkan tentang ketenangan saat dada kita bisa berbisik lembut:

"Alhamdulillah, untuk hari ini, ini sudah sangat cukup."

Dan untuk esok hari? Kita berjuang lagi. Tanpa perlu merasa sedang berlomba dengan siapa-siapa.

Komentar

Postingan Populer