Cianjur, Kota yang Kukenal Bukan dari Brosur Wisata


Ada kota yang kita kenal karena pernah tinggal di sana.
Ada yang kita kenal karena sering berwisata ke sana. Dan ada pula kota yang awalnya kita kenal karena seseorang.

Cianjur buatku termasuk yang terakhir.
Beberapa kali berkunjung ke Cianjur karena ada acara keluarga, saat itu aku mungkin tidak pernah berpikir bahwa suatu hari akan menulis tentang Cianjur dari POV blogger. 

Ya, almarhum adikku Tommy pernah menikah dengan orang asli Cianjur, tepatnya daerah Cibeber, walau kemudian mereka berdomisili di Cianjur kota. Waktu itu, kalau ke sana aku tidak pernah eksplor daerahnya, sekedar datang ke acara, ke rumah Imot (panggilan sayang almarhum)  dan kemudian balik lagi ke Tangerang.

Tapi ternyata sekarang, memori perjalanan itu lah yang yang berulang membuat sebuah tempat pelan-pelan menjadi akrab.

Kayak dejavu, kita terbayang belokannya. Ingat warungnya. Mengenali suasana jalannya, terutama di Tapal Kuda diCugenang yang legend itu. Aku bahkan selalu beli jambu bol yang ranum yang dijual di sepanjang jalan, beli asinan mangga dan ceremai, dan ngemil rengginangnya yang entah kenapa jauh lebih enak daripada di tempat lain... menurut keyakinan saya hahaaa...

Jangan lupa, Bubur Ayamnya ga boleh dilewatkan dan makan siangnya di Warung Alam Sunda yang sambel dan pepes serta lalapannya seger-seger itu.



Begitulah aku mengenal Cianjur, bukan dari brosur wisata, melainkan dari cerita-cerita kecil kulineran yang dinikmati sepanjang perjalanan.


1. Cianjur dalam Ingatan: Lebih dari Sekadar Kota Transit

Bagi kebanyakan orang yang melintasi jalur selatan Jawa Barat, Cianjur sering kali cuma dianggap sebagai kota transit atau titik lelah di antara riuhnya Bandung dan sejuknya kawasan Puncak. Padahal, kalau kita mau slow down sejenak dan menikmati ritmenya, Cianjur itu punya vibrasi yang khas banget: tenang, hangat, dan autentik. Istilah masyarakat Sunda : tiis ceuli herang panon


Anehnya, masuk ke daerah Cianjur itu, hembusan angin dan perubahan cuacanya bisa bikin rileks, loh. Cobain, deh.

2. Memori Rasa yang Memanggil Kembali

Setiap kota selalu punya cara tersendiri untuk mengikat ingatan kita lewat rasa. Buat saya, Cianjur itu bertumpu pada beras dan kulinernya yang legendaris.

  • Beras Pandanwangi: Beras lokal asli Cianjur yang punya aroma alami harum dan tekstur pulen tiada tanding. Beras Pandan Wangi memiliki bentuk biji yang cenderung bulat, besar, dan berbulu. Saat dimasak, nasi yang dihasilkan sangat pulen dan menebarkan aroma wangi pandan yang kuat serta menggugah selera.
  • Geco (Tauge Tauco): Perpaduan gurih, asam, dan manis dari tauco legendaris yang meresap ke tauge segar dan ketupat.
Oya pasti -seperti aku- ada yang nanya, apa sih bedanya Toge Goreng ama Geco?

Perbedaan utama antara toge goreng dan geco terletak pada bumbu siram dan isian pelengkapnya, meskipun keduanya sama-sama menggunakan taoge rebus.

Toge Goreng itu kuliner khas Bogor, bumbunya menggunakan campuran oncom yang dihaluskan dengan tauco tipis, kecap manis, dan kucai, menghasilkan rasa gurih, manis, dan aroma khas oncom. 
Isinya toge, mie kuning, potongan tahu, dan ketupat (lontong).

Sedangkan Geco adalah makanan khas Cianjur & Sukabum, dengan kuah yang rasanya dominan tauco murni ditambah perasan jeruk limo untuk memberikan sensasi segar dan asam. Isinya toge rebus, ketupat, mi sagu atau mi kuning, serta irisan tahu kecil. Tidak menggunakan oncom seperti toge goreng.


Manisan & Asinan Buah:
Oleh-oleh klasik di sepanjang jalan raya yang selalu sukses bikin ketagihan.

Asinan dan manisan buah banyak ditemui di Cianjur karena daerah ini dulunya mengalami surplus hasil panen buah lokal (seperti mangga dan murbei) pada tahun 1960-an, sehingga masyarakat mengawetkannya menjadi manisan dan asinan agar tidak busuk.

Kondisi geografis Cianjur memang membuat hasil bumi mereka melimpah, dan kejelian pemerintah daerah menjadikan sentra-sentra UMKM tumbuh subur, sehingga oleh-oleh Cianjur rasanya tak lengkap tanpa kehadiran asinan manisan ini.

Btw, industri rumah tangga pengolahan manisan - asinan ini salah satunya dipelopori oleh tokoh lokal seperti Manisan Ny. Tan sejak tahun 1950-an dan kini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda.

Rasa-rasa sederhana inilah yang sering kali bekerja seperti remind button  buatku.   
Sekali lidah kita teringat, memori tentang jalannya, jalurnya, dan suasana kotanya otomatis ikut muncul.

3. Merekam Cianjur di Ruang Digital

Menariknya, di era digital sekarang, cara kita berkenalan dengan sebuah daerah sudah makin canggih. Kita enggak cuma belajar dari ingatan fisik, tapi juga dari sudut pandang para cerita lokal yang hidup di internet.

Saat saya mencoba menyelami lebih dalam tentang kearifan lokal, sudut-sudut estetis, dan dinamika sosial masyarakatnya, ada satu nama yang konsisten merawat narasi tentang kota ini, yaitu sosok Teh Okti, seorang Kreator Digital Cianjur.

Melalui konten-konten yang disajikan secara personal, hangat, dan edukatif, kita diajak melihat Cianjur dari kacamata seorang "orang dalam" yang benar-benar paham dan mencintai daerahnya. Kalau kamu penasaran dengan dinamika, catatan perjalanan, dan ragam ulasan lokal khas kota ini, kamu juga bisa meluncur langsung untuk membaca kumpulan tulisan menarik dari para Blogger Cianjur.

Lewat karya digital seperti itulah, Cianjur enggak cuma jadi sekadar nama di atas peta, tapi jadi cerita yang terus bernapas dan relevan.

4. Kehangatan dalam Kesederhanaan

Pada akhirnya, ikatan kita dengan suatu tempat sering kali tercipta dari hal-hal kecil: obrolan santai di warung lokal, petunjuk jalan dari warga sekitar yang ramah, atau sekadar momen menikmati senja di sudut alun-alun kota. 

Cianjur mengajarkan bahwa kenyamanan itu enggak selalu datang dari destinasi yang megah,
melainkan dari kesederhanaan yang dirawat dengan hati.

Mungkin begitulah cara sebuah tempat menjadi berarti. Bukan selalu karena kita merencanakannya sebagai destinasi, tetapi karena kehidupan membawa kita ke sana berkali-kali.

Cianjur bagiku memang bukan hanya nama sebuah daerah di Jawa Barat. Ia adalah kumpulan jalan yang pernah kulewati, makanan yang pernah aku nikmati, percakapan hangat bersama para saudara... Semua adalah kenangan yang ternyata masih tinggal diam-diam.

Dan mungkin, suatu hari nanti, saya akan kembali ke Cianjur bukan karena seseorang.
Tetapi karena Cianjur itu sendiri.

Kalau kamu sendiri, punya enggak sih satu kota yang awalnya kamu kenal 'karena seseorang', tapi makin ke sini malah bikin kamu jatuh cinta sama kotanya itu sendiri? Atau punya kenangan khusus saat melintasi Cianjur? 

Share cerita dan pengalaman kamu di kolom komentar ya, mari kita ngobrol!

Komentar

  1. Manisan dan asinan buahnya saja sudah sungguh menggoda! Aku belum pernah ke Cianjur, jadi membaca cerita ini terasa seperti diajak mengenal kota tersebut lewat kuliner dan kisah di baliknya.

    Apalagi aku baru tahu tentang geco. Belum pernah mencicipinya, jadi langsung penasaran seperti apa rasanya. Kayaknya kalau suatu saat ada kesempatan jalan-jalan ke Cianjur, kulineran wajib masuk itinerary, terutama mencoba geco dan berburu manisan serta asinan buahnya. Terima kasih sudah berbagi cerita, Mbak Tanti. Jadi punya alasan baru untuk memasukkan Cianjur ke daftar destinasi.

    BalasHapus
  2. Jujur, aku besar di Jawa Barat tepatnya Bogor. Namun Cianjur belum pernah aku eksplor sama sekali, parah banget ya? Makanya seneng baca artikel ini. Membuat aku makin kenalan sama kota yang terkenal karena bubur ayam khas Cianjur nya dan aneka manisan buah.

    Ngomongin satu kota yang awalnya nggak pernah masuk ke wishlist ternyata karena teman ngajak explore aku jadi jatuh cinta sama Semarang. Sebagai warga Jabar, aku menemukan banyak yang menarik di Semarang, apalagi kuliner tahu bakso dan lumpia nya. Duh ngangenin parah.

    BalasHapus
  3. Dulu zaman jalan Tol Cipularang belum ada, kalau Lebaran ke rumah ortu, BDG-JKT selalu lewat Cianjur. Tapi ya gitu, cuma lewat aja. Kelak-keloknya beneran deh, jadi remind button, kalau udah belokan tapal kuda, berarti bentar lagi sampai Jagorawi...hehe...
    Pengen deh sekali waktu, explore dan nginep barang 1-2 malam, kulineran khas setempat dan jelajah kawasan.

    BalasHapus
  4. Tauco toge mengingatkanku sama toge goreng Bogor. Setahun pernah tinggal di Bogor baru toge goreng kuliner yg bikin aku kangen, selebihnya semua ngangeniiin.. tapi aku belum pernah ke cianjuur. Huhuu

    BalasHapus

Posting Komentar

TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA BLOG NENG TANTI (^_^)

Postingan Populer