Kebaya Pucat dan Ilusi Senja

Bagi hati yang terikat janji palsu, waktu tak pernah benar-benar berjalan; ia hanya menyisakan ilusi dan penyesalan yang membusuk sampai tua.

Genggaman tangan Gaga sore itu terasa dingin. 

Aroma kopi hitam hangat Gaga, wangi melati teh di cangkir porselen Sien Hwa, dan gurihnya roti bakar srikaya kesukaannya di Kho Kopi Tiam, sore itu mendadak tak membangkitkan selera. 

Di sudut kedai Kopi Tiam yang mewah, cangkir porselen biru putih bertuliskan karakter Mandarin milik Sien Hwa sudah mendingin, padahal uapnya baru saja hilang.

Gaga menghirup udara. Terasa hampa.

Padahal, setiap kali bersama Sien Hwa, Gaga selalu mengenali kedatangannya. Bahkan sebelum melihat kebaya encim berwarna gading itu dari kejauhan. Ada aroma mawar dan melati yang tertinggal di udara, lembut, mahal, hampir seperti sesuatu yang tidak seharusnya dimiliki orang biasa.

Konon, sebotol kecil parfum Jean Patou Joy miliknya, adalah hadiah Papa ketika berdagang tembakau dengan seorang saudagar dari Eropa. Sien Hwa hanya menggunakannya setetes di belakang telinga. Ia tidak suka bau yang terlalu keras. Katanya, perempuan tidak perlu membuat orang menoleh. Cukup membuat seseorang ingin mengingatnya.

Kadang, ketika mereka berjalan berdua menyusuri trotoar, angin membawa sedikit wanginya. Gaga akan diam-diam menoleh, sekadar memastikan Sien Hwa masih ada di sampingnya.

    “Apa?” tanya Sien Hwa suatu kali, sambil tersenyum.

    “Enggak apa-apa.”

    “Lalu kenapa lihat-lihat?”

Gaga tertawa kecil. “Takut kamu hilang.”

Sien Hwa hanya terkekeh. Ia tidak tahu bahwa bertahun-tahun kemudian, kalimat sederhana itu akan menjadi salah satu kenangan yang paling menyakitkan bagi Gaga.

Sore ini....

Sien Hwa, dengan kebaya encim merah muda pucat, memainkan jemarinya menelusuri bordir emas di atas kain berwarna coklat kayu manis.

    "Aye udah bicara sama Abah dan Emak, Non," cicit Gaga. Suaranya serak, tenggelam di antara dentang cangkir para pengunjung dan derik jangkrik perkampungan Betawi yang menyambut senja. Dari sudut-sudut kedai, beberapa mata sipit melirik mereka dengan tatapan dingin, tak suka.

Aye adalah saya dalam bahasa Betawi, Gaga selalu membahasakan diri dengan sapaan 'aye dan non', untuk gadis kesayangannya itu.

Dada Sien Hwa berdesir. Ia tahu betul garis batas yang memisahkan mereka. Gaga adalah anak lelaki tertua dalam keluarga Muslim yang taat dan berasal dari keluarga ustadz terpandang. 

Sementara Sien Hwa? 
Ia adalah putri saudagar terkaya di kota, anak perempuan peranakan yang setiap Imlek sibuk menyapu abu dupa leluhur di altar keluarga.

    "Abah bilang... kamu harus masuk Islam, Hwa. Kalo nggak, aye bukan anaknya lagi."

Kalimat itu meluncur begitu saja, tetapi dampaknya menghantam Sien Hwa hingga sesak. Berpindah keyakinan bukan sekadar perkara mengganti kebaya atau mengubah nama di lembar akta. 

Di kepalanya, bayangan wajah Popo yang renta, aroma kayu cendana, dan doa-doa bertaut yang diajarkan sejak kecil, berbenturan hebat dengan wajah Gaga. Lelaki yang tatapannya selalu jadi tempat ia bersembunyi dari kejamnya dunia.

Gaga menjepit hatinya sendiri: membangkang pada takdir keluarga atau mengorbankan cinta pertamanya. Sementara Sien Hwa menjepit batinnya sendiri: menyerahkan identitas dan leluhurnya demi satu lelaki, atau mempertahankan harga diri tetapi harus hidup separuh bernyawa.

    "Kalau aku nggak mau, Ga?" suara Sien Hwa bergetar. "Kalau aku tetap jadi Sien Hwa yang ini?"

Gaga cuma mengusap wajahnya yang kusam, tak sanggup menatap mata cokelat hangat yang kini mulai tergenang air.

    "Jadi... kita berhenti di sini?" tanya Sien Hwa lirih. Hatinya seperti diremas hingga tak berbentuk.

Gaga makin erat meremas jemari Sien Hwa yang halus. "Bukan gitu, non. Aye cuma... belum sanggup melawan mereka sekarang. Tunggu aye ya. Suatu hari nanti, aye pasti kembali."

Sien Hwa menyunggingkan senyum paling tipis dan paling menyakitkan yang pernah ada. "Aku pegang janji kamu, Ga."

Ia percaya. Dan keputusasaan yang berbalut kepercayaan itulah yang perlahan membunuhnya dari dalam.

Sien Hwa pernah bertanya pada Papa.
    “Papa... kalau Sien Hwa menikah dengan Gaga, Papa keberatan?”

Papanya, menarik napas berat. Ia tahu suatu saat putri kecilnya akan bertanya. Dengan bijak ia menjawab.

    “Sien Hwa, Papa tidak melarang kamu mencintai siapa pun. Tapi Papa tidak ingin kamu kehilangan dirimu sendiri hanya karena ingin menjadi istri seseorang.”

Papa Sien Hwa memahami cinta anaknya, tetapi tahu bahwa pernikahan beda agama dengan keluarga Gaga akan membawa konsekuensi besar pada zaman itu.

Tahun-tahun berganti tanpa permisi. Kampung mereka membelah diri jadi deretan bangunan beton. Sien Hwa tak pernah lagi terlihat keluar rumah. Pintu dan jendela berukir di rumah tua Peranakan seberang jalan itu selalu tertutup rapat.


Sore tiba.

Seorang lelaki tua bertubuh bungkuk duduk melamun di bangku kayu terasnya. Rambutnya sudah seputih kapas, matanya rabun dimakan usia. Ia, Gaga.

Di seberang jalan, di teras rumah tua yang masih cantik dan estetik, ada kursi rotan kosong. Setiap sore, pandangan Gaga selalu tertambat di sana. Kerinduan, rasa bersalah, dan penyesalan masa muda merayapi dadanya hingga terasa sesak. 

Puluhan tahun ia hidup dalam kepatuhan yang hampa, menikah dengan wanita pilihan orang tuanya, membesarkan anak-anak, tetapi separuh jiwanya tetap tertinggal di sore itu, bersama Sien Hwa.

    "Kakek..." Suara kecil cucu perempuannya memecah kesunyian. Ia menggandeng jemari Gaga yang gemetar. "Yuk masuk, udah mau magrib. Nanti dicariin Nenek."

Gaga menatap cucunya dengan mata remang-remang. "Sien Hwa... dia nggak pernah kelihatan lagi ya, Neng?"

Cucunya menatap Gaga dengan dahi berkerut, bingung. "Kakek ngomongin siapa sih? Dari aku kecil, rumah seberang itu kan udah kosong melompong. Nggak ada yang tinggal di sana."

Deg! 

Dada Gaga mendadak rasanya seperti dihantam godam!

"Kosong? Tapi... Kakek tiap sore lihat Non Sien Hwa duduk di kursi teras itu, Neng. Ia pakai kebaya encim berwarna-warni. Kadang kuning kenari dipadu sarung hijau mint, kadang merah muda berbordir lavender... tersenyum nungguin Kakek."

Cucunya menggeleng pelan sambil menunjuk ke arah teras seberang. 

    "Nggak ada siapa-siapa, Kek. Hanya dibersihkan sesekali sama cucunya. Kata Mama, rumah itu udah ditinggal kosong sejak puluhan tahun lalu... pas pemiliknya, Cik Sien Hwa, meninggal gantung diri di dalam rumah itu, persis seminggu setelah Kakek menikah dulu."

Napas Gaga terhenti seketika.

Dunia seolah runtuh dan berputar di sekelilingnya. Matanya yang kabur menatap lekat-lekat ke arah kursi rotan kosong di seberang jalan.

Bukan Sien Hwa yang selama ini menjadi hantu dan tertahan oleh janji palsunya. Dialah, Gaga... yang selama puluhan tahun ini membusuk dalam ilusi dan penyesalan. 

Rasa bersalah yang teramat dalam telah mengikis jiwanya, memvisualisasikan sosok Sien Hwa yang selalu setia menunggu di sana, padahal gadis itu sudah tenang jauh sebelum rambutnya memutih.

Angin sore berembus dingin, menggoyangkan tirai jendela rumah tua yang berdebu. Dan untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun, Gaga akhirnya menyadari satu kenyataan pahit: orang yang selama ini hidup tak tenang dan tak pernah benar-benar pulang... adalah dirinya sendiri.


disclaimer :
  • Cerita ini sepenuhnya fiksi, terinspirasi dari artikel Annie Nugraha di artikelnya :  Kho Kopi Tiam  

  • Setengah kisahnya adalah kisah hidup penulis yang pernah patah hati karena kasus yang sama :)))

Komentar

  1. Gaga yang gila. Andai sore itu dia melepas dengan berani. Membebaskan Sien Hwa untuk melangkah. Dia nggak akan depresi saat Gaga menikah. Ah si kampr*t.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget, Mbak Yuni! Gaga memang egois. Dia ngasih janji palsu cuma buat meredakan rasa bersalahnya sendiri tanpa sadar janji itu malah jadi 'penjara' buat Sien Hwa. Penyesalan Gaga selama puluhan tahun itu sejujurnya 'bayaran' yang setimpal buat penjelasannya yang setengah-setengah sore itu...

      Hapus
  2. MasyaAllah. Dari sebuah artikel tentang sebuah resto peranakan di kota Malang —KHO Kopi Tiam— lahirlah cerpen fiksi yang sarat dengan kenangan dan pesan psikologi. Budaya dan agama begitu teganya mematahkan cinta bahkan memutus nyawa Sien Hwa yang terjebak pada kekecewaan. Seakan pilihan lain tak hadir sebagai opsi solusi. Menyaksikan lelaki terkasih "mengalah" pada keputusan keluarga.

    BalasHapus

Posting Komentar

TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA BLOG NENG TANTI (^_^)

Postingan Populer