Uniknya, rasa sepi yang paling nyaring itu justru sering kali datang saat usia kita sudah matang, di saat dunia menuntut kita untuk selalu terlihat tangguh dan "selesai" dengan urusan hidup.
Vibe melankolis tapi hangat inilah yang langsung menyergap aku saat pertama kali membuka lembaran digital e-book atau e-novel Sisa Cahaya Bintang karya Alaika Abdullah. Ini bukan sekadar cerita romansa biasa, melainkan sebuah potret jujur tentang bagaimana manusia dewasa menemukan ruang aman di balik piksel layar video call.
Bukan Kisah Cinta Remaja, Ini Tentang Dua Manusia yang Kembali Berani Berharap
Kalau biasanya novel romansa dipenuhi energi meledak-ledak khas anak muda dengan prinsip "aku tanpamu butiran debu", novel ini hadir dengan pendekatan yang jauh lebih matang dan membumi. Kita akan diajak menyelami kehidupan dua manusia dewasa dari belahan dunia berbeda.
Namanya Bintang, atau lengkapnya Bintang Praba Saraswati, seorang perempuan Indonesia paruh baya yang hidup di tengah pusaran tanggung jawab keluarga dan luka emosionalnya sendiri.
Di sisi lain, ada Ethan Arion Blackwood, pria Inggris berusia 55 tahun yang hangat, tenang dan begitu manusiawi.
Dan mungkin justru karena Ethan digambarkan begitu baik, perhatian, dan penuh ketulusan, pembaca akan sulit membayangkan bahwa hubungan ini suatu hari nanti bisa meninggalkan luka sedalam itu pada Bintang.
Hubungan mereka tidak dimulai dari tatap muka di kafe estetik atau ketidaksengajaan ala drama Korea. Mereka terhubung lewat dunia virtual.
Namun, jangan bayangkan kisah cinta digital yang terasa cringe atau berlebihan. Alaika Abdullah justru berhasil menghadirkan intimacy digital dengan sangat natural dan emosional.
Mulai dari sleep call lintas zona waktu, ritual membangunkan saat Subuh, bekerja bersama via zoom, sampai saling berbagi potongan-potongan kecil kehidupan sehari-hari. Semuanya terasa begitu sederhana, namun diam-diam membangun kedekatan emosional yang hangat, dewasa dan elegan.
Dan sebagai pembaca, aku perlahan ikut masuk ke dalam hubungan itu... ikut merasa nyaman, ditemani, dan diam-diam percaya bahwa Ethan dan Bintang akan baik-baik saja.
Sampai akhirnya hidup menunjukkan bahwa tidak semua hubungan yang terasa indah ditakdirkan untuk tinggal selamanya...
Keintiman Digital yang Diam-diam Menjebak Hati
Sebagai orang yang akrab dengan dunia digital dan visual, aku sangat mengagumi bagaimana Al -sapaan akrab untuk Alaika- menangkap detail hubungan digital ini dengan begitu intim dan akurat. Ada satu momen emosional yang buat aku sangat bittersweet, yaitu ketika Bintang mengedit dirinya ke dalam foto-foto kehidupan nyata Ethan!
Ia hadir di sebelah keranjang belanja Ethan di supermarket, maupun di momen keluarga. Tindakan visual itu seperti sebuah analogi halus yang berbisik,
"Aku ingin nyata di hidupmu."
Dan yang membuatnya terasa semakin emosional, adalah karena hubungan itu memang dibangun oleh dua orang yang sama-sama saling membuka ruang di hidup mereka. Ethan bukan sekadar hadir sebagai pria asing di balik layar, dan Bintang bukan sekadar perempuan yang mengisi kesunyian harinya. Perlahan keduanya tumbuh menjadi tempat pulang satu sama lain.
Ruang aman yang membuat mereka kembali percaya bahwa setelah setengah abad kehidupan, hati manusia ternyata masih mampu merasa dicintai dan dimengerti sedalam itu.
Narasi yang Puitis dan Menenangkan
Salah satu hal yang paling aku suka dari novel ini adalah gaya bertuturnya dan... tentu saja gambar-gambar indah yang disertai di setiap halaman. Membuat enovel ini terasa begitu hidup dan sangat menyenangkan untuk diikuti.
Alaika Abdullah menulis dengan sangat lembut. Reflektif. Atmosferik. Tidak terburu-buru.
Kalimat-kalimatnya mengalir seperti membaca diary di tengah malam yang sunyi dan personal. Namun justru di balik kelembutannya, novel ini perlahan menghancurkan hati pembacanya.
Karena ketika hubungan Ethan dan Bintang mulai retak, Alaika Abdullah tidak menuliskannya dengan ledakan drama yang berisik. Kehancuran Bintang hadir dengan cara yang jauh lebih tenang.. dan justru karena itulah, ia terasa begitu menyakitkan.
Bintang tidak mengamuk.
Tidak memaki.
Tidak membenci Ethan.
Ia hanya perlahan kehilangan pijakan emosionalnya. Dan, sebagai pembaca ktia merasakan sesaknya...
Menemukan Cahaya di Tengah Kehilangan
Pada akhirnya, hal paling membekas dari Sisa Cahaya Bintang bukan hanya kisah cintanya, melainkan perjalanan emosional seorang perempuan yang perlahan belajar berdiri kembali setelah kehilangan yang begitu dalam.
Yang membuat novel ini terasa semakin indah adalah bagaimana Bintang tidak membiarkan patah hatinya berakhir sebagai kehancuran semata. Perlahan, ia merangkai kembali serpihan dirinya dan mengubah luka itu menjadi sebuah karya.
Momen launching novel di akhir cerita menjadi simbol yang sangat kuat: bahwa bahkan dari hati yang hampir runtuh, manusia tetap bisa melahirkan sesuatu yang indah dari sisa cahaya yang masih tinggal di dalam dirinya.
Dan mungkin di situlah kekuatan terbesar novel ini berada.
Bahwa hidup tidak selalu memberi akhir yang kita inginkan,
tetapi selalu menyisakan kemungkinan untuk bangkit dan menemukan makna baru dari setiap kehilangan.
Jika kamu menyukai novel slow-burn romance yang reflektif, emosional, dewasa, dan meninggalkan jejak panjang setelah selesai dibaca, maka Sisa Cahaya Bintang layak masuk ke daftar bacaanmu.
Karena sering kali, yang paling membekas dari sebuah cinta bukanlah bagaimana ia dimulai, melainkan bagaimana ia mengubah cara kita memandang diri sendiri setelah semuanya berakhir.
Dan percayalah... Ethan dan Bintang bukan sekadar tokoh yang akan kamu baca kisahnya. Mereka adalah dua manusia yang diam-diam akan tinggal cukup lama di dalam hatimu, bahkan setelah halaman terakhir selesai kamu tutup.
🔷 Kalau kamu pernah merasa kesepian di tengah hidup yang terlihat baik-baik saja...
🔷 Kalau kamu percaya bahwa manusia tetap berhak jatuh cinta, bahkan setelah berkali-kali kecewa...
🔷 Atau kalau kamu ingin membaca kisah yang mampu memeluk sekaligus menghancurkan hatimu dengan lembut... dan mengajarkanmu untuk bangkit dan lanjutkan langkah.....
maka mungkin, Sisa Cahaya Bintang akan menemukanmu di waktu yang tepat.
Siap-siap ikut larut dan tersenyum sendiri di depan layar, ya!
Bagus banget bukunya, jadi penasaran
BalasHapusSelama ini saya sering kesulitan membaca buku bergenre romance karena pengarangnya sering cenderung terjebak karakter Mary Sue
atau karakter (biasanya perempuan) yang terlalu sempurna secara tidak realistis, sangat berbakat, cantik, dan nyaris tidak memiliki kelemahan
Semoga kali ini tidak
Eniwei, sukses Mbak Al dengan bukunya
Pastinya engga, tapi kan the Hero emang sudah ditakdirkan Allah SWT untuk selalu jadi si yang paling menonjol Ambu 😅😅😅😅
Hapusyes definitely aku bisa bilang bukunya BAGUUUSSSSSS
Judul eNovel ini sudah sangat puitis dan menarik sekali menurutku dan rupanya penulis nya Mbak Alaika Abdullah, kebayang sih alurnya dan romansa ini lebih matang meski via virtual.
BalasHapusBerharap novel ini laris manis dan digandrungi pembaca. Pastinya banyak pesan yang ingin penulis sampaikan juga ya.
Aku juga ikut berharap eNovel ini bisa sampai ke banyak pembaca dan menemukan orang-orang yang relate dengan ceritanya. Pasti ada banyak pesan hangat dan potongan perasaan yang ingin disampaikan penulis lewat tiap dialog dan alurnya ❤️
HapusAku menunggu buku cetaknya hadir. Supaya mata tidak lelah membaca dan menikmati setiap jalinan romansa digital yang dihadirkan di buku ini. Menyelami perasaan dan pengalaman pribadi, buku BELAJAR MEMELUK BADAI BERSAMA BINTANG pasti membuatku membuka lembar demi lembar dengan hati yang hangat dan penuh pengertian. Ingin ikut merasakan bagaimana intimasi digital sudah membimbing kisah cinta antara Bintang dan Ethan.
BalasHapusSemoga nanti saat buku BELAJAR MEMELUK BADAI BERSAMA BINTANG benar-benar hadir di tangan yaa, dikau bukan cuma membaca kisah Bintang dan Ethan, tapi juga ikut menemukan serpihan perasaan yang mungkin pernah singgah dalam hidup... di balik romansa digital mereka, ada banyak tentang kesepian, harapan, luka, dan keberanian untuk tetap percaya pada koneksi antar manusia
Hapuskalimat dikau tentang “membuka lembar demi lembar dengan hati yang hangat dan penuh pengertian” itu indah sekali. Rasanya seperti doa kecil untuk buku ini
Wow...mbak Alaika menerbitkan novel ya. Keren banget. Baca reviewnya, percaya deh, pasti alur ceritanya mengalir lembut sehingga pembacanya terbawa ke relung hati. Ada lucunya juga kayaknya yah? Kebayang sampai Bintang sampai menciptakan sosok virtual biar seolah nyata di dunianya Ethan...
BalasHapusHihi iyaaa, Mbak Alaika keren banget yaa :)))
HapusAku juga pas baca reviewnya langsung ngerasa novelnya bakal tipe yang pelan tapi nusuk ke hati. Kayak hubungan antarkarakternya dibangun lembut, tapi emosinya dapet banget. Dan iya, kayaknya ada bumbu lucu-lucunya juga, jadi nggak berat meski temanya dalem 😄
Bagian Bintang bikin sosok virtual buat Ethan tuh menurutku unik sekaligus ngena sih. Kadang manusia memang suka menciptakan “dunia aman” sendiri supaya orang yang disayang nggak merasa sendirian. Sweet tapi juga bikin hati agak nyesss .. hiks pengalaman pribadi ini...
Udah lama gak baca novel bergenre romance, kayaknya boleh nih memulai lagi dengan membaca karya teman blogger- yang akrab dengan nama Mbak Al. Buat saya yang di luar Jawa gini, terbantu banget kalau ada novel dalam bentuk digital.
BalasHapusIyaaa Mbak, sekarang enak banget ya ada versi digital :))) Jadi teman-teman di luar Jawa juga bisa ikut menikmati karya-karya penulis lokal tanpa ribet cari buku fisiknya. Aku juga senang kalau novel romance mulai dilirik lagi, karena kadang genre ini tuh jadi “healing kecil” di tengah hidup yang rame dan penuh deadline 😆
HapusDan karya Mbak Al memang punya feel yang hangat dan dekat banget sama keseharian. Semoga kalau jadi baca nanti Mbak ikut baper, senyum-senyum sendiri, atau malah susah move on dari karakternya 🤭
Aku udah lama banget ga baca novel terakhir kayaknya 2020 pas pandemi itu pun lupa judulnya apa hehehe
BalasHapus